
Darren sudah berada di kampus. Sekarang ini Darren berada di kelas. Sementara ketujuh sahabatnya belum menampakkan batang hidungnya.
Darren saat ini tengah melamun. Tepatnya Darren masih memikirkan ayahnya yang akan berangkat ke Singapura besok.
Hati Darren benar-benar tidak enak dan merasakan kegelisahan ketika mendengar perkataan ayahnya yang akan pergi ke Singapura.
"Kenapa hati dan perasaanku tiba-tiba tak enak ketika mendengar Papa mengatakan akan pergi ke Singapura?" tanya Darren pada dirinya sendiri di dalam hatinya.
Ketika Darren tengah berperang dengan pikiran dan perasaannya. Ketujuh sahabatnya yang sepuluh menit yang lalu tiba, kini sudah berada di kursi masing-masing. Tatapan mata mereka menatap kearah Darren.
Darren yang masih bermain-main dengan perasaan dan pikirannya tidak menyadari kehadiran ketujuh sahabatnya.
"Ren," panggil Rehan.
Namun yang dipanggil tidak mendengar. Darren masih berperang dengan pikirannya.
Melihat Darren yang tidak memberikan respon sama sekali membuat ketujuh sahabatnya saling memberikan tatapan satu sama lain. Mereka tersenyum evil.
Setelah itu, ketujuh sahabatnya itu kembali menatap kearah Darren yang masih asyik dengan dunianya.
Brak..
Dylan dan Qenan bersamaan memukul meja dengan kerasnya sehingga membuat Darren terkejut dengan mengeluarkan kata-kata indahnya.
"Sialan, bangsat, bodoh, setan, kampret!"
"Hahahaha."
Semua yang ada di dalam kelas termasuk ketujuh sahabatnya langsung tertawa keras ketika mendengar kata-kata indah yang keluar dari mulut Darren.
Mendengar suara tawa yang keras dari dalam kelas. Seketika Darren langsung melihat ke sekelilingnya.
Setelah itu, Darren menatap kearah dua orang pelaku atas kasus pemukulan meja sehingga mengakibatkan dirinya terkejut.
Darren menatap tajam Dylan dan Qenan. Sedangkan Qenan dan Dylan tanpa rasa bersalahnya menampilkan senyuman termanisnya di hadapan Darren.
"Dasar hitam jamuran dan kurus kering busuk," ucap Darren.
Seketika Qenan dan Dylan membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Darren.
"Hahahaha."
Suara tawa kembali terdengar ketika mendengar perkataan kejam dari Darren yang ditujukan untuk Qenan dan Dylan.
Ketika Qenan dan Dylan ingin membalas, Darren sudah terlebih dulu membungkam mulut keduanya.
"Berani protes. Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini."
Seketika Qenan dan Dylan mengatub bibirnya rapat-rapat dengan kedua matanya membelalak sempurna ketika mendapatkan ancaman mengerikan dari Darren.
"Dasar siluman kelinci sialan," batin Qenan dan Dylan.
__ADS_1
***
Carly dan Leo bersama masing-masing 20 anggota mafiosonya saat ini berada di depan gerbang rumah kediaman keluarga Morella.
Seperti apa yang diinginkan oleh Darren bahwa apa yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga Morella yaitu Sashi Morella harus merasakan apa yang dirasakan oleh Darren.
"Baiklah. Mari kita masuk!" seru Leo.
Setelah itu, Carly dan Leo dan para anggota mafiosonya memasuki gerbang kediaman keluarga Morella dengan merusak gerbang tersebut.
^^^
Di dalam rumah, anggota keluarga Morella tengah berkumpul termasuk Sashi dan putrinya Desta.
Keluarga Morella sudah mengetahui apa yang terjadi terhadap Sashi dan Desta. Mereka begitu marah terhadap apa yang dilakukan oleh Sashi dan Desta.
"Kakak tidak menyangka jika kau sekejam itu, Sashi!" seru kakak laki-laki Sashi yang bernama Arlo.
"Dan kau mengaku-ngaku sebagai adik perempuan dari saudari iparnya Deon," ucap Coky
"Apa yang ada di otakmu, Sashi? Kenapa kau menjadi seperti ini? Apa kami kurang memberikan perhatian dan kasih sayang kepadamu? Apa selama ini kami tidak pernah memberikan kamu dan putrimu uang sehingga kau melakukan hal sekeji itu?!" bentak Nindi selaku kakak perempuan Sashi.
"Setidaknya kamu bersyukur karena Deon tidak memasukkan kamu ke dalam penjara atas perbuatan kamu yang telah menjebaknya dulu. Kalau kakak jadi Deon. Kakak akan membalas perbuatanmu dengan menjebloskan kamu ke penjara." Arlo berbicara dengan nada amarahnya.
Sementara Sashi hanya bisa menunjukkan kepalanya. Dia benar-benar takut akan kemarahan ketiga saudara dan saudarinya itu. Begitu juga dengan Desta.
Ketika Sashi dan Desta tengah diserang dengan kata-kata oleh ketiga saudara dan saudarinya/paman dan bibinya. Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara dobrakan pintu utama.
Mendengar suara dentuman keras yang berasal dari ruang tamu membuat Arlo dan anggota keluarga Morell yang lainnya terkejut.
Dan detik kemudian...
"Mereka... Mereka dari kelompok mafia Latin King!" seru Arman, suami dari Nindi.
Mendengar seruan dari Arman membuat Nindi, Arlo, Coky dan anggota keluarga lainnya terkejut dan juga ketakutan. Begitu juga dengan Sashi dan Desta.
Seketika Sashi teringat akan perkataan dari Kayana yang mengatakan bahwa kejahatannya telah diketahui oleh si pemilik rumah. Dan si pemilik rumah tersebut akan menuntut balas.
Mengingat perkataan dari Kayana membuat Sashi makin ketakutan.
"Kalian siapa?" tanya Arlo lembut.
"Dan mau apa kalian datang kemari?" tanya Coky.
"Kamu tidak pernah mengusik siapa pun, termasuk kelompok kalian," ucap Arman.
Arlo, Coky dan Arman berbicara dan bertanya dengan lembut. Mereka berbeda dengan orang-orang di luar sana yang bersifat sombong dan arogan. Baik mereka benar maupun mereka salah. Baik mereka sengaja melakukan kesalahan atau tidak sengaja. Mereka tetap berbicara lembut.
Carly dan Leo yang mendengar pertanyaan dari anggota keluarga Morella. Apalagi mendengar nada bicaranya membuat keduanya berpikir bahwa keluarga Morella keluarga baik-baik.
Mereka juga berpikir hanya Sashi dan Desta saja yang memiliki sifat buruk.
__ADS_1
Leo mendekatkan wajahnya ke telinga Carly. Lalu Leo mengatakan sesuatu.
"Apa kita akan menghabisi mereka semua? Dilihat dari wajah, tatapan matanya dan cara mereka berbicara. Sepertinya mereka orang-orang baik-baik. Dan kemungkinan besar mereka semua tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh salah satu anggota keluarga mereka yaitu nyonya Sashi."
Mendengar perkataan dari Leo membuat Carly membenarkan hal tersebut.
"Aku akan menghubungi Darren," ucap Carly.
"Itu lebih baik," balas Leo dengan tatapan matanya menatap semua anggota keluarga Morella.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, kakak Carly. Ada apa?"
"Hallo, Ren. Apa kakak ganggu?"
"Tidak. Kebetulan aku sedang berada di kantin. Kenapa kakak Carly?"
"Begini, Ren. Kakak, Leo dan beberapa anggota kakak sekarang ini sudah berada di kediaman keluarga Morella. Dan kakak melihat jika keluarga Morella adalah keluarga baik-baik. Hanya nyonya Sashi dan putrinya saja yang jahat."
"Apa kakak Carly yakin?"
"Yakin, Ren!"
"Kenapa kakak Carly bisa mengatakan bahwa keluarga Morella adalah keluarga baik-baik?"
"Kau tahu sendiri bukan jika seseorang yang memiliki sifat sombong dan arogan. Mereka akan berbicara sesuka hatinya. Bahkan mereka tak segan-segan berbicara kasar, sekali pun mereka bersalah dan tengah ketakutan."
"Iya. Aku tahu hal itu."
"Pengecualian untuk keluarga Morella. Ketika kami datang. Mereka justru bertanya siapa kami, apa tujuan kami datang ke kediaman mereka. Mereka bertanya dengan nada lembut, sekali pun terdengar nada bergetar mereka."
Mendengar perkataan dari Carly membuat Darren terdiam sejenak.
"Asal kamu tahu, Ren! Ini adalah pertama kalinya bagi kami ketika menjalankan tugas. Dan inilah pertama kalinya kami melihat musuh yang akan di bunuh tidak memperlihatkan sifat sombong dan arogannya. Justru sifat ramah mereka yang ditunjukkan kepada kita."
"Mungkin saja mereka berpura-pura."
"Tidak, Ren! Kakak bisa melihat dari tatapan mata mereka. Mereka sedang tidak berakting. Bahkan mereka bersikap biasa saja, karena mereka berpikir bahwa mereka tidak bersalah dan mereka tidak pernah mengusik siapa pun. Beda dengan nyonya Sashi. Hanya nyonya Sashi yang terlihat tidak tenang."
Darren terdiam sejenak. Dia tengah berpikir tentang semua yang dikatakan oleh Carly.
Dan detik kemudian...
"Baiklah, kakak Carly. Hukum saja orang yang terlibat dalam penyerangan kediamanku. Jika menurut kakak keluarga Morella tidak bersalah. Hanya perempuan itu saja yang bersalah. Lakukan saja apa yang menurut kakak Carly dan kakak Leo anggap benar."
Mendengar perkataan dari Darren membuat Carly tersenyum bangga. Sekejam-kejamnya Darren, Namun Darren masih memiliki sisi baiknya.
Bukan hanya Darren. Ketujuh sahabatnya, kelima saudara-saudara mafianya juga sama seperti Darren. Mereka masih memiliki sisi baik untuk memberikan maafkan kepada musuh-musuhnya.
"Baiklah. Kalau begitu kakak tutup teleponnya."
__ADS_1
"Baik."
Setelah mengatakan itu, Carly pun mematikan panggilannya.