KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kabar Keberhasilan Dari Caleb


__ADS_3

Darren sudah berada di rumahnya. Dan saat ini dirinya berada di ruang tengah sedang berperang dengan laptop miliknya.


Darren saat ini tengah mengecek berkas-berkas yang dikirim oleh sekretarisnya. Setelah Darren selesai mengecek berkas-berkas itu, Darren akan mengirimkan berkas-berkas itu kepada Qenan dan Willy. Darren akan meminta kepada Qenan dan Willy untuk melakukan pengecekan langsung ke perusahaan.


Selesai pengecekan, Darren meminta Qenan dan Willy membuatkan laporannya.


Ketika Darren sedang fokus dengan berkas-berkas yang ada di laptopnya, tiba-tiba para kakak-kakaknya datang menghampirinya.


"Darren," panggil kompak para kakak-kakaknya.


Darren terkejut mendengar panggilan secara bersamaan dari para kakak-kakaknya. Sedangkan para kakak-kakaknya tersenyum tanpa dosa.


Darren melirik sekilas kakak-kakaknya itu, lalu kembali menatap ke layar laptopnya kembali.


"Dasar kakak-kakak laknat," ucap Darren.


Mereka semua kembali tersenyum ketika mendengar perkataan kesal dari Darren.


"Lagi apa, hum?" tanya Davin.


"Main," jawab Darren asal.


Mendengar jawaban asal dari Darren membuat Davin melotot. Sementara adik-adiknya yang lain tersenyum.


"Pembalasan dendam," sahut Dzaky tersenyum sembari menatap wajah kesal adiknya.


"Darren," panggil Andra.


"Apa?" jawab Darren ketus.


"Kok gitu jawabnya?" tanya Andra yang berpura-pura ambekan.


Mendengar pertanyaan dari kakaknya, Darren mengalihkan perhatiannya dari layar laptop untuk melihat kearah kakaknya. Dapat Darren lihat bahwa kakaknya saat ini sedang bersedih hati.


"Nggak usah sok sedih gitu. Aku nggak bakal luluh," ucap Darren.


Seketika mata Andra membelalak sempurna ketika mendengar perkataan dari adik manisnya. Di dalam hati Andra saat ini berkata, "Tumben nggak mempan."


Sementara Davin, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tertawa nista.


"Hahahaha."


"Terima saja nasibmu, Andra!" seru Davin.


"Aish," kesal Andra.


Beberapa detik kemudian, Darren pun selesai dengan pekerjaannya. Darren pun mematikan laptopnya. Setelah laptopnya mati, Darren menutup laptopnya itu.


Darren menatap satu persatu kakak-kakaknya. Dan berakhir matanya menatap kearah Gilang.


Gilang yang sadar ditatap oleh adiknya itu langsung bersuara.


"Ada apa?" tanya Gilang.


"Tahu aja kalau aku mau nanya," sahut Darren.


"Dari mata kamu udah kelihatan jelas," jawab Gilang.


"Boleh?"

__ADS_1


"Tentu. Kamu mau nanya apa sama kakak?"


"Kemarin gadis itu nyariin kakak Gilang. Apa kakak Gilang udah ketemu sama dia? Ada urusan apa dia sama kakak Gilang? Ngomong apa aja dia? Kakak Gilang nggak naksir dia kan?"


Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari adiknya membuat Gilang tersenyum. Begitu juga dengan Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Darka.


"Kenapa memangnya kalau kakak nasir sama dia? Apa nggak boleh? Kamu saja yang masih kecil udah punya pacar. Masa kakak yang tua dari kamu nggak boleh pacaran," ucap dan tanya Gilang kepada adiknya.


Gilang sengaja berbicara seperti itu hanya untuk menggoda adiknya saja. Tidak ada maksud lainnya. Gilang tidak akan pernah nyakitin adiknya, apapun yang terjadi.


Gilang akan selalu mengabulkan apa yang diinginkan adiknya itu. Sekali pun adiknya itu melarang dirinya untuk memiliki kekasih. Gilang siap. Apapun akan Gilang lakukan demi adik kesayangannya.


"Bukan gitu. Aku nggak pernah ngelarang kalian untuk memiliki kekasih. Tapi aku nggak mau kalian sampai salah pilih. Aku nggak mau ketika kalian punya kekasih, kalian lebih pro terhadap kekasih kalian dari pada keluarga. Aku nggak mau kalian lebih percaya dan lebih mementingkan kekasih kalian dari pada keluarga. Dan aku nggak mau kalian hanya dimanfaatkan saja oleh kekasih kalian itu."


Darren berbicara dengan penuh penekanan disetiap kata. Dan tatapan matanya menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya.


"Aku mau kekasih kalian itu mau menerima kalian apa adanya. Dan juga mau menerima anggota keluarga kita. Jika kita menjalin sebuah hubungan. Maka kita akan memiliki dua keluarga."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menatap dengan senyuman kebanggaan mereka masing-masing. Mereka bangga akan perkataan bijak dari adiknya. Makin kesini, adiknya itu makin dewasa.


"Kamu nggak perlu khawatir, oke! Kakak nggak ada hubungan apa sama gadis itu. Kalau pun kakak dekat dengan dia. Itu hanya sebatas teman. Tidak lebih. Kakak akan mencari pendamping hidup sesuai kriteria kamu." Gilang berbicara dengan lembut dan juga tulus dari hatinya.


"Kakak Gilang hanya anggap teman. Terus bagaimana dengan gadis itu?" tanya Darren khawatir.


"Masalah itu nggak usah kamu pikirkan. Jika gadis itu suka dan cinta sama kakak. Itu urusan dia. Bukan urusan kakak. Yang jelas kakak nggak suka dan kakak nggak cinta sama dia. Kakak dekat sama dia hanya satu misi," jawab Gilang.


"Misi?" tanya Darren, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Darka bersamaan.


"Iya, misi!"


"Misi apa, Gilang?" tanya Adnan.


"Apa aku boleh ikut dalam misi kakak Gilang?" tanya Darren.


"Tentu. Kamu lakukan sesuai keinginan kamu. Dan kakak akan melakukan sesuai keinginan kakak," jawab Gilang.


"Deal."


"Deal."


Ketika mereka sedang mengobrol sembari membicarakan masalah misi, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi menandakan panggilan masuk.


Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja.


Darren melihat nama 'Kakak Caleb' di layar ponselnya. Melihat nama salah satu tangan kanannya Ziggy. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Dan Darren pun langsung menjawab panggilan itu.


"Hallo, kakak Caleb."


"Hallo, Ren. Kakak ada kabar untukmu."


"Kabar apa, kakak Caleb. Buruan katakan."


"Kakak sudah berhasil membebaskan tiga rekan kerja kamu yang berasal dari tiga negara itu."


"Benarkah, kakak Caleb?"


"Iya, Ren. Bahkan beberapa menit yang lalu kakak dapat kabar dari Daksa. Kata Daksa, dia berhasil mendapatkan latar belakang dari ketiga pria yang mengaku-ngaku sebagai rekan kerja kamu dari tiga negara itu. Bukan itu saja, Daksa juga mendapatkan banyak bukti kejahatan mereka dan keluarganya."


Mendengar informasi dari Caleb membuat Darren benar-benar bahagia. Sebenarnya Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya bisa mencari semua itu sendiri tanpa bantuan dari kelima kakak-kakak mafianya beserta para tangan kanannya.

__ADS_1


Hanya saja Darren tak enak hati jika tidak melibatkan kelima kakak-kakak mafianya dan para tangan kanannya. Ditambah lagi, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya mendapatkan satu ancaman telak dari kelima kakak-kakak mafianya.


Ziggy, Devian, Enzo, Chico dan Noe pernah mengancam Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Jika sampai mereka mengetahui bahwa Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya bekerja sendiri tanpa meminta bantuan mereka, maka Ziggy, Devian, Enzo, Chico dan Noe akan marah besar kepada Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Bahkan mereka akan mengabaikan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya selama satu bulan penuh plus putus kontak.


Akibat ancaman itulah, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya meminta bantuan setiap ada masalah. Tidak setiap masalah sih. Kadang-kadang saja.


"Sekarang apa rencana kamu?"


"Aku akan langsung menyerang kediaman para keluarga brengsek itu."


"Bagus. Kakak akan mempersiapkan semuanya."


"Terus bagaimana dengan kelompok yang melindungi mereka?"


"Ach, maaf kakak lupa memberitahumu. Kelompok itu sudah mati dibantai habis oleh kakak mafiamu."


Mendengar jawaban dari Caleb. Seketika Darren membelalakkan matanya tak percaya.


"Yang benar, kakak Caleb? Akukan belum menghubungi kakak Ziggy. Bahkan aku belum menceritakan apapun padanya."


"Kau ini bagaimana sih. Bukannya para anggota mafioso kelima kakak-kakak mafiamu sedang berjaga-jaga dan mengawasi setiap pergerakan kamu dan ketujuh sahabat-sahabat kamu. Begitu juga dengan keluarga kamu dan keluarga dari sahabat-sahabat kamu."


Mendengar ucapan dari Caleb, seketika Darren pun sadar dari kelupaannya.


"Hehehehe. Iya, aku lupa!"


"Aish! Kau ini. Belum tua tapi sudah pelupa."


"Makhlumlah, kakak Caleb. Terlalu banyak masalah."


"Ya, sudah. Kapan kita mulai menyerang keluarga brengsek itu?"


"Pukul 12 malam ini."


"Baiklah. Kau hubungi sahabat-sahabatmu. Suruh mereka bersiap-siap."


"Baik, kakak Caleb."


Setelah itu, baik Caleb maupun Darren sama-sama mematikan panggilannya.


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menatap khawatir Darren. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap adiknya itu.


"Darren," panggil Darka.


Darren langsung melihat kearah kakak aliennya itu. "Iya, kakak Darka."


"Ada apa? Apa ada masalah? Tadi kita semua dengar kamu menyebut mau menyerang malam ini." Darka berbicara dengan menatap khawatir Darren.


"Ini masalah ketiga rekan kerja yang dari tiga negara itu. Yang palsu itu."


"Apa yang terjadi?" tanya Gilang.


"Kakak Caleb dan kakak Daksa tangan kanannya kakak Ziggy dan kakak Chico sudah berhasil mendapatkan latar belakang dari keluarga penipu itu. Dan mereka juga berhasil membebaskan tiga rekan kerja yang aslinya. Jadi nanti malam aku, ketujuh sahabat-sahabat aku bersama kakak Caleb dan anggotanya akan memberikan pelajaran terhadap orang-orang yang sudah menipu perusahaanku."


Mendengar penjelasan dari Darren membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka paham sekarang. Jika mereka diposisi Darren. Mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti Darren.


"Kamu hati-hati ya. Jangan sampai terluka," ucap Adnan.


"Pulangnya kamu harus dalam keadaan baik-baik saja," ucap Darka.

__ADS_1


"Aku janji."


__ADS_2