
HAPPY READING
Hana duduk lunglai sambil menunggu Andre yang masih belum menyelesaikan semua pekerjaannya. Sesekali ia menatap ponsel yang sempat ia acuhkan beberapa waktu lamanya. Ia memandangi nama tunggal yang menhubunginya banyak kali.
Ini enaknya gimana ya? Tapi aku belum bisa meluangkan waktu saat ini. Gumam Hana dalam hati.
Meski ia tak balik menghubungi Marshal atau mungkin bertukar pesan untuk menyampaikan maksud, tapi Hana bisa menerka apa yang akan pria ini bicarakan dengannya. Apa lagi kalau bukan tentang novel yang ia janjikan akan segera ia upload di aplikasi segera setelah pertemuan tempo hari.
Tapi di hari yang Hana tetapkan untuk memulai karyanya ia malah diminta untuk membantu Rina. Awalnya ia ingin menolak, namun ia urungkan karena mengingat betapa baiknya Rina kepadanya. jadi Hana merasa ini adalah kesempatan baik untuk memulai hubungan baik dengan orang yang telah berbesar hati memaafkan kesalahannya yang besar sekali.
“Capek ya?” tanya Andre saat melihat wajah lelah Hana. Pertanyaan ini langsung membangunkan Hana dari dalam lamunannya.
Hana tersenyum dengan kepala mengangguk. “Tapi aku senang,” ujarnya kemudian.
“Maaf ya, aku bahkan tadi tak mengajakmu makan siang.”
“Tenang, kerja sama Rina itu nggak mungkin kelaparan. Karena selain tak telat makan dia juga punya banyak sekali cemilan,” jelas Hana dengan senyum lebarnya.
“Iya. Dia benar-benar bulat sekarang, ha ha ha…” Andre langsung tertawa melihat perubahan Rina sekarang. Pasalnya bertahun-tahun mereka berteman, ini adalah kenampakan RIna yang paling menggemaskan.
Andre terus tertawa hingga tanpa sadar Hana sudah mendelik dengan tangan menyilang di depan dada.
“Loh, kamu kenapa?” tawa Andre pudar saat melihat wajah tak senang Hana.
“Rina kan memang sedang mengandung,” ujar Hana tanpa senyum.
“Ehm.” Andre berdehem untuk mengganti mode. Dari yang semula tertawa kini serius membalas tatapan kekasihnya. “Iya aku tahu, terus kenapa kamu kayak nggak terima gitu?” tanya Andre kemudian.
“Karena, emm…” Karena aku mungkin juga akan seperti itu kalau hamil nanti, lanjut Hana dalam hati.
“Kenapa sayang?” desak Andre saat Hana tak kunjung menaggapi pertanyaannya.
Hana tak menjawab. Ia justru menggigit bibirnya karena merasa isi kepalanya tak mungkin ia ungkap pada Andre sekarang. Sehingga meski kini mereka sedang bersama, hanya diam yang menjadi latar utama.
Andre menghela nafas dan meraih tangan Hana. “Proyek kerjasama dengan perusahaan Rio dilimpahkan padaku,” ujarnya tiba-tiba.
Hana membeku mendengar apa yang baru Andre ucapkan. Ia tahu jika ini adalah kali pertama Andre berhubungan langsung dengan Rio setelah mereka bersamanya.
Melihat reaksi kekasihnya, Andre mengeratkan genggaman dan menciumnya.
“Kenapa?” tanya Hana dengan tatapan menerawang.
“Mungkin ini jalan Tuhan agar aku lekas mulai memperjuangkanmu.”
“Tapi dia sama sekali tak menganggapku.” Sura Hana terdengar bergetar.
__ADS_1
“Aku yakin Rio tak seburuk itu.” Andre berusaha meyakinkan Hana.
“Tapi aku mengenalnya jauh sebelum kamu!” suara Hana meninggi. Matanya memerah menahan air mata.
Tanpa banyak berfikir Andre menarik Hana ke dalam pelukannya. Dengan kedua lengan kekarnya dia memeluk Hana dengan kuat. Dan untungnya Andre sudah menyiapkan antisipasi, karena Hana berontak dan berusaha mendorongnya saat ini.
“Jangan seperti ini Hana…” Andre berusaha berbicara lembut pada Hana yang ia sadari sedang labil emosinya.
“Begini. Kenapa aku begini?! Aku memang adanya begini…” punggung Hana bergetar. Ia tak lagi mendorong Andre dan justru menumpahkan sesaknya di sana.
Andre tak berkata apa-apa. Melihat Hana tak lagi berontak, ia lantas mengendurkan pelukannya dan mengusap lembut punggung Hana. Punggung indah yang selama ini menghangatkan harinya.
Menangislah Hana. Ayo kita hadapi semua ini segera. aku tak mau terus sembunyi dan melarikan diri.
Hingga sekian waktu, Hana masih setia dalam tangisnya.
“Udah malam ya?” tanya Hana bergitu merasa air matanya sudah ia keluarkan semua. Ia menegakkan tubuhnya setelah sebelumnya menghapus air mata yang hampir satu jam ia tumpahkan.
“Sepertinya. Tapi masih ada beberapa yang lembur,” jawab Andre sambil menatap keluar.
“Kok kamu tahu?” tanya Hana sembari mengaduk-aduk tas untuk mencari kaca.
“Karena aku ada di sini untuk menunggu yang sedang mereka kerjakan,” jujur Andre menjelaskan.
Sekarang memang sudah lewat jam pulang. Semula Hana mengira Andre di sana karena menunggunya yang menagis bombai memikirkan nasibnya, ternyata ada alasan lain dibalik keberadaannya.
“Jangan dong. Kayak mayat aku nanti.”
“Tapi bukannya terlalu ribet kalau mau membenahi?”
Hana nampak menimbang. Make upnya terlanjur rusak parah, karena ia menangis lama sekali. Penampakannya sekarang sangat menyeramkan, untung Andre tidak lari melihat penampilan Hana yang seperti ini.
“Iya sih, kalau pun mau make up lagi juga kudu dihapus dulu semua biar jadinya bagus,” ujar Hana setuju.
“Yap, kalau boleh jujur aku lebih suka kamu tampil seperti itu.”
“Masa?” tanya Hana meremehkan.
“Serius,” ujar Andre meyakinkan. “Ya tapi kalau sesekali pake make up boleh lah, tapi nggak setiap saat juga. Jujur capek ngelihat wajah kamu penuh make up melulu.”
Air muka Hana berubah. “Menurut kamu make up ku jelek ya?”
Andre menghela nafas. Ia memang pandai bersilat lidah, tapi kalau Hana sudah begini akan sulit mengimbangi.
“Bagus sih. Ya pokoknya mau pake make up mau enggak kamu tetap cantik.” Andre mulai berusaha menyelamatkan dirinya.
__ADS_1
“Lha katanya tadi capek kalau lihat aku pake make up? Kamu gimana sih?”
Rasanya Andre ingin gantung diri. Niatnya ingin mengurangi keribetan Hana yang harus mengaplikasikan itu ini di wajahnya, tapi yang ada malah debat tak ada guna.
Kenapa harus memilih salah satu kalau aku suka dua-duanya. Batin Andre merutuki.
“Ndre, gimana...”
Tok tok tok
“Masuk…” Sahut Andre cepat. Hana pun menelan ucapannya karena mendengar pintu yang diketuk dari luar tersebut.
Andre sangat bersyukur dengan siapa pun yang mengetuk ruangannya saat ini karena bisa menghentikan kelakuan Hana yang menggila karena tengah labil saat ini.
Sementara seseorang dari luar masuk, Hana segera bersembunyi untuk membersihkan make up yang membuat wajahnya menakutkan.
Dari balik pintu muncul Riza yang membawa dokumen yang sempat Andre minta sebelumnya.
“Dokumen yang Bapak minta sudah berhasil kami selesaikan,” ujar Riza sambil meletakkan satu map besar di hadapan Andre.
Andre mengambil satu map besar itu dan membukanya.
“Itu data lengkap satu tahun terakhir Pak,” Riza menjelaskan tanpa menunggu Andre mempertanyakan. “Kalu yang lengkapnya, sudah saya kirim ke e-mail bapak,” lanjut wanita beranak satu ini.
“Baik. Kalian boleh pulang. Terimakasih atas bantuannya.”
“Sama-sama Pak Andre. Kami permisi.”
Andre hanya mengangguk dan segera memutuskan kontak. Ia kemudian membaca dengan seksama dekumen di tangannya. Saat sudah dapat setengah, tiba-tiba Hana muncul dengan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya. Ia muncul kembali dengan wajah full make up yang membuatnya kian mempesona.
“Sudah selesai…” Andre berusa memasang wajah setenang mungkin. Tak boleh terlalu senang, karena kalau senang Hana akan menanggap tak suka dengan wajah polos Hana. Kalau nampak tak senang, Hana akan menganggap Andre tak menghargai usahanya yang mengenakan make up untuk bisa tampil cantik di hadapan Andre. Tapi dengan wajah biasa saja seperti ini, Andre yakin posisinya akan aman saat ini.
“Udah. Nih…” Hana tersenyum lebar dan menatap Andre yang nampak sibuk di depannya.
“Iya.” Andre sempat menatap Hana sebelum kembali sibuk dengan berkasnya.
Melihat Andre yang nampak biasa saja saat melihat penampilannya, senyum Hana pudar seketika. Ia memacu langkahnya cepat untuk menghampiri Andre yang mengacuhkannya di balik meja.
Srrk!
Dengan satu tarikan, Hana merebut dokumen yang Andre pegang. Tahu kekasihnya sedang memasaang mode menyebalkan, Andre memilih untuk diam saja meski dalam hati ia menyimpan banyak sekali umpatan.
“Salah aku apa?” tanya Hana dengan tatapan berapi-api.
Kini Andre tak bisa biasa saja. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pertanyaan kekasihnya.
__ADS_1
Kenapa Hana tanya begitu? Bukannya aku yang dari tadi salah melulu? Protes Andre. Namun hal ini hanya ia ucapkan dalam hati, karena ia baru ingat jika Hana sekarang sedang datang bulan. Mungkin ini yang disebut PMS, makanya Hana menjelma menjadi sosok yang menyebalkan.
Bersambung...