
Saat sedang menikmati sarapan paginya, tiba-tiba Darren dikejutkan dengan suara ponselnya.
Saat Darren melihat nama 'Noe Alfredo' yang tertera di layar ponsel miliknya. Darren langsung menjawab panggilan tersebut.
Sedangkan anggota keluarganya memperhatikannya dan mendengar Darren berbicara di telepon.
"Hallo, kak Noe."
"Hallo, Ren. Kau ada dimana?"
"Aku di rumah. Ada apa, kak?"
"Dia kembali, Ren."
"Dia kembali? Maksud kakak siapa?"
"Mantanmu."
"Helena Orlando. Mau apa lagi dia?"
"Kakak dapat informasi dari Enzo jika Helena Orlando bekerja sama dengan Samuel. Mereka berencana ingin merebut Perusahaan Ayah kalian dengan menjebak Perusahaan Ayah kalian dalam kerja sama besar-besaran yang akan dilakukan tiga hari lagi. Dan yang menjadi tuan rumahnya adalah dari Perusahaan GT COMPENY."
Enzo Federico adalah ketua dari kelompok mafia Almighty Black. Enzo juga sangat dekat dengan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Apapun informasi yang mereka dapatkan, mereka langsung memberitahukan kepada Darren atau kelompok mafia lainnya.
Kelompok mafia Almighty Black ini tugas utama mereka adalah mencari tahu atau mengorek semua informasi yang berhubungan dengan dunia bisnis dan dunia kejahatan.
Mereka mencari tahu dengan menggunakan media Internet dan Komunikasi yang telah tersambung di seluruh dunia. Apalagi di dalam kelompok mafia Almighty Black ini memiliki 20 ahli dalam bidang Hacker atau peretas.
Mereka sangat ahli dalam Komputer dan juga sangat terampil menggunakan pengetahuan teknis. Dan mereka dengan mudah mengatasi setiap masalah.
"Brengsek! Lalu apa yang akan kita lakukan untuk menggagalkan rencana mereka, kak Noe?"
"Kau tenang saja. Masalah ini biar kakak dan kelompok-kelompok mafia kita yang mengurusnya. Kau fokus saja bermain-main dengan wanita murahan itu. Buat seolah-olah dia berhasil telah menjeratmu kembali."
"Baiklah kalau begitu. Ada satu hal yang aku inginkan, kak."
"Apa itu? Katakan saja."
"Aku menginginkan seluruh anggota keluarga dari wanita menjijikkan itu. Sita semua kekayaan mereka. Baik Perusahaan maupun rumah mewah milik keluarganya. Buat semua anggota keluarganya itu jatuh miskin dan tidak bisa bangkit kembali."
"Dengan senang, Darren. Kakak dan kakak-kakak mafiamu yang lainnya akan segera melakukan apapun yang kau inginkan."
"Terima kasih, kakak Noe."
"Sama-sama, Ren! Kau dan sahabat-sahabatmu sudah kakak anggap sebagai adik kakak sendiri. Ditambah anggota keluarga kakak sudah terlanjur menyayangimu dan sahabat-sahabatmu itu."
Darren tersenyum bahagia saat mendengar penuturan dari Noe.
__ADS_1
"Ya, sudah kalau begitu. Kakak tutup dulu teleponnya. Kau bersiap-siaplah dengan permainan barumu. Kemungkinan dia akan datang menemuimu dan mulai merayumu."
"Baik, kakak."
Setelah mengatakan hal itu, Noe pun mematikan panggilannya.
"Mau mencoba bermain-main denganku, Helena Orlando. Baiklah," batin Darren tersenyum bak iblis.
Anggota keluarganya yang memperhatikan Darren sedikit khawatir dan juga penasaran.
"Darren," panggil Erland.
Mendengar panggilan dari Ayahnya membuat Darren tersentak kaget. Erland yang melihat putranya terkejut merasa bersalah.
"Sayang. Maafkan Papa yang sudah membuatmu terkejut," ucap Erland menyesal.
Darren menatap wajah tampan Ayahnya. Darren tidak bisa membohongi perasaannya. Di dalam hatinya, Darren merindukan pelukan dari Ayahnya dan merindukan ciuman serta perhatian dari Ayahnya. Darren merindukan semua tentang Ayahnya.
Namun karena keegoisan dan rasa kecewanya yang begitu dalam membuat pintu hatinya tertutup untuk memaafkan kesalahan Ayah dan kakak-kakaknya.
Erland, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Datka dan anggota keluarga lainnya menatap manik kedua mata Darren. Dapat mereka lihat ada pancaran kerinduan yang mendalam disana. Mereka sangat tahu jika Darren sangat merindukan keluarganya. Darren sangat merindukan belaian, ciuman dan pelukan dari keluarganya,
Namun karena rasa gengsinya, rasa egonya, rasa benci dan rasa kecewanya membuat seorang Darren masih menutup hatinya untuk keluarganya.
Darren mengalihkan pandangannya ke arah lain, lebih tepatnya ke arah sebuah gelas yang ada di depannya. Darren mengambil gelas yang berisi air tersebut, lalu meneguknya habis.
Darren beranjak dari duduknya. Tanpa mempedulikan anggota keluarganya, Darren langsung pergi begitu saja. Mereka yang melihatnya hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala.
"Aish, Dasar bocah labil." Adnan berucap tanpa melihat keadaan sekitarnya.
"Iya, aku memang bocah labil. Lalu tuan Adnan mau apa?" ucap dan tanya Darren yang telah berdiri tak jauh dari meja makan.
Jangan lupakan satu hal. Ruang makan dan ruang tengah jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya beberapa meter saja. Jadi sekali pun sedang berada diruang makan, ruang tengah masih bisa terlihat.
"O.. oo.. oo.. mampus kau Lutfi Adnan Smith. Sebentar lagi siluman kelinci itu bakal ngamuk," batin Adnan sambil menutup mulutnya sendiri.
Anggota keluarga yang lainnya sudah menatap tajam ke arah Adnan.
"Mati saja kau, Adnan." Davin, Andra dan Dzaky mengumpat di dalam hatinya.
"Dasar kakak Adnan sialan. Bukan hanya dijuluki sebagai dewa perusak. Tapi juga dijuluki sebagai mulut asal jeplak," batin Darka dan Gilang.
Baik Adnan mau pun anggota keluarganya melihat kearah Darren. Dapat dilihat oleh mereka Darren memasang wajah marahnya dengan kedua tangan mengepal kuat.
Adnan yang melihat aura yang tidak mengenakan. Dengan rasa bersalahnya, Adnan berdiri dan menghampiri Darren.
Setelah berada di hadapan adiknya. Adnan memberanikan diri memeluk adik bungsunya itu.
__ADS_1
Saat Adnan memeluk tubuh adiknya itu, Adnan teringat momen-momen kebersamaannya bersama sang adik. Dirinya benar-benar merindukan pelukan adik manisnya ini.
"Maafkan kakak, Ren. Kakak tidak sengaja tadi. Sungguh! Maafkan kakak!" ucap Adnan.
Darren hanya diam dan tidak memberikan reaksi apapun saat mendengar permintaan maaf dari kakak keempatnya itu.
Setelah merasa puas memeluk tubuh adiknya. Adnan pun melepaskan pelukannya. Adnan juga tidak ingin membuat adiknya merasa risih karena mendapatkan pelukan tiba-tiba darinya.
Adnan menatap wajah tampan adiknya dengan senyuman di bibirnya. Tangannya terangkat untuk membelai rambutnya, lalu setelah itu Adnan mencium keningnya.
"Kakak merindukanmu, Ren! Sangat," sahut Adnan lagi.
"Tapi aku tidak sama sekali. Simpan saja rasa rindu palsumu itu untuk saudara-saudaramu yang lainnya. Aku tidak membutuhkannya," jawab Darren ketus.
Darren mengalihkan pandangannya melihat ke arah Carissa sang Bibi.
"Bibi Carissa. Malam ini kemungkinan aku akan pulang larut. Mungkin sekitar jam 1 pagi. Jadi tidak perlu menungguku," tutur Darren.
"Memangnya kenapa, sayang?" tanya Carissa lembut.
"Ada banyak pekerjaan di kantor. Besok akan ada pameran lelang lukisan. Jadi hari ini aku, Rehan dan Darel harus menyiapkan semuanya. Dan Dua hari lagi aku, Dylan, Jerry dan Axel akan melakukan uji coba untuk mobil-mobil yang sudah kami rancang diarena balapan. Semua mobil-mobil itu pesanan dari Perusahaan SHN dan Perusahaan RVN. " Darren menjawab pertanyaan dari bibinya itu.
Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka semua tersenyum bangga. Mereka tidak menyangka jika Darren yang mereka anggap selama ini anak yang manja dan cengeng, ternyata telah menjadi seorang pengusaha yang sukses. Bahkan mereka semua kalah dengannya.
"Ya, sudah! Tapi ingat, kamu tidak boleh kelelahan. Tenaganya jangan diforsir. Jangan telat makan. Kalau udah waktunya makan, kamu harus makan. Mengerti!" Carissa berbicara sambil menasehati keponakannya itu.
"Aku mengerti," Darren menjawab perkataan dari sang bibi sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah mengatakan hal itu, Darren pun langsung pergi meninggalkan mereka semua.
Saat baru beberapa langkah, Erland memanggilnya.
"Darren."
Darren otomatis berhenti tanpa membalikkan badannya. Erland yang melihat putranya berhenti langsung mendekatinya.
Erland sudah di dekat putranya, tangannya terangkat untuk membelai kedua pipinya dan membelai rambutnya dengan lembut.
Setelah itu, Erland mencium kening putranya sayang.
"Hati-hati di jalan, sayang. Jangan ngebut. Seperti yang dikatakan oleh Bibi kamu. Jangan kelelahan. Jangan telat makan, oke!" Erland berbicara lembut dan tulus.
Darren menatap wajah tampan Ayahnya dengan wajah datarnya.
Setelah puas menatapnya, Darren langsung pergi tanpa berbicara sepatah kata pun.
Lima belas menit kepergian Darren. Anggota keluarga yang lainnya juga bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat kerja masing-masing. Gilang dan Darka pergi ke Kampus. Adrian dan keempat adiknya pergi ke sekolah.
__ADS_1