
^^^Tinggalkan jejak ya teman-teman.^^^
^^^Apapun yang kalian tulis, itu semua jadi amunisi buat author.^^^
^^^-Happy reading-^^^
Bagai tersambar petir di petang hari. Dika masih sulit percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan gemetar saat tiap fakta itu meluncur dari mulut Edo.
"Pak Rudi gimana menanggapi permintaan papa?"
Edo tersenyum samar saat menyadari panggilan Dika untuk ayah tirinya kini berubah.
"Pak Rudi menolak. Dia bilang kalau bu Santi lebih cocok dengan pak Hendro yang tegas dan mampu memberikan kepastian, bukan dirinya yang bahkan tak berani mengungkap perasaan."
"Apa Andika dalam nama saya ada hubungannya dengan nama belakang Pak Rudi?"
Edo mengangguk. "Sebagai ungkapan terimakasih bapak, beliau menyematkan nama belakang pak Rudi di nama Mas."
Dika mengusap wajahnya kasar. Dia bangkit tanpa permisi. Berlalu meninggalkan kantor dengan perasaan kacau. Ia ingin tahu lebih banyak tentang masa lalu orang tuanya. Tapi saat ini ia sudah tak sanggup untuk mendengar lebih.
Ia terus berjalan meninggalkan area kantor. Ia hanya terus berjalan tanpa sebuah tujuan. Hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya.
"Dika, kenapa kamu jalan di sini sendiri?" tanya Lusi yang sengaja berhenti saat tak sengaja melihat Dika sedang berjalan sendiri.
Dika menatap Lusi tak bersahabat. Apakah Rudi sebaik itu? Bahkan ia sempat menghianati mama dengan wanita yang lebih pantas menjadi anaknya. "Bukan urusan kamu." Dika kembali melanjutkan langkahnya.
Lusi keluar dari mobilnya dan berjalan mensejajari Dika. "Kalau ada masalah itu cerita, jangan ngelamun dan jalan tanpa arah gini."
Dika menjatuhkan pantatnya di trotoar.
Lusi meletakkan sebelah tangannya di bahu Dika.
"Jauhin tangan kamu."
Lusi menghela nafas. "Kamu jangan gini dong. Gimana pun juga, kita pernah saling sayang."
Dika mengacuhkan Lusi. "Kamu boleh pergi kalau nggak ada hal penting yang ingin kamu sampaikan."
Bukannya gentar, Lusi justru merapat dengan memeluk erat lengan Dika. "Dika, aku masih sayang sama kamu. Kamu kayak gini pasti karena berantem sama cewek kamu, iya kan? Kamu kudu sadar Dika, cuma aku yang paling ngerti kamu."
Dika bangkit setelah menghempaskan tangan Lusi. "Jangan pernah bandingin diri kamu sama Rina."
"Dik, apa sih lebihnya dia dibanding aku? Aku bisa kalau kamu minta setia, aku janji nggak bakal main sama yang lain lagi. Dan juga..." Lusi perlahan kembali merapatka dirinya pada Dika. "Aku yakin bisa muasin kamu." Bisik Lusi dengan nada menghoda. Lusi memang gadis yang cantik, tubuhnya tinggi semampai dan proporsional, sayang kelakuannya kurang diperhatikan.
"Cih..." Dika tersenyum remeh. "Aku heran kenapa dulu pernah menaruh hati padamu."
"Karena aku pantas, tidakkah kamu sadar!?" Lusi membusungkan dada dan menatap Dika dengan pongah.
Dika menunduk untuk mensejajarkan tingginya dengan Lusi. "Bukankah bersama ayah tiriku saja kamu mau, kenapa harus mengejarku?"
"Dika...?!" Lusi mendadak panik, ia tak mengira bahwa Dika juga mengetahuinya. "Dia yang memaksaku."
__ADS_1
Dika kembali tersenyum remeh. Dia pergi begitu saja meninggalkan Lusi yang berteriak histeris tak terima dengan apa yang Dika katakan.
Rudi Andika, orang seperti apa kamu sebenarnya?
***
"Kak..." Rista bangkit setelah melipat mukena yang baru saja ia kenakan.
"Hmm..." jawab Dedi sambil memainkan ponsel pintarnya.
"Kakak kok belum balik ya?"
"Masih perjalanan kali." Jawab Dedi tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ada nomer Kak Rina nggak?"
"Tanya Dika aja."
"Kak Dediiiii!!!"
"Apa sih Ta!" protes Dedi karena Rista mengambil ponselnya begitu saja.
"Ya kalau Kakak bisa dihubungi aku nggak bakal ngehubungi Kak Rina!" ketus Rista dengan wajah yang menampakkan kekhawatiran.
Dedi menyadari kesalahannya. Dia menarik kepala Rista dan menyandarkan di bahunya. "Dika pasti cuma ada urusan, kamu tenang ya," tutur Dedi berharap Rista akan tenang setelahnya.
"Rista kangen Mama Papa..."
"Rista bisa doain papa..."
"Udah."
"Kalau mama, aku bisa anter kalau kamu mau."
"Tapi gimana kalau kak Restu marah?"
Dedi membelai rambut panjang Rista. "Aku yakin Dika nggak akan marah."
Rista melingkarkan lengannya di perut Dedi. "Rista sayang Kakak."
Dedi menegang dipeluk sedemikian. Rista..., ini nanti kalau aku nggak bisa ngontrol diri gimana? Dika juga mana sih, nggak balik-balik, mana dihubungi nggak bisa. Dedi merutuki situasi yang tengah menjebaknya kini.
"Mending sekarang kamu mandi." Ucap Dedi sambil mendorong tubuh Rista agar melepas rangkulannya.
Ia kemudian bergerak ke dapur memasak makan malam untuk mereka. Pasalnya setelah peristiwa masak tengah malam kemarin, Rista bilang kalau masakan Dedi enak, dan Dedi merasa senang akan hal itu. Jadilah malam ini mereka memutuskan untuk makan malam di rumah dengan Dedi yang memasak.
***
"Anak muda jangan terlalu banyak melamun." Reno datang membawa 2 cangkir kopi yang salah satunya diletakkan di hadapan Dika.
"Makasih Om."
__ADS_1
"Gimana lombanya?" tanya Reno sambil menghirup aroma kopi di hadapannya.
"Nggak menang Om."
"Dapat nomer berapa emang?"
"No 2 Om."
Reno terbahak mendengar jawaban Dika. "Dasar anak sekarang, susah muasinnya." Reno menyeruput kopinya sejenak. "Susah puas apa susah bersyukur ya, hahaha!"
Kembali Reno terbahak sementara Dika hanya menatapnya dengan senyum yang dipaksa.
Keduanya kemudian terdiam, sibuk terlarut dalam pikirannya masing-masing.
Tok tok tok
"Permisi. Rina disuruh Mama." Rina meletakkan 2 toples kue kering di atas meja.
"Sepertinya Papa nggak bisa ngajak kamu gabung," ucap Reno saat melihat putrinya sesekali mencuri pandang terhadap pemuda di hadapannya.
"Ri, Rina juga mau ke kamar lagi." Cepat-cepat Rina berbalik dan pergi dari sana.
Reno terkekeh melihat tingkah putrinya. Sementara Dika sejak di temukan Reno di pinggir jalan tadi memang lebih banyak diam dengan pandangan kosong. Sepertinya anak ini sedang banyak pikiran.
"Dika tadi habis darimana?" tanya Reno untuk memecah lamunan Dika.
"Dari kantor papa Om."
"Papa..." Reno menggantung ucapannya, berharap Dika akan menjelaskan kalimatnya.
"Dari Surya Group."
Reno mengangguk. Dia kembali menyeruput kopinya dan meletakkan ke meja.
"Om..."
"Hmm...?" Reno mendongak menatap sisa semburat senja dari terah belakang rumahnya.
"Sebaik apa Om mengenal Pak Rudi." Pertanyaan yang sedari tadi ditahan Dika akhirnya keluar juga.
"Itu kuenya dicicipin. Tadi Rina sama mamanya yang bikin, katanya mau diantar ke tempat kamu, makanya pas lihat saya pulang bawa kamu ke sini Rina girang bukan main."
"Rina suka bikin ginian Om?" tanya Dika sambil mencomot sebuah kue dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Seingat saya, ini yang pertama." Reno ikut mencomot kue itu dan menggigit ujungnya. Saat tengah mengunyah, tiba-tiba Reno membelalakkan matanya. "Punya kamu ditelan semua?" tanya Reno yang meraih tissue dan ditaruh di depan mulutnya.
"Iya Om, sayang kalau di lepeh." Dika menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Dasar anak muda, hahaha....!!!"
TBC
__ADS_1