
Suasana kampus tampak ramai dimana terlihat para orang tua yang anak-anaknya dibully sedang berdebat dengan wakil rektor.
Sementara Darren dan ketujuh sahabatnya hanya diam dan menonton pertunjukan tersebut.
Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya tidak ada niatan untuk masuk kesana atau hanya sekedar sebagai penengah.
Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tersenyum menyeringai menatap kearah wakil rektor yang kewalahan menghadapi para orang tua.
"Tontonan yang sangat menarik," ucap Qenan.
"Dan juga menegangkan," sela Jerry.
"Tanpa bayar lagi," ucap Axel.
"Tontonannya juga di alam terbuka. Benar-benar indah!" ucap Rehan.
Sementara Darren, Willy, Darel dan Dylan tersenyum mendengar perkataan dari keempat sahabatnya dengan tatapan matanya menatap kearah keributan itu.
[Pokoknya kami akan membawa masalah ini ke jalur hukum]
[Kami tidak terima sikap anda yang tidak adil terhadap mahasiswa dan mahasiswi anda]
[Kami semua disini memasukkan anak-anak kami di kampus ini pake uang]
[Dan tidak ada yang gratis]
[Setiap apa yang dikeluarkan oleh pihak kampus, kami mematuhinya. Sekalipun masalah uang]
[Bahkan kami juga tidak pernah terlambat ketika ada pembayaran]
[Tapi kenapa giliran anak-anak kami mendapatkan masalah, lalu mereka mengeluh. Anda tidak menanggapi]
[Anda lebih mementingkan mahasiswa dan mahasiswi yang orang tuanya memiliki kekuasaan disini]
Para orang tua yang anak-anaknya tidak mendapatkan keadilan selama berkuliah di kampus yang mewah, luas dan terkenal menatap marah kearah wakil rektor tersebut.
Wakil Rektor itu melihat kearah dimana Darren dan ketujuh sahabatnya berada. Dapat dilihat oleh bahwa Darren dan ketujuh sahabatnya tengah berbahagia atas penderitaan yang dialaminya saat ini.
Sedangkan para mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya saat ini juga berada di sana. Mereka juga menyaksikan kejadian dimana beberapa orang tua dari teman-teman kampusnya melakukan demo kepada wakil rektor.
Para mahasiswa dan mahasiswi yang menyaksikan itu berharap tidak terjadi sesuatu terhadap kampusnya. Mereka semua masih ingin kuliah. Dan mereka ingin kuliah dengan tenang.
Sedangkan Darren dan ketujuh sahabatnya tersenyum menyeringai menatap kearah wakil rektor itu.
Setelah puas menyaksikan pertunjukan gratis di halaman kampu. Darren dan ketujuh sahabatnya memutuskan untuk ke kelas. Dalam hati mereka masing-masing 'Ngapain juga harus berlama-lama menyaksikan pertunjukan tersebut. Lebih ke kelas sembari bermain game sepuasnya'.
Darren dan ketujuh sahabatnya pun pergi meninggalkan halaman kampus dengan senyuman mengembang di sudut bibirnya.
Namun ketika baru beberapa langkah. Mereka dikejutkan dengan suara panggilan dari wakil rektor mereka.
"Darrendra!"
__ADS_1
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren ketika mendengar wakil rektornya memanggilnya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
Mereka saling memberikan tatapan. Setelah itu, mereka tersenyum.
Dan detik kemudian, Darren dan ketujuh sahabatnya membalikkan badannya untuk menatap kearah wakil rektor, Dekan dan para orang tua yang berdemo.
"Apa?" jawab Darren dengan ketus.
"Kenapa kamu hanya berdiri disana? Kenapa kamu tidak membantu saya menyelesaikan masalah ini?"
"Apa? Aku tidak dengar?" tanya Darren.
"Jangan berpura-pura tidak mendengar perkataan saya, Darrendra Smith!"
"Kalau saya mendengar perkataan anda. Lalu anda mau apa, tuan wakil rektor?"
"Setidaknya bantu masalah ini. Berikan pengertian kepada para pendemo itu," jawab wakil rektor itu.
"Kamu sudah diberikan kepercayaan oleh Rektor untuk memimpin kampus ini. Jadi ini adalah tanggung jawab kamu," ucap wakil rektor itu.
"Oh, begitu ya. Jadi maksud anda jika ada masalah di kampus ini, saya yang harus menyelesaikannya. Sementara anda hanya menerima bersihnya saja, termasuk menerima transferan uang dari para orang tua yang anak-anaknya berkuliah disini. Begitukah, tuan wakil rektor?!"
Darren berbicara suara yang memang sengaja dibesarkan agar semua yang ada di halaman kampus itu bisa mendengarnya.
Mendengar perkataan dari Darren membuat para mahasiswa dan mahasiswi terkejut. Mereka semua bingung akan perkataan Darren barusan.
"Apa maksud kamu, Darren?"
"Anda tidak Amnesia kan, tuan awkil rektor? Anda pasti tahu maksud dari perkataanku barusan," jawab Darren.
Darren melangkahkan kakinya menghampiri wakil rektornya itu. Dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya.
Kini Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berdiri di hadapan wakil rektor itu. Dan jangan lupa tatapan intimidasi dan tatapan tajam yang diberikan oleh Darren dan ketujuh sahabatnya.
"Apa anda ingin aku menyelesaikan masalah ini, hum?" tanya Darren.
"Itu sudah tugas kamu," jawab wakil rektor itu.
"Aku mahasiswa disini. Kenapa anda mengatakan bahwa ini adalah tugasku," sahut Darren.
"Rektor sudah memberikan wewenang penuh akan. Kampus ini kepadamu. Rektor juga sudah memberikan hal penuh untuk melakukan apa saja yang akan kau lakukan di kampus ini," ucap wakil rektor itu.
Mendengar perkataan dari wakil rektor yang mengatakan bahwa dia berhak melakukan apa saja di kampus ini membuat Darren tersenyum.
"Benarkah begitu?"
"Seperti itulah kenyataannya," jawab wakil rektor itu.
"Apa anda yakin ingin saya menyelesaikan masalah ini, hum?" tanya Darren menatap wajah wakil rektor yang juga menatap wajahnya.
"Iya. Saya yakin. Jadi tolong selesaikan masalah ini," jawab wakil rektor itu lagi.
__ADS_1
"Kena kau," batin Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
Darren tersenyum menatap wajah wakil rektor itu. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.
"Baiklah. Aku akan menyelesaikan masalah ini. Tapi ingat! Jangan ikut campur ketika aku melakukan tugasku! Anda cukup mematuhi apa yang aku katakan. Mengerti!" Darren berbicara dengan penuh penekanan dan ancaman.
"Baiklah," jawab wakil rektor itu.
"Bagus. Sekarang lakukan tugas pertama anda. Kumpulkan ke 64 mahasiswa dan mahasiswi yang punya masalah denganku dan sahabat-sahabatku. Sekarang! Dan disini!" Darren berbicara dengan penuh ketegasan.
"Baiklah."
Setelah itu, wakil rektor itu memerintahkan dua dosen untuk mengumpulkan ke 64 mahasiswa dan mahasiswi yang bermasalah dengan Darren dan ketujuh sahabatnya.
Beberapa menit kemudian, ke 64 mahasiswa dan mahasiswi yang memiliki masalah dengan Darren telah berkumpul di halaman.
Darren yang melihat itu seketika tersenyum lebar. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.
"Waktu bermain-main dengan kalian semua," batin Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
"Kerja yang bagus. Aku suka," puji Darren untuk wakil rektornya.
"Tugas kedua anda adalah buat surat Drop Out (D.O) untuk ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu," ucap Darren dengan menunjuk kearah 64 mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul di halaman.
Mendengar perintah dari Darren membuat wakil rektor terkejut. Begitu juga dengan Dekan dan para Dosen. Mereka semua terkejut.
"A-apa?!"
"Kenapa? Tidak mau, hum?"
"Bu-bukan begitu. Tapi...."
"Anda sudah berjanji kepadaku, tuan wakil rektor yang terhormat. Jadi, tepari janji anda." Darren berbicara dengan menatap tajam wajah wakil rektor itu.
"Ingat, tuan wakil rektor! Jumlah keseluruhan mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini berjumlah 300 orang. Dan yang bermasalah denganku dan sahabat-sahabatku sekitar 64 orang. Bahkan mereka sudah menunjukkan taring mereka di hadapanku dan ketujuh sahabat-sahabatku."
"Bukan itu saja, sejak lima bulan yang lalu ke 64 mahasiswa dan mahasiswi kesayangan anda itu sudah berani melakukan sesuatu yang buruk di kampus ini. Salah satunya adalah membully! Anda selaku wakil rektor tidak melakukan tugas anda." Darren berbicara dengan penuh penekanan disetiap kata.
"Apa anda akan mengorbankan mahasiswa dan mahasiswi yang tak bersalah demi mempertahankan ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu?" tanya Willy.
"Jika anda lebih memilih mempertahankan ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu dan membiarkan sekitar 236 mahasiswa dan mahasiswi yang tak bersalah terancam pendidikannya. Berarti anda juga harus bersiap-siap melepaskan jabatan anda sebagai wakil rektor. Saya bisa memecat anda hari ini juga."
Darren berbicara dengan tatapan matanya menatap tajam kearah wakil rektor itu.
Sementara wakil rektor itu terkejut ketika mendengar perkataan dan ancaman dari Darren.
"Bagaimana?" tanya Jerry.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menatap tajam kearah wakil rektor itu.
"Ba-baiklah. Saya akan buatkan surat Drop Out untuk ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu," jawab wakil rektor itu.
__ADS_1
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.