KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kemarahan Tak Tertahan


__ADS_3

Darren sudah berada di kampus. Saat ini berada di kantin bersama ketujuh sahabatnya dan para kekasih masing-masing.


"Bagaimana keadaan Salsa sekarang, Xel?" tanya Darren.


"Salsa sudah baikan. Dia masih di rumah. Aku melarangnya untuk masuk sekolah dulu," jawab Axel.


"Aku heran dengan orang-orang jaman sekarang. Bisa-bisa berkelakuan seperti hewan ketika melihat ada orang mencuri. Apa mereka nggak mikir, semua yang kita lihat itu belum tentu benar? Begitu juga dengan apa yang kita dengar," ucap Tania.


"Begitulah kalau orang-orang yang punya otak cetek," ucap Dylan.


"Kalau otaknya waras. Nggak bakal seperti itu kelakuannya," sela Rehan.


"Ya, sudah! Lebih baik kita ke kelas. Masih banyak tugas-tugas kita yang menumpuk," sahut Darren.


Mendengar ucapan dari Darren. Mereka semua pun langsung menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan kantin untuk menuju kelas masing-masing.


Ketika Darren, ketujuh sahabatnya, Brenda serta sahabat-sahabatnya berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba telinga mereka masing-masing tak sengaja mendengar ucapan demi ucapan dari beberapa mahasiswa.


Beberapa mahasiswa itu mahasiswa yang tidak menyukai Darren dan ketujuh sahabatnya. Mereka masih saja menyebarkan fitnah tentang Darren dan ketujuh sahabatnya kepada semua mahasiswa dan mahasiswi.


[Mereka benar-benar makin besar kepala di kampus ini]


[Ya. Aku secara pribadi sudah sangat jijik melihat Darren dan ketujuh sahabatnya]


[Sok berkuasa]


[Benar tuh!]


[Atau jangan-jangan Darren yang mempunyai niat tak baik kuliah disini. Dia pura-pura baik dan pura-pura peduli kepada semua mahasiswa dan mahasiswi agar niat jahatnya itu tidak diketahui]


[Aku juga berpikir seperti itu]


[Dan aku curiga. Apa keluarganya juga seperti itu? Dia dan keluarganya hidup dengan merampok uang orang lain]


[Aku sangat yakin kedua orang tua dari Darren itu orang tidak benar. Ibunya seorang wanita penghibur. Dan pasti ayahnya seorang penjudi serta pemabuk]


Mendengar ucapan demi ucapan yang begitu kejam dari beberapa mahasiswa membuat Darren, ketujuh sahabatnya, Brenda dan sahabat-sahabatnya menatap penuh amarah. Kedua tangan mereka mengepal kuat.


Mereka terus membicarakan hal yang buruk untuk Darren dan ketujuh sahabatnya. Bahkan mereka sampai membawa-bawa keluarga Darren. Mereka tidak menyadari bahwa orang-orang yang mereka bicarakan tengah menatap penuh amarah kearahnya.


Darren melangkahkan kakinya menghampiri beberapa mahasiswa yang tengah asyik membicarakan hal yang buruk untuk Darren dan ketujuh sahabatnya. Bahkan anggota keluarga Darren dibawa-bawa.


Para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat kedatangan Darren dan ketujuh sahabatnya beserta dengan para kekasihnya seketika tubuh mereka merinding. Mereka semua dapat melihat tatapan amarah yang tersirat di mata Darren dan ketujuh sahabatnya.

__ADS_1


Sedangkan untuk beberapa mahasiswa yang membicarakan hal yang buruk untuk Darren dan ketujuh sahabatnya masih belum menyadari bahwa orang-orang yang mereka bicarakan kini sudah berada di belakang punggungnya.


Posisi tiga mahasiswa yang tengah membicarakan hal yang buruk untuk Darren dan ketujuh sahabatnya duduk membelakangi. Sedangkan empat mahasiswa lainnya duduk berhadapan dengan ketiga mahasiswa itu.


Menyadari bahwa kehadiran Darren dan ketujuh sahabatnya membuat dua diantaranya langsung membungkam mulutnya.


Kini posisi Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berdiri di belakang tiga mahasiswa dimana dua diantaranya begitu kejam dalam membicarakan keluarga Darren.


[Aku rasa juga begitu. Jika mereka orang biasa. Tidak mungkin rektor memberikan kepercayaan kampus ini kepada bajingan itu]


[Aku benar-benar yakin ibunya Darren wanita murahan dan ayahnya seorang penipu]


"Apa ucapan kalian itu bisa dibuktikan?" tanya Darren tiba-tiba.


Deg!


Mendengar ucapan dan juga suara yang mereka kenal membuat mereka semua terkejut. Dan seketika, mereka semua melihat ke asal suara itu, kecuali dua mahasiswa yang memang sudah melihat kedatangan Darren dan ketujuh sahabatnya.


Setelah mereka berhadapan dengan Darren dan ketujuh sahabatnya. Beberapa mahasiswa itu langsung terdiam di tempat. Secara kompak mereka menelan ludahnya kasar.


"Kenapa berhenti? Silahkan lanjutkan obrolannya. Aku dan ketujuh sahabatku tak masalah," ucap Darren dengan tersenyum di sudut bibirnya.


Darren menatap tajam ketiga mahasiswa yang sedari membawa-bawa nama keluarganya, terutama kedua orang tuanya.


"Kenapa menatap gue seperti itu, hah?! Tidak suka?!" bentak salah satu tiga mahasiswa yang mulutnya yang begitu pedas.


"Memangnya kenapa? Lo takut jika kebusukan lo dan keluarga lo terbongkar, hah?!"


Darren hanya tersenyum dengan menatap nyalang pemuda yang berstatus sebagai teman kampusnya. Setelah itu, Darren seketika membalikkan badannya.


Melihat Darren yang tiba-tiba membalikkan badannya membuat ketujuh mahasiswa yang membicarakan hal yang buruk untuk Darren dan ketujuh sahabatnya tertawa. Mereka berpikir jika Darren takut dan memilih pergi.


"Lihatlah. Inikah seorang Darren yang dibanggakan oleh kalian semua. Dia saja tidak berani melawanku. Cobalah lihat, baru ditantang seperti tadi saja. Nyalinya sudah ciut. Apa dia masih pantas menjadi ketua organisasi di kampus ini?!"


"Hahahaha."


Keenam teman-temannya tertawa keras sembari menatap jijik Darren dan ketujuh sahabatnya.


Dan detik kemudian...


Srekk!


"Aakkhhh!


Duagh!

__ADS_1


Tiba-tiba Darren membalikkan badannya. Dengan gerakan cepat, Darren menggoreskan pisau lipatnya ke leher teman kampusnya itu sehingga mengakibatkan teriakan keras dari teman kampusnya tersebut. Darah menyebur begitu banyak sehingga mengenai wajah dan pakaian Darren.


Setelah Darren menyayat leher teman kampusnya itu, Darren memberikan tendangan kuat di perut teman kampusnya itu sehingga tubuh pemuda itu ambruk di tanah.


Melihat apa yang dilakukan oleh Darren membuat semua mahasiswa dan mahasiswi terkejut dan ketakutan. Begitu juga dengan keenam pemuda yang menghina Darren dan ketujuh sahabatnya. Mereka tidak menyangka jika Darren akan melakukan hal itu.


Darren menatap penuh amarah keenam teman-teman yang sudah menghina dirinya dan ketujuh sahabatnya. Bahkan telah menghina keluarganya. Dan jangan lupa pisau masih berada di genggamannya.


"Aku sudah cukup sabar melihat kelakuan dan mendengar ocehan murahan kalian selama ini. Aku dan ketujuh sahabatku sudah mati-matian menahan semua itu. Tapi kalian masih saja terus memfitnah kami, menghujat kami dan menuduh kami!" teriak Darren.


"Aku bahkan sudah berulang kali mengatakan kepada kalian. Jika kalian tidak menyukaiku dan ketujuh sahabatku menjadi ketua dan anggota organisasi di kampus ini. Langsung saja kalian temui rektor. Minta dia untuk mencari pengganti kami!"


"Aku tidak tahu apa kesalahanku dan sahabat-sahabatku kepada kalian! Kenapa kalian begitu membenci kami! Kami tidak pernah mengusik kalian. Tapi kenapa kalian mengusik kami!" teriak Darren dengan menatap penuh amarah keenam teman-teman kampusnya yang tak menyukainya dan juga sahabatnya.


Mendengar ucapan dan teriakan dari Darren membuat keenam mahasiswa itu tak berani menatap wajah Darren.


"Jika kalian ingin menghinaku, silahkan! Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi jangan pernah kalian menghina keluargaku. Apalagi kedua orang tuaku! Mereka tidak salah disini. Mereka tidak tahu masalah ini!" teriak Darren disertai air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.


"Aakkhhh!"


Darren berteriak sekencang-kencangnya bersamaan dengan kaki panjangnya menendang perut teman kampusnya yang juga ikut menghina keluarganya sehingga membuat tubuh temannya itu tersungkur dan membentur tembok dengan keras.


Nafas Darren memburu, rahangnya mengeras, tatapan matanya menajam dan begitu mengerikan.


"Kalian sudah melewati batasan!" bentak Darren.


Mendengar teriakan amarah Darren membuat semua yang ada di sekitarnya ketakutan. Bagi mereka semua, ini adalah kedua kalinya mereka melihat kemarahan Darren. Tapi kemarahan kali ini yang paling mengerikan dari pada ketika Darren marah di hadapan rektor saat itu.


Para mahasiswa dan mahasiswi yang menyukai Darren tidak menyalahkan atas apa yang Darren lakukan barusan. Bagi mereka, itu adalah hal yang wajar. Anak mana yang akan diam saja jika keluarga atau kedua orang tuanya dihina. Siapa pun jika diposisi Darren pasti akan melakukan hal yang sama terhadap orang yang sudah berani menghina keluarga dan kedua orang tuanya.


Darren hendak mengarahkan pisaunya kearah teman-teman kampusnya yang lain. Dengan gerakan cepat, Brenda langsung memeluk tubuh Darren dari belakang.


"Ren... Hiks... Hentikan," ucap Brenda disertai isakannya.


Darren merasakan tubuh bergetar Brenda. Dan juga punggungnya yang basah. Darren menduga bahwa Brenda tengah menangis.


Brenda melepaskan pelukannya. Setelah itu, Brenda melangkah dan berdiri di hadapan Darren.


"Sudah ya. Aku mohon berhenti sampai disini. Jangan lagi. Sekarang berikan pisaunya padaku. Please!"


Darren tidak bergeming, namun tatapan matanya fokus menatap wajah Brenda.


Brenda mengusap lembut pipi Darren dengan kedua tangannya. "Please. Berikan pisaunya padaku. Sudah, hentikan!"


Seketika genggaman tangan Darren melemah. Dan detik kemudian, pisau yang di genggaman Darren jatuh.

__ADS_1


Melihat hal itu, Axel langsung mengambil pisau itu dan menyimpannya.


Setelah itu, Brenda memapah Darren untuk pergi menuju ruang latihan. Dan diikuti oleh ketujuh sahabat-sahabatnya.


__ADS_2