Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Bubur Polos


__ADS_3

Tak ada satu pun yang sempurna di dunia ini, kecuali Tuhan yang Maha Sempurna.


Manusia hanya mampu berusaha, namun Tuhan lah penentu hasilnya.


Semua manusia punya dosa, hanya caranya saja yang berbeda.


HAPPY READING


“Han, kamu beneran sakit ya?” tanya Andre saat melihat Hana yang lemas dengan wajah terlihat pucat.


Hana menggeleng. “Aku sehat, hanya saja mungkin nyawaku akan pergi sebentar lagi.”


“Hanaaa…”


Astaga. Ini benar Andre sekertaris Surya Group itu kan? Kenapa jadi kolokan gini.


Andre perlahan mendekatkan wajahnya, seketika itu juga Hana menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Kenapa tiba-tiba kamu menutup bibirmu? Apa kau pikir aku akan menciummu?” ujar Andre meledek.


Hana mendengus. “Tidak, aku hanya…”


Belum juga Hana menyelesaikan ucapannya, Andre sudah terlebih dahulu membungkam mulutnya. Mata Hana membola, baru saja ia merasa terselamatkan, sekarang ia merasa kembali berada dalam bahaya.


“Harusnya kamu lebih punya pendirian. Iya benar, aku akan menciummu.”


Andre kembali mendekatkan wajahnya. Tak ada yang bisa Hana lakukan selain pasrah.


“Kenapa kamu tak membalas?” protes Andre saat Hana hanya diam saja.


“Aku capek Ndre, aku nggak kuat lagi,” rengek Hana sambil menatap melas pria yang 2 tahun lebih muda darinya ini.


“Apa yang aku lakukan? Bukankah aku hanya mengajakmu berbagi kenikmatan?”


Hana mendengus. “Ini penyiksaan…”


“Kapan lagi bisa disiksa rasa nikmat? Mau lagi?”


Hana mengeratkan kimono yang ia kenakan saat Andre sudah menarik talinya.


“Aku cuma mau bantu ganti baju.”


“Aku nggak percaya.”


“Kali ini percayalah…"


Dalam kepasrahannya, Hana dapat melihat bahwa Andre benar-benar membuktikan ucapannya. Pria ini tak melakukan apa-apa selain membantu Hana membalut tubuh polosnya.


“Mahir juga kamu sama perintilan wanita, udah biasa ya?” tanya Hana yang masih tak punya daya.


“Sekali lagi ngomong kayak gitu, langsung nih aku telanjangi.”


Hana langsung menutup rapat mulutnya. Setelah membantunya dress up, Andre segera keluar meninggalkan Hana.


*Andre mau ke mana? *Ya Tuhan. Sepertinya Andre memang ingin membunuhku pelan-pelan, dengan meninggalkan aku yak kelaparan.


Rasa lelah dan lapar membuat Hana benar-benar kehilangan tenaga. Ia tetap berbaring dengan memejamkan mata.

__ADS_1


Setelah sekitar 15 menit meninggalkan Hana sendiri, Andre kembali membawa semangkok besar makanan. Ia baru saja membuat bubur polos tanpa toping apapun. Jangan berharap Andre mahir dalam memasak. Hanya merebus sedikit beras dan air saja ia harus melihat tulorial.


Setelah meletakkan bubur yang ia bawa di meja dekat ranjangnya, perlahan ia membantu Hana untuk duduk. Ia menata bantal dan membiarkan Hana bersandar di sana.


“Makan ya…” ujar Andre sambil meraih makanan yang baru saja dibuatnya.


Andre mengambil sesendok bubur dan meniupnya. Setelah dirasa suhunya pas, ia kemudian menyuapkannya pada Hana. Hingga tiga suapan pertama Hana masih diam tanpa  melakukan apa-apa. Hingga tiba ke suapan keempat, Hana menahan tangan Andre saat hendak menyuapkan bubur ke mulutnya.


“Ganti kamu.” Hana mengambil sendok itu dan ganti menyuapkannya pada Andre.


Selanjutnya keduanya saling menyuapi. Setelah di rasa tenaga keduanya kembali terisi, mereka masih bertahan untuk saling membuka diri. Mereka sadar apa yang telah mereka lakukan telah jauh keluar dari batas wajar, untuk itu mereka harus menyiapkan pertanggung jawaban.


***


Rahma dibuat salah tingkah saat mendapati kondisi bosnya yang hanya mengenakan kemeja. Rambut setengah basah


dengan kancing yang belum terpasang sempurna. Otak Rahma  langsung traveling ke alam liar, mambayangkan bagaimana kira-kira setiap adegan pergelutan yang menguras peluh dan tenaga terjadi di ruangan bosnya.


“Kenapa kamu masih di situ?”


Rahma masih bengong dan menatap kosong pria tampan di hadapannya.


“Malah bengong. Kamu itu saya gaji untuk bekerja, bukan untuk bengong di ruangan saya.”


“E e, maaf Pak. Saya permisi.”


Rahma baru ngeh dengan maksud bosnya. Ia harus segera pergi dari sana karena tugas telah diserahkannya.


Buru-buru Rahma keluar dari ruangan Dika. Begitu melihat kursinya, ia langsung berlari dan terduduk lemas di sana.


“Ma, kesambet kamu?” kata Elis yang kebetulan duduk di dekatnya.


“Mbak…” Elis memanggil Riza untuk memperlihatkan kondisi rekan kerja mereka.


“Kenapa?” tanya Riza pada Elis.


“Nggak tahu, begitu keluar dari ruang pak Restu udah lemes aja gitu,” jawab Elis.


Riza menggeser kursinya untuk mendekati Rahma. “Perlu kita antar balik?” tanya Riza sambil menawarkan bantuan pada rekan kerjanya.


Rahma menggeleng. Ia melipat kedua lengannya di atas meja kemudian menyembunyikan wajahnya di sana. Namun tak seberapa lama, ia kembali mengangkat wajahnya.


“Mbak, bisa tolong ambilin minum?” ujar Rahma kemudian.


“Apa lagi?” tanya Riza manawari.


“Itu aja.”


Riza bangkit dan segera kembali dengan segelas air minum di tangannya. Rahma meraih gelas itu dan meminumnya segera.


“Sebenarnya kenapa sih?” tanya Riza penasaran. Sementara Elis mengekor di belakang.


Rahma menunjuk arah ruangan bosnya. Kemudian ia memegangi kedua pipinya.


“Mereka baru main deh kayaknya, aaaaa!!!!” Rahma menahan pekikannya agar tak terlalu keras.


Elis dan Riza beradu pandang dan serempak menatap Rahma kemudian.

__ADS_1


“Main apa sih?” tanya Riza yang juga mewakili keingin tahuan Elis.


Rahma menggigit jarinya. “Itu ih, itu.”


“Itu, itu apaan Ma?!” kesal Elis yang mulai tak bisa membendung rasa penasarannya.


“Iiiihhh, Mbak Riza jelasin, aw!”


Rahma meringis sambil memegangi kepalanya yang ditoyor oleh Riza.


“Kok ditoyor sih Mbak,” protes Rahma.


“Ya situ yang kesambet mana bisa kita yang jelasin,” kesal Riza.


Elis manggut-manggut saja mendukung apa yang baru saja Riza ucapkan, sementara Rahma masih mengelus jidatnya yang sebenarnya tak sedikit pun merasa sakit.


Cklek!


Riza dan Elis langsung kembali ke tempatnya begitu mendengar suara pintu Dika terbuka. Derap langkah terdengar bersahutan yang mereka yakini merupakan langkah kali bos dan istrinya. Mereka bangkit dan menunduk hormat kala Dika dan Rina berjalan melalui mereka. Dika tampak berjalan lurus dengan wajah serius, sementara Rina sibuk membacakan agenda dan beberapa informasi dari tab yang dipegangnya.


Ketiga sekertaris itu sempat mencuri pandang setelah pasutri ini melewati mereka. Rahma kembali lemas saat ingat pemandangan yang ia temukan di dalam ruangan tadi.


“Fix Pak Restu udah nggak perawan.”


Pluk!


Sebuah pulpen mendarat dengan manis di kepala Rahma.


“Mbak Riza jahat banget sih sama Rahma,” protes Rahma karena ia tak merasa melakukan apa-apa.


“Ya kamu sekali nyeletuk aneh bener,” balas Riza yang menjadi dalang pelemparan pulpen.


“Aku lagi ngomongin fakta Mbak, bukan hal yang aneh-aneh.”


Elis tak mau membuang kesempatan untuk mendapat gossip terbaru dari bos tampan mereka. Ia menari kursinya dan berhenti di samping Rahma.


“Gimana-gimana?” tanya Elis antusias.


“Mbak Riza mau denger nggak?”


Awalnya Riza enggan, karena merasa ini bukanlah hal yang penting. Namun setelah terprovokasi ucapan Rahma, ia jadi


penasaran juga ingin tahu sebenarnya ada kejadian apa di ruangan bosnya sehingga membuat rekan kerjanya ini lemas tak berdaya.


“Agak deketan,” lirih Rahma.


Riza dan Elis melakukan apa yang Rahma


minta.


“Pas aku masuk tadi Pak Restu itu, eemmmmm…” lagi-lagi Rahma memegangi wajahnya. Tak lama kemudian ia memeluk


tubuhnya dan berputar ke kanan dan kiri di atas kursi.


“Ck. Bisa to the point aja nggak sih. Keburu Pak Restu balik.”


“Iya, iya,” imbuk Elis dengan kepala mengangguk berkali-kali.

__ADS_1


Rahma menarik nafas panjang dan menghembuskannya sebelum ia kembali bercerita.


Bersambung…


__ADS_2