
Masih dalam suasana bersedih dimana anggota keluarga Smith, anggota keluarga keluarga William, anggota keluarga Dominic, anggota keluarga Dustine, anggota keluarga Zordi, anggota keluarga Antonius, anggota keluarga Carlo dan anggota keluarga Immanuel saat ini tengah memikirkan putra-putranya dan sahabat-sahabat putranya.
Mereka semua tetap melakukan pekerjaannya masing-masing, namun pikiran mereka semua tak pernah lepas dan selalu memikirkan keadaan putra bungsunya dan para sahabat putranya itu.
"Semoga kalian semua baik-baik saja."
"Pulanglah dengan selamat."
"Semoga kalian tidak terluka."
"Semoga kalian berhasil ditemukan."
"Kami menunggu kalian semua pulang."
"Bertahanlah kalian."
"Kalian semua adalah pemuda-pemuda yang kuat. Jangan menyerah."
Itulah kata-kata yang keluar dari mulut para sangat ayah dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren. Saat ini mereka berada di perusahaan masing-masing.
***
"Paman bersungguh-sungguh dengan ucapan Paman! Paman akan ajak Bibi kalian dan kedua sepupu kalian untuk kembali ke Amerika. Lebih baik kami disana saja menunggu kabar Nandito dan Darren ditemukan. Paman akan minta pada Pamanmu Evan untuk mengabari Paman."
"Jika Pamanmu Paman Evan memberikan kabar bahwa Darren dan Nandito sudah ditemukan. Paman akan kembali ke Jerman, tapi bukan untuk tinggal melainkan Paman menjemput Nandito dan membawanya ke Amerika. Setelah itu, kalian berdua tanggung sendiri kemarahan adik kesayangan kalian itu!"
Brian masih terus membuat Gilang dan Darka untuk keluar dari dalam kamarnya atau setidaknya membuat kedua keponakannya itu membukakan pintu kamarnya agar dia bisa masuk.
Brian menggunakan titik kelemahan Gilang dan Darka. Titik kelemahan keduanya adalah Darren. Mereka tidak ingin dibenci oleh adiknya itu. Maka dari itulah kenapa Brian mengatakan bahwa dia akan kembali ke Amerika dan memutuskan tinggal lagi disana.
Kepulangan dirinya ke Jerman adalah satu kebahagiaan untuk Darren. Kebahagiaan Darren tersebut bertambah berkali-kali lipat disaat dirinya memutuskan untuk menempati rumah kediaman utama Garcia. Dengan kata lain, dirinya tidak akan kembali ke Amerika lagi, kecuali urusan perusahaannya di Amerika. Selesai urusannya disana, dia akan pulang ke Jerman.
Sementara Gilang dan Darka yang berada di dalam kamarnya seketika terkejut dan syok ketika mendengar ucapan serta ancaman dari Pamannya itu. Mereka tidak menyangka jika Pamannya itu akan mengatakan hal itu.
"Kalian tahukan bagaimana sayangnya dan dekatnya Darren sama Paman? Kalian tahukan bagaimana terpukulnya Darren dulu ketika Paman memutuskan untuk pergi ke Amerika dan tinggal disana? Dan jika Darren kembali dan tidak menemukan Paman. Apa yang akan terjadi? Jika Darren mengetahui bahwa Paman kembali tinggal di Amerika, apakah kalian tidak kasihan terhadap Darren yang kembali berpisah dengan Paman?"
"Jika kalian sayang terhadap Paman dan sayang terhadap Darren. Keluarlah! Jangan mengurung diri di dalam kamar. Paman mengerti perasaan kalian, sayang! Apa yang kalian rasakan, itu juga yang Paman rasakan sekarang ini. Diluar sana ada Nandito, putra bungsu Paman. Dan diluar sana ada juga keponakan Paman, Darren! Disini Paman yang sangat terpukul!"
__ADS_1
"Ayolah, sayang! Paman mohon. Pikirkan kedua orang tua kalian. Dan jangan kalian lupakan satu hal, Erica! Keluarlah demi Erica. Sejak kemarin Erica tidak ingin bersama dengan orang lain selain Darren. Semua orang sudah membujuk Erica begitu juga dengan dua pengasuhnya termasuk Vazza pengasuh lamanya. Tapi tetap tidak berhasil. Mungkin dengan kalian berdua membujuk Erica. Erica bisa tenang."
Setelah Brian mengatakan kata terakhir tersebut, terdengar secara bersamaan pintu kamar dibuka oleh Gilang dan Darka.
Cklek..
Brian melihat kearah dua pintu kamar yang sudah terbuka. Dan detik kemudian, Brian melihat kedua keponakannya itu keluar dari dalam kamarnya.
"Hiks... Paman!"
Gilang dan Darka berlari menghampiri sang Paman. Setelah berada di dekat Pamannya itu, keduanya langsung memeluk erat tubuh Pamannya itu.
***
"Apa anda sengaja mengelabui kami, tuan!" Tiba-tiba Chico bersuara.
Seketika semuanya menghentikan langkahnya dan menatap kearah Chico.
"Ada apa, Chico? Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Noe.
Noe langsung melihat kearah kepala desa. Begitu juga dengan Ziggy, Enzo dan Devian.
"Sejak tadi kita hanya mutar-mutar lokasi yang sama. Sejak tadi juga kita tidak menemukan keberadaan Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, dan Rehan. Dan lihatlah sekarang, kita sudah berada di tempat dimana kita berkumpul."
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Chico membuat Ziggy, Noe, Enzo dan Devian seketika melihat sekelilingnya. Dan benar! Mereka kembali ke tempat awal.
Bukan hanya Devian, Noe, Enzo dan Ziggy saja yang terkejut. Kepala desa dan beberapa warga juga terkejut.
"Kenapa bisa begini? Seharusnya sudah masuk ke pemukiman perkebunan," batin kepala desa itu.
Seorang warga menyadari sesuatu yang janggal di sekitar lokasi saat ini. Lokasi yang mereka datangi bukan lokasi yang sebenarnya.
"Pak, sepertinya kita salah masuk lokasi!"
Semuanya melihat kearah pria itu. Termasuk kelima ketua mafia, tangan kanannya dan anggotanya.
"Apa maksud kamu?" tanya kepala desa itu.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang meretas rute lokasi ini, pak! Seseorang itu mengubah rute palsu menjadi rute asli. Sementara yang rute asli menjadi rute palsu. Yang sekarang kita masuki ini adalah rute palsu. Maka dari itulah kenapa sejak tadi kita tidak menemukan perkebunan kita," sahut pria itu sembari menjelaskan.
"Dari mana kamu bisa tahu? Bisa saja kamu berbohong," ucap ketus Chico.
"Saya menyadarinya sejak setelah memasuki satu jam perjalanan. Seharusnya hanya butuh satu jam untuk sampai kepemukiman dan perkebunan yang ada di dalam sana. Sementara ini sudah dua jam, namun kita tidak sampai-sampai juga."
"Percayalah, tuan! Kami tidak berbohong atau sengaja membohongi tuan-tuan. Lokasi yang kita masuki ini lokasi palsu."
"Baiklah, kami percaya!" seru Noe dan Enzo bersamaan.
Mereka semua menelisik dengan menatap sekelilingnya untuk mencari petunjuk dimana rute asli tersebut.
"Siapa dia? Kenapa dia bisa mengetahui letak rute setiap lokasi di desa ini? Seharusnya hanya sepuluh orang saja yang mengetahui dua lokasi itu," ucap kepala desa itu dengan pelan.
"Siapa kesepuluh orang itu?" tanya Ziggy.
"Mereka yang diberikan tanggung jawab serta tugas untuk masuk dan juga keluar dari dua lokasi itu," jawab kepala desa.
"Seperti yang sudah kami jelaskan dari awal kalau dua lokasi itu adalah sumber kehidupan kami para warga desa yang mana dua lokasi itu adalah lokasi perkebunan dan peternakan kami. Kami menyembunyikan dari orang-orang luar dengan cara membuat seolah-olah terlihat buruk dari luar dan terlihat begitu indah ketika berada di dalam."
"Kami melakukan semua itu untuk menjaga milik kami dari orang-orang serakah yang ada diluar sana. Masalah ini sudah kami sampaikan kepada Darren dan kelompoknya. Hanya dua lokasi ini saja yang belum kami beritahu."
"Kenapa? Apa alasan kalian tidak menceritakan dua lokasi tersebut kepada Darren dan kelompoknya?" tanya Chico.
"Kami akan menceritakannya sekalian kami akan membawa tuan Darren dan kelompoknya untuk masuk kedua lokasi itu setelah acara serah terima obat-obatan yang kami butuhkan. Ditambah lagi semua obat-obatan tersebut diberikan langsung oleh dokter terkenal di dunia yaitu Dokter Celsea Immanuel. Kamu sangat bersyukur sekali atas bantuan dari dokter Celsea." jawab kepala desa itu dengan sejujur-jujurnya.
"Namun semua itu gagal karena ketika acara serah terima obat-obatan tersebut terjadi musibah yang mana terjadi ledakan sehingga membuat semua obat-obatan tersebut rusak dan hancur. Kami tidak tahu apa yang terjadi. Masalah tersebut sedang diselidiki dan ditangani oleh tuan Darren dan kelompoknya."
Mendengar penjelasan demi penjelasan dari kepala desa dan beberapa laki-laki di hadapannya itu membuat Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico mencurigai jika ada yang sengaja mengacaukan kegiatan yang dilakukan oleh adik-adiknya dan kelompoknya.
"Ada seseorang yang sengaja melakukan hal ini. Dan kemungkinan besar dia tidak sendirian melainkan berkelompok," sahut Devian.
"Orang-orang itu juga yang merubah rute ini adalah agar kita tidak bisa menemukan keberadaan Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan!" seru Devian.
"Berarti orang itu memang sudah mentargetkan Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, dan Rehan dari sejak awal sebelum keberangkatan mereka kesini." Enzo berucap dengan melihat kondisi sekitarnya.
"Hm!" Ziggy, Chico, Noe dan Devian berdehem sembari menganggukkan kepalanya tanda setuju atas perkataan Enzo.
__ADS_1