
Mendengar ucapan dari orang itu. Darren langsung berdiri. Begitu juga dengan anggota keluarganya, Brenda, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Elzaro, Derry, Glen, Melky, Allan, Doddy, Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa. Serta anggota keluarga Mendez.
Mereka semua menatap kearah pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari mereka saat ini.
"Papa, Mama, Paman Evan, Bibi Carissa, kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan, kakak Gilang, kakak Darka. Lakukan apa yang aku minta beberapa menit yang lalu!"
"Baik, sayang!"
"Baik, Ren!"
Darren melirik sekilas kearah anggota keluarga Mendez. "Kalian menjauhlah dan bergabung bersama keluargaku!"
"Baik!"
Semua anggota keluarga Mendez langsung menjauh dan menghampiri keluarga Smith.
"Lino," panggil Darren.
"Iya, Ren!"
"Aku serahkan keluarga Smith dan keluarga Mendez padamu dan kelima sahabatmu."
"Baiklah," jawab Elzaro.
Setelah itu, Elzaro dan kelima sahabatnya bergabung dengan anggota keluarga Smith dan anggota keluarga Mendez.
"Kalian juga para gadis! Bergabung dengan keluargaku!"
"Baik, Ren!"
Brenda dan ketujuh sahabatnya langsung bergabung dengan anggota keluarga Smith dan anggota keluarga Mendez, Elzaro dan kelima sahabatnya.
"Ibran, bantu putraku!"
"Baik, tuan!"
Ibran dan beberapa anggotanya sudah berdiri di setiap sudut ruangan yang ada di ruang tengah itu.
Darren dan ketujuh sahabatnya menatap kearah pria paruh baya yang berdiri di hadapannya.
"Livia, kenapa kamu pergi meninggalkanku? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Bahkan kamu tidak menyambut kepulanganku dari luar kota. Padahal kamu tahu sendiri bahwa aku kesana tengah mengerjakan beberapa proyek. Dan aku sengaja pulang lebih awal untuk bertemu denganmu dan anak-anak."
Pria paruh baya itu berbicara sembari melangkah menghampiri Livia sang istri.
Melihat pria paruh baya itu melangkah hendak menghampiri Livia. Darren langsung menghalangi jalannya.
"Tetap berdiri disitu. Dan jangan coba-coba untuk mendekati Bibi Livia," ucap Darren dengan tatapan matanya yang menajam dan wajah dinginnya.
Seketika pria paruh baya itu menghentikan langkahnya. Setelah itu, matanya menatap marah kearah Darren.
"Jangan menghalangiku, Askara... Ach, maaf! Maksudku adalah Darren!"
Mendengar ucapan dari pria itu membuat anggota keluarga Smith dan anggota keluarga Mendez terkejut. Mereka tidak menyangka jika pria paruh baya itu tahu tentang identitas asli Askara.
"Jadi, Agra sudah tahu nama asli dari Askara?" batin Livia.
Pria paruh baya yang datang bersama beberapa orang ke kediaman keluarga Smith adalah Agra Benjamin, suami dari Livia Mendez yang berubah menjadi Livia Benjamin.
"Ada urusan apa anda kemari?" tanya Darren yang berpura-pura tidak mengetahuinya.
"Pertanyaan macam apa itu saudara Darren? Jelas kau sudah tahu maksud tujuan kedatanganku kemari yaitu menjemput istriku yaitu Livia Benjamin dan kedua anakku yaitu Rafif dan Daisy."
Darren tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar jawaban dari Agra. "Anda datang kesini ingin menjemput istri anda dan kedua anak-anak anda atau ingin mengakhiri semua sandiwara anda, tuan Agra Benjamin?!"
Seketika Agra terkejut ketika mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari Darren. Begitu juga dengan anggota keluarga Mendez. Mereka semakin penasaran akan semua ini.
***
Kelima ketua mafia, para tangan kanannya dan para anggota mafianya telah selesai dengan pekerjaannya.
Di tempat yang berbeda dan di waktu yang sama, kelima ketua mafia bersiap-siap untuk kembali ke markas masing-masing.
Namun ketika mereka hendak pergi meninggalkan markas musuh yang sudah hancur dan hangus dilahap api. Kelima ketua mafia tersebut mendapatkan panggilan dari masing-masing anggota mafiosonya yang bertugas mengawasi dan memantau kediaman keluarga Smith.
Secara bersamaan, kelima ketua mafia tersebut menjawab panggilan dari anggotanya.
__ADS_1
"Hallo."
"Dalang itu sudah bertindak, King!"
"Sekarang dalang itu dan beberapa anggotanya sudah berada di kediaman keluarga Smith."
"Berapa jumlah anggotanya?"
"Sekitar 100 orang, King!"
"Baiklah!"
Setelah itu, kelima ketua mafia itu langsung mematikan panggilannya. Dan memutuskan untuk langsung pergi menuju kediaman keluarga Smith. Sementara untuk para anggotanya disuruh langsung kembali ke markas.
***
Darren menatap tajam kearah Agra. Begitu juga dengan Agra yang tak kalah menatap tajam kearah Darren.
"Jangan menghalangiku. Biarkan aku menghampiri istri dan anak-anakku!" bentak Agra.
Darren tersenyum mendengar perkataan dan juga bentakkan dari Agra. Matanya makin menatap tajam kearah pria itu.
"Siapa yang menghalangi anda, hum? Sejak tadi saya sudah berdiri disini. Sementara anda. Eemmm! Anda baru beberapa menit yang lalu datang kesini. Itu pun tidak ada yang mengundang anda. Anda sudah salah datang kesini."
Mendengar ucapan dari Darren membuat Agra mengepal kuat tangannya. Dan tatapan matanya semakin menatap penuh amarah kearah Darren.
Agra mengalihkan perhatiannya menatap kearah dimana istri dan kedua anak tirinya berdiri. Dirinya berusaha untuk membujuk ketiganya untuk mendekat padanya.
"Livia, kemarilah! Apa kau tetap ingin berdiri disitu. Aku kemari untuk menjemputmu dan anak-anak kita. Begitu juga dengan keluarga Mendez lainnya. Kita punya rumah. Kenapa harus berada disini?"
"Kalian juga Rafif, Daisy!" seru Agra menatap kedua anak tirinya.
Livia yang mendengar panggilan dan permintaan dari suaminya merasakan kebimbangan. Dirinya saat ini antara mendengar perkataan dari Darren dan mendengarkan permintaan Agra. Begitu juga Rafif dan Daisy. Keduanya sama seperti ibunya yang terlihat bimbang.
Melihat keterdiaman istri dan kedua anak tirinya membuat Agra benar-benar kehabisan kesabaran. Lalu Agra menatap kearah samping dimana tangan kanannya berdiri.
Ditatap oleh sang Bos, laki-laki itu langsung mengerti. Dan kemudian, laki-laki itu mengarahkan senjatanya tepat ke hadapan Darren.
Melihat apa yang dilakukan oleh salah satu anak buah dari Agra membuat anggota keluarga Smith dan semuanya berteriak, termasuk keluarga Mendez.
"Darren!"
Sementara Darren hanya bersikap tenang. Tidak ada ketakutan sama sekali di tatapan matanya. Justru tatapan menantang yang diberikan oleh Darren terhadap Agra sembari memain-mainkan cincin yang dipakainya dengan posisi kedua tangannya berada di belakang.
"Livia, aku hitung sampai tiga. Jika kau tidak kemari menghampiriku, maka keponakan kesayanganmu ini mati hari ini juga." Agra berucap dengan tatapan matanya menatap kearah Livia.
"Satu."
"Dua."
"Ti...."
"Tidak, Agra! Jangan!"
Livia langsung melangkahkan kakinya menghampiri Agra. Namun detik kemudian, Agneta berhasil mencekal pergelangan tangan Livia sehingga membuat langkah Livia terhenti.
"Tetap disini, Livia! Ingat apa yang dikatakan oleh Darren beberapa menit yang lalu," ucap Agneta mengingatkan.
"Jika aku tidak kesana. Agra akan membunuh Darren, Agneta!"
"Percayalah, Livia! Semuanya akan baik-baik saja," ucap Agneta dengan penuh keyakinan
Di dalam hatinya, Agneta memiliki kepercayaan penuh terhadap putranya. Dia yakin jika putranya itu akan baik-baik saja.
"Tidak, Agneta. Aku tidak akan membiarkan Agra menyakiti Darren! Sudah cukup Darren berkorban untukku dan keluarga Mendez!"
Livia berusaha untuk melepaskan tangan Agneta dari pergelangan tangannya, namun pegangan tangan Agneta begitu kuat sehingga Livia tidak bisa melepaskannya.
Sementara Agra yang melihat salah satu anggota keluarga Smith yang menghalangi Livia seketika marah. Dia kemudian memberikan kode kepada salah satu anggota yang berdiri di sampingnya untuk melukai wanita yang sudah menghalangi istrinya itu.
Mendapatkan kode dari sang Bos. Laki-laki itu langsung memuntahkan pelurunya kearah Agneta.
Dor!
"Aakkhh!"
__ADS_1
Seketika Agneta berteriak ketika merasakan timah panas menancap pinggang kanannya.
"Agneta!"
"Mama!"
"Kak Agneta!"
"Bibi!"
Mereka semua berteriak histeris ketika melihat Agneta yang terkena tembakan dari salah satu anak buah Agra.
Sementara Livia dan anggota keluarga Mendez terkejut atas apa yang barusan terjadi. Mereka tidak menyangka jika Agra benar-benar melakukan hal itu terhadap salah satu anggota keluarga Smith.
Darren melihat kearah ibunya yang saat ini tengah kesakitan. Ibunya dipeluk oleh sang ayah.
Darren menatap tajam kearah Livia. Dia benar-benar marah akan sikap ceroboh Livia.
"Apa Bibi Livia lakukan? Apa Bibi Livia tidak benar-benar mendengarkan kata-kataku tadi?!" bentak Darren.
Seketika tubuh Livia bergetar ketika mendengar perkataan dan juga bentakkan dari Darren.
"Askara, kamu....."
Perkataan Mehdy terpotong karena Darren sudah terlebih dulu bersuara.
"Jangan panggil aku Askara. Namaku Darren bukan Askara!" bentak Darren dengan tatapan amarahnya menatap Mehdy.
Darren kembali menatap kearah Livia. "Kalian sendiri yang datang kesini. Kalian menceritakan semua masalah kalian padaku. Aku dan orang-orang terdekatku sepakat untuk membantu kalian. Dan aku juga sudah mengatakan kepada kalian bahwa kalian harus mematuhi perkataanku apapun yang terjadi. Dan jangan sampai melakukan kesalahan."
"Tapi lihat apa yang sudah Bibi Livia lakukan? Bibi Livia melanggarnya. Bibi Livia lebih memilih mendengarkan perkataan bajingan itu tanpa memikirkan keselamatan ibuku!"
"Maafkan Bi-bibi, Darren! Bibi melakukan itu semata-mata untuk melindungimu," ucap Livia gugup.
"Aku tahu bibi Livia melakukan hal itu demi melindungiku. Seperti yang sudah aku katakan beberapa menit yang lalu, apapun yang terjadi. Tetaplah diposisi. Jangan keluar dari posisi tersebut."
"Bibi Livia tahu kenapa aku meminta Bibi Livia dan semua anggota keluarga Mendez untuk tetap bersama dengan keluargaku?" tanya Darren.
Livia hanya diam dan tidak berani menjawab pertanyaan dari Darren. Begitu juga dengan anggota keluarga Mendez. Bahkan mereka tidak ada yang berani menatap wajah Darren.
"Karena aku sudah mengetahui semua rencana bajingan itu. Bajingan itu menginginkan kalian semua. Setelah bajingan itu mendapatkan kalian dan membawa kalian pergi dari sini, barulah bajingan itu akan membunuhku dan semua orang-orang terdekatku."
Mendengar ucapan dari Darren membuat anggota keluarga Mendez terkejut dan juga syok.
"Itulah alasanku kenapa aku meminta kalian untuk tetap bersama dengan anggota keluargaku. Tapi justru Bibi Livia begitu mudahnya terhanyut hanya karena takut aku akan dibunuh oleh bajingan itu."
Darren melihat kearah ibunya dengan tatapan khawatir. Setelah itu, Darren kembali menatap kearah Agra yang saat ini menatap dirinya dengan tatapan sulit diartikan.
"Aku tidak menyangka jika kau sudah mengetahui rencanaku, Darren!"
"Bukan hanya rencanamu saja yang aku ketahui. Tapi aku juga mengetahui semua kejahatanmu selama ini. Apa kau mau aku menyebutnya satu persatu, hum?"
Darren menatap wajah Agra dengan tatapan matanya yang menajam dan wajah dinginnya.
"Apa yang kau ketahui, hah?! Kau hanya anak kemarin sore. Kau tidak tahu apa-apa," ejek Agra.
"Apa kau meremehkanku, tuan Agra?"
"Menurutmu?"
"Em, baiklah! Aku akan sebutkan satu persatu tentang kejahatan yang telah kau lakukan selama ini." Darren berbicara dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Agra.
"Kau yang telah membunuh suami pertama Bibi Livia, kau yang sudah mencelakai Bibi Lidia dan kak Renata, kau yang sudah membayar orang-orang untuk membunuh Kakek Reymond sehingga membuat kakek Reymond koma di rumah sakit, kau juga yang sudah membunuh dua tangan kananku Hansel dan Ramon ketika tengah menyelamatkan kakek Reymond. Bahkan kau sudah mencuri semua kekayaan milik suami pertama dari Bibi Livia melalui Rafif. Kau lah orang yang sudah menanam chip di pergelangan tangan kiri Rafif guna untuk mengorek informasi tentang kekayaan keluarga dari suami pertama Bibi Livia karena Rafif dan Daisy adalah calon pemimpin di dua perusahaan milik ayah mereka."
Mendengar rentetan kejahatan yang dilakukan oleh Agra dari mulut Darren membuat anggota keluarga Mendez terkejut dan juga syok. Mereka semua tidak menyangka jika Agra adalah dalang semua ini.
"Dan kau membayar lima kelompok mafia bertujuan untuk membunuhku. Kau berpikir jika aku mengetahui semua tentang kejahatanmu. Asal kau tahu tuan Agra. Saat itu aku benar-benar tidak mengetahui semua tentangmu. Tapi kau justru sangat berambisi ingin melenyapkanku. Tapi sayangnya, usahamu membuahkan kegagalan."
"Agra, aku benar-benar tidak menyangka jika kau tega melakukan semua itu!" bentak Baren.
"Kau manusia menjijikkan, Agra!" bentak Yufal.
"Aku benar-benar menyesal telah menikah denganmu. Kau manusia busuk!" bentak Livia.
"Hahahaha!"
__ADS_1