
Darren bersama sahabat-sahabatnya sudah di kampus, kecuali Willy. Willy memutuskan untuk tidak kuliah. Pikirannya saat ini masih memikirkan kejadian kemarin di mall.
"Sekarang ceritakan padaku. Kenapa dengan Willy dan Alice?" tanya Darren dengan menatap wajah Darel dan Rehan.
Ketika Darren tiba di kampus. Darren hanya melihat enam sahabatnya saja. Sementara Willy, tidak bersama dengan keenam sahabat-sahabatnya itu.
Saat Darren ingin bertanya tentang keberadaan Willy. Rehan sudah terlebih dahulu menyela dengan mengatakan 'kita ke kantin dulu'.
"Ada insiden ketika kita di mall kemarin," jawab Darel.
"Insiden?" tanya balik Darren.
"Dengar cerita dari Willy dan Alice. Mereka berdua sedang pergi berkencan di mall. Sementara gue dan Rehan tujuan datang ke mall itu untuk bertemu dengan pelanggan yang akan membeli lukisan. Sekalian saja kita ajak pacar-pacar kita." Darel bercerita.
"Selesai urusan kita dengan pelanggan-pelanggan itu. Aku dan Darel ngajak pacar-pacar kita untuk jalan-jalan sembari berkencan. Ketika kita lagi jalan-jalan di dalam mall, Milly dan Felisa melihat keberadaan Alice bersama sepuluh laki-laki. Lebih tepatnya Alice disandera oleh mereka." Rehan berucap.
"Bahkan salah satu dari kesepuluh laki-laki itu mengatakan bahwa mereka adalah saudara-saudaranya Alice. Tentua aku, Darel, Felisa dan Milly tidak percaya. Dan berakhirlah perkelahian di dalam mall itu. Hasilnya kalian tahu sendirilah," ucap Darel.
"Terus apa yang terjadi setelah kalian berdua menghajar para sampah itu?" tanya Axel.
"Kami langsung menemui Willy yang kata Alice sedang berada di toko perhiasan," tutur Darel.
"Ketika kita tiba disana. Aku, Darel, Milly dan Felisa melihat Willy yang mencekik leher Kathy. Bahkan banyak para pengunjung mall menyaksikan kejadian itu," sahut Rehan.
Mendengar penuturan dari Rehan membuat Darren, Qenan, Axel, Jerry, Dylan terkejut. Mereka tidak menyangka jika Willy akan berbuat seperti itu. Bagi mereka ini adalah pertama kalinya Willy seperti itu terhadap perempuan.
"Aku rasa ada kata-kata yang menyinggung hati Willy sehingga Willy nekad melakukan hal itu terhadap Kathy," sahut Jerry.
"Aku juga berpikiran seperti. Willy tidak akan melakukan hal itu jika tidak ada sesuatu," sela Axel.
"Dan kemungkinan besar Kathy telah menghina Alice. Secarakan semua orang tahu bagaimana tutur katanya Kathy. Perempuan itu suka menghina dan memaki orang," pungkas Dylan.
Mendengar ucapan dari Dylan. Darren, Qenan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Dylan.
"Tapi Alice baik-baik saja kan?" tanya Darren.
"Alice baik-baik saja, Ren! Untung Milly dan Felisa melihat keberadaan Alice di mall itu. Jika tidak, kita tidak tahu apa yang terjadi," jawab Rehan.
"Aku jadi penasaran. Siapa mereka? Kenapa mereka ingin membawa Alice? Dan kenapa Alice bisa misah sama Willy? Bukankah Willy dan Alice pergi berdua?" tanya Qenan.
Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Qenan. Seketika Darren tersadar akan satu hal yang dialami Kathy akibat ulah sahabatnya.
"Ini pasti ada hubungannya dengan Kathy," ucap Darren.
Mendengar ucapan dari Darren. Rehan, Darel, Qenan, Axel dan Jerry menatap wajah Darren.
"Maksud lo, Ren?" tanya Jerry.
"Aku belum bisa memastikannya. Ini hanya dugaanku saja. Apa Alice ada kasih tahu kalian berdua kenapa dia sampai misah dengan Willy?"
"Kita nggak sempat nanya, Ren! Alice tampak syok. Setelah Alice dalam keadaan tenang. Seketika Alice tersadar akan keberadaan Willy. Lalu Alice langsung berlari untuk menemui Willy. Dan kita pun ikut berlari untuk menemui Willy," jawab Darel.
"Baiklah. Sepulang dari kampus nanti. Kita ke rumah Willy. Ajak Brenda dan sahabat-sahabatnya," ujar Darren.
"Baiklah," jawab kompak Qenan, Rehan, Darel, Jerry, Axel dan Dylan.
***
Di kediaman Wechsler terlihat sepasang suami istri tengah duduk di sofa ruang tengah. Saat ini mereka tengah memikirkan kejadian dua hari yang lalu dimana mereka bertemu dengan seorang gadis cantik yang tak lain adalah putri bungsunya.
Flashback On
__ADS_1
Anthony dan Emily saat ini berada di sebuah mall. Keduanya tengah berbelanja untuk kebutuhan rumah untuk satu bulan.
Baik Anthony maupun Emily begitu tampak bahagia ketika memilih-milih dan memasukkan barang-barang yang mereka butuhkan ke dalam troli.
Beberapa jam kemudian, baik Anthony maupun Emily selesai berbelanja dan keduanya mendorong troli itu menuju kasir.
Setelah membayar semua barang-barang belanjaannya, Anthony dan Emily pergi meninggalkan mall untuk menuju parkiran.
^^^
Kini Anthony dan Emily sudah di parkiran. Dan kini mereka tengah menyusun barang-barang belanjaannya ke dalam bagasi.
Ketika mereka selesai menyusun barang-barang belanjaannya di bagasi, tiba-tiba mata Emily melihat sosok seseorang yang sangat dikenalnya.
"Bianca," ucap Emily.
Anthony yang mendengar istrinya menyebut nama putri bungsunya langsung melihat kearah tatapan istrinya. Dan benar saja, dia melihat putri bungsunya bersama dengan seorang laki-laki. Bahkan laki-laki itu jauh lebih tua dari putrinya. Bisa dikatakan seusia dengannya.
"Siapa pria itu? Kenapa Bianca dekat sekali dengannya?" tanya Emily kepada suaminya.
"Aku juga tidak tahu sayang," jawab Anthony.
Anthony berlahan berjalan mendekati putrinya itu. Dan diikuti oleh Emily. Anthony ingin tahu siapa pria yang bersama putrinya.
^^^
"Bianca," panggil Anthony.
Bianca yang sedang berbicara dengan pria yang tak lain adalah atasannya di perusahaan Er'Land seketika melihat keasal suara.
Dan detik kemudian, Bianca terkejut ketika melihat mantan kedua orang tuanya di hadapannya.
Seketika kejadian-kejadian memilukan selama tinggal bersama kedua orang tuanya berputar-putar di kepalanya. Bianca menatap marah kedua orang tuanya itu.
"Baiklah. Ayo kita ke dalam."
Setelah itu, Bianca dan atasannya itu pergi meninggalkan parkiran untuk menemui klien bisnisnya.
Namun seketika langkah Bianca terhenti ketika mendengar panggilan dari Emily.
"Bianca, tunggu!"
Bianca berdiri di posisinya tanpa membalikkan tubuhnya.
Melihat putrinya yang sama sekali tidak ingin melihatnya, Emily dan Anthony berinisiatif mendekati Bianca.
"Nak, kamu kemana saja selama empat bulan ini? Kenapa kami nggak pulang ke rumah?" tanya Emily.
Mendengar perkataan dari mantan ibunya membuat Bianca mengepal kuat tangannya.
"Mama dan Papa sangat merindukan kamu," ucap Emily lagi.
Bianca seketika membalikkan badannya. Dan jangan lupa matanya yang menatap penuh kebencian mantan kedua orang tuanya itu.
"Kalian salah orang. Namaku Bianca Carlo. Bukan Bianca Wechsler. Dan aku bukan putri kalian. Jadi jangan coba-coba berbohong di depan semua orang yang ada disini kalau kalian itu adalah orang tuaku. Aku anak yatim piatu di dunia ini. Kedua orang tuaku sudah lama meninggal. Kalian mengerti!"
Setelah mengatakan itu, Bianca langsung pergi meninggalkan Emily dan Anthony.
Sedangkan pria yang berstatus atasan Bianca hanya diam melihat dan mendengar perkataan kejam dari karyawannya itu.
Pria itu adalah Erland Faith Smith. Posisi Bianca di perusahaan Er'Land sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi Erland. Bisa dikatakan juga Bianca orang kepercayaan Erland di perusahaan.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya nyonya, tuan!" Erland akhirnya bersuara.
"Iya, tuan!" ucap Anthony menatap wajah Erland.
"Kalau saya boleh tahu. Apa benar kalian orang tua dari Bianca?" tanya Erland.
"Iya, tuan. Kami adalah orang tua dari Bianca. Bianca putri kedua kami," jawab Anthony.
"Lalu kenapa Bianca berbicara seperti itu barusan kepada kalian?"
Mendapatkan jawaban yang menyakitkan hati. Anthony dan Emily hanya diam. Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan simple dari Erland.
Melihat keterdiaman kedua orang tua dari Bianca membuat Erland berpikir bahwa ada masalah antara Bianca dengan kedua orang tuanya.
"Ach, baiklah! Jika kalian tidak ingin menjawab pertanyaan dari saya barusan. Saya tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi pesan saya. Jika benar kalian adalah orang tua kandung dari karyawan saya. Segeralah selesaikan masalah kalian dengan Bianca. Bicaralah baik-baik dengannya."
"Jika kalian benar-benar masih peduli dan sayang dengan Bianca. Berusahalah untuk mendapatkannya kembali. Apa yang kalian alami saat ini. Dulu saya juga pernah mengalaminya. Saya pernah dijauhi dan dibenci oleh putra kandung saya sendiri."
Setelah mengatakan itu, Erland pergi meninggalkan kedua orang tua Bianca. Namun seketika langkah terhenti karena ayahnya Bianca memanggilnya.
"Tuan, tunggu!"
"Iya, ada apa?" tanya Erland.
"Tadi barusan tuan mengatakan bahwa putri saya itu adalah karyawan tuan. Apa maksudnya tuan?" tanya Anthony penasaran.
"Jadi mereka selama ini tidak mengetahui pekerjaan putri mereka sendiri?" batin Erland.
"Tuan," panggil Emily.
"Kalian tidak mengetahui pekerjaan dari Bianca?" tanya Erland memastikan.
Dengan kompak Emily dan Anthony menggelengkan kepalanya.
Mendapatkan jawaban yang begitu tak mengenakkan membuat Erland terkejut.
"Kami berpikir selama ini Bianca seorang perempuan nakal karena setiap malam selalu pulang malam. Ditambah lagi berita dan omongan orang-orang tentang Bianca," ucap Emily.
Seketika Erland terkejut ketika mendengar ucapan dari ibunya Bianca. Erland tidak menyangka jika kedua orang tuanya Bianca akan berpikiran picik terhadap putrinya sendiri.
"Kenapa kalian bisa berpikir seperti itu? Dan kenapa kalian bisa lebih percaya akan omongan orang-orang dibandingkan percaya dengan putri kalian sendiri."
"Aku akan jawab pertanyaan anda barusan, tuan! Bianca itu adalah karyawan saya di perusahaan Er'Land. Dia sekretarisku, asistenku sekaligus kepercayaanku di perusahaan. Ketika aku tidak ada di perusahaan, Bianca yang menyelesaikan pekerjaanku. Walau di perusahaanku itu masih ada dua orang putraku yang membantu. Tapi mereka memiliki tugas-tugas masing-masing dan punya sekretaris serta asisten masing-masing."
Deg!
Anthony dan Emily terkejut ketika mendengar pengakuan dan penjelasan dari pria yang ada di hadapannya mengenai satu fakta mengenai Bianca.
"A-apakah itu benar, tuan?" tanya Emily.
"Apa aku terlihat sedang berbohong?" tanya Erland balik.
"Sejak kapan putri kami bekerja di perusahaan tuan?" tanya Anthony.
"Sejak kapan Bianca bekerja di perusahaanku. Yang pastinya saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah Bianca sudah bekerja di perusahaan saya selama lima tahun sampai sekarang."
Mendengar perkataan dari Erland. Lagi-lagi membuat Anthony dan Emily terkejut. Seketika air mata mereka jatuh membasahi wajahnya.
"Ya, sudah kalau begitu. Saya masuk dulu karena di dalam sedang ada klien saya yang bertemu dengan saya. Saya permisi!"
Dan Erland pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya Bianca untuk menemui kliennya yang saat ini mungkin sedang berbicara dengan Blanca.
__ADS_1
Flashback Off