KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menceritakan Kejadian Di Parkiran Cafe


__ADS_3

Brenda, Alice, Elsa, Felisa, Lenny, Vania, Milly dan Tania sudah duduk di sofa. Mereka duduk di samping pacarnya masing-masing dan disambut dengan senyuman manis dari sang pacar.


"Kenapa telat?" tanya Darel.


"Waktu tidak sesuai dengan apa yang dikatakan," ucap Rehan.


"Mampir kemana aja dulu?" tanya Qenan.


Ketika Felisa, Milly dan Elsa hendak menjawab secara bergantian. Dylan tak sengaja melihat pergelangan tangan Vania memerah dan sedikit memar. Dylan kemudian menyentuh tangan Vania lalu mengangkatnya keatas.


Sementara Vania seketika terkejut ketika melihat reaksi Dylan yang tiba-tiba menatap pergelangan tangannya yang merah dan sedikit memar.


"Bisa jelaskan padaku mengenai pergelangan kamu ini? Kenapa merah dan memar gini?" tanya Dylan.


Mendengar pertanyaan dari Dylan membuat Vania hanya diam. Dia tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Begitu juga dengan Brenda dan yang lainnya.


"Bukan hanya Vania. Tapi Tania juga!" seru Brenda tiba-tiba.


Mendengar seruan dari Brenda membuat Jerry langsung melihat ke pergelangan tangan Tania. Dan benar! Pergelangan tangan Tania juga mereka dan memar.


"Bisa jelaskan?!" Darren juga ikut bersuara sembari memberikan tatapan kepada Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya secara bergantian.


Bukan hanya Darren yang memberikan tatapan intimidasi kepada Brenda, Alice, Elsa, Felisa, Lenny, Vania, Milly dan Tania. Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan juga melakukan hal yang sama seperti Darren.


Elzaro, Derry, Diego, Allan, Glen dan Melky juga melihat kearah Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Mereka juga ingin tahu apa yang terjadi.


"Kami digangguin sama sepuluh laki-laki ketika selesai dari Cafe membeli makanan untuk dibawa kesini," ucap Brenda.


"Sepuluh laki-laki?!" seru Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.


"Siapa mereka?" tanya Axel.

__ADS_1


"Terus apa yang mereka lakukan kepada kalian?" tanya Darel.


Vania seketika menggenggam tangan Dylan sembari menatap dengan memohon kearah Dylan.


"Tapi kamu janji ya. Kalau aku cerita, kamu nggak akan balas mereka atau melakukan hal buruk apapun terhadap mereka?"


"Kenapa kamu melarangku untuk membalas mereka? Kamu itu kekasih aku. Mereka sudah berani menyakiti kamu dan sudah sepantasnya apa yang mereka lakukan terhadap kamu dan sahabat-sahabat kamu itu mendapatkan balasan." Dylan berbicara dengan wajah dingin dan datar.


Mendengar ucapan sekaligus jawaban serta tatapan mata Dylan membuat Vania langsung menundukkan kepalanya.


"Apa yang dikatakan oleh Dylan benar. Kalian itu kekasih kami. Kami tidak terima kalian disakiti. Mereka harus diberi pelajaran," sahut Jerry yang saat ini tampak marah karena kekasihnya disakiti.


"Kami tahu hal itu. Maka dari itu kalian tidak perlu membalas mereka karena mereka sudah mendapatkan balasannya langsung," sahut Lenny.


Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Elzaro, Derry, Diego, Allan, Melky dan Glen langsung melihat kearah Lenny ketika mendengar ucapannya.


"Maksud kamu?" tanya Dylan.


"Ternyata kakak Daniel sama kakak Bianca juga berada di Cafe yang sama hanya saja kita nggak tahu mereka ada disana. Kemungkinan kakak Daniel dan kakak Bianca juga tidak tahu jika kami ada di Cafe itu juga. Kejadian itu ketika kita di parkiran. Kita semua mau pergi dari sana. Namun tiba-tiba datang sepuluh laki-laki dan dua diantaranya langsung memegang tangan Vania dan Tania." Elsa ikut menjelaskan.


Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Lenny dan Elsa membuat Dylan dan Jerry menatap wajah cantik kekasihnya. Keduanya ingin tahu yang sebenarnya kenapa dua laki-laki itu berani memegang tangannya.


"Pasti terjadi sesuatu," ucap Jerry dan Dylan bersamaan.


Vania dan Tania hanya diam sembari menundukkan kepalanya.


"Vania! Tania! Lebih baik kalian ceritakan awal mula kalian bisa bertemu dengan dua laki-laki itu. Jerry dan Dylan berhak tahu agar kedepannya tidak terjadi hal-hal buruk dengan kalian dan kita semua," sahut Milly.


Tidak mendapatkan respon apapun membuat mereka semua tampak khawatir, terutama Dylan dan Jerry.


"Dylan! Jerry! Tolong normalkan wajah dan tatapan mata kalian. Bagaimana Vania dan Tania mau menjawab pertanyaan kalian. Sementara kalian memberikan tatapan seperti itu. Kasihan mereka. Mereka sejak kejadian itu sampai sekarang masih ketakutan. Di perjalanan mau kesini, Vania dan Tania terus menangis." Brenda berbicara sembari mengingatkan Jerry dan Dylan.

__ADS_1


Mendengar ucapan demi ucapan dari Brenda membuat semuanya terkejut serta membuat Jerry Dylan merasa bersalah.


Detik kemudian...


Grep..


Jerry dan Dylan langsung memeluk erat tubuh kekasihnya masing-masing. Di dalam hatinya, Jerry dan Dylan merutuki kebodohannya yang bertanya tanpa menyadari perasaan kekasihnya.


"Maafkan aku ya. Kamu sudah bersamaku sekarang," ucap Dylan.


"Jangan takut lagi. Kamu sudah aman," ucap Jerry.


"Lebih baik hentikan pembicaraan ini. Jangan diteruskan. Kasih waktu untuk Vania dan Tania. Setelah itu, barulah kalian tanyakan tentang kedua laki-laki itu!" ucap Darren kepada kedua sahabatnya.


"Baiklah, Ren!" jawab Dylan dan Jerry bersamaan.


"Oh, ya! Ren!" panggil Elzaro.


Darren langsung melihat kearah Elzaro yang saat ini melihat kearah dirinya.


"Iya, El!"


"Ini masalah pemuda-pemuda desa itu. Satu pemuda kamu lepaskan. Dengan kata lain kamu memberikan maaf padanya. Terus apa yang akan kamu lakukan dengan kedelapan pemuda desa itu?" tanya Elzaro.


"Tergantung sama keberhasilan kita menemukan dalangnya. Kita lihat seberapa jauh kerjasama sama mereka. Kedelapan pemuda itu akan mendapatkan hukuman penjara tergantung apa saja rencana mereka dengan dalang tersebut." Darren menjawab pertanyaan dari Elzaro.


"Lah, bukannya kita sudah tahu dalang itu membayar kesepuluh pemuda-pemuda desa itu adalah ngincar kamu dan Nandito. Dan juga ingin menggagalkan acara Touring kita di kota Munich," sahut Willy dengan menatap wajah Darren.


"Iya, itu benar! Tapi aku curiga terhadap dalang tersebut. Rencananya bukan itu saja, melainkan ada rencana lain. Hanya saja baik dalang tersebut maupun kesepuluh pemuda-pemuda desa itu tidak membahasnya atau memperlihatkannya. Dan aku rasa pemuda yang aku bebaskan itu tidak tahu sama sekali."


"Maka dari itulah aku menunggu kita berhasil menemukan bajingan itu. Setelah itu, barulah kita bisa menentukan hukuman untuk kedelapan pemuda desa itu termasuk si dalang tersebut!"

__ADS_1


Mendengar ucapan demi ucapan serta penjelasan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Elzaro, Derry, Diego, Allan, Glen dan Melky langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


__ADS_2