Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Anak Panti


__ADS_3

Dalam kehidupan Senja kurang bisa menerima orang baru, namun dalam cerita kehadiran orang baru diperlukan untuk mendapatkan cerita yang utuh.


HAPPY READING


“Astaga…” Dika melongo membuat wibawanya hilang seketika.


“Bagus nggak?” Rina memutar tubuhnya dengan riang di depan suaminya.


Dika menatap tak percaya pada penampilan istrinya. Ia tahu istrinya memang imut dan awet muda. Punya wajah baby face, kurang suka berdandan menor, dan punya postur yang mungil membuat ia kelihatan jauh lebih muda ketimbang umurnya yang sebenarnya. Tapi Dika merasa tak perlu juga dipertegas dengan cara semacam ini.


Rina sekarang menodong Dika untuk menemaninya jalan-jalan. Ia datang dari siang hingga sesore ini hanya untuk menunggu Dika menyelesaikan pekerjaannya.


“Sejak kapan kamu punya baju kayak gini?” tanya Dika setelah dapat menguasai keheranannya.


Meskipun demikian, Dika masih setia menatap istrinya dari atas ke bawah. Yang paling mengganggunya adalah hiasan strawberry besar tepat di bagian dada overall abu-abu Rina. Ia mengenakan inner kaos lengan panjang berwarna pink dan bando dengan hiasa strawberry berwarna merah di kepalanya. Pada bagian terbawah ia mengenakan sepatu cats berwarna putih dan Dika yakin jika kini mereka jalan bersama pasti banyak yang akan mengira jika mereka adalah om dan keponakan.


“Aku awalnya underestimate sama Lili saat pertama kamu bawa dia. Awalnya aku pikir dia itu kaku dan terlalu serius. Ternyata sekarang aku malah jadi suka banget setelah dua hari sama dia.”


“Syukurlah.” Ucapan syukur yang diucapkan Dika nyatanya tak sampai di hatinya. Dalam hati ia masih pening memikirkan penampilan istrinya ini. Apa iya harus berbohong untuk menolak kemauannya, tapi ia tak mau juga jika istrinya


kecewa.


Apa belum memiliki anak benar-benar membuat Rina sestress ini. Memang aku juga ingin, tapi tak sampai stress juga. Kita kan masih muda. Banyak hal yang masih dapat kita lakukan sembari berihtiar.


“Tahu nggak, ini baru banget loh bikinnya,” ujar Rina antusias


menunjukkan motif strawberry di bagian depan overallnya.


“Bikin? Siapa yang bikin?” Siapa yang berani membuat desain aneh seperti ini. Lanjut Dika dalam hati.


“Lili. Hebat kan dia. Nggak hanya jago bela diri dan mengantongi prestasi akademis yang baik, tapi dia bisa jadi desainer dan jago mukbang juga.”


“Desainer?”


Rina mengangguk riang.


“Mukbang?”


Rina masih menunjukkan reaksi yang sama. “Kemarin dia berhasil menghabiskan semua menu yang aku pesan di kedai es krim,” lanjut Rina menerangkan.

__ADS_1


“Terus kalau desainer?”


Flashback On tadi pagi.


“Nona. Saya sudah coba memeriksa baju-baju Nona, dari yang di ujung sana sampai lemari yang ini tak ada motif yang sesuai Nona minta," ujar Lili yang melaporkan hasil pekerjaannya.


Meskipun ruangan ini full AC, tapi Lili tetap dibuat bermandikan keringat karena harus membongkat baju yang banyak sekali, kemudian harus menatanya lagi agar rapi seperti semula. Begitu terus hingga semua lemari ia jelajahi. Namun ia hanya berhasil menemukan tiga item yang bergambar strawberry seperti yang Rina minta, yaitu piyama yang warna dasarnya putih, sebuah syal, dan terakhir ****** *****.


Lili mendesah saat melihat Rina yang sebelumnya sempat membuka mata kini terpejam lagi dan melanjutkan tidurnya. Namun ia menggunakan kesempatan ini untuk membasuh peluh. Saat ia merasa keringat di wajahnya sudah kering sempurna, mungkin masih ada waktu untuk mendudukkan diri. Itulah pikirnya.


“Tidurlah Nona, sekarang mungkin waktunya aku bisa menghirup nafas dan sejenak beristirahat,” lirih Lili sambil menatap wajah tenang bosnya.


Lili menjatuhkan bokongnya di lantai, menyelonjorkan kakinya dan siap menyandarkan punggungnya.


“Lili…”


Lili kaget bukan main saat tiba-tiba Rina sudah memanggilnya dalam posisi duduk. Spontan ia melompat kembali ke posisi berdiri. Ia bahkan harus beberapa kali menghirup nafas dalam untuk sedikit meredakan degub jantungnya yang menggila saking terkejutnya.


“Nona sudah bangun?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Lili.


“Siapa yang tidur?”


Lili membulatkan mata tak percaya. Jelas-jelas nonanya ini tadi tidur bahkan hingga mendengkur, sekarang masih  mengelak dan berkata tidak tidur. Apa memang seperti kelakuan orang kaya?


Lili menghela nafas. Masih ngelak bilang tak tidur, bahkan laporanku saja dia tak tahu.


“Saya tadi kan sudah bilang…”


“Kamu mengatai saya tak bisa mendengar dengan baik?” suara Rina meninggi seketika.


Potong Rina cepat bahkan saat Lili belum menyelesaikan ucapannya. Lili hanya bisa pasrah dan menelen ludahnya. Akhirnya ia meraih 3 piece item bergambar strawberry yang berhasil ia temukan.


“Itu apa?” tanya sambil meraih yogurt strawberry yang tersedia di atas meja.


“Piyama, syal, dan ****** ***** Nona,” jawab Lili sambil mengangkat tiga item yang dimaksud.


“Kenapa hanya ini, masa iya dari sekian banyak baju sama sekali tak ada yang gambarnya strawberry?”


“Tidak ada Nona. Saya sudah yakin saat memeriksanya.”

__ADS_1


“Jadi maksud kamu saya yang salah?”


Bunuh guueeeee!!!! Sayangnya Lili tak berani bersuara. Ia hanya mampu menggurutu di dalam hati. Lili menundukkan kepala dengan beberapa kali tarikan nafas panjang. Ia harus berfikir cepat untuk mengatasi masalah ini.


“Nona, apa Anda mau saya buatkan motif strawberry yang besar?”


“Bagaimana caranya?” tanya Rina antusias.


Akhirnya Lili menjelaskan ide yang telah ia rencanakan. Rina tampak senang dengan apa yang Lili kemukakan.


Dan dalam waktu satu jam, Lili berhasil menyelesaikan misinya.


“Waaaaa, aku suukkkaaa….”


Rina langsung meraih hasil karya Lili dan mencobanya. Overall berwarna abu-abu yang semula polos itu disulap Lili dengan menambahkan aksesoris yang besar berbentuk strawberry dari bahan kain flannel yang dijahit dengan tangan.


“Eh ada yang kurang deh,” ujar Rina sambil berputar ke kanan dan ke kiri memperhatikan penampilannya di depan cermin.


“Maaf Nona, nanti kalau pink semua itu kurang…”


“Enggak, enggak.” Sela Rina cepat. “Overall abu muda ini cocok dengan inner pink dan hiasan strawberry yang kamu buat ini, tapi aku ngerasa nggak hanya aku yang harus punya


kayak gini.”


“Siapa lagi Nona?” perasaan Lili mendadak tak enak melihat bagaimana cara Rina tersenyum dan menatapnya.


“Li, kita kemana-mana kan bareng…”


Lili cukup penasaran menantikan kelanjutan ucapan Rina.


“Kan nggak enak tuh kamu pakaiannya hitam-hitam begini sedangkan aku tampil charming dengan warna-warna cerah dan aksesoris manis.”


Lili tak menjawab. Ia sibuk mempersiapkan mentalnya kalau-kalau ia kembali menerima tugas dadakan dari nonanya yang terkadang di luar akal sehatnya


“Seingatku aku tak hanya punya satu overall seamacam ini.” Rina kembali berputar-putar melihat penampilannya. “Kamu cari dan kasih hiasan seperti ini.”


Entah mimpi apa Lili mendapat bos seperti Rina ini. Dia terlampau baik atau bagaimana sangat sulit Lili untuk mengatakannya. Sekarang Lili sudah seperti anak panti dengan bosnya ini. Mengenakan pakaian dengan motif sama,


model sama, hanya saja warnanya yang beda. Apa kata orang jika mereka keluar dan berjalan bersama.

__ADS_1


Flasback Off


Bersambung…


__ADS_2