
Anggota keluarganya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat dan mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulutnya saat sedang berbicara dengan ketujuh sahabatnya.
"Apa itu tidak keterlaluan, sayang?" tanya Carissa.
"Aku rasa tidak, Bibi Carissa. Kalau tidak seperti itu, mereka tidak akan bisa menghargai waktu." Darren menjawab pertanyaan dari bibinya.
Lagi-lagi mereka tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Darren.
"Ya, sudah. Sekarang kamu istirahat. Mama tidak ingin jantung kamu kambuh lagi," ucap Agneta sembari mengelus lembut rambut Darren.
Tanpa diduga, Darren langsung menurut begitu saja apa yang dikatakan oleh Agneta.
"Baiklah." Darren langsung berdiri dari duduknya.
Melihat reaksi dari Darren, hal itu sukses membuat Agneta dan yang lainnya tersenyum bahagia. Agneta lagi-lagi meneteskan air matanya akan reaksi dari Darren.
Saat Darren ingin melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai dua, tiba-tiba ponsel kembali berbunyi. Mendengar ponselnya berbunyi, Darren langsung menjawabnya.
"Hallo, Kak Ziggy."
"Hallo, Ren. Kakak ada di depan rumahmu sekarang!"
"Hah!" Darren terkejut dengan mulutnya yang berbentuk bulat.
Anggota keluarganya yang melihat reaksi Darren memekik gemas saking lucunya ekspresi yang ditunjukkan oleh Darren saat menerima telepon.
"Kakak Ziggy, ini masih pukul 9 malam dan aku belum tidur sama sekali. Tapi aku serasa bermimpi didatangi anak seorang Jendral Polisi."
Ziggy yang mendengar ucapan dari anak kelincinya mendengus kesal. Dalam situasi seperti ini, sempat-sempatnya anak kelinci tersebut ngajak gelud.
"Yak! Siluman kelinci sialan! Kakak hitung sampai tiga. Jika kau tidak keluar dan membukakan pintu sekarang juga. Maka kakak akan melemparkan granat sebanyak 100 buah ke rumahmu!" teriak Ziggy.
Mendengar teriak dan ancaman dari Ziggy. Seketika Darren membelalakkan matanya dan mulutnya yang terbuka lebar.
Lalu detik kemudian.....
"Tidak!" teriak Darren, lalu Darren berlari menuju pintu utama.
Anggota keluarganya yang melihat Darren yang berteriak sembari berlari menuju pintu utama menjadi khawatir. Mereka semua pun ikut berlari menuju pintu utama.
^^^
CKLEK
Pintu dibuka oleh Darren. Saat pintu terbuka lebar dapat dilihat olehnya lima kakak-kakak mafianya dengan membawa masing-masing satu wakil telah berdiri di depan pagar rumahnya dengan menatap horor kearahnya.
"Mampus. Bisa-bisa aku dimakan hidup-hidup oleh mereka semua," batin Darren.
__ADS_1
"Yak, Darrendra Smith! Mau sampai kapan kau berdiri disitu, hah?!" teriak Chico.
"Aish! Tadi Kakak Ziggy yang berteriak di telepon. Sekarang kakak Chico. Apa itu hobi baru mereka?" gerutu Darren.
Darren pun melangkah menuju pagar rumahnya dengan wajah yang ditekuk.
Sementara anggota keluarganya yang saat ini tengah mengintip tersenyum bahagia dan juga bernafas lega.
^^^
Kini semuanya sudah berkumpul di ruang tengah, baik anggota keluarga Darren maupun kelima kakak-kakak mafianya dan wakilnya.
"Ada urusan apa kalian datang kesini? Ini sudah malam. Apa gak ada waktu sampai besok pagi? Kebelet amat kayak mau nikah aja," ucap dan tanya Darren seenak jidatnya.
Chico, Ziggy, Devian, Enzo dan Noe mendengus akan ucapan dari Darren.
TAK!
Noe menjitak kepala Darren sehingga membuat Darren mencebik kesal.
"Kalau bukan untuk membantumu dan para kacungmu itu, kita juga ogah untuk datang kesini," ucap Devian menjahili Darren.
"Yeeeeyy." Darren cemberut.
Mereka tersenyum puas melihat wajah cemberut Darren.
Ziggy melihat kearah Erland, Ayahnya Darren. "Paman Erland."
"Begini.. lebih baik besok batalkan saja kerja sama dan proyek itu. Paman dan yang lainnya tidak perlu datang kesana," ucap Ziggy.
"Paman memang berniat untuk mundur, nak Ziggy! Paman sudah membahas masalah ini bersama putra Paman dan sahabat-sahabatnya," jawab Erland.
Mendengar ucapan dari Erland. Ziggy, Noe, Devian, Chico dan Enzo beserta para wakilnya melihat kearah Darren.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Noe.
"Saat Papa mendapatkan surat itu, Papa menjadi takut akan kerja sama itu. Tapi Papa tidak berani mengatakan bahwa Papa ingin mundur."
"Lalu?" tanya Chico.
"Beberapa menit yang lalu ketujuh sahabatku meneleponku dengan menggunakan grup video call. Darel mengatakan padaku bahwa Paman Dellano memutuskan untuk membatalkan kerja sama itu. Mendengar Darel mengatakan hal itu, Papa langsung ikut mengatakan bahwa Papa juga memutuskan untuk mundur. Begitu juga yang lainnya," tutur Darren.
"Keputusan Paman Erland dan yang lainnya sudah tepat," sela Enzo.
Darren menatap wajah Enzo. "Katakan padaku, kakak Enzo. Apa yang sudah direncanakan oleh bajing*n itu?"
"Bajing*n itu bukan hanya ingin merebut perusahaan Papamu dan perusahaan Papa dari sahabat-sahabatmu saja, tapi bajing*n itu juga akan melakukan sesuatu pada Papamu dan juga yang lainnya," jawab Chico.
__ADS_1
"Salah satunya adalah bajingan itu akan menyandera dan menyekap Papamu dan Papa dari sahabat-sahabatmu," ucap Ziggy.
"Apa?" Darren terkejut saat mendengar ucapan demi ucapan dari kelima kakak-kakak mafianya.
"Tujuan bajing*n itu menyandera dan menyekap Papamu serta Papa dari sahabat-sahabatmu itu adalah untuk memancingmu dan sahabat-sahabatmu keluar dan bertemu dengannya secara langsung!" seru Enzo.
"Ditambah lagi bajing*n itu mengincarmu, Ren!" seru Devian.
"Satu hal yang harus kau ketahui, Ren! Dan ini adalah senjata kita untuk menghadapi kelicikan bajing*n itu," ucap Noe dengan menatap wajah Darren.
"Apa itu, kakak Noe?" tanya Darren.
"Ini.. kau lihatlah sendiri." Enzo menyerahkan sebuah laptop yang sudah sedari tadi dihidupkan oleh Justin dan sebuah map merah kepada Darren.
Darren melihat isi video itu. Begitu juga dengan anggota keluarganya. Setelah melihat video itu, Darren beralih melihat map merah tersebut. Darren membuka isi map itu dan membacanya.
Beberapa detik kemudian, terukir senyuman di sudut di bibir Darren saat melihat video dan membaca isi map tersebut.
"Lalu bagaimana dengan polisi dan kedua kelompok mafia yang melindungi perusahaan inti milik bajingan itu?"
"Itu semuanya sudah beres. Kakak sudah melaporkan masalah ini kepada Papa. Besok kita akan mendapatkan kabar tentang polisi sialan itu dan untuk kedua kelompok tersebut, Enzo dan Devian sudah mengerahkan masing-masing 3000 pasukan untuk menyerang markas kedua kelompok itu. Jadi jumlah pasukan keseluruhannya adalah 6000!" sahut Noe.
"Dan malam ini akan terjadi pemb*ntaian besar-besaran untuk kedua kelompok itu," ucap Chico.
"Besok pagi kita akan mendapatkan kabar tentang kedua kelompok itu telah musnah dari dunia ini," sela Devian.
Anggota keluarga Darren yang mendengar penuturan dari Chico dan Devian bergidik ngeri dan juga merinding.
"Kita hanya fokus pada bajing*n itu dan Pamannya," sahut Ziggy.
"Paman? Maksud Kakak Ziggy apa?" tanya Darren.
"Pemilik perusahaan GT itu adalah Paman dari Samuel Frederick. Namanya adalah Gustavo Frederick, adik dari Delon Frederick!" seru Devian.
"Brengs*k! Sudah mati saja masih saja menyusahkan hidup keluargaku. Apa tidak puas dulu dia menyakitiku dan sahabat-sahabatku," ucap Erland dengan nada emosinya.
Mereka yang mendengar ucapan dari Erland ikut merasakan amarah di dalam hati mereka.
"Papa," lirih Davin dan Andra sembari mengusap-usap lembut lengan Ayahnya.
"Paman tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!" Ziggy berusaha memberikan ketenangan pada Erland.
"Terima kasih, nak Ziggy!"
"Apa rencanamu besok, Ren?" tanya Enzo.
"Yang jelas besok aku dan ketujuh sahabatku akan ke rumah sakit untuk menemui wanita murah*n itu. Aku akan membuatnya menyesal karena telah bermain-main denganku," jawab Darren dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
"Bagus. Lebih baik segera kau bereskan masalahmu dengan wanita menjijikkan itu. Setelah itu kau bisa fokus keinti permasalahan kita yaitu Samuel dan Gustavo!" seru Chico.
"Hm." Darren mengangguk.