KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Rasa Iri Mikko Dan Kenzo


__ADS_3

Askara sudah berada di kampus. Dia tidak sendirian, melainkan bersama dua sepupunya yaitu Monica dan Mehdy. Dan juga bersama masing-masing empat sahabat Monica dan Mehdy.


Untuk sahabatnya Monica adalah Azkiya Fausta, Aurelia Sheehan, Saskia Dipta dan Zora Swastika.


Untuk sahabatnya Mehdy adalah Zivan Ravindra, Pasya Hafinas, Damian Thufail, Radika Rasendria dan Riffat Rafardhan.


Saat ini mereka berada di kantin untuk mengisi perutnya sebelum mengikuti kelas pertama.


Mereka menikmati sarapan paginya diselangi obrolan kecil dan juga candaan diantara mereka. Namun diantara mereka hanya Askara yang tidak ikut dalam obrolan tersebut, walau dia menyimak dan mengikutinya.


Zivan bersiul siul di pojok kantin. Tatapannya mengarah ke setiap murid-murid cewek yang tengah nongkrong di kantin. Di sebelahnya ada Pasya yang tengah mengerlingkan matanya genit ke arah murid-murid cewek.


"Mata lo pingin gue colok rasanya, Sya!" Damian berceletuk sebal.


Di tangan Damian itu ada ponsel yang selalu setia setiap saat menempel.


"Iri bilang karyawan!" sambar Pasya cepat lalu tertawa dengan ucapannya sendiri.


"Iri bilang bos! Gitu bodoh!" sahut Radika menempleng samping kepala Pasya.


"Gue kan bosnya. Masa iya bos iri sama karyawan. Damian kan karyawan! Jadi, IRI BILANG KARYAWAN!"


"Definisi dari mana setan?" tanya Radika.


"Dari Pasya, si ganteng sejagat raya!"


"Jijik gue!


Damian, Azkiya dan Aurelia berlagak seolah-olah ingin muntah.


"Najis."


"Najis."


Riffat, Saskia, dan Zora di depannya berucap dan bergidik bersamaan.


"Memang gue aja yang di takdirkan paling cakep." Radika menyugar rambutnya ke belakang lalu tersenyum manis.


Gumpalan tissue mendarat tepat mengenai wajah Radika membuat cowok itu meringis kecil lalu menatap Damian, Mehdy dengan wajah super kesal.


Damian dan Mehdy yang melempari gumpalan tissue ke wajah Radika karena kesal akan sikap sok percaya dirinya.


Radika memicingkan matanya menatap Damian dan Mehdy. "Lo kayaknya punya dendam kusumat sama gue deh Damian. Dan Lo juga Mehdy. Ngapa lo dan lo?!" tanya Radika tidak santai.


"Bodoh amat. Nggak denger. Gue pakai masker," ujar Damian acuh dan kembali pada aktivitasnya bermain game online.


Ketika sahabat-sahabatnya Mehdy tengah asyik mengobrol tak jelas, walau terdengar lucu dan menghibur. Askara yang sejak tadi hanya diam namun tatapan matanya menatap ke meja lain.


Tak jauh beda dengan orang-orang yang ada di meja lain. Mereka juga sejak tadi memperhatikan satu sosok yang menjadi pusat perhatian mereka. Siapa lagi kalau bukan Askara.


Askara saat ini tengah memperhatikan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel yang sedang bersama dengan para kekasihnya minus Brenda.


Sejak Brenda bertemu dengan Darren dan berakhir Darren yang tidak mengingat dirinya, Brenda memutuskan memisahkan diri dari sahabat-sahabatnya dan juga sahabat-sahabat Darren. Alasannya adalah Brenda belum siap setiap hari bertemu dengan Darren yang sama sekali tak mengenalinya. Dia tidak akan sanggup jika melihat Darren tertawa bahagia bersama orang lain.


Jadi dengan kata lain, jika Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa serta Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel masuk kuliah pukul 12 siang. Berarti Brenda akan masuk kuliah pukul 8 pagi. Begitu sebaliknya.


Sama hal dengan Askara, Monica dan Mehdy serta para sahabatnya. Mereka mengambil jadwak masuk kuliah siang, karena paginya mereka sibuk di pekerjaan mereka masing-masing diluar kampus.


Mendengar keputusan Brenda membuat Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa menangis. Mereka tidak menyangka jika Brenda akan mengambil keputusan seperti itu.


Bagaimana dan apapun yang menjadi keputusan Brenda. Mereka tetap menghargai keputusan tersebut. Dan mereka berjanji akan selalu menanyakan kabar dan juga memberikan kabar. Bahkan mereka akan selalu mengunjungi Brenda di kediamannya. Baik Elsa, Alice, Vania maupun Milly, Lenny, Tania dan Felisa tidak akan meninggalkan Brenda. Apalagi sampai melupakan Brenda.


"Sejak tadi mereka terus menatapku. Dan tatapan mata mereka begitu...."


Askara menghentikan ucapannya. Matanya terus menatap kearah Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel secara bergantian.


"Ren, seharusnya lo disini bersama kita."


"Disini tempat lo, Ren!"


"Ren, gue kangen lo."


"Ren, lo sahabat kita. Lo nggak pantas disana."

__ADS_1


"Ren, kembali sama kita. Kita semua sahabat-sahabat lo. Bukan mereka. Mereka nggak ada hubungannya sama lo."


"Gue nggak rela lo punya sahabat lain selain kita, Ren!"


"Lo itu hanya milik kita, Ren! Hanya kita sahabat-sahabat lo. Kalau pun ada sahabat baru diantara kita, itu pun kita bersama-sama yang menerima atau menolaknya. Seperti kita menerima Elzaro dan kelima sahabatnya menjadi bagian dari kita."


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel berucap di dalam hatinya masing-masing dengan tatapan matanya menatap kearah Darren yang saat ini juga tengah menatapnya.


Mehdy yang menyadari bahwa Askara hanya diam dan tatapan matanya menatap kearah meja lain. Mehdy langsung melihat kearah dimana tatapan mata Askara.


Mehdy melihat tujuh pemuda dan tujuh gadis yang duduk tak jauh dari pandangannya. Mehdy meyakini bahwa ketujuh pemuda tersebut adalah sahabat-sahabatnya Askara.


Mehdy mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya tentang kejadian di kampus dua hari yang lalu dimana Askara yang tiba-tiba di peluk oleh seorang mahasiswi. Bahkan mahasiswi itu menyebut dirinya kekasih Askara. Bahkan anak buahnya juga mengatakan bahwa ada tujuh pemuda yang berstatus sebagai anggota organisasi di kampus adalah sahabatnya Askara.


"Jadi mereka sahabat-sahabatnya Askara? Jika benar mereka adalah sahabat-sahabatnya Askara berarti mereka juga sahabat-sahabatku. Bagaimana pun Askara sudah aku anggap sebagai saudaraku, walau dia bukan Askara dan bukan bagian dari keluarga Mendez sebenarnya. Namun keluarga besar Mendez sudah menganggap Askara bagian dari keluarga Mendez."


Mehdy berucap di dalam hatinya sembari sesekali melirik kearah Askara dan beralih menatap kearah ketujuh sahabatnya Askara.


"Gue akan bantu lo untuk bisa mengingat kembali, Askara! Gue janji sama lo. Gue nggak mau egois dengan menahan lo tetap menjadi bagian keluarga Mendez. Bagaimana pun keluargan kandung lo dan orang-orang terdekat lo yang lebih berhak atas lo," batin Mehdy lagi.


Ketika Askara masih fokus dengan menatap kearah tujuh pemuda yang mengaku-ngaku sebagai sahabatnya, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan bunyi ponselnya.


Mendengar bunyi ponselnya membuat Askara tersadar lalu kemudian tangannya mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya sudah berada di tangannya. Matanya melihat nama 'Daddy Yufal' di layar ponselnya.


"Dari siapa?" tanya Mehdy.


"Daddy Yufal," jawab Askara.


Setelah itu, Askara langsung menjawab panggilan dari sang Daddy.


"Hallo, Dad!


"Hallo, sayang. Apa Daddy ganggu?"


"Tidak, Dad! Kenapa?"


"Sebentar, Dad!"


Askara melihat kearah Mehdy dan Monica lalu bertanya. "Jadwal kuliah kita hari ini apa?"


"Sejarah, Bahasa Inggris dan Komputer." Monica yang menjawabnya.


"Kenapa? Apa Daddy Yufal menyuruhmu ke kantor?" tanya Mehdy yang tahu maksud dari pertanyaan Askara.


"Kebetulan jam kuliah bahasa Inggris lagi kosong. Dosen nggak hadir karena sakit. Kamu bisa ke kantor Daddy Yufal untuk beberapa jam," ucap Mehdy.


"Dan kamu harus kembali lagi ke kampus sebelum pukul 2 sore," sela Monica.


"Baiklah."


Setelah itu, Askara kembali berbicara dengan sang Daddy di telepon.


"Hallo, Dad."


"Hallo, sayang. Bagaimana?"


"Aku bisa. Aku akan ke kantor Daddy sekarang agar sebelum pukul 2 sore, aku sudah harus di kampus."


"Oke, sayang."


Setelah itu, Askara mematikan panggilannya. Dan masukkannya kembali ke dalam saku celananya.


Askara berdiri dari duduknya dan menatap wajah Monica, Mehdy dan sahabatnya.


"Aku pergi sekarang!"


"Hati-hati di jalan!" seru mereka semua.


***


Erland berada di perusahaannya. Dia saat ini tengah memeriksa beberapa berkas yang menumpuk di atas meja.

__ADS_1


Ketika sedang fokus dengan pekerjaannya, tak sengaja matanya melihat kearah bingkai foto putra kesayangannya yang ada di samping kanannya ketika hendak meletakkan berkas yang sudah selesai dibaca dan ditandatanganinya.


Seketika Erland tersenyum sambil tangannya meraih bingkai foto itu. Erland menciuminya.


"Darren! Apakah kamu tahu apa yang Papa rasakan saat ini? Dua hal yang Papa rasakan, sayang! Pertama Papa bahagia kamu baik-baik saja. Dan kedua, Papa sedih karena kamu tidak mengingat Papa dan orang-orang terdekat kamu. Tapi Papa tidak mempermasalahkan hal itu sayang. Papa yakin kamu akan kembali kepada Papa. Kamu putra Papa. Selamanya akan seperti itu. Dan Papa akan bantu kamu untuk bisa ingat sama Papa lagi. Begitu juga dengan yang lainnya."


Erland mengusap-usap lembut foto Darren yang ada di dalam bingkai itu. Dia tersenyum.


Erland berjanji kepada dirinya untuk tidak sedih. Bahkan Erland akan semangat menjalani hari-harinya. Dia tahu bahwa putra kesayangannya itu sudah berjuang beberapa bulan ini. Bahkan Erland tahu bahwa putra kesayangannya itu juga tengah berjuang untuk mengingat kembali.


"Papa sayang kamu."


***


Di perusahaan Yfal'Omz Corp terlihat seorang pria paruh baya yang tampak sibuk dan juga lelah dengan semua pekerjaan yang begitu banyak. Ada beberapa berkas yang kurang bisa dipahami oleh pria itu, makanya Kenapa pria itu meminta Askara untuk datang ke perusahaan miliknya.


Di lobi perusahaan Askara tengah melangkahkan kakinya memasuki perusahaan untuk menuju ruang kerjanya.


Namun tiba-tiba langkah terhenti karena ada dua karyawan yang menghadangnya. Dua karyawan itu bukan hanya sebagai karyawan saja. Melainkan dua karyawan itu berstatus sebagai keponakan dari Yufal Olsen Mendez.


Dua karyawan itu menjabat sebagai manager pemasaran dan manager operasional.


"Mau apa kau kemari?" tanya Mikko ketus.


Askara hanya bersikap biasa saja setiap kali diperlakukan buruk oleh Mikko dan Kenzo setiap datang ke perusahaan Yfal'Omz.


"Lebih baik lo pulang. Lo nggak dibutuhkan disini," ucap Kenzo tak kalah ketus.


Askara seketika tersenyum ketika mendengar perkataan dari Kenzo yang mengatakan bahwa dirinya tidak dibutuhkan disini.


"Kalau gue nggak dibutuhkan. Kenapa Daddy Yufal menghubungi gue dan meminta gue datang kesini, hum?" tanya Askara dengan senyuman mengejeknya.


Mendengar jawaban dari Askara membuat Mikko dan Kenzo langsung memberikan tatapan tajam dan juga marah.


"Palingan lo bohong. Mana mungkin Daddy Yufal menghubungi lo dan meminta lo datang kesini," ejek Kenzo.


"Mau nipu lo ya," ejek Mikko.


"Terserah kalian berdua mau ngomong apa. Yang jelas gue kesini mau bertemu dengan Daddy Yufal. Gue udah janji sama Daddy Yufal."


Setelah mengatakan itu, Askara pun langsung pergi meninggalkan Mikko dan Kenzo. Dia tidak ingin terlalu lama berurusan dengan keduanya.


Namun lagi-lagi langkah harus terhenti karena tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh Mikko dan Kenzo.


Mikko dan Kenzo menarik tangan Askara untuk menuju pintu keluar. Setelah itu, Mikko dan Kenzo mendorong kuat tubuh Askara hingga terhuyung ke belakang.


"Apaan sih kalian berdua! Gue datang kesini untuk bertemu dengan Daddy Yufal. Kalian nggak bisa seenaknya seperti ini!" bentak Askara.


"Nggak peduli. Lo pergi dari sini. Jangan lo injak perusahaan ini!" bentak Mikko.


"Dan satu lagi. Dan lo harus ingat dan simpan di kepala lo. Lo itu bukan Askara Eleon Mendez. Lo hanya orang luar yang tiba-tiba dibawa masuk oleh Daddy Baren, Daddy Yufal dan keluarga Mendez lainnya. Mereka membawa lo masuk ke kediaman keluarga Mendez dan menjadikan lo bagian dari keluarga Mendez hanya untuk dijadikan babu."


Kenzo berucap dengan begitu kejamnya. Bahkan suara terdengar sampai ke telinga para karyawan dan karyawati yang sedang bekerja.


"Nama Askara dan Eleon itu adalah nama putra dari Daddy Baren dan Daddy Yufal. Askara putra kedua Daddy Baren. Sementara Eleon adalah putra dari Daddy Yufal. Dan untuk Mendez adalah nama keluarga kita." Mikko berbicara dengan tatapan penuh iri dan cemburu terhadap Askara.


"Askara dan Eleon telah lama meninggal. Jadi, lo itu bukan Askara melainkan seorang penipu yang masuk ke dalam keluarga Mendez. Ah, lebih tepatnya! Keluarga Mendez hanya kasihan sama lo." Kenzo berbicara sambil menatap remeh Askara.


Sementara Askara yang mendengar ucapan demi ucapan dari Mikko dan Kenzo membuat hatinya sakit. Bahkan saat ini Askara mulai berpikir tentang tujuh pemuda yang telah menolongnya dua hari yang lalu yang mengatakan bahwa mereka adalah sahabatnya. Dan gadis yang mengaku sebagai kekasihnya. Askara juga berpikir dan mempercayai perkataan dari Mikko dan Kenzo.


Mikko dan Kenzo tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat reaksi dari Askara. Mereka benar-benar puas akan apa yang mereka lakukan hari ini.


Alasan Mikko dan Kenzo melakukan semua itu adalah karena rasa iri dan rasa cemburunya terhadap Askara yang mendapatkan perhatian khusus dari semua anggota keluarga Mendez terutama kedua Daddy nya. Tak masalah jika kedua Daddy nya itu perhatian terhadap anak perempuannya. Bagaimana pun itu adalah urusan sang Daddy dan keluarganya.


Melihat kedekatan kedua Daddy nya dengan orang lain. Apalagi orang itu baru beberapa hari tinggal di kediaman keluarga Mendez, namun orang baru itu sudah mendapatkan perhatian dari seluruh anggota keluarga Mendez. Bahkan kedua sepupu kembarnya yaitu Monica dan Mehdy juga begitu perhatian dan saya terhadap sianak baru. Begitu juga dengan adik perempuannya Chintia.


Baik Mikko maupun Kenzo mendapatkan kabar bahwa adik perempuannya itu menaruh hati kepada Askara dan ingin menjadikan Askara seutuhnya miliknya. Bahkan adik perempuannya itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Askara sekali pun Askara sudah memiliki kekasih.


Alasan itulah yang membuat Mikko dan Kenzo melakukan hal tersebut kepada Askara.


Askara menatap penuh amarah kearah Mikko dan Kenzo. Dan dia juga tidak terima setiap perkataan dari Mikko dan Kenzo. Apalagi ketika Mikko dan Kenzo menyebutnya sebagai penipu.


Setelah puas memberikan tatapan tajamnya kepada Mikko dan Kenzo. Askara memutuskan pergi meninggalkan perusahaan Yfal'Omz.

__ADS_1


__ADS_2