Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Sebenarnya


__ADS_3

HAPPY READING


Selamat, selamat, selamat. Pasangan ini sangat beruntung malam ini. Panggilan dari Galih yang masuk ke ponsel Andre berhasil menggagalkan rencana setan yang senang sekali melihat manusia terjerumus dalam perangkap nikmat yang menjadi andalan mereka.


“Kamu nggak marah kan?” tanya Andre di sela ia mengemudikan kendaraan menuju tempat yang Galih minta.


Dengan mata setengah terpejam, Hana menggelengkan kepalanya.


“Aku merasa ada sesuatu yang penting sehingga om Galih memanggil kita untuk segera datang,” ujar Andre menyampaikan alasannya.


“Hmm…”


“Kamu tidur saja, aku bangunkan kalau sudah sampai,” ujar Andre lagi.


“Hmm…”


Andre benar-benar tak tahu kenapa Galih meminta ia membawa Hana malam-malam begini ke tempatnya.


Apa om Galih tahu kalau aku dan anaknya sudah lama tinggal serumah? Batin Andre.


Sebenarnya dari apartemen ke rumah Galih tak butuh waktu lama, namun ia tak ingin terburu-buru. Ia ingin sedikit bersandiwara dengan beralasan harus terlebih dahulu menjemput Hana. Hal ini agar mereka terlihat benar-benar tinggal di tempat yang berbeda.


Saat Andre tengah mengulur waktu dengan mampir ke minimarket yang masih buka, tiba-tiba ponselnya kembai berdering.


“Halo Yo…” ujar Andre setelah mengangkat panggilan tersebut. Kali ini Rio bukan Galih lagi


“Kamu dimana Ndre…?” tanya Rio to the point.


“Lagi on the way ke tempat Om Galih. Beliau minta aku bawa Hana ke sana,” jujur Andre menjawab pertanyaan Rio.


“Puter arah. Papa lagi di sini sekarang.” Pinta Rio tanpa basa-basi.


“Sekarang?” kaget Andre.


“Kamu juga udah jalan kan.” Tebak Rio.


“Iya sih.”


“Ya sudah. Kita tunggu sekarang.”


Rio memutus panggilannya segera. Suaranya terdengar lelah.  Ya maklum sih, Indah baru saja selesai melahirkan dan di sini yang paling lelah adalah suami. Memang Rio tak menangani semuanya sendiri, namun tetap saja banyak yang harus ia urusi.


Andre yang sebelumnya berjalan pelan kini justru menghentikan laju mobilnya. Ia masih bingung dengan permintaan ayah dan anak ini.


“Ah sudahlah…” gumam Andre sebelum kembali menginjak pedal gas. Di sampingnya Hana sedang terlelap, jadi ia tak bisa coba mengajak Hana bicara.


Tak butuh waktu yang lama, Andre sekarang sudah tiba di rumah sakit. Ingin sekali ia membopong Hana tanpa membangunkan kekasihnya ini, namun ia tak mau terlihat terlalu intim di hadapan Galih dan Mustika. Meski itu adalah kenyataan, namun ia merasa ini tak pantas untuk di tunjukkan.


Andre tahu selain lelah Hana pasti memendam kesal seperti dirinya. Tinggal sedikit lagi keduanya menuntaskan permainan, namun panggilan Galih tiba-tiba datang. Keduanya merasa harus segera pergi meski hasrat tak mudah untuk diajak berhenti.


“Sayang…” Andre mengguncang lembut tubuh Hana yang bersandar dalam lelap.


“Enngghhh…” Hana melenguh tanpa membuka mata sedikit pun.


“Sudah sampai rumah sakit,” ujar Andre lagi.


“Kok Rumah sakit?” kaget Hana yang langsung membuka mata.

__ADS_1


Hana mengucek matanya dan sedikit merenggangkan tubuhnya.


“Iya. Aku di telfon Rio di jalan tadi,” jelas Andre.


Hana diam sejenak memastikan nyawanya terkumpul dengan baik.


“Nih…” Andre menyodorkan susu tanpa gula yang sempat dibelinya tadi.


“Makasih.”


Hana meminumnya sedikit kemudian menyimpannya.


“Aku gimana?” tanya Hana sambil meminta Andre melihat wajahnya.


“Cantik…”


“Ishh. Maksudku…”


Andre tertawa kecil. “Nggak ada iler nggak ada belek nggak ada ingus, udah apa lagi…”


Hana tersenyum. “Ayo keluar…”


Keduanya berjalan dengan tangan saling berpegangan.


“Permisi…” ujar Andre pelan sambil membuka pintu perlahan.


“Kalian datang juga akhirnya…” ujar Rio yang nampak duduk bersama papanya di bagian yang terpisah dengan Indah sekarang.


“Maaf harus jemput Hana dulu,” ujar Andre tanpa ada yang bertanya.


“Aku kira kalian lagi barengan, maksudku tadi Hana tak langsung kamu antar pulang…” Rio meralat dengan cepat apa yang baru ia ucapkan.


Sial Rio, sengaja banget ngomongnya.


“Kalian duduk,” pinta Galih pada sejoli yang baru tiba ini.


“Baik om…”


Andre membawa Hana untuk duduk di kursi yang ada di dekat Galih dan Rio tempati. Tiba-tiba Galih mengambil sesuatu dari jasnya dan meletakkannya di atas meja.


“Itu apa Pa?” tanya Rio yang berada di sampingnya.


Galih tak menjawab namun hanya meminta ketiganya untuk melihatnya.


“Mama…” gumam Hana.


Rio menelan ludah. Ia memang tak pernah sudi melihat bagaimana rupa wanita yang ia rasa telah mengusik keluarganya.


“Apa Papa pernah menikahi Mama?” tanya Hana lagi.


Anggukan kepala menjadi satu-satunya jawaban Galih atas pertanyaan putrinya.


“Apa setelah Hana lahir?” tanya Hana hati-hati.


Galih kembali menggunakan gerakan kepalanya sebagai jawaban. Kali ini bukan anggukan melainkan gelengan kepala.


“Pa. Tolong jelaskan semua ini. Jangan sampai kami memendam nyeri karena hal yang tak pasti,” pinta Rio pada Galih.

__ADS_1


Suasana malam ini mendadak mencekam.


“Apa Mama tahu semua ini?” tanya Rio yang meski katanya sudah menerima Hana namun sekarang sepertinya ia mulai tersulut juga.


“Mama kamu sudah tahu hubungan papa dengan Erika bahkan sebelum papa menikahinya.”


“Mama yang terlebih dahulu jatuh cinta dengan papa kamu Nak…”


Belum usai keterkejutan Rio dengan penuturan sang papa, kini sang mama tiba-tiba muncul membawa satu kalimat mengejutkan lagi untuknya.


“Kenapa kamu ke sini? Kamu seharusnya istirahat saja.” ujar Galih saat melihat istrinya berjalan mendekat.


“Aku sudah tidur tadi,” jawab Mustika.


Rio bangkit untuk memberi tempat mamanya di samping sang papa. Ia kemudian mengambil tempat di samping Andre dan duduk di sana.


“Kami sudah ada di sini, tolong ceritakan yang sebenarnya pada kami…” kembali Rio berujar setelah sebelumnya menghela nafas.


Meski ada Andre diantara ia dan Hana, namun Rio masih dapat melihat dengan jelas wajah adik tirinya. Wajah Hana yang cemas sama seperti dirinya.


“Tak lama setelah papa menikahi Mustika, saya juga menikahi Erika.”


Ritme detak jantung Rio dan Hana berubah seketika. Fakta yang Galih ucapkan benar-benar tak pernah mereka pikirkan sebelumnya.


“Saya dan Erika mulai berhubungan sejak SMA. Dan Mustika adalah kakak kelas kami berdua.”


Tiga anak muda ini mengernyitkan dahi. Masih terlalu sulit bagi ketiganya untuk mencerna masalah ini.


“Mama meminta kakek kamu untuk menyiapkan perjodohan Papa,” ujar Mustika sambil menatap Rio, anaknya.


“Papa mau gitu aja?” tanya Rio dengan segenap keterkejutannya.


“Ya kalau Papa nggak mau ya nggak ada kamu.”


“Tck…” Rio berdecak dan membuang muka. Logika Galih memang masuk akal, tapi sekaligus membuat kesal siapa pun yang mendengar.


“Sulit saya katakan, tapi memang saya menjadikan Mustika sebagai batu lompatan agar menjadi orang kaya, dan Erika adalah wanita yang kala itu saya cintai yang selalu menjadi sumber kekuatan saya.”


Galih nampak serius dengan ucapannya. Namun hal ini justru terdengar menyakitkan bagi anaknya, terlebih Hana.


“Lalu kenapa Mama saya bisa jadi…” Hana sakit jika mengingat amanya yang selama ini dianggap wanita malam.


Galih menggeleng. “Maafkan saya karena memposisikan kalian di tempat yang sangat tak nyaman. Saya memang mencintai kalian, tapi saya takut kehilangan apa yang sudah saya bangun dengan susah payah kalau orang tua Mustika tahu saya punya wanita lain.”


"Maafkan ketidak mampuan saya," ujar Galih sekali lagi.


“Mama kok ya mau aja sih,” kesal Rio. Ia kesal tapi jadi kasihan saat melihat Hana.


“Mama sadar jika sejak awal Mama adalah orang ketiga. Meski awalnya Mama berambisi untuk memiliki papa seutuhnya, namun akhirnya Mama sadar jika itu tak bisa. Makanya Mama saat itu meminta Hana untuk dibawa ke rumah saja, karena hanya Hana yang bisa masuk, Erika tidak bisa.”


Galih meraih tangan Mustika dan menggenggamnya.


“Dan saya juga tak tega membawa Mustika menderita jika kakek mengambil semuanya jika saya nekat membuka hubungan saya dengan Erika,” lanjut Galih.


“Aduh, aku pusing…” Rio memegangi kedua kepalanya. "Kenapa hidup kalian rumit sekali..." gerutu Rio yang tanpa sadar membuat wajah sedihnya sedikit pudar.


“Intinya satu. Andre, Hana itu anak saya, anak sah saya. Meski bukan pernikahan resmi tapi pernikahan saya dan mendiang mamanya sah secara agama. Dan Rio, Hana, maafkan Papa. Papa berharap kalian tak perlu menghadapi kehidupan yang seperti papa jalani.”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2