
HAPPY READING
“Ketuk pintu dulu Rin…”
Rina menahan langkahnya dan mundur beberapa untuk menjangkau pintu yang tadi dilewatinya begitu saja.
Tok tok tok
Rina mengetuk pintu sambil mengurai senyum lebarnya. Andre menghela nafas melihat polah istri bosnya yang sering kekanakan seperti sekarang.
“Hana mana Ndre?” tanya Rina setelah ia mengedarkan pandangan ke seluruh sisi ruangan Andre.
“Dia di rumah,” jawab Andre tanpa menghentikan pekerjaannya.
“Nggak ikut lagi?” tanya Rina yang masih memegangi daun pintu.
Andre menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap istri bawel bosnya. “Ya kalau ikut pasti ada di sini.”
“Iya juga. Eh, kenapa dia nggak ikut lagi. Aku pikir dia akan menerima tawaran Dika untuk kembali bekerja di kantor ini.”
Andre menghela nafas. “Dia nggak mau.”
“Kenapa nggak mau?” heran Rina. “Jangan-jangan kamu lagi yang ngelarang dia buat balik kerja lagi di sini,” tuduh Rina dengan mata memicing curiga. “Padahal Hana udah dua hari bantu kamu, dan sepertinya dia nyaman melakukannya meski belum jelas jabatannya apa,” lanjut Rina yang seperti tak puas dengan jawaban yang Andre berikan.
Rina mendesah kecewa. “Serah kamu deh…”
Andre mengacuhkan Rina dan kembali pada pekerjaannya.
“Hana di rumah mana? Biar aku kirim sopir buat jemput dia.”
Andre meletakkan lagi pekerjaannya dan menatap lelah teman SMAnya ini.
“Pertama, kalau dia memang mau ke sini, Hana bisa bawa mobil aku yang ada di rumah. Kedua, kalau pun mau nyuruh sopir, dirumah juga sudah ada sopir selain penjaga. Ketiga, dia juga lagi sibuk dengan kegiatannya sendiri…” jelas Andre panjang lebar kali tinggi.
“Sibuk ngapain sih? Kayak orang udah nikah aja.”
“Kamu ngapain di sini. Aku nyari kamu tahu nggak…”
Rina langsung menoleh kala menyadari kedatangan suaminya. Ia kemudian tersenyum lebar menampakkan deretan gigi rapinya.
Sementara itu Andre merasa lega karena Dika datang. Dengan begini dapat dipastikan bahwa Rina akan segera di bawa pergi dan ketenangannya akan segera kembali.
Saat Andre sedang membayangakan ketenangan yang ia yakini sebentar lagi akan datang, ia mendadak dibuat bergidik melihat kelakuan pasutri yang sekilas dilihat tak ada serasiserasinya. Dika yang terlampau tinggi dan Rina yang pendek sekali membuat ia tampak bulat dengan perut besarnya. Mereka bercanda dan saling menggoda tanpa peduli dimana mereka sekarang berada.
Yang Andre tak habis pikir, mereka menikah sudah bertahun-tahun, tapi kenapa tingkahnya persis ABG yang belum lama jadian.
Rina mengurai senyum saat menghadap sang suami. “Aku semula mau nyari Hana, ternyata dia nggak ada,” ujar Rina menjelaskan keberadaannya di sana.
“”Ya udah, kembali ke ruanganku ya…”
Rina pasrah saat Dika membawanya. Dengan begini Andre bisa bernafas lega dan kembali bekerja.
Ketiga staf Andre menunduk hormat saat orang nomor satu di perusahaan ini lewat, dan kembali menegakkan tubuhnya setelah Dika menghilang di ruangannya.
“Mereka masih bucin saja…” celetuk Rahma
__ADS_1
“Karena meraka masih pada muda,” jawab Riza dengan santainya.
“Tapi mereka sudah bersama lebih dari lima tahun Mbak. Siapa yang nggak iri juga…” imbuh Rahma.
Rahma menghela nafas, saat Riza tak lagi membalasnya. Alisnye tertaut seolah tengah berfikir serius.
“Yang sudah lama bersama masih mesra, dan yang belum lama dipublikasi malah justru sudah tak terlihat bersama lagi.”
“Siapa yang kamu maksud?”
Ucapan provokatif Hana berhasil membuat Alis bersuara.
“Hana. Setelah kemarin membuat geger karena pak Andr akui sebagai kekasihnya, tapi sekarang mereka sudah tak terlihat bersama lagi, apa ini karena pak Andre sudah…”
Cklek!
Rahma menghentikan ucapannya saat pintu di hadapannya tiba-tiba terbuka.
“Sepuluh menit lagi akan ada rapat evaluasi, Rahma tolong periksa ini dan nanti ikut saya.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya Andre segera kembali ke ruangannya. Ia tak menunggu Rahma bahkan untuk sekedar berkata iya.
“Hancur lagi kan mood pak Andre,” bisik Rahma pada Elis.
Elis hanya manggut-manggut tanpa mengungkapkan pendapat.
“Ehm. Sudah hampir berjalan 5 menit. Kalau kamu tidak sanggup biar aku saja yang mengerjakan,” ujar Riza mengingatkan rekan kerjanya.
Merasa mendapat serangan Rahma mendengus dan segera kembali pada pekerjaannya.
Tidur dari siang hingga tengah malam ia baru kembali mendapatkan kesadaran. Saat Andre tengah terlelap, ia justru mulai bekerja. Sebuah cerita pendek berhasil ia buat dan mengikutkan sebuah kontes di akhir waktu. Dan kini ia yang sudah selesai membersihkan diri bersiap untuk melihat pengumuman sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan.
“Nona, sarapannya…”
Karena tak kunjung keluar, bibi akhirnya mengantar sarapan untuk Hana. Ia tak mau nonanya ini sampai sakit karena hingga siang sudah menjelang, ia sama sekali belum keluar untuk makan.
“Tarus situ Bi…” ujar Hana yang masih harap-harap cemas menunggu pengumuman kontes yang diikutinya.
Bibi meletakkan nampan yang ia bawa di tempat yang Hana tunjukkan. Setelahnya ia tak langsung keluar melainkan menunggui Hana di dekatnya.
“Itu dimakan dulu Non…” ujar Bibi mengingatkan.
“Sebenatar lagi Bi, nanggung,,,”
“Tapi Nona belum makan sejak pulang semalam…”
Hana meringis. Bagaimana aku bisa makan kalau aku lagi deg-degan. Batin Hana tanpa suara.
Bibi meraih susu yang ia bawa sebelumnya. “Setidaknya minum ini Nona. Den Andre akan marah kalau sampai Nona kenapa-napa…”
Hana tak enak juga dengan bibi. Ia akhirnya meminum susu yang masih terasa sedikit hangat itu. Wanita ini bukan siapa siapa, tapi sangat baik sejak pertemuan pertamanya. Ia tetap bersikap baik pada Hana meski Hana muncul sebagai wanita tak baik yang tengah mengandung anak pria yang belum resmi menikahinya.
“Ini dimakan ya Non, walau sedikit. Kalau tidak Nona bisa sakit…” lanjut bibi setelah Hana menyerahkan gelas yang sudah hampir habis isinya.
“Iya Bi. Makasih ya…”
__ADS_1
Bibi keluar dengan membawa gelas bekas susu yang Hana minum. Masih banyak pekerjaan yang harus wanita paruh baya ini kerjakan termasuk mendampingi tiga asisten baru di rumah ini untuk bekerja agar mereka tahu apa tugasnya.
Hingga akhirnya waktu yang Hana tunggu pun. Pengumuman hasil karya yang semalam dibuat secara mendadak olehnya. Alarm berdering nyaring, membuat Hana antusias bukan main. Saking antusiasnya dia, hingga ia tak sadar jika baterai laptopnya sudah menunjukkan tanda lemah sejak tadi. Koneksi internet yang bagus membuat Hana merasa tak ada hambatan untuk mendengarkan langsung pengumuman.
Pemenang pertama berhak mendapat kontrak eksklusif untuk beberapa karya ke depan. Sehingga Hana benar-benar tak mau kehilangan kesempatan. Ini adalah batu lompatan yang sangat bagus untuknya. Untung saja ia tak terlambat memperoleh informasi sebagus ini sehingga walau ia tak yakin akan menang tapi setidaknya ia masih punya kesempatan.
“Loh, loh, loh…”
Ctak ctak ctak
“Ya Tuhan…”
Ctak ctak ctak
“Aaaaaah!!!!!”
Teriakan Hana berhasil memicu kepanikan di rumah ini. Semua asisten yang penjaga berlarian ke tempat Hana berada.
“Ada apa Nona?!” semua panik dan menanyakan hal sama.
Sementara Hana tak menjawab. Ia justru sibuk mencari colokan untuk mengisi daya laptopnya.
“Ini dimana sih? Kenapa aku lupa menaruhnya…”
Hana yang gusar membuka apa saja untuk menemukan charger laptop yang belum lama Andre belikan untuknya.
“Apa yang anda cari Nona.”
“Charger, charger.” Hana membuat semua orang menerka. Mereka semua ikut membantu Hana menemukan barang yang tak satu pun tahu tempatnya.
Saat semua orang sedang panik, tiba-tiba ponsel Hana berdering.
“Nona ada telfon…” ujar salah seorang yang tak sengaja melihatnya.
“Siapa?!” teriak Hana yang masih seperti orang gila.
“Tidak ada namanya Nona…” ujar wanita itu lagi.
“Biarkan saja. Yang penting cari chargernya dulu…” ujar Hana mengacuhkan panggilan yang masuk ke ponselnya.
Sementara itu di tempat lain.
“Ini gagal, gimana?”
“Gagal gimana.”
“Dihubungi nggak ada jawaban.”
“Udah kamu coba berapa kali?”
“Sekali.”
“Coba lagi…”
Bersambung…
__ADS_1