
Darren sudah kembali ke kamarnya. Darren saat ini duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya dengan menyandarkan punggungnya di punggung sofa. Dan tak lupa Darren memejamkan matanya.
Cklek!
(Suara pintu dibuka)
Setelah pintu kamar Darren terbuka, Qenan dan yang lainnya melangkah memasuki kamar Darren.
Setiba di dalam kamar Darren, mereka melihat Darren yang duduk di sofa dengan tubuhnya bersandar di sandaran sofa. Serta matanya yang terpejam.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel melangkah menghampiri sofa. Setibanya di sofa, mereka langsung menduduki pantatnya.
Baik Qenan, Willy Axel maupun Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel menatap khawatir Darren.
"Ren," panggil Jerry.
Darren yang mendengar salah satu sahabatnya memanggil namanya langsung membuka kedua matanya.
Darren mengangkat kepalanya dan melihat ketujuh sahabatnya sudah duduk di sofa dengan tatapan mata ketujuhnya menatap dirinya.
"Ren. Aku tahu kalau kamu mendengar apa yang kita bicarakan dengan anggota keluargamu dan yang lainnya," ucap Jerry.
"Kami mohon dengan sangat padamu. Jangan seperti ini. Kita semua peduli dan sayang sama kamu," ucap Rehan.
"Apa kamu pikir kita-kita akan tega melihat kamu bekerja sendirian," ucap Dylan.
"Kita mengambil keputusan ini demi kamu. Kita nggak ingin kamu kenapa-kenapa, Ren!" sahut Axel.
Darren menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya. Darren dapat melihat kekhawatiran dan kepedulian di tatapan mata para sahabat-sahabatnya itu.
"Kalau kalian memutuskan untuk kembali ke perusahaan Accenture dan Galeri. Bagaimana dengan perusahaan kalian?" tanya Darren dengan menatap sedih ketujuh sahabatnya.
"Ada empat tangan kanan kami yang akan mengurusnya. Mereka akan bekerja seperti biasa. Begitu juga dengan kita," jawab Willy.
"Tapi......"
"Sudahlah. Kamu nggak usah bersikap seperti seolah-olah ini pertama kalinya kami melakukan ini." ucap Qenan.
Mendengar ucapan dan melihat wajah-wajah serius ketujuh sahabatnya membuat Darren hanya bisa menghela nafasnya. Menolak pun percuma. Hasilnya, ketujuh sahabatnya itu akan tetap pada pendiriannya.
"Terserah kalian saja," ucap Darren dengan wajah pasrahnya.
Sementara Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tersenyum mendengar perkataan dan melihat wajah pasrah Darren.
***
__ADS_1
Brak!
Pintu ruang kerja Chico dibuka paksa oleh Dirga. Dan ketika pintu sudah terbuka, Dirga langsung melangkah masuk ke dalam.
"Maaf, Bos!" seru Dirga.
Chico saat ini berada di perusahaan miliknya. Selain seorang ketua mafia. Chico juga seorang CEO. Begitu juga dengan Ziggy, Noe, Enzo dan Devian.
Baik tangan kanan Chico, tangan kanan Ziggy maupun tangan kanan Noe, tangan kanan Devian dan tangan kanan Enzo akan memanggil dengan sebutan Bos jika berada di perusahaan.
Selama bukan urusan mafia dan peperangan, mereka memanggil para ketuanya memanggil dengan sebutan Bos.
"Duduk, Dirga!"
"Baik, Bos!"
"Ada apa? Kenapa kau datang ke perusahaanku seperti sedang dikejar-kejar polisi?" tanya Chico.
"Ach, begini Bos! Saya dan anggota saya sudah berhasil menemukan keberadaan tuan Erland."
Chico seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Dirga.
"Dirga, kamu sedang tidak berbohongkan?"
"Tidak, Bos! Ini kenyataan. Saya dan anggota saya berhasil menemukan lokasi dimana tuan Erland berada."
Mendengar penuturan dari Dirga membuat Chico tersenyum bahagia.
"Baiklah, jika memang seperti itu! Kau kerahkan beberapa mafioso untuk mendatangi tempat dimana tuan Erland berada. Kepung tempat itu agar orang-orang yang ada disana tidak bisa kabur. Apalagi membawa pergi tuan Erland."
"Baik, Bos!"
"Jangan sampai kedatangan kita kesana diketahui oleh para musuh,"
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Dirga langsung pamit untuk segera kembali ke markas dan menjalankan apa yang sudah diperingatkan oleh sang ketua padanya.
***
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam. Chico, tangan kanannya dan dua puluh anggota mafiosonya sudah sampai di lokasi.
Seperti yang sudah direncanakan oleh Chico ketika di perusahaannya, beberapa mafioso tengah berjaga-jaga dengan cara mengepung semua sisi bangunan tempat keberadaan Erland.
Setiba di lokasi, Chico, dua tangan kanannya yaitu Dirga dan Zidan beserta dua puluh anggota mafiosonya langsung melangkah memasuki bangunan itu. Mereka tidak ingin membuang-buang waktu terlalu lama berada di lokasi tersebut.
__ADS_1
"Setiba kalian di dalam, langsung cari Paman Erland. Siapa yang terlebih dahulu menemukan keberadaan Paman Erland segera bawa ke rumah sakit milik Bibi Celsea. Kalian mengerti!"
"Kami mengerti, King!"
"Bagus. Sekarang lakukan pekerjaan kalian! Jangan sampai gagal. Ingat! Hati-hati dan jangan sampai terluka!"
"Baik, King!"
Setelah itu, dua puluh para anggota mafioso itu langsung memasuki bangunan itu untuk mencari keberadaan Erland. Begitu juga dengan Chico, Zidan dan Dirga.
^^^
Kini mereka semua sudah berada di dalam bangunan. Mereka berpencar menyusuri setiap lorong dan ruangan yang ada di dalam bangunan itu.
Baik Chico, Zidan, Dirga maupun dua puluh anggota mafioso mencari keberadaan Erland.
Mereka tak akan segan-segan untuk menghabisi siapa saja yang mengahalangi pekerjaannya.
Tujuan mereka hanya ingin menemukan keberadaan Erland. Bukan ingin menyakiti orang-orang yang ada di dalam bangunan itu.
Ketika Chico, Zidan, Dirga dan dua puluh anggota mafiosonya tengah fokus mencari keberadaan Erland sembari menghabisi orang-orang yang ada di dalam bangunan itu, empat anggota mafioso berhasil menemukan keberadaan Erland.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelum memasukkan bangunan tersebut bahwa siapa saja yang terlebih dahulu menemukan keberadaan Erland langsung bawa ke rumah sakit milik ibunya Axel.
"Itu tuan Erland!" seru anggota pertama.
"Ayo, angkat tubuh tuan Erland dan naiknya ke punggungku," ucap anggota kedua.
Anggota ketiga dan anggota keempat mengangkat secara berlahan tubuh Erland dan meletakkan di atas punggung anggota kedua.
Setelah dipastikan aman, anggota pertama berlari keluar untuk menghidupkan mesin mobilnya.
Sementara anggota ketiga dan keempat membantu dan menjaga anggota kedua membawa Erland keluar dari bangunan itu.
Ketika mereka melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, anggota ketiga memberi kabar kepada Zidan dengan mengatakan bahwa mereka telah berhasil menemukan Erland dan sedang menuju ke mobil.
Zidan yang mendapatkan pesan dari salah satu anggota mafiosonya yang mengatakan bahwa mereka telah berhasil membawa Erland keluar dari dalam bangunan tersenyum bahagia.
Setelah itu, Zidan langsung memberitahu sang ketua tentang kabar tersebut.
"King, tuan Erland sudah berhasil dibawa keluar dari bangunan ini oleh empat anggotaku," lapor Zidan.
"Benarkah?" tanya Chico.
"Ini King. Coba lihat dan baca sendiri pesannya," jawab Zidan lalu memperlihatkan isi pesan itu kepada Chico.
__ADS_1
Chico mengambil ponsel milik Zidan, lalu melihat serta membaca pesan yang tertulis.
Seketika terukir senyuman di bibir Chico ketika mengetahui bahwa anggota mafiosonya berhasil membawa pergi ayah dari salah satu adi lak-laki-lakinya.