
"Jangan bawa-bawa ibuku! Dia tidak salah dalam hal ini. Dia tidak pernah mengajarkanku hal-hal yang buruk. Ibuku tidak seperti anda yang membenarkan apa yang dilakukan oleh anak-anaknya. Ibuku itu seorang bidadari yang diberikan oleh Tuhan untukku. Sementara anda adalah perempuan yang tidak tahu malu. Anda tidak layak menyandang gelar ibu karena anda tidak becus menjadi seorang ibu." Darren berbicara dengan suara yang keras dan lantang.
Mendengar perkataan dan hinaan dari pemuda yang berdiri di hadapannya membuat nyonya Raimund marah. Begitu juga dengan tuan Raimund dan putra sulungnya.
"Jaga ucapanmu. Kau tidak berhak menilaiku pantas atau tidaknya aku menjadi ibu. Yang tahu masalah itu hanya aku, bukan kau! Sekarang lepaskan aku, suamiku dan anak-anakku. Aku sudah tahu siapa keluargamu. Keluargamu itu tak lebih dari segerombolan manusia busuk yang meresahkan. Ibu kandungmu adalah seorang wanita penggoda yang mendadak kaya setelah menikah dengan seorang laki-laki kaya raya. Dan tak jauh beda dengan adik perempuannya. Setelah kakak perempuannya mati, dia menggantikan posisi kakak perempuannya menjadi istri kedua. Hahahahaha. Dua perempuan murahan menjadi nyonya Smith!"
Mendengar ucapan dan hinaan yang begitu kejam dari nyonya Raimund. Seketika tatapan mata Darren berubah menjadi merah. Jiwa iblis Darren keluar saat itu juga.
Bukan hanya Darren yang marah dan emosi ketika mendengar ucapan dan hinaan dari nyonya Raimund. Ketujuh sahabat-sahabatnya, Enzo, para tangan kanan Enzo dan para mafioso juga tersulut emosi. Mereka tidak terima jika dua perempuan yang begitu berharga dalam hidup Darren dihina.
Darren menatap penuh amarah dan juga dendam. Darren berjalan menghampiri salah satu mafioso yang di tangannya memegang sebuah katana. Darren merampas katana itu.
Setelah mendapatkan katana itu, Darren kembali menghampiri perempuan yang sudah menghina kedua perempuan yang sangat dia cintai.
Melihat Darren yang memegang katana membuat tuan Raimund, putra sulungnya, putra keduanya dan putrinya terkejut dan syok. Begitu juga dengan nyonya Raimund.
"A-apa yang akan kau lakukan, hah?! Apa kau ingin membunuhku?! Palingan kau hanya menggertakku. Mana mungkin kau punya nyali hanya untuk sekedar membunuhku. Kau itu laki-laki tidak tahu diri. Bahkan keluargamu saja tidak ada yang beres semuanya. Dan kau itu.....!"
Srek!
Duagh!
Bruk!
"TIDAK!"
"Mama!"
"Sayang!"
Tuan Raimund, kedua putranya dan putrinya berteriak histeris ketika melihat Darren dengan sekali gerakan cepat melayangkan katana itu di kepala nyonya Raimund sehingga membuat kepala nyonya Raimund terpisah dari tubuhnya.
Setelah menebas kepala nyonya Raimund. Darren menendang tubuhnya sehingga tersungkur di lantai. Darah segar keluar dari wanita paruh baya itu dan mengotori lantai ruang penyiksaan itu. Bau anyir menyeruak di dalam ruangan tersebut.
"Dasar iblis kau Darren! Kau telah membunuh ibuku. Kau tak pantas disebut manusia!" bentak Kathy.
Darren langsung melihat kearah Kathy. Tatapan matanya makin menajam. Berlahan Darren melangkah mendekati Kathy dengan menyeret katananya.
__ADS_1
"Oh, tidak! Jangan lagi," batin Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel bersamaan.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel berlari menghampiri Darren. Setelah berada didekat Darren. Qenan, Willy dan Axel memeluk tubuh Darren dari belakang.
Sedangkan Jerry, Dylan, Rehan dan Darel mendorong tubuh Darren dari depan agar menjauh dari Kathy.
"Ren, sudah!" seru Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel bersamaan.
"Lepaskan aku!" teriak Darren.
"Ren, aku mohon. Kau sudah membunuh satu orang. Apa itu tidak cukup?" ucap dan tanya Jerry dengan menatap mata Darren.
"Mereka semua harus mati ditanganku. Mereka tidak layak hidup di dunia ini. Jika mereka tetap berada di dunia ini. Yang ada mereka akan melakukan apa yang mereka inginkan!" teriak Darren dengan menatap penuh amarah kearah keluarga Raimund.
"Sadarlah, Ren! Pikirkan Paman Erland dan Bibi Agneta. Mereka pasti sedih melihatmu seperti ini jika mereka sampai tahu," bujuk Dylan.
"Dan pikirkan juga kakak Darka. Bukankah kau akan ke rumah sakit sehabis dari sini, hum?" bujuk Rehan.
"Pasti saat ini kakak Darka sedang menunggumu di rumah sakit," ucap Darel lembut.
Enzo berjalan menghampiri Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Dan diikuti oleh kelima tangan kanannya di belakang.
"Apa yang dikatakan oleh Axel itu benar Darren. Sisanya serahkan kepada kakak. Biarkan kakak yang menyelesaikannya. Sekarang berikan katana itu pada kakak ya." Enzo juga ikut membujuk Darren.
Seketika tubuh Darren melemah dan detik kemudian, tubuhnya terhuyung. Dengan sigapnya mereka menahan bobot tubuh Darren agar tidak terjatuh.
Sementara Enzo langsung meraih katana yang ada di tangan Darren dan memberikannya kepada Zee.
Dan pada akhirnya mereka semua bisa bernafas lega karena sosok itu sudah pergi. Dan kini bersama mereka adalah Darren.
"Ya, sudah! Lebih baik kalian bawa Darren keluar dari tempat ini. Bahaya jika Darren tetap berada disini," ucap Enzo.
"Baik, kakak Enzo!" seru Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel bersamaan.
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan ruang penyiksaan dengan membawa tubuh Darren.
Sesuai keinginan Darren ketika di kampus bahwa Darren akan ke rumah sakit setelah selesai dari markas Almight Black.
__ADS_1
***
Di rumah sakit semua anggota keluarga telah berkumpul termasuk Kathleen, Elzaro dan keliman sahabatnya.
Dan untuk Darka, kondisinya saat ini sudah dalam keadaan baik-baik saja. Hanya menunggu luka di perutnya mengering.
"Gilang," panggil Darka.
"Iya, Darka. Ada apa?" tanya Gilang.
"Darren mana? Kakak Dzaky bilang kalau kau dan Darren pergi kuliahnya bersama. Seharusnya kau dan Darren juga pulang bersama."
"Darren izin padaku. Katanya dia mau ke markas kakak Enzo. Dari sana Darren akan langsung kesini," jawab Gilang.
"Tapi ini sudah jam 4 sore, Gilang? Tapi Darren belum datang juga?" tanya Darka khawatir.
"Sayang," ucap Agneta sembari mengusap lembut kepala putranya.
"Sabar dong. Mungkin sebentar lagi Darren sampai. Atau mungkin juga jalanan macet. Kan kita nggak tahu," ucap Agneta menenangkan putranya.
"Tapi aku mengkhawatirkan Darren, Mama! Perasaanku sedari tadi tidak enak. Setiap aku memejamkan mata, bayangan Darren selalu muncul," ucap Darka lirih.
Mendengar perkataan dari Darka membuat Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang tiba-tiba merasakan ketakutan. Mereka baru menyadari satu hal. Darka dan Darren memiliki ikatan batin yang begitu kuat. Mereka sudah seperti anak kembar. Padahal mereka bukanlah anak kembar.
"Apa yang kamu lihat ketika bayangan Darren ada di pikiran kamu, sayang?" tanya Erland.
"Tidak jelas Papa. Tapi aku bisa melihat kalau Darren sedang marah dengan seseorang. Tatapan matanya yang begitu mengerikan. Tatapan mata yang sama ketika Darren marah diacara pernikahan Gilang dan Valen beberapa bulan yang lalu," tutur Darka.
Mendengar jawaban dari Darka membuat Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang makin ketakutan. Mereka tidak ingin hal itu terjadi lagi.
"Papa, aku takut. Aku takut Darren..."
Erland langsung memeluk tubuh putranya. Dia berusaha memberikan ketenangan pada putranya, walau dia sendiri juga merasakan ketakutan yang sama.
"Darren. Kamu dimana, Nak?" batin Erland.
"Darren," batin Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang.
__ADS_1