
HAPPY READING
Brugh!!
“Mbak, Mbak…” Hana panic sembari mengguncang-guncang
bahu Riza yang kepalanya tiba-tiba ambruk di atas meja.
“Nggak apa-apa Nona, nggak apa-apa, saya nggak apa-apa…” racau Riza di tengah tubuhnya yang diguncang-guncang Hana.
Hana sempat mengira Riza pingsan atau bagaimana, tapi ternyata Riza mesih menjawab panggilannya.
“Ya ampun Mbak, saya panik tahu nggak,” ujar Hana yang masih belum melepaskan tangannya dari bahur Riza.
Melihat bagaimana khawatirnya kekasih Andre ini, membuat Riza perlahan mengangkat kepalanya.
“Maafkan saya Nona. Saya cuma deg-degan. Saya pikir kita akan mengacaukan program atau semacamkanya karena Pak Andre langsung menunjuk Nona untuk mewakili beliau secara mendadak. Bahkan Nona belum sempat mempelajari proposal mereka. Ternyata Nona Hana bisa mengatasinya dengan sempurna padahal hanya ada sedikit waktu untuk membaca saat perjalanan tadi.”
“Ini berkat Mbak Riza yang menemani saya. By the way, berhenti memanggil saya Nona, panggil Hana saja,” ujar Hana yang telah duduk di salah satu kursi di dekat Riza.
“Nggak sopan Nona…” tolak Riza.
“Kata siapa. Mbak Riza jauh lebih senior dari saya…”
Sebenarnya Riza merasa cukup mudah bergaul dengan Hana. Saat berbincang, ia merasa keduanya sudah kenal lama, karena ia dan Hana seolah telah paham karakter masing-masing tanpa perlu banyak menjelaskan. Cekatannya Hana juga mengingatkan Riza pada Hana yang lainnya. Tapi mengingat bagaimana Hana yang satunya terlempar dari perusahaan, rasanya tak mungkin Andre menariknya kembali dengan cara seperti ini.
“Tapi Nona adalah orang dekat atasan saya…”
“Meski begitu, saya btetap bukanlah bagian dari perusahaan, jadi kamu tak berkewajiban untuk menghormati saya juga...”
“Kamu mau kembali jadi bagian dari perusahaan?”
Hana kaget bukan main saat menyadari Andre yang sudah muncul begitu saja di tempat itu dan sedang berjalan ke arahnya. Spontan Riza menegakkan tubuhnya karena ia tak mau dianggap tak sopan di depan atasannya.
“Kapan kamu datang?” tanya Hana yang merasa tertangkap basah.
Andre cuek dengan pertanyaan Hana dan nyelonong begitu saja mencium pipi kekasihnya. Meski ini bukan kali pertama Andre memperlakukan Hana seperti ini di depan stafnya, tapi tetap saja hal ini bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa.
“Kamu sudah pesan?” tanya Andre pada Hana.
Hana yang lagi-lagi dibuat kesal hanya menggeleng sebagai jawaban. Entah bagaimana caranya ia menasehati kekasihnya ini agar tak berbuat seenaknya sendiri, tapi bukan Andre namanya kalau pria ini akan menurut begitu saja saat dinasehati.
__ADS_1
“Kalian duduk…” ujar Andre mempersilahkan.
Tak hanya Riza yang duduk, tapi Rahma dan Elis yang datang bersamanya juga melakukan hal yang sama.
“Gimana tadi?” tanya Andre sambil merapikan rambut Hana.
“Aman…” jawab Hana sambil berusaha mendorong Andre agar tak terlalu dekat dengannya. Pasalnya ia merasa trio sekertaris di hadapannya sedang belingsatan antara ingin pergi atau bertahan menyaksikan tingkah Andre yang tak tahu tempat seperti sekarang.
Memang VIP menjadi harga mati saat Andre makan siang di jam seperti ini, tapi seharusnya ia ingat jika ia tak hanya berdua bahkan di sana juga ada Elis yang tengah remuk hatinya karena dengan tanpa ampun cintanya langsung Andre patahkan.
“Karena saya sedang bahagia kalian bisa pesan sesuka hati menu apa saja yang ingin kalian makan.”
Ucapan Andre disambut wajah bahagia oleh yang mendengarnya. Meskipun Elis tengah remuk hatinya, tapi setidaknya apa yang Andre lakukan bisa sedikit menghiburnya. Namun berbeda dengan Riza. Ia justru menunduk lesu mendengar apa yang baru saja Andre ucapkan.
“Mbak Riza kenapa?” tanya Hana yang sadar perubahan raut yang terjadi pada Riza barusan.
“Saya langsung ingat anak saya Nona, maaf…” ujar Riza sambil meraih menu untuk ikut memesan.
Hana menghela nafas. Sepertinya ia paham apa yang tengah Riza rasakan. “Take away bisa kan sayang…” ujarnya pada Andre tiba-tiba.
Andre tak menyahut. Ia masih asik memejamkan mata dengan dagu yang ia letakkan di pundak Hana. Kedua lengannya melingkar dengan nyaman di pinggang ramping Hana.
Apa kalian pikir Andre akan menurut saat Hana mencoba untuk mencegah Andre nemplok dengannya tadi? Jawabannya tidak. Saat Hana sibuk mendorongnya, Andre justru menarik Hana untuk duduk di kursi yang sama dengannya. Meski Hana nampak tak leluasa untuk bergerak, tapi Andre terlihat begitu nyaman dalam posisinya.
Hal ini spontan memicu tawa geli dari trio sekertaris yang ada bersama mereka. Saat diteriaki Andre spontan menegakkan kepalanya sembari nyengir karena rasa tak nyaman di telinganya. Namun sayang, tawa itu harus mereka tahan karena bagaimana pun juga Andre adalah atasannya.
“Apa…” ujar Andre yang belum juga melepas Hana.
“Take away, take away…”
“Nggak usah Nona…” lirih Riza karena merasa tak enak pada Hana. Hana seperti ini pasti karena dirinya. dan satu hal lagi yang membuat Riza tak nyaman adalah karena ia yakin keinginan Hana tak mungkin Andre kabulkan.
Hana hanya menggerakkan tangannya meminta Riza untuk diam sementara.
“Apanya yang take a way?” tanya Andre yang sepertinya benar-benar tak paham dengan apa yang Hana katakan.
Hana menengok ke belakang untuk dapat menatap langsung wajah kekasihnya. Jika saja ia tak siaga, mungkin posisi ini akan jadi posisi yang nyaman untuk Andre untuk berpagutan dengannya.
“Kalau makan di sini bisa sepuasnya, bagaimana kalau take a way juga...”
Andre masih diam. Dia sepertinya benar-benar tak paham.
__ADS_1
“Misal Mbak Riza mau bawa buat anaknya bisa kan…”
Andre tersiam sejenak untuk mencerna apa yang Hana maksudkan.
Kemudian ia menarik kedua sudut di bibirnya. “Jangankan buat anak, buat suami atau orang tua kalian juga boleh…”
Senyum ceria menyinari wajah Riza yang sempat murung sebelumnya.
“Mbak Riza nggak salah dengar kok…” jelas Hana menjawab perkataan yang belum juga Riza ucapkan.
Akhirnya mereka semua mulai memesan. Kecuali Andre tentunya. Karena ia lebih memilih untuk menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hana dengan mata terpejam dan lengan melingkar di pinggang.
“Sambil menunggu makanan sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan,” ujar Hana tiba-tiba.
Riza, Rahma dan Elis yang sebelumnya nampak asik mengobrol sendiri pun segera mengakhiri obrolannya.
“Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaan saya tadi?” tanya Elis yang ingat sekali untuk apa ia makan siang bersama kekasih bosnya saat ini.
Hana mengangguk pasti.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya Nona?” tanya Elis mengulang lagi pertanyaan yang jawabannya masih Hana tangguhkan.
Kembali Hana mengangguk membuat kedua rekan Elis juga ikut penasaran sekarang.
Hana kembali mengangguk.
“Nah, Nona yang waktu malam itu bukan?” kini Rahma juga ikut bicara.
“Yang ada di jamuan makan malam saat kamu mengantarkan obat untuk Pak Andre?” lanjut Hana memastikan. Hal ini langsung disambut dengan anggukan cepat oleh Rahma.
“Benar…” lanjut Hana dengan mantab atas anggukan Rahma.
“Saya juga merasa kita pernah bertemu, tapi saya tidak tahu dimana. Apa mungkin Nona Artis yang sedang liburan dan menenangkan diri di inggiran kota seperti ini?” tanya Rahma bertubi karena rasa penasaran yang selama ini ia tahan mulai membuncah lagi.
Hana diam. Ia tampak menimbang apa yang harus ia lakukan. Mengungkap jati dirinya yang penuh cela bukanlah suatu hal yang sederhana, meski ini adalah tujuannya mengajak ketiga mantan rekannya untuk makan siang bersama. Hana yakin selama mereka bekerja sama, pasti lah ada kesalahan atau tindakannya yang mungkin saja meninggalkan jejak yang tak menyenangkan. Sehingga ia merasa perlu untuk meminta maaf karena dulu belum sempat ia lakukan karena harus terlempar dengan cara yang mengenaskan dari perusahaan.
“Tell them. Bukankan hal ini akan membuatmu lebih tenang?” ujar Andre kala merasa kekasihnya mulai didera bimbang. Ia kemudian menegakkan tubuhnya dan melepaskan rengkuhannya pada Hana. Hal ini ia lakukan agar kekasihnya lebih leluasa untuk berbicara.
Hana mengangguk, meski ia yakin hal ini sebenarnya tak perlu ia lakukan karena Andre sekarang tengah focus pada ponsel di tangannya.
“Mbak Riza, Elis, Rahma…” Hana menatap masing-masing mantan rekan kerja yang sejak tadi lebih banyak diam menantikan ia berbicara. “Saya adalah Hana…”
__ADS_1
Sayangnya Hana harus menjeda ucapannya saat datang pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
Bersambung…