
Gilang berada di kelasnya. Dia saat ini tengah mengerjakan laporan jadwal kegiatan touring kelompok organisasi kampusnya.
Ketika Gilang tengah fokus dengan tugas-tugasnya, tiba-tiba Gilang mendengar suara bising di luar kelasnya.
Suara-suara bising itu makin lama makin terdengar jelas. Seketika Gilang langsung mengalihkan perhatiannya dari buku melihat beberapa orang memasuki kelasnya. Orang-orang itu adalah teman-teman sekelasnya.
"Yuli," panggil Gilang.
Gadis yang dipanggil Yuli langsung melihat kearah Gilang.
"Ya, Gilang. Ada apa?"
"Itu anak-anak membicarakan apa sih? Heboh banget," tanya Gilang.
"Ach, iya! Aku hampir melupakan sesuatu," ucap Yuli.
"Melupakan sesuatu? Maksudnya?" tanya Gilang.
"Darren itu adik kamu kan?"
"Iya. Terus?"
"Tadi ada kejadian heboh dan juga mengerikan," sahut Yuli.
"Kejadian heboh?" ulang Gilang yang langsung kepikiran adik laki-lakinya. "Katakan, ada apa?" tanya Gilang.
"Ada beberapa mahasiswa yang tidak menyukai Darren dan ketujuh sahabatnya. Dari beberapa mahasiswa yang tidak menyukai Darren dan ketujuh sahabatnya itu. Hanya 7 orang yang memang memperlihatkan dan menunjukkan sikap tak suka mereka terhadap Darren dan ketujuh sahabatnya. Kamu tahu hal itu kan, Gil?!"
"Iya. Aku tahu hal itu. Bahkan Darka juga tahu. Terus?" ucap dan tanya Gilang.
"Mereka makin menjadi-jadi menghasut para mahasiswa dan juga mahasiswi untuk ikut membenci Darren dan ketujuh sahabatnya. Bukan itu saja, tiga dari tujuh mahasiswa itu menghina habis-habisan Darren dan ketujuh sahabatnya sampai bawa-bawa keluarga lagi."
Mendengar perkataan Yuli membuat Gilang marah. Dia tidak menyangka jika ketujuh mahasiswa itu makin kesini makin menjadi-jadi.
Gilang selama ini sudah cukup sabar dan berusaha untuk tidak memikirkan hal itu. Dia berusaha mati-matian untuk menjaga emosinya, terutama emosi adiknya. Gilang sangat tahu bagaimana emosi adiknya itu jika sudah dalam keadaan marah. Adiknya itu tidak akan bisa mengontrol emosinya dan juga tidak akan bisa mengendalikan dirinya jika sudah dikuasai oleh amarah.
Gilang juga tahu bagaimana besarnya rasa sayang, rasa hormat dan rasa cinta Darren terhadap keluarganya. Apalagi terhadap kedua orang tuanya. Satu ayah dan dua ibu. Darren begitu menyayangi ketiganya.
Gilang menatap wajah Yuli. "Apa yang terjadi?"
"Satu mahasiswa tewas seketika karena mendapatkan luka yang cukup panjang dan dalam akibat sayatan yang dilakukan oleh Darren. Dan satu mahasiswa lainnya mengalami cidera bagian perut akibat tendangan dari Darren."
"Apa?!" Gilang terkejut apa yang didengar olehnya. "Itu akibatnya jika kalian mengusik adikku," batin Gilang.
"Awalnya semua mahasiswa dan mahasiswi sempat menatap jijik dan tak suka atas apa yang dilakukan oleh Darren. Namun beberapa detik kemudian, semuanya sadar jika Darren melakukan hal itu demi menjaga harga diri keluarganya. Apalagi kedua orang tuanya."
"Mereka juga tahu sejak awal Darren sudah menunjukkan sikap baik dan berbicara apa adanya, walau suaranya terdengar dingin dan mengancam. Tapi justru ketujuh mahasiswa itu makin memancing emosi Darren. Dan pada akhirnya, kejadian itu tidak bisa dihindari."
Gilang berdiri dari duduknya setelah membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Apa kau tahu dimana adikku sekarang?" tanya Gilang kepada Yuli.
__ADS_1
"Aku sempat melihat mereka menuju ruang latihan Taekwondo," jawab Yuli.
"Terima kasih."
Gilang pun segera pergi meninggalkan kelas untuk menemui adiknya itu.
^^^
"Bagaimana sekarang? Sudah enakan?" tanya Brenda.
Darren menatap wajah Brenda dengan wajah yang masih sedikit lesu. Detik kemudian, Darren tersenyum.
"Aku sudah tidak apa-apa. Terima kasih ya."
Darren menatap lurus ke depan. Dia memikirkan kejadian-kejadian beberapa hari ini sehingga membuat emosinya tak stabil.
"Kenapa akhir-akhir ini sosok itu selalu muncul? Kenapa dia muncul pas ketika orang-orang mencari masalah denganku? Kalau setiap hari seperti ini. Pasti bakal banyak nyawa yang melayang melalui tanganku," batin Darren.
Melihat Darren yang tiba-tiba melamun membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel khawatir. Begitu juga dengan Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Ren," panggil Axel.
Darren masih dalam dunianya dan tidak mendengar panggilan-panggilan dari kekasihnya dan ketujuh sahabatnya.
"Ren," panggil Rehan dengan menepuk pelan bahu Darren.
Mendapatkan tepukan di bahunya membuat Darren tersadar dari lamunannya. Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya, wajah-wajah kekasih dari ketujuh sahabatnya. Dan terakhir beralih menatap wajah kekasihnya yang duduk di sampingnya.
"Ada apa, Ren? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Brenda.
Darren menatap wajah cantik Brenda. Tatapannya kali ini adalah tatapan ketakutan.
"Brenda."
"Iya, Ren!"
"Apa kamu masih mau tetap terus bersamaku?"
Deg!
Seketika Brenda terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Darren. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabatnya Brenda.
"Apa maksud kamu, Ren? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Brenda.
Darren mengalihkan perhatian ke depan. Dan detik kemudian, air mata Darren jatuh membasahi wajahnya.
"Aku seorang pembunuh, Brenda! Apa kamu akan sanggup jika hidup bersama seorang pembunuh?"
Mendengar pertanyaan dari Darren membuat hari Brenda sedih. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.
"Ren," ucap Brenda lirih.
__ADS_1
"Ren, lo itu bukan pembunuh. Lo ngelakuin itu demi membela keluarga lo. Gue kalau jadi lo. Gue bakal ngelakuin hal yang sama," hibur Darel.
"Tapi tetap saja gue seorang pembunuh, Rel!"
"Beda Ren!" seru Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel bersamaan.
"Kalau lo seorang pembunuh. Berarti kita semua juga pembunuh Ren," ucap Rehan.
"Lo nggak lupakan ketika kita semua bertarung melawan Samuel dan pamannya saat itu? Kelompok Samuel dan kelompok Pamannya yaitu Gustavo datang menyerang kediaman kita," ucap Dylan.
"Saat kejadian itu, kita semua menghabisi mereka dengan tangan kita, Ren!" seru Jerry.
"Bahkan ayah-ayah kita dan para kakak laki-laki kita. Semuanya juga ikut dalam menghabisi nyawa kelompok Samuel dan kelompok Pamannya," sahut Axel.
"Jadi kita semua sama, Ren!" ucap Qenan dan Willy bersamaan.
"Yang kita lakukan saat itu adalah membela diri kita, karena kelompok Samuel dan kelompok Pamannya ingin menghabisi kita semua. Sementara orang-orang yang mati ditangan gue. Mereka bukan orang jahat seperti Samuel," sahut Darren.
"Mereka memang bukan orang jahat. Yang jahat itu adalah lidah mereka. Mereka telah menghina kamu, menghina kita dan menghina keluarga kita," ucap Qenan.
"Setiap kita mendengar hinaan dan tuduhan. Bahkan melihat tatapan tak suka mereka kepada kita. Kita selalu sabar, bukan? Kita tidak pernah membalas mereka. Tapi apa yang kita dapatkan?!" seru Dylan.
"Jangankan kamu, Ren! Aku pribadi sama seperti kamu yang sama-sama tidak bisa mengendalikan emosi. Kamu masih ingatkan kejadian dimana Alice yang hampir dibawa pergi bersama orang suruhan Kathy? Dan kamu masih ingatkan kalau aku hampir membunuh Kathy dengan mencekik lehernya?" ucap dan tanya Willy yang sudah menangis melihat kondisi rapuh Darren.
"Kita semua disini sama, Ren! Sama-sama memiliki emosi yang meluap-luap ketika marah. Sama-sama tidak bisa mengontrol emosi dan sama-sama tidak bisa mengendalikan diri ketika ada yang menghina keluarga kita," ucap Rehan.
Brenda menyentuh punggung tangan Darren. Setelah itu, Brenda menggenggamnya erat.
Merasakan sentuhan di tangannya, Darren langsung melihat kearah tangannya dimana Brenda menggenggam tangannya.
Darren beralih menatap wajah cantik Brenda. Dan dilihat olehnya, tatapan tulus yang terpancar di manik coklat Brenda.
"Aku akan selalu ada di samping kamu. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu sekali pun kamu memintaku untuk pergi."
"Aku mencintai kamu, Ren! Rasa cintaku tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Setelah perjuanganku selama ini untuk mendapatkan cinta kamu. Apa aku akan menyerah begitu saja disaat kamu terpuruk seperti ini. Jawaban tentu tidak Darren!"
Brenda mengusap lembut pipi Darren dengan tangan kirinya. "Jika aku pergi meninggalkan kamu disaat kamu tengah terpuruk. Berarti aku perempuan tidak tahu diri dan perempuan egois. Kamu sudah banyak berkorban untukku dan keluargaku. Masa iya aku harus pergi meninggalkan kamu. Padahal kamu sangat membutuhkanku."
"Percayalah! Semua akan baik-baik saja. Aku dan kita semua akan selalu berada di samping kamu. Kita tidak akan pernah berpisah sampai kita tua nanti."
Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan, Darel, Tania, Alice, Milly, Felisa, Lenny, Vania, dan Elsa menganggukkan kepalanya bersamaan menyetujui apa yang dikatakan oleh Brenda.
Tes!
Air mata Darren meluncur begitu saja membasahi wajahnya. "Aku mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku."
"Aku juga mencintaimu. Tidak akan. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu. Aku janji." Brenda menjawab pertanyaan dari Darren sembari tangannya menghapus air mata Darren.
Tanpa diketahui oleh Darren dan yang lainnya. Gilang sedari tadi mendengar ucapan demi ucapan dari Darren, ketujuh sahabatnya dan para kekasih mereka.
Gilang menangis ketika mendengar keluh kesah adik kesayangannya. Hatinya benar-benar sakit jika sudah melihat kondisi adik laki-lakinya itu.
__ADS_1
Namun ketika melihat kekompakkan ketujuh sahabat-sahabat adiknya. Dan ketulusan cinta Brenda terhadap adiknya membuat hati Gilang merasakan kelegaan. Dia benar-benar bersyukur adiknya itu dikelilingi oleh orang-orang baik seperti mereka.
"Kakak akan selalu mendoakan untuk hubungan kamu dengan Brenda dan ketujuh sahabat-sahabat kamu, Ren!" ucap Gilang.