KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Teringat Kembali


__ADS_3

[ER COMPANY]


Erland saat ini berada di ruang kerjanya. Dirinya tengah sibuk berkutat dengan laptop miliknya. Ada beberapa berkas yang harus ditandatanganinya dan juga ada beberapa laporan yang harus diselesaikannya.


Saat Erland tengah fokus dengan pekerjaannya, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


TOK!


TOK!


TOK!


CKLEK!


"Permisi, Pak."


"Ya, masuklah."


"Ini beberapa berkas yang Bapak minta. Dan saya juga ingin mengingatkan bahwa dua hari lagi Perusahaan kita akan menghadiri undangan dari Perusahaan GT COMPANY. Dalam undangan tersebut bahwa Perusahaan GT COMPANY akan mengajak kerja sama Perusahaan kita. Disana juga akan hadir Perusahaan-perusahaan besar diantaranya AZ COMPANY, DV COMPANY, DL COMPANY, VL COMPANY, EC COMPANY, HN COMPANY dan DA COMPANY." asisten berucap sembari menyebutkan nama beberapa perusahaan.


"Baiklah. Persiapkan semuanya."


"Baik, Pak."


Setelah mengatakan hal itu, asisten tersebut pun pergi meninggalkan ruang kerja atasannya.


Beberapa detik kemudian, suara ketukan pintu kembali terdengar.


TOK!


TOK!


TOK!


CKLEK!


"Maaf, Pak."


"Ya, masuklah."


Lalu seorang OB memasuki ruangannya. "Saya hanya ingin mengantarkan undangan ini, Pak!"


Erland langsung mengambil undangan yang diberikan oleh OB tersebut.


"Terima kasih."


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi." OB itu pun pergi meninggalkan ruang kerjanya.


Erland membuka undangan tersebut. Dapat dilihat olehnya undangan pameran lelang lukisan untuk untuk donasi korban bencana longsor.


"Apakah putra bungsuku salah satu dari peserta pameran lelang lukisan ini?" ucap Erland sembari tersenyum saat mengingat perkataan putranya tentang pameran lukisan saat sebelum berangkat ke Perusahaannya.

__ADS_1


Erland melihat ke arah bingkai foto yang ada di meja kerjanya. Ada dua bingkai foto di atas mejanya. Bingkai foto itu berisi foto dirinya bersama Belva istri pertama dan sekaligus istri tercintanya dan bingkai foto dirinya bersama istri keduanya Agneta, ketujuh putranya dari istrinya Belva dan keempat putranya dari istrinya Agneta.


Erland mengambilnya dan menyentuh bingkai foto dirinya dan istri tercintanya Belva.


"Sayang. Aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu disana? Apa kau juga merindukanku? Sayang.. maafkan aku. Maafkan kesalahanku yang sudah membuat putra bungsu kita menderita. Maafkan aku yang sudah membuatnya menangis. Maafkan aku yang sudah membuatnya pergi meninggalkan rumah. Maafkan aku yang sudah membuatnya kehilangan kebahagiaannya. Aku berjanji padamu, sayang. Aku akan membuatnya bahagia. Aku akan membuatnya tersenyum kembali dan membuat hubungan kami kembali harmonis seperti dulu." Erland berucap sembari mengelus dan mencium foto istrinya.


Setelah puas melihat dan memandangi foto istri tercintanya, Erland meletakkan kembali bingkai foto itu di tempat semula.


Dan kini Erland mengambil bingkai foto yang satunya. Lalu menatap foto putra bungsunya.


"Darren, sayang." Erland berucap sambil mengelus foto putranya itu. "Maafkan kesalahan Papa, sayang. Papa menyayangimu, Nak! Kau adalah putra bungsu kesayangan Papa. Maafkan Papa yang sudah membuatmu menangis."


Erland tidak bisa membendung kesedihan dan tangisannya. Air matanya berlomba-lomba mengalir membasahi wajah tampannya. Ingatan tentang kejadian dimana dirinya menyakiti putra bungsunya itu kembali terngiang.


FLASBACK ON


BUGH!!


"Aaakkkhhh."


Adnan memukul wajah Darren dan mengakibatkan sudut bibirnya terluka.


"Kau adalah laki-laki brengsek, Darren! Kau tega menikam saudaramu sendiri!" bentak Adnan.


Darren menatap tajam wajah Adnan, lalu kemudian Darren mendorong kuat tubuh Adnan sehingga membuat Adnan terhuyung ke belakang.


"Kalau memang aku yang sudah menusuk dua adik kesayanganmu itu. Untuk apa aku repot-repot membawa mereka ke rumah sakit, hah! Seharusnya aku buang saja mayat mereka ke hutan atau aku kubur mereka hidup-hidup!" teriak Darren.


Adnan pun langsung terdiam. Dalam hatinya, Adnan membenarkan perkataan Darren adiknya itu.


"Apa maksudmu, hah?!" bentak Darren yang juga tak kalah tajam menatap Andra.


"Setelah kau menusuk Darka dan Melvin, kemudian kau berpura-pura menangis dan khawatir pada mereka. Lalu kau membawa mereka ke rumah sakit," sahut Andra.


"Brengsek! Kau berani mengatakan hal itu padaku, hah?!" teriak Darren dan tangannya menarik kasar kerah baju Andra.


"Darren. Lepaskan Andra. Dia kakakmu!" teriak Agneta.


Sedangkan Darren tidak menggubrisnya. Tangannya makin kencang menarik kerah Andra.


"Darren. Kau dengar Mama. Lepaskan Andra!" teriak Agneta lagi.


Tetap sama, Darren masih di posisinya. Dirinya benar-benar marah akan ucapan Andra barusan.


Lalu tiba-tiba...


BUGH!!


"Aakkhhhh!!"


Davin tiba-tiba bangkit dari duduknya, lalu memberikan pukulannya pada Darren.

__ADS_1


"Kau memang adik laki-laki yang tidak tahu diri, Darren. Kau sudah melukai Darka dan Melvin. Dan sekarang kau ingin membunuh Andra juga, hah?!" teriak Davin.


"Brengsek!" Darren ingin membalas pukulan Davin, tapi tangannya ditahan oleh Agneta.


"Sudah cukup!" bentak Agneta. "Kau sudah keterlaluan Darren. Sikapmu dan kelakuanmu sudah melewati batas. Kau berubah menjadi monster yang kejam. Kau berani melukai saudaramu dan bersikap kasar pada kakak-kakakmu sendiri!" bentak Agneta.


"Sekarang ikut Mama. Kau harus dihukum atas perbuatanmu itu." Agneta menarik kasar tangan Darren.


Tapi bukan Darren namanya kalau dirinya pasrah begitu saja ditarik oleh Agneta.


"Lepaskan aku!" teriak Darren dan Darren menarik kuat tangannya. Dan tangannya berhasil lepas


Darren menatap tajam wajah Agneta. "Kau bukan siapa-siapa bagiku. Jadi kau tidak berhak memberikan hukuman padaku."


PLAK!


Agneta menampar Darren dengan keras.


"Kau..." tunjuk Darren tepat di wajah Agneta.


Dan detik kemudian, Darren mendorong tubuh Agneta dengan kuat sehingga tubuh Agneta tersungkur di lantai.


BRUKK!!


"Mama!" teriak Adrian, Mathew dan Ivan. Mereka berlari menghampiri ibu mereka.


"Kakak Darren!" teriak Adrian.


Sedangkan Darren menatap dengan penuh emosi ke arah Agneta dan kelima adik laki-lakinya.


"Aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu karena telah menamparku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, sekalipun kau menangis memohon maaf kepadaku. Dan aku juga tidak akan pernah melupakan tamparanmu ini dan perkataanmu yang menyebutku seorang monster, Nyonya Agneta Smith!" teriak Darren.


Agneta tersentak mendengar penuturan Darren. Dirinya dipanggil dengan sebutan Nyonya oleh Darren. Setetes liquid bening mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Darren. Apa kau sadar dengan ucapanmu itu, hah?!" bentak Gilang.


"Dia Mama kita. Orang tua kita. Kau tidak berhak berbicara seperti itu. Kau benar-benar keterlaluan Darren!" bentak Dzaky.


"Apakah ucapan kalian itu benar dan dapat dipercaya? Apa kalian sedang tidak membohongiku tentang perempuan yang kalian sebut Mama?" tanya Darren dengan menatap tajam kelima kelimanya itu.


Mereka terkejut mendengar penuturan Darren. Dalam hati mereka merasakan ketakutan jika Darren mengetahui tentang Agneta.


"Papa benar-benar kecewa padamu Darren. Beginikah caramu bersikap pada kami keluargamu. Apa salah kami padamu?" tanya Erland.


"Kalianlah yang sudah membuatku seperti ini!" teriak Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Lalu kembali menatap wajah ayahnya "Dan Papa! Sekarang Papa malah menyalahkanku atas sikapku yang seperti ini. Ini semuanya salah Papa. Jangan Papa pikir aku tidak mengetahui apapun yang Papa sembunyikan dariku. Jangan Papa pikir aku tidak menyadari akan sikap Papa padaku selama ini!" teriak Darren.


"Darren. Jaga nada bicaramu. Aku ini adalah Papamu!"


"Kenapa aku harus menjaga nada bicaraku pada Papa. Sedangkan Papa tidak pernah menunjukkan rasa sayang dan rasa perhatian Papa padaku," jawab Darren menatap nyalang ayahnya.


"Darren!"

__ADS_1


PLAKK!


Erland memberikan tamparan kepada Darren. Sementara Darren menatap penuh kebencian ayahnya.


__ADS_2