
"Bagaimana penyelidikannya? Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Chico kepada kelima tangan kanannya.
"Belum King," jawab Daksa.
"Kami sudah menyusuri lokasi jatuhnya mobil Darren, tapi kamu belum mendapatkan hasil apapun," sahut Marcel.
Mendengar jawaban dari dua tangan kanannya membuat Chico merasakan kekecewaan.
Namun dia tidak memperlihatkan kekecewaan tersebut di hadapan kelima tangan kanannya itu. Bagaimana pun dirinya tahu bahwa kelima tangan kanannya itu sudah melakukan tugasnya dengan baik. Hanya saja Tuhan belum memberikan hasilnya.
"Baiklah. Kau boleh kembali. Lakukan terus pencarian. Adikku selamat dan berada di suatu tempat," ucap Chico.
"Baik, King" seru Daksa, Marcel, Garra, Zidan dan Dirga bersamaan.
"Aku ingin bertanya kepada kalian!"
"Mau nanya apa, King?"
"Apa kalian memiliki keyakinan yang sama sepertiku bahwa Darren berhasil menyelamatkan dirinya sebelum mobilnya jatuh ke jurang?"
"Iya, King!" Daksa, Marcel, Garra, Zidan dan Dirga menjawab bersamaan.
"Kami juga memiliki keyakinan kalau Darren berhasil menyelamatkan diri," jawab Garra mewakili rekannya.
"Darren itu pemuda yang kuat, King!"
"Dia tidak akan menyerah begitu saja," sela Dirga.
Chico menganggukkan kepalanya tanda setuju akan perkataan dari Dirga bahwa adik laki-lakinya itu adalah pemuda kuat dan pemberani. Serta tidak mudah menyerah dengan keadaan apapun.
"Kalau begitu kami permisi, King!"
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan sang ketua.
Beberapa detik kepergian kelima tangan kanannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Chico mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya, Chico melihat nama 'Enzo' di layar ponselnya.
Tanpa berpikir lama, Chico menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
"Hallo, Enzo!"
"Apa para tangan kananmu sudah mendapatkan petunjuk tentang Darren?"
"Belum. Bagaimana dengan para tangan kananmu?"
"Sama. Mereka juga belum mendapatkan hasil apapun."
"Bagaimana dengan yang lainnya?"
"Sepertinya juga sama seperti para tangan kanan kita. Belum berhasil!"
"Apapun yang terjadi. Kita jangan berhenti untuk terus mencari keberadaan Darren. Selama kita belum melihat tubuh atau jasadnya. Selama itu pula Darren kita nyatakan masih hidup. Aku benar-benar yakin Darren berada di suatu tempat."
"Aku juga seperti itu, Chico! Aku tidak akan menghentikan pencarian ini. Aku, para tangan kananku dan para anggotaku akan terus mencari keberadaan Darren. Aku tidak akan berhenti sebelum Darren ditemukan."
"Kau dimana sekarang ini?"
"Aku sedang berada di perusahaan. Kalau kau?"
"Di markas."
"Bagaimana keadaan ketujuh adik laki-laki kita yang lainnya? Sejak mendapatkan kabar kecelakaan Darren. Aku tidak mendapatkan kabar apapun dari mereka. Apa mereka baik-baik saja?"
"Eem... Baiklah!"
Setelah mengatakan itu, baik Enzo maupun Chico sama-sama mematikan panggilannya. Dan setelah itu, keduanya menghubungi salah satu anggotanya yang memang ditugaskan untuk menjaga dan melindungi keluarga Darren dan ketujuh sahabatnya.
***
Di kediaman Wilson terlihat seorang gadis cantik yang saat ini tengah bersedih. Gadis itu adalah Brenda Wilson.
Dua hari sejak ditemukan mobil Darren yang dalam keadaan rusak parah. Sejak itulah Brenda tidak pernah keluar dari kamarnya. Dia mengurung dirinya di dalam kamar. Pikirkannya hanya tertuju pada satu orang. Dan orang itu adalah Darrendra Smith.
Saat ini Brenda duduk di sofa sembari memegang bingkai foto dirinya bersama Darren. Foto itu diambil ketika mereka pergi berkencan dan merayakan hari jadi mereka yang ke satu tahun.
Brenda mengusap secara lembut wajah Darren yang ada di dalam foto itu. Dan jangan lupakan air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.
"Ren, aku merindukan kamu. Kamu dimana. Apa kamu baik-baik saja? Apa orang yang nolongin kamu itu orang baik?"
__ADS_1
"Ren, kenapa kamu pergi ninggalin aku? Apa kamu marah sama aku karena aku pergi beberapa minggu keluar kota? Kalau iya, kamu pulang sekarang. Dan hukum aku. Aku akan terima hukuman dari kamu. Apapun itu."
Tanpa Brenda sadari. Diluar kamarnya, Liana bersama putra dan putrinya yang lain mengintip dan mendengar ucapan demi ucapan dari Brenda. Mereka menangis. Hati mereka sakit ketika melihat kondisi Brenda saat ini.
"Darren, sayang! Bibi juga memiliki keyakinan yang sama seperti Brenda. Kamu berhasil menyelamatkan diri, Nak! Bibi berharap, dimana pun kamu berada. Dan siapa pun yang menolong kamu. Semoga kamu selalu dilindungi oleh Tuhan." Liana berbicara sembari berdoa di dalam hatinya.
"Kakak Darren! Raya juga yakin bahwa kakak Darren dalam keadaan baik-baik saja. Raya berharap kakak Darren segera kembali. Kasihan kak Brenda," batin Raya.
"Darren," lirih Maura, Rangga, Barra dan Riana bersamaan.
Setelah puas mengintip dan mendengar ucapan kerinduan Brenda terhadap Darren. Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya memutuskan memasuki kamar Brenda.
Kini Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya sudah berada di dalam kamarnya Brenda. Liana duduk di samping putri kelimanya itu.
Seketika Liana langsung menarik tubuh putrinya itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan detik kemudian, isak tangis Brenda pun pecah.
"Mama... Aku merindukan Darren."
Liana menangis ketika mendengar isakan dan kerinduan putrinya terhadap Darren.
"Mama tahu sayang. Bukan kamu saja yang begitu merindukan Darren. Mama juga sangat merindukan Darren. Bahkan kita semua merindukan Darren."
"Iya, sayang! Kakak Rangga juga merindukan Darren. Bahkan kakak sudah memberikan perintah kepada beberapa anggota kakak untuk mencari keberadaan Darren. Kakak meminta mereka untuk tidak berhenti sebelum berhasil menemukan keberadaan Darren."
"Kakak juga melakukan hal yang sama seperti kakak Rangga. Kakak mengerahkan beberapa orang-orang kakak untuk mencari keberadaan Darren," ucap Barra.
"Kamu harus tetap kuat dan semangat. Jangan seperti ini. Ingat! Darren menitipkan Erica padamu. Darren ingin kamu ikut menjaga Erica, walau keluarga Smith akan selalu ada untuk Erica. Apa kamu berniat untuk mengabaikan permintaan Darren, hum?" ucap dan tanya Maura dengan tatapan lembutnya.
Mendengar ucapan dari kakak perempuan tertuanya. Seketika Brenda langsung melepaskan pelukan ibunya. Dan ingatan tentang Darren yang memintanya untuk menjaga Erica berputar-putar di kepalanya.
[Jaga Erica. Jangan sakiti dia]
Seketika air mata Brenda mengalir membasahi wajahnya. Dia merutuki kebodohannya yang telah mengabaikan dan melupakan permintaan dari kekasihnya itu.
Brenda menghapus air matanya lalu dia menatap wajah ibunya, wajah ketiga saudarinya dan kedua sahabatnya secara bergantian.
Detik kemudian, Brenda memberikan senyuman termanisnya di hadapan Ibu dan saudara serta saudarinya.
"Kakak Maura benar. Darren telah menitipkan Erica padaku. Dan aku harus memenuhi keinginan Darren tersebut. Aku tidak ingin Darren kecewa padaku ketika Darren kembali nanti," ucap Brendan.
__ADS_1
Mendengar ucapan dan melihat wajah semangat Brenda membuat Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya tersenyum bahagia. Mereka semua bersyukur karena mereka berhasil membuat Brenda semangat lagi.
"Ini baru putrinya Mama, Brenda Wilson!"