Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kuat Minum


__ADS_3

HAPPY READY


“Sayang.”


“Hmm…”


“Ini langsung pulang?” tanya Rina yang tengah bersandar di bahu suaminya.


“Iya. Memangnya kamu mau kemana gitu dulu?”


Rina menegakkan tubuhnya dan memainkan kedua jarinya. Dika tahu istrinya pasti punya mau kalau sudah begini.


Dika meraih dagu Rina dan membawa wajah istrinya untuk menatapnya. “Sayang, kita sepertinya sudah sepakat untuk saling terbuka. Masalah bisa apa tidak urusan belakangan, yang penting ngomong dulu.”


Rina menghela nafas. “Emm, aku pengen pulang ke rumah Mama, boleh nggak. Malam ini saja.”


“Cuma itu?”


Rina mengangguk.


“Aku hubungi Mama dulu ya, kalau belum tidur kita ke sana.”


Rina mengangguk dengan senyum manisnya. Dika merogoh ponsel untuk menghubungi mertuanya. Saat hendak menekan dial, tiba-tiba Rina menahannya.


“Bukan ke mama Ririn, aku ke mama Santi?”


Dika mengernyit. Jujur ia senang karena Rina yang sangat dekat dengan mamanya, bahkan hubungan mereka tak seperti mertua dan menantu, tapi lebih cocok sebagai ibu dan anak kandung, tapi tetap saja saat ini ia kaget dengan permintaan Rina.


Akhirnya Dika tak jadi menelfon Reno dan ganti menelfon mamanya. Ia diam sejenak, menunggu Santi menjawab panggilannya. Setelah menunggu, ternyata tetap taka da jawaban dari Santi melainkan suara operator wanita yang menegaskan bahwa taka da jawaban dari seberang sana.


“Gimana?” tanya Rina saat melihat Dika menjauhkan ponselnya.


Dika menggeleng. “Bentar aku coba hubungi ayah…”


Dika mendial nomor Rudi dan kembali terdengar nada tunggu.


“Halo assalamu alaikum.”


“Wa’alaikum salam. Ayah belum tidur?” tanya Dika saat Rudi menjawab panggilannya.


“Belum Nak, ayah baru selesai melakukan operasi darurat.”


“Kenapa harus ayah? Apa tidak ada dokter lain?”


Terdengar suara helaan nafas. “Karena spesialis ini hanya ayah yang menguasai. Sebenarnya Dedi juga tengah melakukan study, tapi entah nanti dia bisa membantu ayah apa tidak, nanti.”

__ADS_1


“Ya ayah minta saja sama dia buat bantuin ayah pulang dari amerika nanti. Toh ayah juga yang biayain dia,” ujar Dika sambil menyandarkan punggungnya.


Rina tak jadi bertanya saat melihat wajah serius suaminya.


“Ya tak semudah itu Nak, dan asal kamu tahu ayah hanya memberi jalan dia menemukan uang, sedangkan uang dari ayah sama sekali tak digunakan.”


“Ck, tinggi sekali gengsinya.”


“Benar sekali. Untung dia punya kemampuan untuk menyeimbangkan gengsinya.”


Rudi dan Dika saling berbalas tawa. Mereka tampak asik mengobrol hingga Dika lupa apa tujuan sebenarnya menghubungi ayahnya. Rina pun hanya bisa menahan kesal saat suaminya terus membicarakan banyak hal tanpa mengutarakan keinginan Rina untuk bermalam di rumah mertuanya.


Karena terlalu lama menahan kesal, akhirnya Rina ketiduran di samping suaminya. Hingga hampir tiba di rumah, DIka baru saja selesai mengobrol dengan Rudi. Ia menoleh ke samping dan mendapati Rina sudah terkulai dengan mata terpejam.


“Astaga!” Dika menepuk jidatnya saat ia baru ingat tujuan awalnya ia menghubungi Rudi. Namun sudah terlambat. Sekarang sudah terlalu larut untuk pergi lagi, dan Rina pun sudah terlelap seperti ini.


“Sayang, maaf ya…” ujar Dika sambil membopong tubuh istrinya. Untung ia tak perlu membuka pintu karena mulai pintu depan hingga pintu kamarnya sudah ada yang membukakan pintu untuk mereka. Begitu tiba di kamar, ia lansung membaringkan tubuh Rina dan mengganti pakaian istrinya. Setelah menyelimuti Rina ia menyempatkan diri untuk membersihkan diri sebelum akhirnya menyusul istrinya ke alam mimpi.


***


Dentuman music dengan volume keras begitu memekakkan telinga. Lantai dansa penuh sesak tubuh-tubuh yang meliuk mengikuti irama. Salah satunya adalah gadis cantik dan seorang pria tampan berwajah oriental yang sedang asik menari bersama. Sang wanita yang sudah merasa cukup mengajak teman prianya untuk kembali ke tempat duduknya.


“Udah Di, jangan minum lagi…” Ken mengambil gelas Dian saat wanita ini hendak menuang minuman.


Ken berdecak saat melihat Dian yang langsung minum dari botol karena ia menyingkirkan gelasnya.


“Nggak aku pulangin tahu rasa kamu nanti.”


“Terserah kamu,” cuek Dian sambil kembali minum.


Ken merebut botol Dian dan ikut meminumnya. Cukup banyak dalam sekali teguk karena dari awal dia belum minum sama sekali.


“Nah gitu dong. Mending kamu ikut minum daripada ngomel terus sama aku.”


Ken menaikkan alisnya kemudian meletakkan botolnya.


“Bulan depan ikut aku ya?”


“Kemana?” tanya Dian sambil meraih gelas untuk dia tuang minuman.


“Ke Beijing. Nenek aku ulang tahun,” ujar Ken sebelum kembali minum.


“Nggak ah, jangan-jangan kita langsung dikawinin lagi di sana.”


“Apa masalahnya sih Di. Kita sudah sedekat ini, aku nggak bisa jamin aku terus bisa nahan diri terlebih kamu sering banget ngajakin aku minum kayak gini.”

__ADS_1


“Ya karena aku nganggap kamu temen, dan aku percaya bakal aman kalau kamu yang aku ajak pergi.”


“Ck…” Ken merebut botol yang hendak Dian tuang isinya. Dia langsung meminumnya hingga isinya tandas.


“Wah, kamu kuat minum juga ternyata.”


“Iya. Kamu baru tahu kan?”


Dian tersenyum dan menganggukkan kepala.


“Mau tahu rahasia lain nggak?”


“Rahasia apa lagi sih, ternyata kamu selama ini terlalu banyak menyimpan rahasia ternyata." Dian masih bercanda meski Ken sudah memasang wajah seriusnya.


Ken beringsut mendekat. Dia menarik pinggang Dian dan merapatkan tubuh keduanya.


“Aku sebenarnya sangat menginginkan kamu, tapi sepertinya aku tak sabar nunggu kamu untuk menerima cintaku.”


“Maksud kamu?”


Tiba-tiba Dian merasa benda basah dan kenyal menyentuh bibirnya. Hanya sedetik sebelum Ken melepasnya.


“Aku selalu menahan diri selama ini. Aku mencintaimu dalam waktu lama, tapi sepertinya kamu masih terjebak dengan cinta mantan kekasihmu itu.”


Dada Ken naik turun setelah menyelesaikan ucapannya. Ia seperti baru saja menyelesaikan sebuah beban berat.


“Selama ini aku mengira dengan menjadi temanmu dan melihatmu bahagia itu sudah cukup. Ternyata aku terlalu naïf. Aku tidak cukup dengan seperti itu. aku mencintaimu dan sangat menginginkanmu."


Dian tak menghindar saat Ken kembali meraup bibirnya. Kali ini bukan kecupan seperti tadi tapi ******* ganas yang menggebu dari keduanya. Ken merasa tidak bisa lebih lama lagi berada di sana. Sehingga ia mengajak Dian untuk segera pergi dari sana.


***


Hana memeluk tubunya untuk menghalau dinginnya angin malam yang menerpa kulit mulusnya. Ia tak tahu apa maksud Andre mengajaknya ke pantai semalam ini. Terlebih saat ia diminta memakai dress selutut dengan bahan yang tak tebal.


Sepertinya Andre sengaja ingin membuatku mati kedinginan.


Andre duduk di tepi pantai dengan membawa rokok di sela jarinya. Hana tak berani mendekat karena Andre tak memintanya.


Apa sebaiknya aku lari mumpung Andre sedang mengajakku keluar seperti ini.


Hana melihat kesana-kemari. Suasana cukup sepi, karena ini menjelang tengah malam. Saat ia yakin bisa melarikan diri, namun tiba-tiba ia ragu akan keselamatannya sendiri. Ia tak punya identitas apa-apa. Sedangkan dia adalah seorang wanita. Bagaimana jika nanti ada orang yang menjahatinya.


Saat Hana urung melarikan diri, tiba-tiba terdengar keributan yang sepertinya berada tak jauh dari mereka. Bukan Hana saja yang mendengar, namun Andre juga. Pria ini tampak melihat kesana-kemari untuk mencari sumber suara pria dan wanita yang sepertinya sedang bertengkar ini.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2