KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Demam


__ADS_3

Di kediaman milik Darren saat ini tampak ramai dimana semua orang berkumpul di ruang tengah. Orang-orang yang hadir tersebut adalah keluarga besar Darren dan orang-orang terdekatnya.


Disaat semua orang berkumpul di ruang tengah, sementara Darren mengurung diri di dalam kamar.


Sejak dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang. Darren memutuskan untuk pulang ke rumah pribadinya. Dan ketika sampai di rumahnya, Darren langsung menuju kamarnya dan tidak keluar setelah itu sehingga membuat anggota keluarganya khawatir.


"Papa, bagaimana ini? Darren dari kemarin tidak keluar dari kamarnya. Aku takut kalau Darren kenapa-kenapa," sahut Darka.


Mendengar ucapan dari Darka membuat Erland seketika berubah menjadi khawatir akan putra ketujuhnya itu. Begitu juga dengan Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang. Bahkan Carissa dan Agneta sejak tadi tidak bisa membendung kesedihannya akibat memikirkan Darren yang tidak keluar dari kamarnya sejak kemarin.


"Kalian tidak mencoba untuk menemui Darren di kamarnya?" tanya Robert.


"Sudah, Opa. Tapi hasilnya kami disuruh keluar. Bahkan Darren melarang kami untuk masuk ke kamarnya," jawab Adnan.


Mendengar jawaban dari Adnan membuat Robert terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tidak menyangka jika Darren melarang siapa pun untuk masuk ke dalam kamarnya.


Axel seketika berdiri dari duduknya. Dan diikuti oleh Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju kamarnya Darren. Mereka tidak peduli jika Darren akan marah terhadap mereka. Mereka juga tidak peduli jika sampai terjadi perang mulut dengan Darren. Yang mereka pedulikan adalah mereka akan ajak Darren bicara.


Sementara Erland, Agneta, Brian, Carissa, Evan, anak-anaknya dan semua yang ada di ruang tengah itu hanya bisa diam dengan tatapan matanya menatap kearah Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan yang melangkah menuju kamar Darren di lantai dua.


^^^


Cklek..


Pintu kamar Darren dibuka oleh Axel. Setelah pintu kamar Darren terbuka, Axel melangkah masuk ke dalam kamar tersebut dan diikuti oleh Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy.


Setibanya mereka di dalam kamar Darren. Mereka melihat Darren yang saat ini sedang tertidur di sofa dengan kepala bersandar di punggung sofa. Berlahan mereka melangkah mendekati Darren.


Kini mereka sudah berada di sofa dan duduk disana. Tatapan mata mereka menatap kearah wajah Darren.


Axel yang kebetulan duduk di samping Darren memberanikan diri menyentuh bahu Darren. Axel bermaksud untuk membangunkan Darren.


Namun detik kemudian Axel membelalakkan matanya ketika merasakan hawa panas di tubuh Darren. Kemudian Axel menyentuh kening Darren. Dan benar! Darren demam.


"Darren demam. Badannya panas sekali!" seru Axel.


Mendengar seruan dari Axel membuat Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan seketika berdiri dari duduknya. Mereka mendekati Darren dan bergantian menyentuh kening Darren. Dan benar apa yang dikatakan oleh Axel bahwa Darren sedang demam.


"Gue akan beritahu yang lainnya!" seru Jerry.

__ADS_1


Jerry kemudian berlari meninggalkan kamar Darren untuk menuju lantai dua. Dia ingin memberitahu anggota keluarga Smith serta yang lainnya tentang kondisi Darren saat ini.


^^^


"Paman Erland! Bibi Agneta! Darren demam. Badannya panas sekali!" seru Jerry.


Mendengar penuturan dari Jerry membuat Erland dan Agneta seketika terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua langsung berdiri dari duduknya.


"Bibi Celsea!"


Celsea seketika langsung berlari menuju kamar Darren yang berada di lantai dua dan diikuti oleh yang lainnya. Mereka semua khawatir akan kondisi Darren saat ini. Darren masih belum pulih seratus persen pasca kejadian pertarungan itu. Darren masih membutuhkan banyak istirahat. Ditambah lagi Darren tidak boleh tertekan, apalagi stress.


^^^


Semuanya sudah berada di kamar Darren. Saat ini Darren sudah berada di atas tempat tidur dengan wajahnya yang sedikit pucat. Semuanya menatap sedih Darren.


Celsea saat ini sedang memeriksa kondisi Darren. Hatinya sedih melihat kondisi Darren saat ini. Dirinya paham atas apa yang dialami orang Darren.


Setelah beberapa menit memeriksa kondisi Darren, ditambah lagi Celsea yang sudah memberikan suntik penurun panas terhadap Darren.


Selesai Celsea memeriksa Darren, Erland langsung menduduki pantatnya di samping tempat tidur putranya itu. Kemudian tangannya bermain-main di kepala putranya itu dengan penuh sayang.


"Secara fisik Darren baik-baik saja. Tapi secara batin Darren tidak baik-baik saja. Kemungkinan ada sesuatu yang disembunyikan Darren sehingga membuat Darren seperti ini. Solusi satu-satunya adalah kita harus ajak Darren bicara. Kita tidak bisa biarkan Darren berdiam diri di kamarnya sendirian tanpa pengawasan."


Celsea menatap wajah pucat Darren. Hatinya sesak setiap kali melihat Darren yang tak baik-baik saja.


"Ketika di rumah sakit aku mengatakan bahwa Darren selamat dalam luka tembak itu. Dan aku juga mengatakan bahwa jantungnya juga sembuh alias Darren tidak akan merasakan sakit atau pun sesak lagi. Namun tidak untuk kesehatan tubuhnya. Darren masih tetap merasakan hal itu. Kalian pahamkan apa yang aku katakan?"


Mendengar ucapan demi ucapan dari Celsea mengenai kesehatan Darren membuat Erland, Agneta, anak-anaknya serta yang lainnya langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Ketika mereka semua tengah membahas tentang kesehatan Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara igauan Darren.


"Tidak! Rendra, kembalilah. Jangan pergi."


Deg..


Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren. Sekarang mereka sudah paham dan mengetahui apa yang membuat Darren memutuskan mengurung diri di dalam kamarnya. Seketika mereka semua menangis melihat kondisi Darren, apalagi ketika mendengar igauan dari Darren.


"Rendra, jangan pergi. Tetaplah bersamaku."

__ADS_1


Erland mengusap-usap lembut kepala putranya. Air matanya mengalir membasahi pipinya ketika mendengar ucapan dari putranya itu.


"Sayang, ini Papa. Bukalah matamu, nak! Jangan seperti ini."


"Darren... Hiks," ucap Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka disela isakannya.


"Kakak Darren... Hiks."


"Darren," lirih para saudara-saudara sepupunya.


"Ren," lirih Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.


"Papa, bangun!" Erica seketika langsung naik keatas tempat tidur lalu memeluk tubuh ayahnya. "Papa... Hiks," isak Erica.


Berlahan Darren membuka kedua matanya ketika merasakan sentuhan di kepalanya dan pelukan di tubuhnya.


Melihat Darren yang membuka matanya membuat semua yang ada di kamar Darren tersenyum. Semua mata tertuju padanya.


"Papa."


Darren langsung melihat kearah putri angkatnya. Dan detik kemudian, terukir senyuman manis di bibirnya ketika melihat wajah cantik putri kecilnya.


"Apa ada yang sakit? Jika ada yang sakit biar Erica urut."


Darren kembali tersenyum ketika mendengar ucapan tulus dari Erica, lalu tangannya mengusap lembut pipi chubby putrinya itu.


"Rasa sakit yang Papa rasakan sebelumnya sudah hilang sekarang. Itu berkat Erica dan juga Opa."


"Wah! Benarkah?" tanya Erica sumringah.


"Benar, sayang!"


Erica melihat kearah Erland. "Opa, kita berhasil membuat rasa sakitnya Papa hilang," sahut Erica.


"Apa Erica bahagia?" tanya Erland.


"Sangat bahagia, Opa! Erica bahagia karena Papa nggak sakit lagi," jawab Erica dengan tatapan matanya menatap kearah Darren.


Semuanya tersenyum ketika melihat interaksi Erica bersama Darren. Mereka bahagia karena Erica berhasil membuat Darren bicara dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2