Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Prank


__ADS_3

HAPPY READING


“Udah, jangan uring-uringan lagi…” ujar Andre sambil sesekali melihat Hana yang berjalan di sampingnya.


Hana balas tersenyum, namun tiba-tiba ia melepaskan genggaman tangannya pada Andre. Semula Andre hendak protes namun urung saat sadar tangan Hana yang baru saja dilepaskan perlahan merambat naik ke lengannya untuk  kemudian bergelayut di sana.


“Itu gimana kak Rio kok bisa ujug-ujug mau nerima aku?” tanya Hana sambil memegangi lengan Andre yang keras dan dan berotot ini.


“Ya menurut kamu gimana? Masa nggak bisa nebak, kan kita hampir selalu bersama?” Bukannya menjawab, Andre justru memberikan pertanyaan sebagai jawaban.


“Iya. Kita memang selalu bersama, tapi otaknya berpencar kemana-mana,” sarkas Hana dengan wajah berhias tawa.


“Tapi di hatiku hanya ada kamu seorang sayang,” ujar Andre sambil mengangkat dagu Hana.


Hana melepaskan tangan Andre dari dagunya. “Ck. Gombal,” ujar Hana kemudian.


Mulutnya mengumpat tapi wajah Hana tersenyum lebar.


“Ayo kembali. Kita masih harus bekerja.”


Hana mengangguk dan keduanya melanjutkan langkah menuju mobil yang setia menemani kemana langkah keduanya pergi.


Saat Andre baru saja ingin menjalankan mobilnya, ia baru sadar kalau Hana belum memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.


“Kamu kenapa sih?” tanya Andre yang yakin ada sesuatu yang membuat kekasihnya kehilangan focus seperti ini.


Hana menggeleng dan segera menarik kedua sudut di bibirnya. “Nggak apa-apa. Ayo jalan.”


Andre menghela nafas.


Klik!


Dengan sekali tekan sabuk pengaman Andre langsung terlepas. Ia kemudian membawa tubuhnya untuk mendekat dengan Hana.


“Kamu mau ngapain?!” Hana berusaha menahan tubuh Andre yang sudah berada dalam jarak dekat sekali.


Andre tak memperdulikan keterkejutan Hana. Ia lanjut meneruskan niatannya untuk memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya kekasihnya. Dan setelah terpasang, Andre segra kembali ke tempatnya.


“Oh kirain…” Hana meringis karena baru saja berpikiran kotor tentang kekasihnya.


“Mikir apa hayo?” goda Andre.


“Mikir kamu mau nyium aku,” jujur Hana. Ia bahkan sedikit geli dengan pikirannya.


Chu~


Belum juga kegelian terhadap pikirannya hilang, Hana sudah disadarkan dengan kenyataan. Ciuman yang semula hanya ada gambarnya di dalam kepala kini tiba-tiba jadi terasa begitu nyata. Saking terkejutnya, Hana bahkan hanya diam saja saat Andre mendaratkan sebuah ciuman kilat di bibirnya.


“Kurang ya. Kok diem saja?” tanya Andre yang menatap Hana dari tempatnyanya semula.


Hana segera menutup mulutnya saat melihat Andre hendak kembali mendekat.


“Udah ayo balik…” ujar Hana setelah berhasil mendorong Andre ke tempatnya.

__ADS_1


Andre tak mendebat Hana sekarang. Kembali ke kantor memang sepertinya keputusan terbaik untuk mereka.


Setelah sabuk kembali terpasang, mobil Andre kemudikan untuk kembali ke kantor pusat Surya Group bersama Hana.


Sementara itu Rio masih di rumah sakit karena sore ini Indah sudah bisa pulang.


“Jadi ini ya yang bikin semalam kamu ribet banget mempersiapkan laporan?” tanya Indah.


Rio yang sedang membuka makanan hanya menggelengkan kepala. “Kena prank Dika kita sepertinya,” ujarnya tanpa sedikitpun menatap Indah yang duduk diranjangnya.


“Kena prank gimana?” tanya Indah meminta penjelasan.


Rio meneluarkan beberapa kotak makanan yang belum lama diantarkan. Semula ia ingin mengajak Andre dan Hana makan siang bersama namun sejoli tersebut berkata tak bisa lebih lama di sana. Rio baru tahu jika bukan Andre saja yang menjadi bagian dari Surya Group, tapi Hana juga bahkan sedang mengemban tanggung jawab besar terhadap sebuah proyek yang digadang oleh Rina.


“Dika tiba-tiba meminta data lengkap proyek kerjasama kita dari awal sampai sekarang. Katanya biar tahu progress dari awal seperti apa hingga saat ini perkambangannya sejauh mana,” ujar Rio mulai bercerita.


“Terus?” tanya Indah meminta cerita lebih.


“Ya ternyata yang datang Andre. Dan tadi pas aku tanyain juga dia baru banget dapat mandat dari Dika untuk jadi penanggung jawab ini selanjutnya.”


“Terus?”


“Terus aku lapar sayang…”


“Tapi aku penasaran…”


Rio menghela nafas. “Oke, setidaknya biarkan aku makan ini dulu…” Rio segera memasukkan sesuap besar makanan tanpa menunggu Indah mengiyakan. Ia sempat meringis sebelum mulai mengunyah makanan yang berhasil ia masukkan ke dalam.


Setelah suapa pertama ia telan, Rio segera memasukkan suapan yang kedua dengan segera. Ia tak menjawab, karena kalau ia sudah bicara, Indah tak akan membiarkan suapan selanjutnya masuk dengan segera.


Hgrk!


Rio bersendawa dengan kerasnya setelah berhasil menandaskan 2 porsi makanan yang tadi di belinya. Sebenarnya masih ada dua porsi lagi, tapi Indah sudah tidak mengijinkannya untuk makan lebih banyak lagi. Rio akhir-akhir ini sudah jarang sekali olahraga. Saat pulang kerja, ia lebih memilih untuk segera bermain dengan buah hatinya. Saat bangun pagi pun ia sudah dikerubuti dua balita yang tak sabar untuk bermain bersama papanya. Sebenarnya Indah sangat senang namun melihat tubuh suaminya yang mulai mengembang ia jadi khawatir juga. Rio yang pekerjaannya tak mengijinkan ia berkeringat bisa tak sehat karena terus menumpuk lemak di dalam tubuhnya.


“Mas, jangan tunda lagi Mas…” pinta Indah memelas.


“Apa nggak lebih baik sekarang kita siap-siap. Terus ceritanya kan bisa kalau sudah di rumah nanti,” usul Rio.


Indah menggeleng ke kanan dan ke kiri secara bergantian. “No, no, no. No!!!”


Rio yang semula ingin bangkit akhirnya duduk lagi.


“Kami benar-benar bekerja tadi,” ujar Rio tiba-tiba.


“Kami siapa?” tanya Indah memastikan.


“Ya aku sama Andre,” jelas Rio.


“Ya emang kenapa lagi kalau nggak kerja?”


Rio menyugar rambutnya. “Kan aku tadi sempat bilang, sepertinya ini adalah siasat Dika.”


Indah makin tak paham. Rio sedang membahas ia dan Andre, kenapa sekarang tiba-tiba bawa nama Dika. Apa hubungannya coba.

__ADS_1


“Aduh gini aja deh. Mas Rio cerita yang lengkap, dan aku akan mendengarkan dengan baik tanpa menyela. Tapi janji, yang jelas ceritanya.”


Rio menggerakkan tangannya. Ia meminta waktu pada Indah untuk minum dulu karena setelah makan ia belum sempat membasuh tenggorokannya dengan minuman.


“Jadi gini…”


Flashback beberapa jam sebelumnya di kantor Surya Group.


“Silahkan duduk Pak Rio…” ujar Andre saat Rio masuk ke dalam ruangannya.


“Terimakasih Pak Andre…” jawab Rio yang segera duduk di kursi yang sudah ada.


Rio menyerahkan laporan yang ia susun semalaman dengan tim yang tak lengkap karena Dika memintanya dengan mendadak. Sehingga Rio hanya bisa menggunakan anggota seadanya untuk dapat mengumpulkan semua data yang Dika minta.


“Ini data mulai awal peluncuran game sampai sekarang,” ujar Rio sambil menyerahkan setumpuk dokumen dengan banyak lembar di sana.


Andre nampak terkejut dengan yang Rio bawa, meski demikian ia tetap mengambilnya. Andre menutupi kebingungannya dengan wajah datar yang sudah ia latih sekian lama untuk menghadapi situasi seperti ini. Jangankan saat bingung, saat situasi terburuk pun Andre tak boleh terlihat panik atau putus asa, sehingga menjadi kaku selalu ia pilih sebagai jalan keluarnya.


“Bagaimana, apa ada yang kurang jelas?” tanya Rio setelah melihat Andre diam saja sambil membolak-balik dokumen yang tadi ia serahkan.


“Jelas, bahkan sangat jelas.” Andre menutup dokumen yang Rio bawa dan meletakkannya di atas meja.


“Lantas bagaimana selanjutnya?” tany Rio kala Andre nampak diam saja.


Andre tak menjawab. Ia malah mengambil sebuah map dan ganti menyodorkannya pada Rio.


“Ini apa?” tanya Rio sambil meraih dokumen yang baru saja Andre sodorkan untuknya.


Andre tak menjawab, ia hanya menggerakkan tangannya meminta Rio untuk membacanya. Rio pun mulai membukanya. Lemba-lembar awal masih ia baca dengan seksama. Namun lama-kelamaan, ia jadi tak sabar bahkan langsung menutupnya.


“Ini apa maksudnya?!” tany Rio yang mulai kehilangan kestabilannya.


“Ya menurut anda apa?” alih-alih menjawab, Andre justru balik bertanya.


“Kalian minta kami mengumpulkan data sebanyak ini, tapi diam-diam kalian juga sudah mengumpulkan analisa atas proyek ini,” ujar Rio berapi-api.


“Lantas apa tujuan pertemuan kali ini?!” Rio berbicara dengan nada tinggi sambil meletakkan telunjuknya di atas dokumen yang tadi Andre tunjukkan.


Andre mengambil dokumen yang baru Rio lihat kemudian mengambil juga dokumen Rio yang baru dilihatnya.


“Setiap pertanyaan anda kami sudah anda siapkan jawabannya dan setiap masalah yang kami temukan, anda  pun sudah menyiapkan solusinya. Jadi mungkin pak Restu punya maksud lain di balik ini semua,” ujar Andre dengan sangat tenang.


Dua pria ini diam di masing-masing tempatnya. Andre masih dengan gaya tenangnya sedangkan Rio nampak mengerutkan alisnya.


“Pak Rio, bolehkah saya membahas urusan pribadi dengan anda sekarang?” tanya Andre setelah sekian lama keduanya diam.


“Memangnya sejak kapan kita punya urusan pribadi?” sarkas Rio sambil menatap acuh Andre.


“Sejak saya menjalin hubungan dengan Hana…” jawab Andre lugas. Dan tanpa dipersilahkan Andre mulai menceritakan tentang Hana yang sangat mendamba punya kakak sepertinya hingga keinginannya menikahi Hana yang ia tahu hanya Galih dan Rio yang bisa membantunya.


Flashback off


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2