KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kembali Kambuh


__ADS_3

Mendengar teriakan dari Darren. Dan melihat kepatuhan dari anggota organisasi Darren membuat para mahasiswa dan mahasiswi menatap dengan rasa takut. Mereka berpikir pasti ada masalah besar antara Darren dan rektor. Begitu juga dengan dekan dan para dosen, karena mereka memang tidak tahu apa-apa. Mereka dibuat bingung akan sikap Darren dan juga para anggota organisasinya.


"Mau nyingkirin gue dari tim, hum! Mau mencabut status gue sebagai ketua organisasi? Nggak segampang itu," ucap Darren dengan menatap marah kearah rektornya.


Saat ini tidak ada lagi rasa hormat Darren terhadap orang yang ada di hadapannya ini. Rasa hormatnya telah hilang.


Sedangkan para mahasiswa, mahasiswi, dekan dan beberapa dosen terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren.


"Apa? Rektor ingin mencabut status Darren sebagai ketua organisasi?"


"Tapi kenapa rektor melakukan itu?"


"Selama ini kinerja Darren dan tim nya sangat bagus. Kenapa rektor malah ingin mengeluarkan Darren dari tim?"


Itulah kata-kata yang keluar dari mulut para mahasiswa, mahasiswi, dekan dan dosen.


"Tiga tahun gue menjabat sebagai ketua organisasi di kampus. Tiga tahun tim ini terbentuk. Dan tiga tahun pula gue dan tim gue bekerja keras untuk mengharumkan nama kampus ini. Dan lo!" teriak Darren dengan menunjuk kearah rektor yang ada di hadapannya. "Lo seenaknya mau membuang gue dari tim yang gue bentuk tiga tahun yang lalu!" teriak Darren.


"Lo pikir lo tuh siapa, hah! Lo nyadar nggak. Kalau nggak ada gue dan tim gue. Mau jadi apa kampus ini. Lo ngaca, sialan!"


"Dulu lo yang minta ke gue buat jadi ketua organisasi. Lo mohon-mohon sama gue. Karena gue kasihan sama lo, makanya gue pun menerima tawaran lo. Setelah gue resmi jadi ketua organisasi, maka besoknya gue pun membentuk sebuah kelompok!" bentak Darren.


"Lo lihat disana!" teriak Darren sembari menunjuk kearah dimana para anggota organisasinya berkumpul, termasuk ketujuh sahabat-sahabatnya dan kedua kakaknya.


Rektor itu melihat kearah tunjuk Darren. Begitu juga dengan dekan, para dosen, para mahasiswa dan mahasiswi.


"Mereka semua gue yang bentuk tiga tahun yang lalu. Dan seminggu yang lalu ada penambahan anggota. Dan semua itu adalah kerja keras gue, ketujuh sahabat-sahabat gue dan kedua kakak gue!" teriak Darren dan kali ini disertai air matanya. Darren menangis.


"Dan setelah apa yang gue lakuin selama tiga tahun ini. Inikah hasil akhirnya? Dengan seenaknya lo mendepak gue dari tim. Lo manusia menjijikkan. Pantas saja Rico nggak pernah nurut sama lo. Ternyata Rico tahu watak dari pamannya."


"Ren, ini semua data-datanya!"


Darka, Gilang, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel datang membawa beberapa berkas di tangan masing-masing.


Darren menerima beberapa berkas-berkas dan beberapa buku catatan dari Darka, Gilang, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel.


"Lo lihat ini. Ini semua hasil kerja gue dan tim gue selama tiga tahun ini." Darren berbicara sambil memperlihatkan berkas-berkas itu di hadapan rektor tersebut. "Lo membuang gue dari tim dan mencabut gue dari status gue sebagai ketua organisasi. Setelah itu, lo akan cari pengganti untuk menggantikan posisi gue, lalu lo menyuruh orang itu untuk melanjutkan tugas-tugas gue bersama tim gue. Jika itu benar. Lo udah salah besar."


"Lo pikir gue bodoh. Dengan lo nendang gue. Dengan lo mecat gue. Lo berharap semua yang menjadi milik gue bakal gue serahkan ke lo. Jawabannya tentu saja tidak. Sebelum gue pergi, gue bakal ambil semuanya. Gue bakal bawa semua yang sudah gue bentuk selama tiga tahun ini. Gue nggak rela kerja keras gue selama tiga tahun ini dirampas oleh orang menjijikkan kayak lo!" bentak Darren.


Darren berlahan melangkah mundur. Setelah itu, Darren menatap satu persatu anggota organisasinya.


"Apa kalian sudah menghapus semua data-datanya?"

__ADS_1


"Sudah, Ren!" jawab mereka bersamaan.


"Kalian yakin?"


"Yakin, Ren!"


"Itu yang kamu pegang semuanya lengkap. Baik berupa kertas maupun buku-buku. Untuk yang salinan di laptop juga sudah kami hapus," jawab salah satu anggota dari tim Darka dan Gilang.


"Kami juga, Ren. Semuanya sudah kami hapus. Tidak ada salinan atau copian apapun lagi yang tersimpan," sahut salah satu anggota dari Darel.


"Baiklah. Sekarang mari kita bakar semua data-data ini," ucap Darren.


Di hadapan mereka semua sudah terdapat tong kosong. Dalam tong kosong itulah Darren akan membakar semua data-data yang tersimpan selama ini.


Satu persatu Darren memasukan kertas-kertas dan juga buku-buku catatan itu ke dalam tong yang sudah dihidupkan apinya.


Darren memasukkan kertas-kertas dan buku-buku catatan itu dengan berurai air mata. Hatinya benar-benar hancur saat ini. Kerja kerasnya selama tiga tahun tidak ada artinya di hadapan rektornya.


"Brengsek! Kenapa jadi seperti ini?" batin Qenan.


"Bukan ini yang kami inginkan," batin Willy.


"Rektor sialan," batin Darel dan Rehan.


Darka langsung memeluk tubuh adiknya. Dan seketika tangis Darren pun pecah.


"Kakak Darka... Hiks," isak Darren.


"Kamu kuat, sayang. Kamu jangan berkecil hati atas apa yang telah dilakukan oleh pria brengsek itu terhadap kamu. Ambil hikmahnya. Setidaknya dengan kamu tidak lagi menjabat sebagai ketua organisasi. Itu keuntungan buat kamu. Kamu memiliki banyak waktu untuk pekerjaan kamu yang lainnya. Kamu juga punya banyak waktu bersama dengan ketujuh sahabat-sahabat kamu dan juga bersama Brenda. Kamu nggak perlu lagi mikirin tugas-tugas organisasi kampus kamu. Selama kamu di kampus, kamu hanya fokus memikirkan kuliah kamu saja."


Darka berusaha menghibur dan menenangkan adiknya. Darka sangat yakin bahwa adiknya saat ini sangat hancur akan keputusan sepihak dari pemilik kampus.


"Apa yang dikatakan Darka benar, sayang. Air mata kamu itu sangat berharga. Jadi kamu nggak usah nangis hanya karena masalah ini. Justru kamu harusnya bahagia. Semua beban kamu lepas. Kamu nggak perlu memikirkan tugas-tugas organisasi kampus kamu lagi. Kamu cukup fokus sama perusahaan kamu, galeri kamu dan showroom kamu. Dan kamu juga akan lebih banyak waktu bersama sahabat-sahabat kamu dan juga Brenda."


Gilang berbicara dengan lembut kepada adiknya sembari mengusap-ngusap lembut kepala belakang adiknya itu.


Darka melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah tampan adiknya itu. Setelah itu, Darka menghapus air mata adiknya itu.


"Kita pulang, ya!"


Darka menuntun Darren berjalan. Ketika Darren ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba Darren merasakan sakit di bagian dada kirinya.


"Aakkhh!"

__ADS_1


Seketika Darren berteriak sembari tangannya meremat dada kirinya.


Melihat Darren yang berteriak sembari meremat dada kirinya membuat Darka, Gilang, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel, Brenda, Alice, Elsa, Vania, Milly, Lenny, Felisa dan Tania menatap khawatir Darren.


"Darren!" teriak mereka semua.


"Hei, sayang." Darka dan Gilang sudah menangis melihat adiknya yang kesakitan.


Melihat Darren yang kembali merasakan kesakitan. Apalagi di bagian jantungnya membuat ketujuh sahabat-sahabatnya menatap murka kearah rektor tersebut.


Axel berjalan menghampiri rektor yang saat ini masih di posisinya. Axel menatap penuh amarah kearah rektornya itu.


Kini Axel sudah berdiri di hadapan rektornya dengan tatapan amarahnya. Dan detik kemudian...


BUGH!


Axel langsung memberikan pukulan keras ke wajah rektor tersebut sehingga mengakibatkan sudut bibir rektor tersebut sobek dan berdarah.


Semua mahasiswa, mahasiswi, dekan dan dosen yang melihat apa yang dilakukan oleh Axel terkejut. Mereka tidak menyangka jika Axel berani memukul rektornya sendiri.


"Anda benar-benar manusia yang nggak punya hati. Anda lihat sekarang keadaan sahabat saya. Sahabat saya kembali merasakan sakit karena ulah anda. Apa kesalahan sahabat saya kepada anda sehingga anda berbuat seperti ini? Sahabat saya sudah bekerja dengan sangat baik. Sahabat saya rela meninggalkan waktu makan dan waktu istirahatnya demi untuk memajukan kampus anda. Semua tugas-tugas anda dikerjakan dengan sangat baik oleh sahabat saya tanpa cacat sedikit pun. Tapi apa balasan dari anda. Anda dengan teganya menghancurkan semuanya!" teriak Axel di hadapan rektornya.


Axel ingin kembali memukul wajah rektornya. Namun ditahan oleh Qenan Dan Willy.


"Axel, sudah!"


"Lepaskan gue Qenan, Willy. Biarkan gue menghajar laki-laki brengsek ini!" teriak Axel.


"Gue tahu lo marah. Kita semua juga marah. Tapi nggak ada gunanya kita marah-marah seperti ini. Ini sudah terjadi. Sekali pun lo menghajar laki-laki brengsek ini sampai babak belur. Darren nggak akan pernah lagi menjabat sebagai ketua organisasi. Hari ini, Tim kita sudah resmi bubar!" ucap Willy.


"Iya, Axel. Willy benar. Nggak ada gunanya kita marah-marah. Sekarang ini yang kita pikirkan adalah Darren. Darren tengah kesakitan saat ini," ucap Qenan membujuk Axel.


Mendengar ucapan dari Qenan dan Willy. Axel pun meredakan emosinya. Dan setelah itu, Axel melihat kearah Darren.


"Darren, kamu nggak apa-apa? Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Gilang.


"A-aku baik-baik saja kak Gilang. Jangan bawa aku ke rumah sakit. Aku mau pulang," ucap Darren dengan suara lirihnya.


"Baiklah. Kita pulang ya," ucap Darka dan Gilang bersamaan.


Darka dan Gilang pun memapah tubuh adiknya untuk menuju mobilnya. Dan disusul oleh Brenda, Alice, Elsa, Vania, Milly, Lenny, Felisa dan Tania di belakang.


Sementara untuk ketujuh sahabat-sahabatnya Darren pergi ke kelas untuk mengambil tas milik Darka, Gilang, Darren, Brenda, Alice, Elsa, Vania, Milly, Lenny, Felisa dan Tania.

__ADS_1


Setelah mengambil tas milik Darka, Gilang, Darren, Brenda, Alice, Elsa, Vania, Milly, Lenny, Felisa dan Tania. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel langsung menuju rumah Darren.


__ADS_2