KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Panggilan Serta Kabar Dari Darren


__ADS_3

Di kediaman keluarga Valeo terlihat begitu ramai dimana Qenan, Willy, Darel, Dylan, Axel dan Jerry. Serta Brenda dan ketujuh sahabatnya berada di rumah Rehan, kecuali Darren.


Kini mereka semua berada di ruang tengah termasuk Rehan.


"Bebeb Rehan nggak apa-apa kan?" tanya Milly sambil tangannya mengusap lembut pipi Rehan.


Mendengar ucapan Milly dan juga kelakuan Milly yang mengusap-ngusap pipi Rehan membuta mereka semua memutar bola matanya malas.


"Huek!"


Lenny, Felisa dan Vania mengejek Milly dengan berpura-pura muntah.


Milly melihat ketiga sahabatnya yang mengejeknya mendengus kesal.


"Syirik aja sih kalian," ucap Milly.


"Rehan," panggil Brenda.


Rehan langsung melihat kearah Brenda. "Iya, Brenda. Ada apa?"


"Kamu yakin kalau bukan anak-anak Vagos yang mengeroyok kamu?"


"Aku yakin, Brenda!" jawab Rehan.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya Brenda.


"Pertama, aku dan yang lainnya sempat melihat mereka di jalanan. Lebih tepatnya saling bertatapan. Aku menatap satu persatu wajah anak-anak Vagos. Kedua, saat pengeroyokan itu wajah mereka berbeda dengan anak-anak Vagos yang aku lihat saat itu."


"Memang jumlah mereka ada berapa orang?" tanya Elsa.


"Eemm. Kalau tidak salah mereka sekitar 10 orang termasuk pemimpinnya," jawab Jerry.


"Han, kira-kira berapa orang yang mengeroyok lo?" tanya Alice.


"Sekitar 16 orang," jawab Rehan.


"Bagaimana kalau memang benar jika anak Vagos yang mengeroyok lo, Han? Secarakan mereka itu geng motor sama seperti kalian. Dan nggak mungkin juga jumlah mereka hanya 10 orang," ucap dan tanya Tania.


Mendengar ucapan dari Tania membuat Rehan, Darel, Jerry, Axel, Dylan, Qenan dan Willy terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Tania barusan.


"Aku setuju apa yang dikatakan oleh Tania. Bisa saja memang benar anak Vagos yang mengeroyok Rehan. Kalau bukan anak Vagos. Bagaimana mereka bisa punya jaket Vagos," ucap Brenda.


Ketika mereka sedang mengobrol, tiba-tiba kedua kakak Rehan datang.


"Jangan mengambil kesimpulan dulu. Takutnya akan menjadi bumerang nantinya buat kalian," ucap Cakra.


Cakra dan Rendy sudah duduk di sofa. Mereka ikut bergabung dengan sahabat-sahabat adik laki-lakinya.


Mendengar ucapan dari Cakra, kakak sulung Rehan membuat mereka semua diam.


"Kakak tahu kalian marah atas apa yang telah menimpa Rehan. Tapi kakak minta kepada kalian untuk tidak bertindak gegabah. Selidiki dulu benar-benar," ucap Rendy.


Cakra melihat sekitarnya. Dan dirinya baru sadar bahwa satu sahabat adik laki-lakinya tidak kelihatan.


"Darren kok tidak bersama kalian?" tanya Cakra.


"Oh, itu! Darren sedang mengurus sesuatu bersama Paman Erland, kakak Davin dan kakak Andra." Qenan menjawab pertanyaan dari Cakra.


"Apa ada masalah?" tanya Rendy.


"Iya, kakak Rendy. Ada pengkhianat di perusahaan Paman Erland. Jadi saat ini Darren sedang membantu Paman Erland, kakak Davin dan kakak Andra untuk membasmi pengkhianat itu," sahut Jerry.


"Terus kalian kenapa ada disini? Kenapa kalian tidak membantu Darren?" tanya Cakra.


"Bukan kami tidak mau membantu. Darren yang tidak mau," jawab Dylan.

__ADS_1


"Darren mengatakan kepada kami untuk tidak usah ikut dalam masalah perusahaan ER. Alasannya karena Darren ingin membalas pengkhianat itu bersama Paman Erland, kakak Davin dan kakak Andra." Willy ikut menjelaskan alasan mereka tidak ikut serta membantu Darren.


Mendengar penjelasan dari Willy, Jerry dan Dylan membuat Cakra dan Rendy akhirnya paham.


Ketika mereka semua tengah mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Rehan berbunyi.


Rehan yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambilnya yang ada di atas meja.


Setelah ponselnya di tangannya, Rehan melihat nama 'Darren' di layar ponselnya.


"Panjang umur tuh anak," ucap Rehan.


"Darren?" tanya Axel dan Darel bersamaan.


"Iya," jawab Rehan.


"Angkat dan jangan lupa loundspeaker panggilannya," ucap Dylan.


Setelah itu, Rehan menjawab panggilan dari Darren dan tak lupa meloundspeaker panggilannya agar semuanya bisa mendengar.


"Hallo, Ren!"


"Hallo. Han. Bagaimana keadaan lo?"


"Udah mendingan. Lo dimana? Apa udah selesai masalahnya?"


"Ach. Syukurlah. Aku lagi di jalan. Udah, Han!"


"Bagaimana?"


"Sesuai yang aku harapkan. Keluarga Charly dan keluarga Ladoza sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Apa yang telah mereka ambil dari perusahaan Papa, aku telah merebutnya kembali. "


"Jadi?"


"Kekayaan dari dua keluarga itu sudah menjadi milikku. Begitu juga dengan kekayaan pribadi milik Armando Ladoza."


"Ren, lo menghubungi Rehan tidak dalam keadaan nyetir kan?" tanya Dylan.


"Kalau iya, kenapa?"


"Hati-hati. Jangan sampai celaka hanya karena lo tengah berbicara dengan Rehan di telepon," ucap Dylan.


"Bego lo. Apa lo lupa fungsi earphone, hah?! Berhenti aja lo jadi mahasiswa dan balik noh ke SMA. Kalau perlu ke sekolah dasar sekalian."


Mendengar perkataan kejam dari Darren membuat Rehan dan semua tertawa.


"Hahahahaha."


Sementara Dylan mendengar perkataan dari Darren mengumpat kesal.


"Han," panggil Darren.


"Iya, Ren. Ada apa?"


"Dugaan lo benar?"


"Maksud lo?"


"Masalah pengeroyokan yang lo alami. Lo bilang jika bukan anak-anak Vagos pelakunya."


"Iya, terus?"


"Yang mengeroyok lo kemarin adalah dari kelompok lain. Masalah jaket anak Vagos yang mereka pake itu sebenarnya bukan jaket asli milik anak Vagos. Melainkan kelompok itu sendiri yang membuatnya. Mereka membuat jaket yang mirip punya anak Vagos."


Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika kelompok itu tega melakukan hal itu.

__ADS_1


"Apa alasan mereka melakukan itu, Ren?" tanya Axel.


"Ketua dari kelompok itu ingin mengadu domba kita dengan anak Vagos. Orang itu iri dan cemburu karena geng motor kita lebih terkenal dibandingkan dengan kelompoknya."


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua marah.


"Kalian bakal lebih terkejut lagi jika aku mengatakan ini."


"Apa, Ren? Katakan," ucap Rehan.


"Ketua geng motor Vagos yang dulu adalah kakak angkat dari ketua Vagos yang sekarang. Tujuan laki-laki itu kembali lagi membentuk geng motor Vagos adalah untuk membalas kematian kakak angkatnya."


"Terus, apa urusannya dengan kita?" tanya Darel.


"Ada, Rel!"


"Apa, Ren?" tanya ketujuh sahabatnya dengan kompak.


"Karena dia mendapatkan berita tentang kematian kakaknya dari seseorang. Dan orang itu mengatakan bahwa kita yang telah membunuhnya."


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua kembali terkejut.


"Yang benar, Ren?" tanya Jerry.


"Iya, Jerry."


"Pelaku pengeroyokan terhadap Rehan dan pelaku penyampaian berita palsu kepada ketua baru geng motor Vagos adalah orang yang sama."


"Brengsek!" umpat Rehan dengan penuh amarah.


"Siapa mereka sebenarnya? Kenapa mereka mengusik kita?" tanya Dylan.


"Itu yang harus kita selidiki," jawab Darren.


"Oh iya, Ren! Lo dapat informasi ini dari mana?" tanya Qenan.


"Dari Papa."


"Paman Erland!" seru mereka.


"Iya, siapa lagi? Memangnya ada nama Erland di negara Jerman ini selain nama Papaku, hah?!" teriak Darren.


Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Darren membuat mereka semua tersenyum. Bahkan mereka semua membayangkan wajah kesal Darren saat ini.


"Siapa kali aja ada. Kan kita nggak tahu," jawab Willy.


"Bacot lo tiang listrik."


"Hahahaha."


"Ren," panggil Rehan.


"Iya, Han!"


"Terus apa yang akan kita lakukan untuk mengantisipasi masalah ini? Nggak mungkin kan kita diam aja?"


"Walaupun anak-anak Vagos tidak bersalah. Tapi jangan lupakan niat mereka kembali membentuk geng motor mereka kembali," ucap Rehan.


"Mereka ngincar kita, Ren!" sahut Axel.


"Sepertinya yang lo bilang jika ada kelompok lain yang berusaha mengadu domba kita dengan anak-anak Vagos. Okelah! Dari kita tidak akan terpancing. Terus bagaimana dengan anak-anak Vagos. Buktinya saja mereka kembali karena berita kematian dari ketua pertama mereka." Jerry berbicara sembari membayangkan wajah dari anak-anak Vagos saat pertemuan pertama beberapa hari yang lalu.


"Kalian tenanglah. Aku sudah memikirkan rencana untuk menggagalkan niat orang itu. Yang jelas untuk saat ini kita harus berhati-hati dan selalu waspada. Jangan lengah ketika di jalanan. Dan satu lagi, jika kalian melihat kejadian di jalanan. Apapun itu. Biarkan saja. Kalian tidak usah ikut campur."


"Baik, Ren!"

__ADS_1


"Ya, sudah. Kalau gitu aku tutup teleponnya."


Setelah mengatakan itu, Darren pun mematikan panggilannya.


__ADS_2