KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Membahas Mobil Mewah


__ADS_3

Esok Paginya...


University National Jerman adalah kampus elit terkenal di Jerman. Sebagian mahasiswa dan mahasiswinya berasal dari keluarga kaya. Termasuk Darren dan ketujuh sahabatnya. Begitu juga dengan para kekasihnya.


Darren, ketujuh sahabatnya beserta para kekasihnya beda dengan anak-anak seusia mereka. Jika anak-anak seusia mereka memamerkan kekayaan orang tuanya. Justru Darren dan lainnya memiliki kekayaan pribadi.


Jadi, di kampus mahasiswa dan mahasiswi yang paling kaya adalah Darren, ketujuh sahabatnya beserta para kekasihnya termasuk kedua kakak laki-laki Darren.


Sebagian mahasiswa dan mahasiswi berasal dari kalangan menengah. Mereka kuliah lewat jalur Beasiswa.


Rata-rata mahasiswa dan mahasiswi beasiswa tersebut memiliki kepintaran dan kecerdasan luar biasa. Kecerdasan dan kepintaran mereka setara dengan Darren, ketujuh sahabatnya. Termasuk Brenda dan para sahabatnya.


Itulah alasan Darren dan ketujuh sahabatnya selalu membela mahasiswa dan mahasiswi Beasiswa yang selalu dibully oleh mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari kalangan orang kaya.


Seperti biasa, saat ini kedatangan delapan pemuda tampan menjadi pusat perhatian dimana kedelapan pemuda itu adalah Darren dan ketujuh sahabatnya tampan berjalan di tengah-tengah lapangan sehingga menimbulkan teriakan yang memekakkan telinga.


Kedatangan Darren dan ketujuh sahabatnya itu di kantin sukses membuat semua mata perempuan tak berkedip. Penampilan kedelapannya begitu berbeda kali ini yaitu pakaiannya. Mereka dengan kompak memakai jaket hitam di belakang punggung bernama Bruiser berwarna kuning keemasan.


Tidak ada yang melarang mereka untuk memakai jaket. Sebaliknya wakil rektor, dekan dan para dosen membebaskan Darren dan ketujuh sahabatnya. Bagaimana pun salah satu dari mereka adalah pemimpin kampus.


"Gue berasa jadi aktor dunia ditatap terus kaya gitu," ucap Dylan. Dylan terkekeh yang entah apa penyebabnya.


Sementara Darren dan yang lainnya berkata, "Biasa aja!"


Mendengar ucapan kompak dari ketujuh sahabatnya membuat Dylan mendengus kesal.


Darren dan ketujuh sahabatnya saat ini sudah duduk di bangku panjang tempat nongkrong favorit mereka.


"Jer. Gue dengar lo habis dibelikan mobil baru sama kakak Dendra," ucap Willy.


"Iya, benar. Bukan aku aja yang dibelikan mobil baru sama kakak Dendra. Kakak Satria juga dibelikan," jawab Jerry.


"Dalam rangka apa?" tanya Qenan.


"Jangan bilang kalau kakak Dendra memenangkan proyek besar lagi," ucap Darren menebak.


Jerry menatap kearah Darren. Dan detik kemudian, Jerry tersenyum disertai dengan jentikkan jarinya ke udara.


"Tebakan anda benar sekali, tuan Darren!"


"Dan proyek kali ini kakak Dendra memenangkannya dengan keuntungan mencapai 100%, bukan begitu?" ucap dan tanya Darren lagi.


"Yap! Anda benar," jawab Jerry dengan menggerakkan jari telunjuknya kearah Darren.


Mendengar ucapan dan juga jawaban dari Darren dan Jerry membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Rehan dan Darel langsung menatap kearah Jerry.


"Jer, beneran?" tanya Rehan.

__ADS_1


"Hm!" Jerry berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


Kenapa Dendra membeli mobil di tempat lain bukan di tempat Darren. Itu dikarenakan Darren tidak pernah alias menolak menerima uang dari keluarga ketujuh sahabatnya.


Setiap keluarga ketujuh sahabatnya membeli mobil di tempat Darren. Darren sama sekali tidak mau menerima uang tersebut. Justru Darren memberikan mobil itu secara gratis.


Menurut Darren harga mobil itu tidak sebanding dengan perhatian, kepedulian dan kasih sayang yang diberikan oleh keluarga dari ketujuh sahabatnya itu kepadanya.


Selama ini keluarga dari ketujuh sahabatnya itu selalu memberikan apa yang tidak didapat dari keluarga kandungnya. Bahkan keluarga dari ketujuh sahabatnya itu selalu ada untuknya setiap ada permasalahan yang dihadapi olehnya.


Dikarenakan Darren tidak mau atau tidak pernah sama sekali menerima uang dari mereka. Baik keluarga dari Qenan maupun yang lainnya memutuskan untuk membeli mobil di tempat lain. Alasan mereka adalah mereka tidak enak dengan Darren. Apalagi alasan Darren menggratiskan mobilnya untuk mereka karena kebaikan mereka selama ini. Padahalkan sejujurnya, keluarga dari ketujuh sahabatnya Darren benar-benar tulus menyayanginya dan perhatian terhadap dirinya. Bukan karena hal lain atau ingin mendapatkan imbalan. Darren saja orangnya gak enakkan.


"Mobil merek apa? Ada fotonya nggak?" tanya Dylan.


"Ada. Tunggu bentar."


Jerry membuka galeri fotonya. Kebetulan Jerry habis berfoto ria di depan mobil barunya.


Setelah mendapatkan foto yang diinginkannya. Jerry langsung menunjukkan foto itu ke sahabat-sahabatnya.


Darren yang penasaran juga ikut melihat. Jerry berpose di depan kap mobil berwarna hitam mengkilap. Mobil sport yang sama seperti punya Darren.


Darren meyakini bahwa mobil itu berharga 2 Milyar. Kenapa Darren tahu? Karena Darren juga punya mobil yang sama dengan Jerry hanya bedanya, mobil yang Darren miliki berwarna merah.


Tidak ada yang tahu jika Darren mempunyai mobil itu, karena Darren belum pernah menggunakan mobil itu. Mobil itu masih berada di dalam garasi mobil di rumah pribadinya dan tertutup dengan penutup mobil.


Di rumahnya itu, tempat parkir mobilnya begitu luas dan besar. Jadi mobil-mobil yang masuk ke sana bisa leluasa keluar masuk. Begitu juga dengan motor sport. Bahkan garasi untuk menyimpan mobil dan motornya ada 12 garasi. 7 garasi untuk menyimpan mobil-mobil mewahnya. Satu garasi satu mobil. 4 garasi untuk menyimpan motor sport mewahnya. Dan 1 garasinya untuk penyimpanan peralatan bengkelnya.


Mendengar ucapan dari Darren membuat Qenan, Willy, Rehan dan Darel menatap wajah Darren. Setelah itu, mereka kembali menatap wajah Jerry.


"Beneran, Jer?" tanya Darel.


"Iya," jawab Jerry.


"Waw!" seru Qenan, Willy, Rehan dan Darel bersamaan.


Axel melihat kearah Darren. Matanya menatap curiga terhadap sahabat kelincinya ini.


"Jangan-jangan....," Axel menarik turunkan kedua alisnya menatap Darren.


Mendengar ucapan dan tatapan mata Axel kearah Darren. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan dan Jerry ikut melihat kearah Darren.


"Jangan-jangan apa?" tanya Darren.


"Lo tahu soal harga mobil baru milik Jerry," jawab Axel.


"Terus kenapa kalau gue tahu?" tanya Darren pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Jangan pura-pura nggak tahu lo, Darrendra Smith. Disini yang beli mobil baru itu Jerry. Dan hanya Jerry yang tahu soal harganya. Nah, lo! Dari mana lo tahu harga mobil Jerry?" ucap dan tanya Axel penuh selidik.


Mereka menatap Darren dengan tatapan intimidasi. Tatapan mata mereka seakan-akan ingin menusuk Darren.


"Pasti lo udah duluan beli mobil itukan?" tanya Rehan menebak.


Darren yang mendapatkan tatapan dan juga desakan dari ketujuh sahabatnya hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Dan mau tidak mau, Darren akhirnya berkata jujur soal mobil itu.


"Iya. Aku memiliki mobil yang sama seperti Jerry. Warna mobil itu adalah merah."


Mendengar jawaban dan pengakuan dari Darren. Seketika membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel terkejut.


"Apa?" teriak mereka dengan kompaknya.


Teriakan mereka semua mengundang tatapan para pengunjung kantin. Semuanya menatap ke meja dimana Darren dan ketujuh sahabatnya berada.


"Nggak usah pake teriak-teriak segala, sialan!" kesal Darren.


"Sorry," jawab mereka bersamaan.


"Kapan lo beli mobil itu?" tanya Dylan.


"Sebulan yang lalu," jawab Darren.


"Dan lo menyembunyikannya dari kita," ucap Darel.


"Tega lo," ucap Rehan.


"Nggak usah lebay, deh! Gue lupa ngasih tahu kalian. Bukan niat menyembunyikannya. Lagian beberapa bulan ini kita sibuk dengan tugas-tugas masing-masing. Ditambah lagi masalah yang terlalu banyak mendatangi kita."


Mendengar ucapan dari Darren. Seketika mereka langsung diam. Mereka membenarkan apa yang barusan Darren katakan.


"Oh iya! Aku ingin kasih tahu kalian. Nanti siang kalian ikut aku ke cafe yang terkenal di Jerman. Kalian tahukan cafe itu?" ucap dan tanya Darren.


"Iya, tahu!" jawab mereka bersamaan.


"Ada apa? Kenapa?" tanya Qenan.


"Kita akan bertemu dengan ketua baru dari geng motor Vagos," jawab Darren.


"Dia yang ngajak ketemuan. Atau....," perkataan Willy terpotong.


"Gue yang menghubungi dia dan ngajak dia ketemuan," jawab Darren.


"Untuk apa?" tanya Axel.


"Kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Kita nggak menundanya lagi," jawab Darren.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel langsung paham. Mereka dapat melihat kelelahan di mata Darren.


"Baiklah," jawab mereka kompak.


__ADS_2