
...Yeyyy, ketemu juga mereka. ...
...*H A P P Y R E A D I N G*...
Rina merasa tubuhnya melayang. Ia masih belum berani membuka mata. Apa ini rasanya alam barzah. Tapi kok engap banget, jangan-jangan karena aku kebanyakan dosa. Racau Rina dalam hati.
Rina merasa pantatnya menyentuh sesuatu, dan punggungnya serasa disandarkan. Tak lama berselang, dingin langsung menyapa kulitnya disusul dengan suara seperti dentuman pintu yang ditutup. Ya Tuhan, apa aku sedang terkurung di alam kubur bersama dengan malaikat?
Rina masih tetap bertahan dengan mata terpejam.
"Mau sampai kapan meremnya?"
Spontan mata Rina terbuka saat pertanyaan tentang siapa Tuhannya tak ada berganti dengan pertanyaan oleh suara yng sangat dirindukannya.
"Dika?"
Tanpa menunggu aba-aba, Rina langsung memeluk sosok yang teramat ia rindukan.
"Apa karena aku begitu merindukanmu hingga malaikat dalam alam kubur begitu mirip denganmu."
Toeing!
Dika cengo. Sebenarnya ia tak terima karena dianggap malaikat Munkar atau Nakir. Namun rindu yang ia rasa sungguh tak mampu ditahan lebih lama. Dia menarik tubuh Rina dan mendaratkan ciuman lembut di bibir gadisnya.
Rina hanya mampu mengerjap tanpa balasan ataupun kata. Hingga akhirnya Dika merasa hampa dan melepaskan ciumannya.
"Rina, I miss you." Dika kembali mendekatkan bibirnya namun kini Rina menahannya.
"Aku masih hidup berarti ya?"
Ctak
Dika menyentil kening Rina. Momen romantis mereka langsung buyar karena pertanyaan konyol Rina.
"Kamu udah nggak mau ya jadi pacar aku?" tanya Dika yang geram karena tingkah gadisnya.
"Ha?!"
"Iya, gimana kita bisa pacaran kalau kalau aku masih hidup tapi kamu udah jadi hantu," ketus Dika.
Kedua sudut bibir Rina tertarik membentuk sebuah lengkungan yang begitu indah. Dia tak peduli bagaimana ceritanya Dika bisa di sini bersamanya, namun yang jelas ia sangat bahagia. Dia kembali menghambur ke pelukan Dika.
"Dika, maafin aku. Aku sayang banget sama kamu."
"I do. I do love you babe. I love you so much." Dika mencium puncak kepala Rina dan memeluk ya dengan erat.
Flashback On pagi hari.
"Lu kenapa sih pagi-pagi nyuruh gue ke sini?" tanya Dedi begitu tiba di rumah Dika. Dan ini baru jam 5. Setengah jam yang lalu Dika menelponnya dan meminta Dedi untuk segera ke rumahnya.
"Hari ini aku mau ngajak Rina ke villa, tapi villa di xxx bukan yang di pantai pasir putih."
"Mau ngapain lu, terus urusannya sama gua apa?"
__ADS_1
"Tolong jagain Rista ya, ayah sama mama mau ke sana juga soalnya. Bahaya kalau aku cuma sama Rina," ujar Dika dengan santai.
"Astaga." Dedi menatap tak percaya sahabat, bosnya, calon kaka ipar entahlah apapun namanya. Ya elu aman, gua yang di sini dalam bahaya.
"Kenapa? Nggak mau?" tanya Dika saat melihat air muka Dedi yang berubah seketika.
"Ya kan, kan..."
"Kan apa?"
"Kan gue pengen lihat villa lu yang di gunung Dik, masa lu tega ninggalin gue sama Rista. Rista pasti juga pengen ikut." Entahlah ini masuk akal atau tidak, yang jelas hanya ini yang terfikirkan oleh Dedi.
"Gue pengen ngajak balikan Rina."
"Kenap harus jauh-jauh ke sana, di sini aja kan bisa?"
"Perempuan memang rumit, dan aku janji buat mempertahankan Rina dengan segala kerumitannya."
"Rina yang minta?"
Dika menggeleng. "Ini pure inisiatifku."
Dedi menghela nafas.
"Rina ragu sama aku, terutama karena aku yang sekarang, jadi aku pengen buat dia yakin dengan membawa serta ayah dan mama."
Dedi tak bisa berfikir jernih. Jelas keberadaan Rista bisa mengurangi romantisme yang ingin Dika buat untuk Rina karena perhatian pasti akan terpusat padanya kalau dia ada. Namun meninggalkan Rista dengannya berdua juga bukan solusi, mengingat entah sudah berapa kali dia hampir lupa diri saat bersama Rista.
"Jadi gimana?"
"Bisa kan jagain Rista. Paling minggu malam kita udah balik."
"Kakak mau pergi..." Rista datang dan menurun tangga masih dengan mengenakan piyama.
"Iya," jawab Dika.
"Kemana?"
"Ke villa kita yang ada di xxx."
Rista menenggak air yang baru saja ia tuang ke gelas. "Rista nggak diajak?"
"Apa kamu pengen ikut?" Dika balik bertanya.
Rista mengangguk.
Dik menghela nafas. "Ya udah, nanti kamu pulang secepat mungkin. Hari sabtu biasanya nggak full kan pelajaran? "
"Iya. Rista mandi dulu ya." Rista segera menaiki tangga dan menuju kamarnya.
"Gue numpang mandi ya," Dedi ikut bangkit dan menuju kamar mandi di kamar Dika.
Flashback off.
"Kamu udah lama di situ?" tanya Rina begitu Dika menjalankan mobilnya.
__ADS_1
"Belum. Aku pengennya tiba-tiba nyulik kamu pas pulang sekolah, tapi nggak tahunya yang mau diculik lagi berusaha buat kabur."
Rina tak menjawab. Dia masih asik memandangi pemuda tampan ini dari samping. Ia bertekat untuk membuang egonya jauh-jauh dan membiarkan hatinya berbicara.
"Kamu kenapa sih?" tanya Dika yang merasa terus dipandangi Rina. "Sebegitu gantengnya ya sampai kamu nggak rela untuk sekedar berkedip?" kembali ia bertanya dengan senyum menggoda.
"Iya," jawab Rina tanpa mengalihkan pandangannya.
Dika berlagak tidak mendengar. Entah mengapa dia tiba-tiba berdebar hanya karena membalas tatapan Rina.
"Rina, ikut aku ke villa ya, kita malam mingguan di sana."
"Iya..."
Kenapa Rina jadi begini? Biasanya dia akan menggelontorkan puluhan pertanyaan sebelum mengatakan iya.
"Kamu mau ke kantor om Reno atau telfon aja izinnya?"
"Pulang aja dulu ya, tanya mama enaknya gimana." Kali ini Rina mengalihkan pandangannya. Lama-lama menatap Dika, ia jadi malu sendiri ternyata.
"Ya udah, ke rumah kamu aja. Mau makan di luar mungkin?"
"Emmm, aku pengen es krim, boleh?"
Dika meraih tangan Rina. "As you wish sayang..."
Dika membawa Rina ke kedai eskrim yang beberapa kali mereka datangi. Ia kurang suka eskrim tapi Rista sangat suka, ditambah sekarang ada Rina yang juga menyukai makanan manis nan lembut ini.
"Kamu pilihin aku juga deh," kata Dika saat Rina memegang menu ditangannya.
Rina memilih dengan wajah riangnya. Dia menyebutkan 3 varian eskrim dengan toping yang ia suka.
"Aku tadi pesen tiga, nggak apa-apa kan?"
Dika menggeleng dan meraih ponsel di sakunya. Mengecek e-mail, memastikan semua beres agak ia dapat dengan tenang memperjuangkan hatinya.
"Kamu tadi ngapain di sana?" tanya Dika setelah meletakkan ponselnya.
"Aku pengen nemuin kamu," jawab Rina malu-malu.
"Emang mau nemuin di mana kalau kamu aja nggak ngehubungin aku?"
"Kamu juga sama sekali nggak hubungi aku..."
Dika meraih tangan Rina. "Rin, I've told you before, that we don't have enough time to see each other now. I can't do, even just to call you regularly. Moreover, if you wonna come to me." Dika menghela nafas. "Aku harus lembur dan menyelesaikan banyak hal dulu hanya untuk bisa menemuimu seperti ini."
Rina merasa benar-benar bersalah karena sudah terlalu egois terhadap hubungan mereka.
"Aku harap kamu tak muak dengan aku yng sekarang ini."
Tepat saat Dika menyelesaikan ucapannya seorang pelayan datang dengan nampan berisi pesanan Rina.
"I'm sorry," ucap Rina saat pelayan itu pergi meninggalkan mereka.
Dika menyuapkan sebuah biscuit yang menjadi toping pada eskrim di hadapannya. Rina menerimanya dengan senyum, kemudian keduanya menikmati eskrim itu bersama.
__ADS_1
TBC