
Di kediaman keluarga Wilson terlihat seorang wanita paruh baya yang tengah mempersiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan anak-anaknya. Wanita itu adalah Liana Wilson, ibu dari Brenda Wilson.
Brenda adalah putri kelima dari enam bersaudara. Empat orang kakak, dua kakak laki-laki dan kakak perempuan. Dan satu adik perempuan.
"Selamat pagi, Mama!"
Liana terkejut ketika mendengar teriakan kelima anak-anaknya yang datang dan dengan kompaknya menyapanya yang tengah fokus menyiapkan sarapan pagi.
Sementara kelima anak-anaknya tersenyum ketika melihat ibunya terkejut. Setelah itu, mereka secara bergantian memeluk dan menciumi pipi ibu mereka.
"Maaf, Mama!" seru mereka secara bersamaan.
Liana tersenyum dan tangannya mengusap lembut pipi kelima anak-anaknya secara bergantian, lalu menciumnya.
"Kita bantu ya, Ma!" seru ketiga anak perempuannya.
Kelima anak-anaknya itu adalah sisulung Maura Wilson, sinomor dua Rangga Wilson, sinomor tiga Barra Wilson, sinomor empat Riana Wilson dan sinomor enam alias sibungsu Raya Wilson.
Mereka pun membantu ibunya untuk menyiapkan sarapan pagi dan menata sarapan pagi itu di atas meja.
"Mana Brenda?" tanya Liana.
"Mungkin masih di kamarnya," jawab Maura.
"Kemungkinan juga masih ngebo di dalam kamarnya!" seru sibungsu Raya.
Mendengar ucapan dari Raya, mereka semua tertawa dan juga geleng-geleng kepala.
"Awas saja kalau sampai sikebo itu sampai dengar ucapanmu itu, Ray. Bisa habis kamu," ucap Rangga menakut-nakuti adik bungsunya.
"Nah. Kakak juga ngomong itu barusan," protes Raya.
"Ya, itukan kakak barusan hanya ngingetin doang. Bukan niatnya mau ngomong itu." Rangga berusaha ngelak di depan adik bungsunya.
"Terus aja ngeles. Gak apa-apa, kok! Aku kan anak perempuan yang baik, kakak perempuan yang baik dan juga adik perempuan yang baik. Jadi gak apa-apa dibully. Aku pasrah aja!" seru Brenda yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka semua.
Mereka semua tidak menyadari kedatangan Brenda karena sibuk dengan urusan masing-masing sembari membahas Brenda.
Mendengar suara Brenda, mereka semua melihat kearah Brenda, kecuali Liana. Liana hanya tersenyum melihat keenam anak-anaknya.
"Eeh, adik perempuan kakak yang paling cantik. Bahkan kecantikannya mengalahkan kecantikan kakak Maura, Riana dan Raya." Rangga berbicara sembari mengedipkan matanya kearah Brenda. Rangga kemudian merangkul adiknya itu.
"Aish." Brenda mempoutkan bibirnya, lalu menduduki pantatnya di kursi.
"Brenda. Kamu jangan percaya apa yang dikatakan oleh kakak Rangga. Kamu tahu sendirikan jika kakak Rangga itu tukang gombal," ucap Barra.
Mendengar ucapan dari Barra. Rangga menatap horor adik laki-lakinya itu. Sementara Barra hanya acuh sembari mengangkat kedua bahunya.
"Sudah, sudah! Hentikan perdebatan kalian. Sekarang duduk dan kita mulai sarapannya!" Liana akhirnya menghentikan perdebatan kecil anak-anaknya.
"Baik, Mama!" seru mereka kompak.
Liana adalah orang tua single parent. Liana menjadi seorang ibu sekaligus menjadi seorang ayah untuk keenam anak-anaknya. Suaminya Antonio Wilson telah meninggal ketika usia Brenda 10 tahun dan Raya 5 tahun.
Semenjak suaminya meninggal, Liana yang meneruskan perusahaan peninggalan suaminya. Setelah usia Maura 23 tahun dan Rangga 21 tahun, keduanya memutuskan untuk membantu Liana untuk menjalankan perusahaan peninggalan ayah mereka.
Untuk Barra dan Riana, keduanya memiliki usaha sendiri. Barra memiliki perusahaan DIALER MOTOR SPORT YAMAHA mewah. Sementara Riana memiliki perusahaan di bidang PERANCANG BUSANA. Hasil rancangan semua produknya sudah terkenal sampai luar negeri.
__ADS_1
Untuk Brenda masih berstatus mahasiswi. Brenda awalnya kuliah di Australia. Karena rasa rindunya pada anggota keluarganya, Brenda memutuskan untuk pindah kuliah ke Jerman. Brenda tidak ingin berjauhan dengan keluarganya. Sementara untuk Raya berstatus pelajar SMP kelas 1.
Ayah Brenda asli orang Australia dan menikah dengan ibunya yang asli orang Jerman. Setelah menikah, Ayahnya membawa ibunya untuk tinggal di Australia. Di usia Raya yang ketiga tahun, keluarga Brenda memutuskan pindah ke Jerman, lalu menetap di sana.
"Brenda. Bagaimana pendaftaran kuliahmu disini, sayang?" tanya Liana.
"Lancar, Mama." Brenda menjawab pertanyaan dari ibunya sembari mengunyah makanan.
"Kamu mendaftar di Kampus mana, Brenda?" tanya Riana.
"UNIVERSITY NATIONAL JERMAN," jawab Brenda sembari tersenyum manis.
"Di Kampus itu ada pujaan hatiku," batin Brenda.
Mereka yang melihat Brenda yang tersenyum menatap curiga. Namun detik kemudian, Raya yang dengan seenaknya berbicara sesuka hatinya.
Raya kemudian menempelkan telapak tangannya di kening kakaknya itu sembari berkata, "Kak Brenda masih waraskan? Kakak belum gilakan?"
Mendengar perkataan dari adiknya, Brenda langsung memberikan tatapan horor pada Raya.
TAK!
Brenda memukul kening Raya dengan menggunakan sendok makan.
"Aish," Raya mempoutkan bibirnya.
Sementara yang lainnya hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat keduanya.
"Oh, iya. Aku hampir lupa memberitahu kalian!" seru Brenda.
"Nanti malam Darren akan datang ke sini!" Brenda berbicara dengan penuh semangat.
"Da-darren!" seru mereka bersamaan lagi.
"Iya," jawab Brenda.
"Maksud kamu Darrendra Smith" tanya Rangga.
"Iya," jawab Brenda lagi.
"Darren teman masa kecilmu itu?" tanya Maura.
"Aish. Iya, iya." Brenda menjawab dengan nada kesal.
"Jika benar si anak kelinci itu mau kesini. Awas saja dia. Kakak akan jewer telinganya. Sudah berapa tahun ini dia tidak pernah lagi main kesini," ucap Barra.
"Iya, kakak juga. Kakak akan serang anak kelinci itu dengan 1000 pertanyaan. Biar sianak kelinci itu kapok." Maura juga tak kalah antusiasnya untuk melihat kedatangan Darren.
Ketika Rangga ingin bersuara, Brenda sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Kalau begitu aku akan terlebih dahulu menghubungi Darren dan memintanya untuk membatalkan niatnya untuk datang kesini nanti malam." Brenda berbicara sembari memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
Mendengar perkataan dari Brenda. Maura, Rangga dan Barra, bahkan Riana yang juga berniat untuk menjahili Darren hanya bisa terdiam dan memanyunkan bibir mereka. Sementara Brenda tersenyum kemenangan melihat ketiga kakaknya.
"Brenda, sayang." Liana memanggil putrinya dengan lembut.
"Iya, Mama." Brenda menjawab panggilan ibunya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Darren? Mama sudah lama tidak mendengar kabarnya."
"Kabar Darren baik-baik saja, Mama! Tapi semenjak ada masalah dengan keluarganya. Hidupnya tidak baik-baik saja." Brenda berbicara sembari mengingat apa yang dibicarakan Darren padanya ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya.
"Ada apa, sayang?" tanya Liana.
"Darren tidak lagi tinggal dengan keluarganya. Darren memutuskan untuk pergi dari rumah dan memutuskan hubungan dengan keluarganya. Bahkan Darren melepaskan marga Smith dibelakang namanya," jawab Brenda.
"Memangnya kenapa? Apa ada masalah?" tanya Rangga.
"Darren difitnah dan dituduh telah menusuk kakak Darka dan Melvin adik laki-lakinya. Anggota keluarganya lebih percaya dengan video yang mereka lihat. Mereka sama sekali tidak mempercayai Darren. Padahal Darren sudah berkata yang sebenarnya. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi adalah Darren dituduh telah memanipulasi semuanya dan berpura-pura menyelamatkan kakak Darka dan adik tirinya hanya untuk menutupi kejahatannya. Hanya paman Evan, bibi Carissa dan ketiga kakak-kakak sepupunya yang percaya padanya. Dan mereka selalu ada untuk Darren."
Mendengar cerita dari Brenda. Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya terkejut. Mereka tidak menyangka jika ada keluarga seperti itu.
"Wah, benar-benar menjijikan. Bisa-bisanya mereka bersikap seperti itu pada anak dan adik sendiri. Apa yang ada di otak mereka?" Barra benar-benar marah ketika mendengar cerita tentang Jungkook dari Brenda.
"Lalu bagaimana hubungan Darren dengan keluarganya sekarang, sayang?" tanya Liana.
"Untuk sekarang ini. Kakak Darka, kakak Gilang dan Paman Erland sudah berhasil meluluhkan hati Darren. Dengan kata lain, Darren sudah memaafkan kesalahan mereka. Sementara untuk bibi Agneta, kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan dan kelima adik tirinya. Darren belum memberikan kata maaf untuk mereka."
"Untuk kakak Davin, kakak Andra dan bibi Agneta. Darren mengatakan padaku bahwa dirinya akan sulit untuk memaafkan kesalahan mereka bertiga. Kedua kakaknya itu sangat egois dan mau menang sendiri, apalagi bibi Agneta. Kesalahan mereka terlalu fatal terhadap Darren."
"Memangnya apa yang membuat Darren tidak bisa memaafkan kesalahan mereka bertiga, Brenda?" tanya Riana.
"Saat kejadian itu, semua kakak-kakak laki-lakinya menyerangnya, memakinya dan menghinanya. Bahkan mereka dengan teganya memukul Darren secara bergantian. Sementara kedua orang tuanya hanya diam tanpa membela Darren sama sekali. Sementara untuk paman Evan dan bibi Carissa sudah diancam untuk tidak ikut campur atau sekedar membela Darren. Makanya paman Evan, bibi Carissa dan ketiga kakaknya sepupunya hanya bisa diam dan menangis dalam hati. Namun, ketika Darren membela diri dengan balik memukul dan bersikap kasar pada kakak-kakaknya, bibi Agneta justru marah dan membentak Darren. Bibi Agneta mengatakan sikap dan kelakuan Darren sangat menjijikan. Bahkan bibi Agneta mengatakan Darren berubah menjadi monster yang kejam yang tega melukai saudara sendiri."
"Setelah mengatakan hal itu kepada Darren. Bibi Agneta menarik kasar tangan Darren untuk dihukum. Tapi bukan Darren namanya jika dirinya diperlukan keji oleh bibi Agneta. Darren justru melawan dengan cara mendorong tubuh bibi Agneta dengan kuat sehingga tersungkur ke lantai. Setelah mendorong bibi Agneta. Darren mengeluarkan semua amarah dan kekecewaannya terhadap bibi Agneta. Semenjak kejadian itu, Darren tidak lagi mau memanggil bibi Agneta dengan sebutan Mama. Apalagi berhubungan dengannya."
Brenda menceritakan semuanya pada anggota keluarganya. Brenda menceritakan sesuai yang diceritakan oleh Darren padanya. Tidak ditambah dan dikurangi.
"Kenapa begitu? Walau bagaimana pun, bibi Agenta itu adalah ibu kandung Darren. Darren bisa memaafkan kesalahan ayahnya. Kenapa Darren tidak bisa memaafkan kesalahan ibunya?" tanya Rangga.
"Bibi Agneta itu bukan ibu kandungnya Darren. Bibi Agneta itu adalah adik perempuan dari ibu kandungnya Darren. Jadi bibi Agneta itu adalah bibinya. Semenjak kejadian itu, Darren akan menganggap bibi Agneta sebagai bibinya bukan sebagai ibunya. Darren sudah terlanjur terluka dan kecewa akan perkataan dan perlakuan bibi Agneta padanya. Terlebih lagi bibi Agneta telah melanggar janjinya yang telah dibuatnya bersama ibu kandungnya."
"Janjinya?" tanya mereka bersamaan.
"Iya. Sebelum ibu kandung Darren meninggal. Ibu kandungnya meminta pada bibi Agneta selaku adik kandungnya untuk menjaga ketujuh putranya, terutama Darren. Kondisi Darren berbeda dengan keenam kakak-kakaknya. Darren memiliki masalah di jantungnya sejak lahir. Selama Darren bahagia dan jauh dari masalah. Semuanya akan baik-baik saja. Tapi jika Darren tertekan dan stres, maka jantungnya akan kambuh."
"Semenjak pertemuan pertama mereka setelah satu tahun berpisah. Semenjak Darren menginap di rumah keluarganya atas permintaan bibi Carissa, semenjak itulah jantung Darren berulang kali kambuh dan tiga kali masuk rumah sakit. Darren sudah tidak nyaman lagi tinggal disana. Setiap hari selalu ribut dengan kakak-kakaknya, terutama dengan kakak Davin dan kakak Andra."
"Lalu sekarang Darren tinggal dimana? Apa Darren masih tinggal di rumah keluarganya?" tanya Maura.
"Iya, kak. Untuk sementara ini Darren masih berada di rumah keluarganya karena keluarganya dalam bahaya. Bukan keluarga Darren saja yang dalam bahaya. Keluarganya Axel, keluarga Jerry, keluarga Qenan, keluarga Willy, keluarga Dylan, keluarga Rehan dan keluarga Darel juga dalam bahaya."
"Ya, Tuhan! Kenapa jadi begini nasib mereka. Apalagi Darren? Mama benar-benar tidak tega melihat Darren menanggung semuanya. Apa Darren sanggup memikul semuanya?" ucap dan tanya Liana.
"Mama tidak perlu khawatir. Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu tidak sendirian. Mereka memiliki lima sahabat sekaligus kakak bagi mereka. Dan kelima kakak-kakak mereka itu adalah ketua mafia. Kelimanya itu siap membantu Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya."
Brenda tidak mengatakan pada keluargnya bahwa dirinya adalah salah satu anggota yang bekerja untuk Taemin, ketua mafia THE CRIPS.
Brenda bergabung dengan kelompok mafia THE CRIPS agar bisa melindungi dirinya dan anggota keluarganya. Brenda tidak ingin kehilangan lagi. Dulu ayahnya pergi dengan cara dibunuh. Dan sampai detik ini, Brenda dan anggota keluarganya belum mengetahui dalang dibalik kematian ayahnya.
Brenda bergabung menjadi salah satu anggota Ziggy bukan menjadi mafioso. Brenda diangkat menjadi tangan kanannya Ziggy. Sama seperti kelima tangan kanannya yang lainnya.
"Ya, sudah. Kalau Darren datang. Mama akan masakan makanan kesukaannya. Mama sampai saat ini masih ingat apa makanan kesukaannya."
Liana berbicara sembari membayangkan wajah tampan, imut dan manis Darren ketika masih SMP dulu. Ditambah lagi ketika Darren mengunyah makanan, itu benar-benar membuat Liana tersenyum bahagia.
__ADS_1