
Erland, Agneta, Carissa, Evan dan yang lainnya tersenyum gemas melihat wajah kesal dan juga sedih Davin, Andra, Dzaky dan Adnan ketika diacuhkan oleh adik kesayangan mereka.
"Yang sabar ya, sayang. Papa yakin, suatu saat nanti pasti adik kalian itu akan membuka hatinya untuk mau menerima kalian lagi dalam kehidupannya." Erland berusaha memberikan semangat untuk keempat putra-putranya dari pernikahan pertamanya.
Erland mengalihkan perhatiannya melihat kearah kelima putra-putranya dari pernikahan keduanya.
"Kalian juga. Kalian harus sabar ketika berhadapan dengan kakak kalian yang keras kepala itu." Erland berucap sembari tersenyum.
"Iya, Papa!" Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menjawab secara bersamaan.
"Dan untukmu juga sayang. Bersabarlah! Aku yakin suatu saat nanti putramu itu akan kembali lagi kepadamu. Percayalah!" Erland menggenggam tangan Agneta dan tersenyum lembut padanya.
"Iya, sayang. Aku percaya akan hal itu. Aku akan bersabar menunggu putraku kembali ke dalam pelukanku." Agneta berbicara dengan lembut dan tulus dalam hatinya.
Ketika mereka tengah membicarakan masalah Darren. Tanpa disadari oleh mereka. Darren melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dalam keadaan rapi dengan menggunakan setelan jas navi dan dalaman ke meja putih.
Langkah seketika terhenti saat mendengar anggota keluarganya tengah berbicara. Darren mendengar apa yang dibicarakan oleh anggota keluarganya itu.
Di satu sisi, Darren merasa kasihan dan iba melihat keempat kakaknya. Namun, balik lagi dengan apa yang sudah diterima olehnya selama ini. Perlakuan kasar keluarganya terhadap dirinya. Hal itulah yang membuat Darren sulit untuk memaafkan kesalahan keempat kakaknya dan ibunya.
Sementara untuk kelima adik-adiknya yaitu Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Sebenarnya Darren tidak membenci mereka. Karena kebencian dan rasa sakit hatinya terhadap ibunya membuat Darren juga ikut membenci kelima adik-adiknya itu.
"Aku bukan siluman kelinci atau pun sikeras kepala!" seru Darren yang melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
DEG!
Mendengar ucapan Darren yang tiba-tiba, mereka semua menjadi panik dan juga kelabakan. Mereka merutuki kebodohannya sembari memukul mulutnya sendiri.
Mereka semua menatap Darren dengan tatapan sedikit takut. Takut jika Darren marah. Namun, detik kemudian. Tatapan mereka berubah menjadi tatapan kagum. Mereka semua tersenyum bahagia dan juga bangga ketika melihat penampilan Darren saat ini.
"Kamu benar-benar tampan, Ren." Davin, Andra, Dzaky membatin. Dan jangan lupa senyuman yang mengembang di bibir mereka masing-masing.
"Kau tampan sekali, Ren." Gilang dan Darka tersenyum menatap adiknya.
"Wah! Kakak Darren tampan sekali," batin Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
Sementara Erland, Agneta, Carissa, Evan dan ketiga kakak sepupunya yaitu Daffa, Tristan dan Davian tersenyum bahagia menatapnya.
Erland berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menghampiri putranya yang masih berdiri tak jauh darinya dan anggota keluarga lainnya.
Setelah berdiri tepat di hadapan putranya, Erland membelai kedua pipi putih putranya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian Erland memberikan ciuman sayang di keningnya.
"Putra Papa tampan sekali dengan setelan jas berwarna navi."
Erland tersenyum bangga menatap putra bungsunya. Dirinya tidak menyangka jika putra bungsunya sudah menjadi seorang CEO di usianya yang ke 20 tahun.
"Belva. Lihatlah putra bungsu kita. Putra kita benar-benar hebat. Dia sudah menjadi seorang CEO sekarang. Bahkan aku saja kalah dengannya," batin Erland tersenyum.
Tanpa diminta, air matanya mengalir membasahi wajah tampannya. Melihat ayahnya yang tiba-tiba menangis, membuat Darren khawatir.
__ADS_1
"Papa," ucap Darren.
"Ach, Papa tidak apa-apa. Ini air mata kebahagiaan. Papa bahagia melihat kamu dengan penampilan saat ini. Papa bangga padamu, sayang!" Erland berucap sambil menyeka air matanya.
GREP!
Darren memeluk tubuh ayahnya. Setelah puas memeluk ayahnya. Darren pun melepaskan pelukannya, lalu memberikan kecupan sayang di kening ayahnya itu.
"Aku menyayangi, Papa. Tetaplah sehat agar bisa selalu bersamaku dan bersama putra-putra Papa yang lainnya. Jika Papa sudah tidak sanggup untuk bekerja lagi. Biarkan kami putra-putra Papa yang meneruskannya." Darren berucap begitu lembut.
Mendengar ucapan dari Darren. Erland tersenyum penuh haru. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tersenyum bangga menatap Darren.
"Kau juga, sayang. Jaga kesehatanmu. Ketika sedang bekerja, jangan terlalu diforsir tenaganya. Jangan telat makan dan jangan lupa istirahat." Erland berucap lembut dengan tangan membelai pipi putranya.
"Baik, Papa" Darren menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
Ketika sedang asyik dengan Ayahnya, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi. Darren yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambilnya di saku celananya.
Setelah ponselnya sudah ada di tangannya, Darren melihat nama 'Brenda' di layar ponselnya. Darren tersenyum, lalu menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Brenda."
Mendengar Darren menyebut nama Brenda. Anggota keluarganya saling menatap satu sama lain. Setelah itu, mereka semua menatap Darren.
"Siapa Brenda?" batin para anggota keluarganya.
"Hallo, Darren. Kau ada dimana?"
"Aku hanya mengingatkan saja untuk acara ntar malam."
"Acara apa? Aku tidak tahu ada acara apa nanti malam."
Mendengar jawaban dari Darren membuat Brenda berdecak kesal. Dan Darren dapat mendengarnya.
"Yak, Ren! Apa kau berniat untuk mengingkari janjimu untuk makan malam di rumahku bersama keluargaku!" teriak Brenda.
Darren langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya. Dirinya tidak ingin pendengarannya rusak akibat teriakan dari wanita jadi-jadian di seberang telepon. Sementara anggota keluarganya yang melihatnya tersenyum.
"Yak, Brenda! Kau itu perempuan. Bisa tidak kau bersikap seperti perempuan."
"Yak, Ren! Memangnya selama ini aku tidak bersikap layaknya seorang perempuan, hah?!" teriak Brenda lagi.
"Aish. Kalau setiap hari mendengar teriakan dari sinenek lampir itu. Bisa-bisa pendengaranku rusak beneran." gerutu Darren.
"Apa kau bilang, hah?!" Brenda kembali berteriak.
"Apa masih mau berteriak lagi?" Darren melontarkan pertanyaan kepada Brenda.
"Hehehe, sorry. Kau juga sih yang buat aku kesal."
__ADS_1
Darren tersenyum ketika mendengar perkataan lembut Brenda. Anggota keluarganya yang melihat senyuman manis Darren merasakan ada sesuatu antara Darren dan Brenda.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Aku tidak lupa dengan acara makan malam nanti. Setelah urusanku di kantor selesai. Aku dan sahabat-sahabatku akan datang ke rumahmu. Katakan pada Bibi Liana untuk memasak makanan yang enak untukku."
"Tidak perlu diminta. Mama sudah pasti akan menyiapkan makanan yang enak untukmu dan ketujuh sahabatmu. Bahkan Mama menyiapkan makanan dan minuman kesukaanmu."
"Baiklah. Kalau begitu aku tutup teleponnya. Aku harus pergi menemui rekan kerjaku bersama Qenan dan Willy."
"Baiklah."
PIP!
Setelah itu, Darren pun mematikan panggilannya. Dan memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
Erland menatap lekat wajah tampan putranya. Darren yang menyadari bahwa ayahnya menatapnya langsung melihat kearah ayahnya.
"Kenapa Papa melihatku seperti itu?" tanya Darren.
Bukannya menjawab pertanyaan dari putranya. Justru Erland tersenyum sembari tangannya mengusap lembut wajah putih putranya itu.
"Brenda! Siapa dia, sayang?" tanya Erland.
Mendengar Erland bertanya soal Brenda. Gilang dan Darka langsung berdiri dan menghampiri ayah dan adiknya.
"Darren, siapa dia? Apa dia kekasih kamu? Apa dia cantik? Apa dia baik? Seperti apa wajahnya? Sejak kapan jadiannya?" tanya Darka secara beruntun tanpa jeda.
"Cantikkan yang mana, Ren? Yang sekarang ini apa yang lama?" Gilang juga ikut bertanya tentang Brenda.
Gilang dan Darka bertanya dengan begitu antusias. Mereka sangat bahagia ketika Darren berbicara dengan seorang wanita di telepon. Apalagi saat melihat Darren yang tersenyum.
Darren benar-benar bingung. Dirinya tidak tahu harus menjawab pertanyaan dari ayah dan kedua kakaknya itu.
"Ayolah, Ren! Katakan pada kakak. Siapa Brenda itu?" Darka bertanya sembari menggandeng tangan adiknya.
Ketika Darren ingin membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar bunyi klason mobil di luar rumah.
TIN!
TIN!
TIN!
"Hah." terdengar helaan nafas lega dari mulut Darren. "Untung kalian datang tepat waktu," batin Darren.
"Itu Willy dan Qenan sudah datang menjemputku. Berarti hari ini bukan rezeki kak Darka dan kak Gilang untuk mengetahui tentang Brenda!" seru Darren.
"Kalau begitu. Aku pergi dulu. Bye!"
Setelah itu, Darren pun langsung berlari menuju pintu utama rumah mewahnya.
__ADS_1
Sementara Darka dan Gilang merengut kesal karena gagal mengetahui tentang Brenda.