KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Penyesalan Samuel


__ADS_3

FLASHBACK ON


Brenda sekarang ini berada di kamarnya. Sedari tadi dirinya benar-benar tak tenang. Hati dan pikirannya tertuju kepada Darren dan ketujuh sahabat-sahabat Darren. Brenda berpikir jika telah terjadi sesuatu terhadap Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Kenapa perasaanku tak enak seperti ini? Kenapa bayangan Darren dan ketujuh sahabatnya berputar-putar di kepalaku? Apa terjadi sesuatu terhadap mereka?" tanya Brenda kepada dirinya.


Brenda berjalan mondar mandir di kamarnya sembari menggumam nama Darren dan ketujuh sahabatnya.


Ketika Brenda tengah khawatir sembari menyebut nama Darren dan ketujuh sahabatnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Brenda yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambilnya. Setelah ponselnya itu berada di tangannya, Brenda melihat nama 'Bos Ziggy' di layar ponselnya.


Melihat nama Bos nya tertera di layar ponselnya, Brenda langsung menjawab panggilan Bos nya itu.


"Hallo, Bos."


"Hallo, Brenda. Maaf kalau aku mengganggumu malam-malam begini."


"Tidak apa-apa, Bos! Ada apa, Bos?"


"Aku butuh bantuanmu malam ini. Bisa?"


"Bisa Bos. Apa yang harus aku lakukan?"


"Begini, kau sudah tahukan tentang keluarga dari Samuel?"


"Iya, Bos! Aku sudah tahu mengenai keluarga dari Samuel. Samuel hanya memiliki ibu dan dua adik perempuan. Dan Samuel adalah sebagai tulang punggung keluarganya."


"Baguslah kalau begitu."


"Sebenarnya ada apa, Bos! Kenapa Bos menanyakan tentang keluarga Samuel?"


"Begini. Brenda. Malam ini akan terjadi perang besar-besaran di kediamannya Darren. Kelompok Samuel dan kelompok Gustavo membagi kelompok untuk menghabisi Darren dan ketujuh sahabatnya beserta seluruh keluarganya secara bersamaan. Dengan begitu, baik Darren maupun ketujuh sahabatnya tidak bisa saling membantu."


Mendengar informasi yang diberikan oleh Ziggy membuat Brenda terkejut. Seketika tubuhnya menegang.


"Pantesan saja perasaanku tidak enak sedari tadi. Dan ditambah lagi bayangan mereka selalu berputar-putar di kepalaku. Jadi mereka saat ini tengah berjuang antara hidup dan mati," batin Brenda.


"Hallo, Brenda! Apa kau masih disana?"


"Ach, maaf Bos! Pukul berapa kelompok Samuel dan kelompok Gustavo akan menyerang keluarga Darren dan ketujuh sahabatnya?"


"Pukul 12 malam. Dan sekarang mereka semua sudah berada di rumah Darren. Aku dan yang lainnya sudah mengatur semuanya."


"Apa yang harus aku lakukan terhadap ibu dan kedua adik perempuan Samuel?"


"Begini! Kau datanglah ke rumah keluarga Samuel. Temui ibunya. Dan katakan jika malam ini putranya dan pamannya Gustavo akan menghabisi delapan keluarga tanpa sisa. Aku yakin jika ibunya mendengar berita ini. Pasti ibunya akan syok. Dan aku lebih yakin lagi ibunya akan meminta padamu untuk membawanya ke rumah Darren."


"Apa Bos yakin jika ibunya akan percaya dengan semua yang aku katakan?"

__ADS_1


"Percayalah! Semua akan berjalan sesuai rencana kita. Aku sudah menyelidiki tentang ibunya Samuel. Ibunya Samuel sedikit banyaknya sudah mengetahui sepak terjang putranya bersama dengan adik iparnya yaitu Gustavo. Hanya saja ibunya Samuel tidak ada keberanian untuk membicarakan masalah tersebut dengan Samuel. Alasan ibunya Samuel menyembunyikan masalah itu karena ibunya Samuel tidak ingin putranya membencinya dan berakhir putranya pergi meninggalkan dirinya dan kedua adik perempuannya. Ibunya Samuel hanya memiliki Samuel dan kedua putrinya, walaupun mereka masih memiliki sanak saudara dari pihak ibunya Samuel."


"Bukan itu saja. Samuel juga sangat menghormati dan menyayangi ibunya. Apapun akan dilakukan oleh Samuel untuk membahagiakan ibu dan kedua adik perempuannya. Ini hanya masalah komunikasi saja antara Samuel dan ibunya. Ibunya tidak pernah terbuka. Sedangkan Samuel tidak mengetahui keinginan dan harapan ibunya seperti apa."


"Sekarang kau pergilah ke rumah Samuel. Bawa ibunya Samuel ke rumah Darren. Nanti akan ada yang menjemputmu."


"Baiklah, Bos!"


Setelah berbicara dengan Ziggy. Brenda pun langsung mematikan teleponnya.


Brenda pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah keluarga Samuel. Sebelum pergi, Brenda terlebih dahulu berpamitan dengan keluarganya. Dirinya tidak ingin keluarganya mengkhawatirkan dirinya keluar malam-malam.


Brenda terpaksa berbohong kepada keluarganya, terutama ibunya dan mengatakan bahwa dirinya pergi membantu temannya di perusahaan. Temannya itu kesulitan mengoperasikan komputer. Dan Brenda lah yang pakarnya.


Mendengar alasan Brenda keluar malam-malam membuat ibunya percaya dan memberikan izin Brenda pergi.


FLASHBACK OFF


DOR! DOR! DOR!


Terdengar tiga tembakan dimana Darren dan Samuel berada.


BRUUKK!


"Mama!"


Ketika Samuel ingin menembak Darren yang saat ini benar-benar dalam kondisi tak baik, tiba-tiba seorang wanita paruh baya berlari dan menahan peluru-peluru itu.


"Ma-mama," lirih Samuel dengan melangkah gontai menghampiri sang ibu.


BRUUKK!


Tubuh Samuel jatuh tepat di hadapan ibunya. Dan jangan lupa air matanya yang mengalir membasahi wajah tampannya.


Samuel mengangkat kepala ibunya, lalu meletakkan kepala ibunya itu di atas pahanya.


"Mama," isak tangis Samuel.


Wanita itu menatap wajah tampan putranya dengan tangannya mengusap wajah putranya itu.


"Sa-samuel, putra Mama. Mama sangat menyayangimu, Nak!"


"Aku juga sangat menyayangi Mama. Jangan tinggalkan aku. Jangan pergi. Tetaplah bersamaku," ucap Samuel dengan membelai wajah ibunya.


"Samuel. Apa Mama boleh meminta sesuatu darimu, sayang?"


"Apa? Mama mau minta apa? Katakan padaku. Apapun permintaan Mama, aku akan mengabulkannya!"


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya, aku akan mengabulkan keinginan dan permintaan Mama."


"Apapun?"


"Apapun."


"Samuel sayang. Selama hidup Mama hanya ada satu permintaan dan juga harapan. Dan Mama ingin permintaan dan harapan Mama ini dikabulkan. Kamu mau?"


"Katakan padaku apa permintaan dan harapan Mama itu?"


Wanita itu tersenyum tulus menatap wajah basah putra sulungnya. Bahkan wanita itu bisa melihat dari tatapan mata putranya itu ada ketulusan dan kesungguhan disana.


"Permintaan Mama adalah Mama ingin kamu berhenti berbuat jahat terhadap orang lain. Berhenti menyakiti orang-orang yang tidak bersalah. Berhenti dari segala perbuatan jahat selama ini kamu kerjakan."


Mendengar permintaan ibunya dan melihat ibunya yang menangis ketika mengatakan permintaan tersebut membuat Samuel merasakan sakit di dadanya.


"Samuel. Maafkan Mama karena Mama gagal menjadi ibu yang baik untukmu. Mama gagal mendidikmu menjadi pemuda yang baik."


Mendengar perkataan ibunya membuat Samuel langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bagi Samuel, ibunya tidak pernah gagal dalam mendidiknya dan mendidik kedua adik perempuanya. Justru sebaliknya, ibunya sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.


"Tidak, Mama! Mama adalah ibu yang terbaik yang aku miliki di dunia ini. Mama selalu mendidikku dengan baik."


Wanita itu tersenyum ketika mendengar perkataan dari putranya. Tangannya menggenggam kuat tangan putranya dan dibalas oleh Samuel.


"Samuel. Sebenarnya Mama sudah mengetahui semuanya. Mama tahu apa yang kamu lakukan selama ini. Tapi Mama tidak berani untuk menegurmu. Mama takut jika kamu akan marah pada Mama karena Mama terlalu ikut campur dalam urusan kamu. Mama menahan semuanya. Mama tidak ingin kehilangan kamu. Mama hanya memiliki kamu dan kedua adik perempuanmu. Dan Mama tidak memiliki siapa-siapa lagi."


Mendengar perkataan ibunya membuat Samuel terkejut. Dirinya tidak menyangka jika ibunya sudah mengetahui semua kejahatannya selama ini. Dan parahnya, ibunya memilih diam dan tidak menegurnya hanya karena takut dirinya akan marah dan pergi meninggalkannya.


"Mama... Maafkan aku... Maafkan aku yang sudah menyakiti Mama," ucap Samuel dengan memberikan beberapa ciuman di kedua pipi dan kening ibunya. Dan jangan lupa air matanya yang berlomba-lomba jatuh membasahi wajahnya.


Sementara anggota keluarga Darren, anggota keluarga dari ketujuh sahabatnya Darren, kelima kakak-kakak mafia Darren dan ketujuh sahabat Darren dan para tangan kanan ikut menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan antara Samuel dan ibunya.


Darren dan ketujuh sahabatnya menatap lekat ke arah Samuel. Di dalam hati mereka masing-masing mengatakan bahwa Samuel aslinya adalah pemuda yang sangat baik.


Namun berlahan sifatnya berubah sejak kematian ayahnya. Ditambah lagi didikan dan ajaran yang diberikan oleh Gustavo yang tak lain adalah Pamannya, adik laki-laki dari ayahnya.


Gustavo selalu menanamkan kebencian kepada Samuel. Bahkan Gustavo juga selalu mengajarkan bagaimana cara menjadi orang hebat dan sukses dengan cara yang salah.


"Bagaimana sayang? Apa kamu mau mengabulkan permintaan Mama barusan?"


Samuel menatap lekat tepat di manik ibunya. Terlihat permohonan disana.


"Aku... Aku akan mengabulkan permintaan Mama itu. Aku janji untuk berhenti dari dunia kejahatan. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Demi Mama dan kedua adik perempuanku, aku akan berubah." Samuel berucap dengan kesungguhan hatinya.


Lagi-lagi wanita itu tersenyum bahagia mendengar jawaban dari putranya. Wanita itu bisa melihat dari tatapan mata putranya itu. Terlihat ketulusan dan kesungguhan disana. Putranya tidak main-main dalam berucap.


"Terima kasih sayang."


"Katakan padaku, apa harapan Mama selama ini?" tanya Samuel.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum. "Harapan Mama adalah Mama ingin anak-anak Mama menjadi anak-anak yang baik dan anak-anak yang berguna bagi semua orang, terutama kamu sayang. Mama ingin kamu menjadi laki-laki yang baik, sopan dan lemah lembut."


__ADS_2