Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pengobat Rindu


__ADS_3

Nih nih, ketemu beneran nih.


Yuk ah, pada tinggalin jejak yang banyak.


HAPPY READING


Hana mematung melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Ia tak menyangka bisa bertemu Andre secepat ini. Padahal ia masih ragu harus kembali atau lebih baik pergi dari kehidupan Andre. Tapi ternyata Tuhan telah membawa Andre ke hadapannya tanpa ia minta.


Dengan langkah panjangnya, Andre berjalan menghampiri Hana. Tanpa ragu pria ini membawa Hana ke dalam pelukannya. Lili tak bersuara begitu pun dengan sang bunda. Mereka benar-benar tak tahu apa yang terjadi dengan Hana dan pria tampan yang tengah memeluknya ini.


Malam itu hanya bilang kalau ia tak diterima di keluarga papanya karena anak sah dalam keluarga itu tidak menghendakinya masuk dan menjadi bagian dari mereka, jadi Hana terpaksa keluar dan akhirnya takdir membawanya bertemu dengan Lili dan Sofi seperti sekarang ini.


Andre memegang kedua sisi wajah Hana dan menatapnya lekat. “Kamu baik-baik saja kan? Kenapa tak pernah menghubungiku?” Andre kembali menarik Hana dalam pelukannya seakan waktu tak pernah cukup untuk mengobati rasa rindunya.


“Andre, malu…” lirih Hana saat Andre terus saja memeluknya.


Wajah gelap dan gelisah Andre tadi entah hilang kemana. Yang jelas terlihat adalah wajahnya kini cerah dan bahagia. Andre segera menuruti permintaan Hana. Ia melepaskan tubuh wanita ini setelah sebelumnya mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala.


Hana terlihat resah saat baru saja menyadari jika Andre ke sana tidak hanya sendiri. Di sana ada Dika dan istrinya juga. Ia ingat betul bagaimana Dika memintanya untuk menjauhi Andre kemarin, namun sekarang Andre malah menemukan keberadaannya saat ada Dika juga di sana.


“Pak Restu, Nona Rina.” Sapa Hana sambil menundukkan badan.


Rina terlihat kesal. Kenapa Hana benar-benar ada di sini? Jika begini kan jadi sulit menyatukan Lili dan Andre. Kesal Rina dalam hati.


Sementara Sofi dan Lili masih mengunci rapat-rapat mulutnya. Mereka memang tahu banyak tentang Hana, dan Lili pun belum lama bekerja untuk mereka, jadi ia sama sekali tak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya.


Dika memasukkan sebelah tangannya ke dalam kantong celana dan berdiri tegap menatap Hana. Tatapannya tajam dan menyeramkan. Sepertinya ia siap membantai siapa pun yang berani mengusiknya. Ia berjalan menghampiri Andre dan


Hana meninggalkan istrinya yang berada diantara bunga-bunga.


Dika menghentikan langkahnya dengan menatap Hana. “Apa kabar, Raihana?”


Degh!


Hana tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia menggigit bibirnya yang bergetar kemudian menundukkan kepala. Apa mereka sudah mengetahui identitas asliku? Batin Hana.

__ADS_1


Dengan sedikit kesal Rina berjalan menyusul suaminya. Sekarang sepasang suami istri ini berdiri berdampingan di depan Andre dan Hana.


Andre tahu betapa takutnya kekasihnya ini. Ia kemudian meraih tangan Hana dan menggenggamnya.


“Pak Restu, sekarang saya mohon kesempatan pada anda. Biarkan saya bersama Hana dan memastikan tak ada hal buruk yang ia lakukan,” ujar Andre memecah keheningan.


Dika tak menjawab. Dia lebih memilih terus mengintimidasi Hana dengan tatapannya.


“Tunggu." Rina tampak berfikir. "Raihana?”


“Berarti kamu yang…” Rina menggerakkan tulunjuknya yang mengarah kepada Hana. Dalam benaknya muncul sederet hal-hal buruk yang Hana lakukan padanya dan pada perusahaan. Ia tak habis pikir kenapa Andre bisa jatuh dalam pelukan wanita seperti ini. Ini gila. Benar-benar gila.


“Andre. Kenapa harus dia. Apa tak ada wanita lain, ha?”


Sofi merasa ada hal baik yang dituduhkan pada Hana. Ia memang belum mengenal Hana dengan baik, tapi Erika adalah orang yang baik, sehingga ia yakin jika Erika pasti mendidik Hana menjadi orang yang baik juga.


“Mohon maaf, Tuan, Nona, apa tidak sebaiknya kita bicara di dalam dari pada harus di pinggir jalan seperti ini,” sela Sofi setelah mendengar ucapan Rina yang nampak emosi dengan nada tinggi.


Sebenarnya Rina belum puas berbicara, namun bagaimana pun juga bunda Lili adalah orang tua yang harus ia hormati. “Maafkan saya Bu Sofi.”


Sofi tersenyum dan membimbing para orang kaya ini untuk masuk ke dalam ruko sederhananya. Ia mengambil alih gula yang Hana pegang dan menyerahkan pada Lili untuk dibuat minuman.


Andre belum bersuara. Ia masih setia mengenggam tangan Hana.


“Hana, sekarang kamu adalah anak Bunda. Bisa kamu jelaskan situasi macam apa ini?” tanya Sofi kepada Hana.


Hana menatap teduh wanita lembut ini. “Semua sudah Hana katakan Bund, Hana dijadikan alat oleh papa untuk memuluskan urusannya. Makanya Hana tak berani kembali papa dan memilih tidur di jalan sebelum akhirnya Lili membawa Hana ke sini.”


Lili yang kebetulan datang langsung ditodong tatapan tajam oleh semua yang ada di sana kecuali Hana. Merasa diperhatikan, Lili tak lantas segera memberikan penjelasan. Ia lebih memilih menghidangkan dulu apa yang ia bawa.


“Silahkan minuman dan kue keringnya Tuan, Nona…” ujar Lili setelah semua tersedia di meja. Kemudian ia duduk di samping sang bunda.


“Emm, Han. Jadi pria yang kamu maksud itu pak Andre ini?” tanya Lili memastikan.


Hana hanya menanggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Tolong kamu jelaskan Lili,” pinta Rina dengan nada tegasnya.


Lili cukup terkejut dengan cara bicara Rina. Selama beberapa hari bekerja, biasanya Rina selalu bicara dengan nada manja dan seenaknya. Namun saat ini ia begitu tegas dan berwibawa. Jadi pantaslah jika nona menjadi istri seorang


Restu Andika.


“Emmm, susah ya.” Lili menggaruk kepalanya dan melihat orang-orang yang tengah menantikan ujarannya. “Pak Andre, apa saya boleh bicara sebentar.”


“Tentu,” singkat Andre.


Andre bangkit dan mengikuti Lili. “Ada apa?” tanyanya begitu Lili berhenti.


“Pak, Hana sudah menceritakan apa yang ia alami dalam hidupnya, termasuk waktu-waktu terakhirnya bersama Anda. Apa anda yakin saya harus menceritakannya?” tanya Lili dengan tatapan berbeda.


“Tentu. Saya bahkan sudah mengakui hubungan saya dengan Hana.”


“Lili menggigit jarinya, tapi Bunda bisa pingsan kalau sampai tahu jika Hana pernah tinggal bersama Anda.”


Spontan Andre menatap Lili dengan mata membola, disambut dengan senyum lebar oleh wanita ini yang tengah menatapnya. “Jadi intinya apa?”


“Ya kalau saya harus mengatakan apa yang saya ketahui, berarti jangan di sini. Jangan sampai Bunda dengar dan tahu masalah ini.”


“Oke, kita ajak mereka pergi.”


Lili mempersilahkan Andre untuk berjalan terlebih dahulu kemudian ia mengikutinya dari belakang.


“Rina sama Hana kemana?” tanya Andre pada Dika yang hanya berdua dengan Sofi.


“Mereka sedang ke kamar mandi,” jawab Dika sambil menyimpan kembali ponsel yang sempat dilihatnya.


“Silahkan diminum,” ujar Sofi pada Andre yang baru bergabung dengan mereka.


“Dikaaa, Annnddrreeeeee!!!!!!”


Andre langsung meletakkan gelas yang baru saja diraihnya saat ia merasa mendengar teriakan Rina. Ia menatap Dika yang juga ternyata tengah menatapnya.

__ADS_1


“Tttoolloooooonngggg….!!!!”


Bersambung…


__ADS_2