
HAPPY READING
“Aku mau pamit…” ujar Hana sambil menatap ketiga kawannya.
“Pamit? Kamu mau kemana emang?” tanya Risma cepat sekali.
“Hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di toko,” ujar Hana dengan wajah tak rela.
“Kenapa? Kamu mau menyusul Anin bekerja di Surya Group juga?” terka Haning mengutarakan pikirannya.
Hana menggeleng. “Aku belum tahu akan bekerja di mana setelah ini. Meski mungkin aku punya koneksi dengan perusahaan ini, tapi yang jelas aku tak kembali ke sana…” ujar Hana menegaskan.
“Jadi maksudnya apa kamu bekerja di tempat kami selama ini? Apa benar hanya untuk main-main?” sepertinya belum bisa menerima begitu saja setiap keterangan yang didengarnya. Sehingga iaharus terus menggali hingga mendapatkan apa yang bisa memuaskan rasionalnya.
“Bukan itu. Aku benar-benar tak punya niat itu…” Hana berusaha meyakinkan Haning.
“Dari awal aku sudah curiga kalau kamu tak sesederhana itu. Kamu bukan seperti kami yang rela bekerja apa saja untuk bisa melangsungkan hidup. Kamu adalah orang yang bisa memilih kehidupan macam apa yang akan kamu lalui,” imbuh Haning dengan tatapan berapi-api. Risma bahkan harus mengusap punggung wanita ini, agar ia tak sampai memicu keributan diantara mereka.
“Aku salah,” ujar Hana. Ia langsung berdiri dan meremat tepian meja. Untung sekarang restoran sedang sepi, sehingga apa yang mereka perbuat tak memicu perhatian banyak orang. Hanya Andre yang sengaja memisahkan diri yang memperhatikan dengan seksama apa yang telah terjadi pada Hana dan rekan-rekannya.
“Aku akui aku salah, tapi setidaknya dengarkan dulu aku menjelaskan,” lanjut Hana yang nampak sekali juga mulai terbawa emosi.
“Ini semua tak hanya masalah uang, tapi juga pelarian,” ujar Hana setelah terjeda beberapa helaan nafas.
Eka bangkit dan meraih kedua bahu Hana. Perlahan ia menarik tubuh wanita ini untuk kembali duduk ke tempatnya dengan segera sebelum ada orang yang menyadari kekacauan di antara mereka.
“Aku bekerja memang tak hanya semata mencari uang, tapi juga mencari perlindung.” Dada Hana hingga naik turun saking kuatnya gejolak yang ia tahan.
“Aku datang membawa luka baik itu luka di tubuh mau pun di jiwa,” lanjutnya dengan suara tertahan.
Hana mengusap setitik air mata yang keluar di sudut matanya. Ia mengangkat wajahnya dan kembali menatap satu-persatu rekan-rekannya.
“Aku merasa punya kalian sebagai keluarga di saat aku merasa tak punya siapa-siapa,” kata Hana dengan suara bergetar.
“Aku tak mau pergi sebenarnya, tapi sayangnya aku sudah tak bisa lebih lama bertahan.”
“Kenapa?” serempak Haning, Eka, dan Risma.
Hana menghela nafas. “Kita nggak perlu bahas alasannya, yang jelas aku pergi dengan tenang, tanpa meninggalkan masalah atau ganjalan dengan kalian.”
“Aku ingin tetap berteman dengan kalian, meski nanti kita sudah tidak berada di tempat yang sama lagi.” Hana menutup ujarannya dengan mata berkaca-kaca.
Haning bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk Hana di tempatnya. “Aku sebenarnya masih penasaran dengan siapa kamu dan apa yang terjadi dengan dirimu, tapi aku percaya kamu tak pernah ada niat jahat pada kami.”
__ADS_1
“Makasih Mbak…” Hana tak bisa menahan air matanya.
Eka dan Risma turut bangkit dan bergabung dengan Haning dan Hana yang telah berpelukan sebelumnya.
“Makasih ya semua…” Hana merasa terharu dengan perlakuan rekan-rekannya ini.
“Makasih juga atas kebaikanmu selama ini,” ujar Risma.
Empat wanita ini mengeratkan pelukannya.
“Ehm…”
Hanya dengan sebuah deheman, keempat perempuan ini langsung berhamburan kembali ke tempatnya. Semua kepala langsung tertunduk kecuali Hana.
“Sepertinya restoran sudah mau tutup, bagaimana kalau kita pindah tempat saja,” usul Andre mengabaikan reaksi para wanita di sekitar ia dan Hana ini. Mereka masih tertunduk dengan jemari sibuk menyeka air mata.
Hana menatap sekeliling. Memang pengunjung di tempat ini sudah tak seramai tadi, dan beberapa pramusaji sudah terlihat sibuk beres-beres dan membersihkan tempat.
“Huuffffthh…” Hana memutar tubuhnya dan melayangkan tatapan yang sulit diartikan kepada Andre.
Andre melangkah dan berhenti tepat di depan Hana. Tangannya terangkat perlahan dan bergerak dengan tenang untuk menyelipkan rambut Hana ke belakang telinga. “Katakan…”
Hana menatap sejenak satu-persatu rekan-rekannya sebelum kemudian kembali menjatuhkan tatapannya pada Andre.
“Masih ingin dengan mereka?” tanya Andre menerka apa yang sedang ada di kepala kekasihnya.
“Bawa teman-temanmu pulang. Aku akan menyuruh bibi untuk mempersiapkan semua.”
Hana mendekatkan wajahnya. “Dan kamu?” bisiknya tepat di samping telinga Andre.
“Aku di apartemen,” jelas Andre dengan cara yang sama. Ia kemudian merogoh kunci dan menyerahkan pada Hana. “Kalian sama-sama saja. Aku tak akan menganggu.”
Hana menatap kunci yang berada di tangannya. Ia masih bingung dengan maksud Andre kali ini.
Andre mengambil jarak satu langkah. Ia kemudian menatap wanita-wanita di hadapannya ini. “Hana sepertinya ingin lebih lama bersama kalian, apa kalian keberatan jika Hana mengajak bermalam.”
“Bermalam?” ulang Haning.
“Iya. Hana tadi bilang kalau masih belum puas ngobrol dengan kalian, jadi aku meminjamkan rumahku untuk kalian gunakan malam ini. Hana sudah tahu alamatnya dan silahkan kalian gunakan mobilku untuk pergi ke sana,” jelas Andre.
Hana surprise dengan apa yang baru Andre katakan. Memang ini benar nyatanya, tapi ia kan belum sempat mengatakannya pada Andre. Wah gawat nih, sepertinya Andre bisa membaca pikiran, racau Hana dalam hati.
“Rumah Pak Andre daerah mana? Jangan-jangan beda arah dengan kita?” lirih Eka.
__ADS_1
“Iya. Kita harus pulang untuk mengambil pakaian untuk kerja besok,” imbuh Risma untuk memperjelas maksud Eka.
“Kartu yang kamu bawa sepertinya belum terpakai sama sekali hari ini,” ujar Andre pada Hana.
“Ha?” Hana makin tak mengerti.
Andre kelewat peka, sehingga niatnya membantu Hana malah yang dibantu belum berfikir sampai sana. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat wanita ini lebih dahulu mengerti apa maksudnya. Ia membawa Hana untuk sedikit memisahkan diri dari rekan-rekannya.
“Han, kamu masih pengen ngobrol dengan mereka benar?”
Hana mengangguk.
“Nah, aku menawarkan rumahku untuk kalian jadikan tempat mengobrol, sementara aku sendiri akan pulang ke apartemen. Nggak mungkin kan kita ngaku kalau kita sudah biasa di rumah yang sama?”
Kembali Hana mengangguk.
“Nah, ini kunci mobilnya biar kamu bawa mereka ke sana pakai mobilku saja. Nah kalau kartu ini bisa kamu pakai kalau kamu sama-teman-teman kamu sedang butuh sesuatu, ngerti…” jelas Andre dengan sabar.
Hana tersenyum lebar sebelum memeluk singkat kekasihnya “Makasih. Makasih banyak...”
“Ya sudah, aku pamit. Tagihan sudah aku bayar.”
“Oh iya satu lagi. Jangan pusingkan apa yang mereka pikirkan tentang kita. Gunakan kecerdasanmu untuk mencari alasan yang bisa diterima akal, ya...”
“Aku tinggal.”
Andre sempat mencium puncak kepala Hana sebelum pergi dari sana. Hana pun segera kembali bergabung dengan teman-temannya.
“Ada apa, ada apa?” tanya Eka penasaran.
“Aku masih mau ngobrol sama kalian, bisa nggak kalau kalian ikut aku malam ini,” ujar Hana mengutarakan keinginannya.
“Kemana?” serempak ketiganya bertanya.
“Andre meminjami kita rumahnya, jadi malam ini kita bisa menginap di sana.”
“Terus di sana mau ngapain?” tanya Eka.
“Kita bisa nonton, kita bisa ngobrol, banyak deh.”
“Terus ambil baju buat kerja besok gimana?” tanya Risma.
Hana mengangkat sebuah kartu yang tersimpan manis di kantongnya. Keempat perempuan ini menarik kedua sudut di bibirnya, sejurus kemudian berjalan beriringan meninggalkan
__ADS_1
restoran.
Bersambung…