
Melihat Celsea yang menekan dada Darren membuat Erland, Agneta dan yang lainnya menyimpulkan bahwa saat ini detak jantung Darren berhenti.
"Darren!" teriak Darka tiba-tiba.
Darka menangis kencang ketika melihat kondisi adiknya yang saat ini.
GREP!
Bella ibunya Darel langsung memeluk Darka. Bellas memberikan ketenangan kepada Darka.
"Berdoalah untuk adikmu, sayang." Bella berbicara di samping Darka dengan suara bergetarnya.
Emma, Sophia dan Revina menghibur Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang. Yocelyn menghibur Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Sementara Evelyn menghibur Agneta dan Carissa.
Untuk Erland dihibur oleh semua sahabat-sahabatnya. Mereka berusaha memberikan keyakinan kepada Erland jika Darren akan baik-baik saja.
"Ayo, sayang! Bibi mohon padamu. Kembalilah," ucap Celsea yang masih menekan dada Darren.
Setelah beberapa menit Celsea memberikan tekanan pada dada Darren. Celsea berhenti sejenak. Celsea kembali memasang Stetoskop dan kembali memeriksa kondisi jantung Darren.
Dan detik kemudian...
Terukir senyuman manis di bibir Celsea. Dirinya berhasil mengembalikan detak jantung Darren. Namun Celsea belum bisa bahagia sepenuhnya, karena detak jantung Darren sangat lemah.
"Radeva, hubungi Dokter Pasya. Katakan padanya untuk mempersiapkan ruang operasi. Dan minta segera kirimkan ambulance."
"Baik, Mama!"
Setelah itu, Radeva pun langsung menghubungi Dokter Pasya.
Celsea memasangkan beberapa alat ke tubuh Darren. Mulai dari alat ECG dengan Arduino, Processing, dan Sensor Detak Jantung AD8232. Pulse Oximeter. Masker Oksigen Rebreathing. Serta Infus.
Melihat begitu banyak alat yang dipasang di tubuh Darren membuat Erland, Agneta, Davin dan adik-adiknya, Carissa, Evan dan ketiga anak-anaknya menangis.
"Mama, ambulance sudah datang!" seru Radeva.
Mendengar seruan dari Radeva. Celsea dan yang lainnya melihat kearah dimana tiga perawat laki-laki memasuki ruangan dengan membawa Brankar Ambulance.
"Kalian angkat dan letakkan di Brankar!" perintah Celsea.
Ketiga perawat laki-laki itu langsung menjalankan perintah dari Celsea. Ketiga perawat laki-laki itu mengangkat tubuh Darren dengan sangat hati-hati ke atas Brankar.
Kini Darren sudah dibaringkan di atas Brankar. Setelah dipastikan tubuh Darren dibaringkan dengan nyaman dan dalam keadaan baik, ketiga perawat laki-laki itu pun memasang sabuk pengaman dan mengikatkan sabut tersebut di atas pinggang Darren.
Setelah dipastikan semuanya dalam keadaan siap. Brankar tersebut di dorong menuju mobil ambulance.
***
Kini semuanya sudah berada di rumah sakit, kecuali kelima kakak-kakak mafia Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Kelima kakak-kakak mafianya dan para tangan kanannya masih berada di kediaman keluarga Smith. Begitu juga dengan para tangan dan para mafioso yang saat ini berada di kediaman ketujuh sahabat-sahabat Darren.
Alasan mereka masih berada disana adalah untuk membersihkan kediaman keluarga Darren dan kediaman keluarga dari ketujuh sahabat-sahabat Darren kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
Baik Erland, Agneta, Carissa, Evan, putra-putranya maupun ketujuh sahabat-sahabat Darren beserta anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabat Darren menatap khawatir kearah ruang operasi. Termasuk Brenda.
Mereka semua menangis. Mereka semua berharap tidak terjadi apa-apa terhadap Darren. Mereka semua berdoa kepada Tuhan dan meminta pada-Nya untuk diberikan kemudahan dan keselamatan untuk putranya, adiknya, kakaknya, sahabat dan keponakan yang kini tengah berjuang di dalam ruang operasi.
"Darren, aku mohon bertahanlah. Jangan menyerah. Kita masih punya satu misi lagi. Dan kita harus menyelesaikannya berdua."
"Tuhan, jangan ambil adikku."
"Tuhan, aku mohon berikan kemudahan untuk adik kesayanganku."
"Tuhan, angkatlah rasa sakit yang diderita oleh adikku selama ini. Dan berikanlah kesembuhan untuknya."
"Tuhan, kaulah obat yang paling ampuh untuk adikku. Tidak ada yang lain. Jadi aku mohon padamu, Tuhan. Selamatkan adikku. Aku sudah kehilangan ibu kandungku. Dan aku tidak ingin kehilangan lagi. Berikan kesempatanku untuk menjaga dan menyayangi adik bungsuku."
"Tuhan, jangan kau ambil putraku. Berikan umur panjang untuk putraku."
"Aku mohon padamu, Tuhan. Jangan ambil kakak Darren. Aku adalah adik terburuk untuk kakak Darren. Aku berjanji akan menjadi adik yang baik untuk kakak Darren.
"Kakak Darren. Aku menyayangimu. Bertahanlah kakak Darren. Jangan menyerah. Jangan tinggalkan kami."
"Sembuhkanlah sahabatku, Tuhan."
"Jangan kau membawa sahabatku pergi. Biarkan sahabatku tetap disini. Bersama kami."
"Tuhan, aku mohon padamu. Berikan kemudahan dan keberhasilan pada ibuku dalam menangani sahabatku di dalam ruang operasi. Sembuhkan penyakit jantung sahabatku. Sudah cukup selama ini sahabatku merasakan kesakitan."
"Ren, bertahanlah. Jangan menyerah."
"Darren! Kami semua berharap padamu. Kau di dalam sana mau berjuang untuk tetap bersama kami. Jangan menyerah sayang."
"Darren, sayang. Bertahanlah untuk kami semua. Setidaknya berjuanglah untuk ketujuh sahabat-sahabatmu.
"Tuhan, berikan kesembuhan untuk keponakan manisku."
Itulah untaian-untaian doa yang tulus dari ayahnya, adik-adiknya, kakak-kakaknya, sahabatnya, para orang tua dari ketujuh sahabat-sahabatnya, paman dan bibinya. Sementara yang lainnya berdoa di dalam hati masing-masing.
Mereka berdoa sembari menangis terisak dengan tatapan yang masih menatap kearah pintu ruang operasi. Tatapan mata mereka tak pernah lepas sedetik pun dari sana.
Beberapa detik kemudian...
Terdengar suara pintu ruang operasi dibuka.
KLIK!
Mendengar suara pintu ruang operasi dibuka. Mereka semua langsung dengan rasa khawatirnya menatap kearah pintu ruang operasi yang terbuka itu.
Dan keluarlah seorang dokter perempuan yang tak lain adalah ibu dari Yonantan Axel Immanuel yaitu Dokter Celsea Immanuel.
Axel menghampiri ibunya. Dan langsung memeluk ibunya itu. Axel bisa melihat wajah lelah ibunya.
Setelah beberapa detik memeluk ibunya, Axel pun melepaskan pelukannya.
Celsea tersenyum menatap putra ketiganya itu. Celsea tahu alasan putra ketiganya itu memeluknya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang," ucap Celsea sembari tangannya mengusap lembut wajah putih putranya itu.
Axel membalasnya dengan senyuman.
Celsea menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya. Dan tatapannya berakhir tepat di hadapan anggota keluarga Smith.
Erland berjalan menghampiri Celsea dan diikuti oleh Agneta dan anggota keluarga Smith lainnya.
"Celsea, bagaimana? Putraku baik-baik sajakan? Putraku tidak kenapa-kenapakan Celsea?" tanya Erland bertubi-tubi.
Baik Erland, Agneta dan anggota keluarga Smith lainnya menatap penuh harap Celsea.
"Aku berhasil mengeluarkan dua peluru dari lengan dan pinggang Darren. Dan aku juga berhasil membuat detak jantung Darren kembali berdetak dengan normal. Tapi...."
Celsea seketika menghentikan perkataannya sehingga membuat orang-orang yang ada di hadapannya seketika ketakutan.
"Tapi apa, Bibi? Jangan buat kami takut," ucap dan tanya Darka.
"Saat pertarungan itu, Darren mendapatkan dua tembakan sehingga mengakibatkan cidera di bagian lengan dan pinggangnya. Akibat cidera itu, Darren banyak kehilangan darah. Baik dari luka di lengannya mau dari luka di pinggangnya. Ditambah lagi, Darren yang masih terus bertarung dalam keadaan terluka." Celsea menjelaskan secara detail kondisi Darren.
"Dengan berat hati aku mengatakan bahwa Darren dinyatakan koma."
Mendengar kata 'koma' dari mulut Celsea seketika tubuh Erland terhuyung ke belakang. Dirinya benar-benar syok akan penuturan dari Celsea. Erland menangis terisak.
"Da-darren."
Untuk Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin, Yoona, Evan, Daffa, Tristan dan Davian. Mereka juga tak kalah syok ketika mendengar ucapan dari Celsea yang mengatakan bahwa Darren dinyatakan koma.
Mereka semua menangis terisak. Dan mereka harus kembali melihat putranya, adiknya, kakaknya dan keponakannya kembali koma untuk yang kedua kalinya.
"Kakak Darka," isak Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Darren sayang," isak Davin, Dzaky dan Adnan.
"Darren, sayangnya kakak," isak Andra dan Gilang.
"Darren, kesayangannya kakak Darka," isak Darka.
"Darren," lirih Carissa dan Evan.
"Darren," lirih Daffa, Tristan dan Davian.
Bagaimana dengan Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya Darren dan para anggota keluarganya?
Sama seperti Erland dan anggota keluarganya. Baik Brenda maupun ketujuh sahabat-sahabat Darren dan anggota keluarganya menangis ketika mendengar perkataan dari Celsea yang mengatakan bahwa Darren dinyatakan koma.
"Darren," isak Brenda.
Hatinya benar-benar hancur ketika mendengar kondisi Darren yang koma.
"Darren," lirih pada orang tua dan para Kakak-kakak dari ketujuh sahabat-sahabat Darren.
"Ren," lirih Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel.
__ADS_1