
[KAMPUS]
Darren saat ini tengah melangkahkan kakinya menyusuri koridor untuk menuju perpustakaan. Dia hanya sendirian, sementara ketujuh sahabatnya berada di kelas.
Ketika Darren tengah melangkahkan kakinya menuju perpustakaan, tiba-tiba matanya tak sengaja melihat kearah enam pemuda yang beberapa ini menjadi beban pikirannya. Seketika terukir senyuman di bibirnya.
"Kali ini kalian tidak akan bisa kabur lagi dariku. Sudah cukup dua kali kalian lolos dari kematian. Pertama, lolos ketika kedua kakakku sudah mendapatkan bukti tentang kejahatan kalian. Kedua, kemarin yang kalian berhasil kabur dari tempat itu." Daren berucap dengan tersenyum bak iblis dengan tatapan matanya menatap kearah keenam teman-teman Kampusnya.
Irfan dan kelima teman-temannya sedang melangkah menuju parkiran. Mereka hari ini memutuskan untuk membolos plus untuk menghindari Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya karena hari ini Darren masuk kuliah. Dan hari ini adalah hari ketiga mereka kuliah.
"Eemm.. Mau membolos ya. Tidak akan aku biarkan kalian pergi begitu saja."
Darren kemudian menghubungi pihak keamanan yang bertugas menjaga pintu gerbang Kampus. Darren meminta untuk menutup semua akses keluar agar tidak ada satu mahasiswa yang keluar meninggalkan Kampus disaat jam kuliah sedang berlangsung.
^^^
Irfan dan kelima teman-temannya sudah berada di depan gerbang Kampus. Mereka menggunakan motor sport Masin. ketika tiba di depan gerbang Kampus, mereka terkejut karena gerbang tersebut tertutup bahkan dikunci. Bukan itu saja, mereka juga melihat ada sekitar 15 keamanan yang sudah berbaris disana dengan menatap nyalang kearah Irfan dan kelima teman-temannya lengkap dengan pemukul di tangan masing-masing.
Seketika Irfan dan kelima teman-temannya menelan ludahnya secara kasar ketika melihat kelima belas keamanan kampus yang lengkap dengan pemukul di tangan masing-masing. Mereka saling memberikan tatapan seolah-olah menanyakan apakah ada ide lain? sehingga berakhir mereka saling mengangkat bahu masing-masing.
"Kembali atau badan kalian semua remuk dengan tongkat pemukul ini!" seru salah satu keamanan tersebut.
"Anda tidak akan berani melakukan hal itu kepada kami. Bagaimana pun kami disini bayar. Jadi jika kalian berani main kekerasan, maka kami akan adukan kepada pihak yang berwajib!" Irfan berseru dengan tatapan matanya menatap penuh tantangan.
"Apa kamu ingin mencobanya untuk membuktikan bahwa kami benar-benar akan melakukannya?" tanya pria kedua.
"Jika ada diantara kalian yang ingin menjadi kelinci percobaan. Mari kemari. Kalian bisa rasakan bagaimana tongkat pemukul ini menyentuh setiap inci tubuh kalian," ucap pria ketiga.
"Jika kami benar-benar melakukan hal tersebut kepada kalian. Pihak yang berwajib tidak akan menangkap kami. Justru kami dilindungi oleh seseorang bahkan lebih jika sampai kami dikasuskan karena sudah membuat mahasiswanya patah-patah tulang akibat membolos," sahut pria keempat.
Mendengar ucapan dari pria keempat membuat kelima teman-temannya Irfan menelan ludahnya secara kasar. Bahkan mereka seketika merinding membayangkan tubuh mereka yang benar disentuh oleh tongkat pemukul itu. Bukan hanya satu, melainkan lima belas tongkat pemukul.
"Asih! Sialan!" umpat penuh kekesalan Irfan.
Setelah itu, Irfan kembali membelokkan stang motornya untuk menuju parkiran. Dan diikuti oleh kelima teman-temannya.
^^^
"Mana mereka?" tanya Qenan yang tidak melihat keberadaan Irfan dan kelima teman-temannya.
"Sebentar lagi. Kalian sabar saja," jawab Darren dengan sikap tenangnya.
"Apa mereka sudah berhasil lolos keluar dari gerbang kampus?" tanya Jerry.
"Nggak akan. Percayalah! Sebentar lagi kalian akan mendengar ucapan demi ucapan kekesalan dari mereka," sahut Darren.
Dan detik kemudian...
"Brengsek! Sialan! Berani sekali mereka menghalangiku dan teman-temanku untuk membolos!"
"Mereka pikir, mereka itu siapa. Seenaknya saja berlagak seperti itu!"
"Dasar para laki-laki tua sialan!"
Darren seketika tersenyum ketika mendengar ucapan demi ucapan serta umpatan dari Irfan dan kelima teman-temannya.
"Tuh mereka datang! Benarkan apa yang aku bilang. Untuk kali ini mereka tidak akan bisa membolos," ucap Darren.
__ADS_1
Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat kedatangan Irfan dan kelima teman-temannya.
Detik kemudian, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya melangkah menghampiri Irfan dan kelima teman-temannya. Mereka sudah tidak sabar untuk menyelesaikan misi balas dendam mereka terhadap Irfan dan kelima teman-temannya itu.
"Kasihan sekali aksi membolos kalian gagal," ejek Dylan.
Seketika Irfan dan kelima teman-temannya berhenti ketika melihat Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya sudah berdiri di hadapannya. Mereka berusaha untuk bersikap tenang agar kelakuan busuk mereka tidak diketahui oleh Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Mau kemana?" tanya Rehan.
Rehan dan Darel menggeserkan tubuhnya guna menghalangi jalan kelima teman-temannya Irfan. Begitu juga deng Jerry dan Dylan. Sedangkan Darren, Qenan, Willy dan Axel menatap tajam kearah Irfan.
"Minggir! Kita mau ke kelas!" bentak teman pertama kearah Rehan, Darel, Jerry dan Dylan.
"Wah! Rajin sekali kali ini mau ke kelas," sindir Dylan.
"Mungkin salah kali, Lan! Maksudnya itu bukan ke kelas, melainkan mau ke atap. Mau nongkrong disana," sindir Jerry.
"Hahahaha. Iya kali." Dylan menyahuti perkataan Jerry dengan disertai tawanya.
Irfan menatap tajam kearah Darren. Begitu juga dengan Darren. Bahkan Darren tak kalah tajam menatap kearah Irfan.
"Mau apa lo! Minggir, gue mau lewat!" bentak Irfan.
"Kenapa buru-buru? Disini saja dulu," ucap Darren.
"Sebenarnya apa mau lo? Kenapa lo halangi gue dan teman-teman gue?!" bentak Irfan.
Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar pertanyaan dari Irfan.
Darren menatap tajam kearah Irfan bersamaan kakinya berlahan melangkah mendekati Irfan.
"Mau apa lo! Gue nggak punya urusan sama lo!" bentak Irfan.
Darren menyeringai mendengar ucapan dari Irfan. Apalagi ketika melihat wajah takut Irfan.
"Awalnya gue nggak punya urusan sama lo dan teman-teman lo. Hanya saja gue punya urusan sama lo dan teman-teman lo karena gue pemimpin di kampus ini. Jadi bagaimana pun semua permasalahan dan semua kejadian di kampus ini adalah urusan gue."
"Dan sekarang urusan gue sama lo makin besar, bukan hanya urusan di kampus melainkan urusan lainnya. Dan mau tidak mau lo harus pertanggung jawabkan."
"Apa maksud lo, hah?! Jangan ngada-ngada lo. Mau lo apa, hah?! Jawab!" bentak Irfan dengan kerasnya.
"Mau gue...."
Darren menghentikan ucapannya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Irfan. Bahkan kakinya masih terus melangkah, sedangkan Irfan masih terus mundur.
"Mau gue adalah..." Darren tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat wajah takut Irfan.
"Gue mau ini."
Duagh..
"Aakkhhh!"
Bruuukkkk..
Tubuh Irfan seketika menghantam tanah akibat tendangan kuat dari Darren yang tak main-main.
__ADS_1
"Irfan!" teriak kelima teman-temannya ketika melihat Darren yang tiba-tiba memberikan tendangan kepada Irfan tepat di perutnya.
Darren melangkah mendekati tubuh Irfan yang tersungkur di tanah dengan tatapan matanya yang tajam.
Duagh..
"Aakkhhh!" teriak Irfan akibat tendangan yang dia terima di bagian dadanya.
Duagh..
"Aakkhhh!" teriak Irfan lagi ketika mendapatkan tendangan di pinggangnya.
"Irfan!"
"Yak, Darren! Lepaskan Irfan! Apa kau ingin membunuhnya!" teriak salah satu temannya Irfan.
Mendengar ucapan serta teriakan dari salah satu temannya Irfan membuat Darren langsung menatap nyalang kearah pemuda tersebut.
"Kalau gue ingin membunuh teman lo itu terus lo mau apa?! Atau jangan-jangan lo mau menggantikan posisi dia, hum?!"
Seketika kelimanya terdiam ketika mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Darren.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi saat ini telah ramai berkumpul ketika mendengar teriakkan-teriaka di lapangan. Dan ketika mereka tiba di lapangan, mereka terkejut melihat Darren yang tanpa perikemanusiaan menghajar Irfan hingga tak berdaya.
Bukan hanya mahasiswa dan mahasiswi saja yang berada di lapangan, melainkan wakil rektor, dekan, wakil dekan dan para dosen juga ada disana ikut menyaksikan apa yang dilakukan oleh Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya terhadap Irfan.
Darren kembali menatap kearah Irfan. "Ini belum seberapa yang lo rasakan, Irfan! Akan ada beberapa tendangan bahkan pukulan yang akan lo terima. Bukan hanya dari gue saja, melainkan dari ketujuh sahabat-sahabat gue juga."
"Lo nggak perlu khawatir Irfan. Lo nggak sendirian merasakan kesakitan di seluruh tubuh lo. Kelima teman-teman lo juga ikut merasakannya kok. Lo tenang aja," sahut Qenan.
"Hari ini adalah giliran pertama lo. Setelah kita-kita puas, barulah giliran kelima teman-teman lo," ucap Willy.
Deg..
Kelima teman-temannya Irfan seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Qenan dan Willy. Seketika tubuh mereka merinding ketakutan.
"Ini adalah hukuman untuk kalian. Jadi, terima saja," ucap Axel.
"Berani berbuat berarti berani bertanggung jawab," ucap Jerry.
"Ini belum seberapa dibandingkan dengan apa yang telah kalian lakukan diluar sana!" bentak Rehan.
"Kami mengalami banyak kerugian atas ulah kalian!" bentak Darel.
"Bukan hanya kerugian materi, melainkan kami juga mengalami kesakitan!" bentak Dylan.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan membuat mahasiswa dan mahasiswi tampak bingung. Begitu juga dengan wakil rektor, Dekan dan wakil dekan serta para Dosen.
Namun detik kemudian..
"Apa mereka pelaku dari gagalnya kegiatan Touring kita beberapa hari yang lalu sehingga membuat kita semua terluka, Darren?!"
Seketika semuanya terkejut ketika mendengar pertanyaan dari salah satu anggota Organisasi yang mengatakan tentang gagalnya kegiatan Touring mereka beberapa hari yang lalu.
Darren melihat kearah anggota Organisasinya itu. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya. Setelah itu, Darren kembali menatap kearah Irfan.
"Iya. Mereka adalah dalangnya."
__ADS_1
Deg..
Semua mahasiswa, mahasiswi, wakil rektor, Dekan, wakil Dekan dan para Dosen terkejut akan jawaban dari Darren. Dan mereka tidak menyangka jika Irfan dan kelima teman-temannya bisa setega itu terhadap Darren dan tim Organisasinya.