
Justin dan Tommy beserta beberapa anggotanya sudah berada di ruang cctv.
"Prince. Seperti rekaman kejadian hari ini sudah dihapus!" seru salah satu anggota Justin yang saat ini mengotak-atik komputer di hadapannya.
Mendengar seruan dari anggota Justin. Baik Justin maupun Tommy langsung melihat ke layar monitor dimana terlihat gelap.
"Benar-benar licik. Menghapus rekaman kejadian hari ini agar tidak diketahui oleh siapa pun," ucap Tommy.
"Apa dia pikir dengan menghapus rekaman itu dia akan selamat. Dia sudah salah berpikir seperti itu," sahut Justin.
Justin melihat kearah Tommy. Begitu juga dengan Tommy. Mereka saling memberikan tatapan. Dan detik kemudian, terukir senyuman di sudut bibir masing-masing.
Setelah itu, Justin dan Tommy kembali menatap kearah layar monitor.
Tommy mengambil alih pekerjaan dari anggota Justin. Dia duduk di kursi dimana anggota Justin duduki tadi.
Setelah itu, Tommy mulai melakukan tugasnya untuk mengembalikan rekaman yang sudah terhapus. Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard dan tatapan matanya juga fokus ke layar monitor.
Tak butuh waktu lama, Tommy berhasil mengembalikan rekaman yang sudah dihapus itu.
"Berhasil," ucap Tommy.
Justin dan yang lainnya menatap ke layar monitor. Dapat mereka lihat ada empat gadis sedari menatap satu gadis yang kini tengah fokus melihat dan memilih barang yang akan dibeli.
Namun detik kemudian, salah satu empat gadis itu tersenyum licik. Kemudian gadis itu melangkah diikuti ketiga temannya menghampiri empat ibu-ibu yang dalam keranjang belanjanya terisi beberapa kosmetik.
Setelah tiba didekat keranjang belanja ibu-ibu itu, salah satu gadis itu menatap ketiga temannya.
Mendapatkan tatapan dan kode dari temannya membuat ketiga gadis itu paham. Lalu keempat gadis itu mengambil masing-masing dua barang dari keranjang empat ibu-ibu itu.
Setelah mendapatkan barang-barang itu, keempat gadis itu menghampiri gadis incarannya.
Secara diam-diam dan berlahan, salah satu gadis itu membuka tas milik gadis tersebut. Kebetulan gadis incarannya itu tasnya berada di posisi belakang.
Setelah tas gadis itu terbuka, temannya memasukkan barang-barang itu ke dalam tasnya.
Selesai dengan pekerjaannya, keempat gadis itu pergi dengan wajah bahagia.
Seketika salah satunya terkejut ketika matanya tak sengaja melihat kearah kamera cctv. Gadis itu memanggil teman-temannya dan langsung menunjuk kearah cctv tersebut.
Ketiga temannya terkejut. Namun detik kemudian, salah satunya tersenyum karena mendapatkan sebuah ide.
Keempat gadis itu pergi menuju ruangan manager toko. Setelah menemukan ruangan manager toko, keempat gadis itu masuk ke dalam.
Setiba di dalam, gadis yang berstatus sebagai ketua mengeluarkan sejumlah uang yang begitu banyak lalu memberikan kepada sang manager
Melihat uang yang begitu banyak membuat manager tersebut gelap mata, lalu tangannya langsung mengambil uang tersebut. Keempat gadis itu tersenyum bahagia.
"Apa yang kalian inginkan?"
"Hapus rekaman cctv untuk yang hari ini saja."
"Baiklah. Ayo ikut aku."
Dan setelah itu, manager itu pergi meninggalkan ruang kerjanya dan diikuti oleh keempat gadis itu di belakang.
Kini mereka sudah berada di ruang cctv. Setibanya di ruang cctv itu, manager toko itu meminta para petugas disana untuk menghapus rekaman cctv yang kejadian hari ini
Mendapatkan perintah dari manager toko, petugas itu pun langsung mematuhinya.
Melihat rekaman tersebut telah dihapus membuat keempat gadis itu tersenyum bahagia.
Setelah selesai dengan urusannya. Keempat gadis itu pergi meninggalkan ruang cctv.
__ADS_1
Justin dan Tommy tersenyum menyeringai ketika melihat kejadian di rekaman cctv itu.
"Sepertinya kita mendapatkan rekaman lainnya!" seru Tommy.
Mereka melihat rekaman yang lainnya dimana keempat ibu-ibu yang barang belanjaan hilang dan berpindah tempat di dalam tas seorang gadis. Keempat ibu-ibu itu dengan kejamnya menarik kuat rambut gadis itu dan membawanya keluar toko.
"Sudah cukup. Sekarang kita keluar dan memperlihatkan rekaman ini kepada Darren dan orang-orang yang ada diluar," ucap Justin.
Setelah itu, Justin dan Tommy pergi meninggalkan ruang cctv dan diikuti anggotanya.
"Oh iya! Kalian seret manager toko itu keluar," perintah Tommy.
"Baik Prince!"
^^^
Darren masih diluar dan matanya masih terus menatap tajam orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan tatapan matanya begitu mengerikan ketika menatap keempat wanita yang sudah membully Salsa.
Bruk!
Tiba-tiba seorang pria tersungkur tepat di hadapan Darren.
Darren melihat kearah Justin dan Tommy. "Siapa dia kakak Justin?"
"Dia manager toko ini," jawab Justin.
"Apa yang telah diperbuat laki-laki ini?" tanya Darren lagi.
"Dia menerima suap dari empat orang gadis. Keempat gadis itu meminta padanya untuk menghapus rekaman cctv kejadian hari ini," sahut Tommy.
Mendengar perkataan dari Tommy membuat Darren menatap marah kearah manager toko tersebut.
Dan detik kemudian..
Darren memberikan tendangan kuat tepat di dada kiri laki-laki itu sehingga membuat tubuh laki-laki tersungkur dan memuntahkan cairan merah dari mulutnya.
"Brengsek!" teriak Darren.
Sementara orang-orang yang ada disekitarnya seketika terkejut dan ketakutan ketika melihat manager toko itu tersungkur akibat tendangan dari Darren. Yang membuat mereka lebih terkejut lagi adalah manager toko itu memuntahkan cairan merah dari mulutnya.
"Ren, lihatlah rekaman ini!" Tommy memberikan ponselnya kepada Darren.
Darren langsung mengambil ponsel milik Tommy, lalu matanya melihat rekaman yang ada di layar ponsel tersebut.
Detik kemudian, tatapan mata Darren memerah ketika melihat perlakuan keji yang dilakukan oleh empat gadis terhadap Salsa. Dan lebih parahnya yang membuat Darren begitu marah adalah keempat gadis itu adalah teman satu sekolah Salsa yang pernah membully Salsa saat itu.
"Ternyata kalian masih punya nyali mengusik Salsa. Ancaman yang aku berikan kepada kalian dan anggota keluarga kalian tidak membuat kalian jera dan takut."
"Eeemm! Baiklah kalau begitu. Dikarenakan kalian sudah berani mengusik Salsa kembali. Maka aku akan membuat kalian merasakan neraka dunia. Serta aku akan membuat keluarga kalian hancur tanpa sisa," batin Darren.
Darren menatap wajah Justin dan Tommy. "Kakak Justin, Kakak Tommy. Aku mau kalian membawa keempat gadis itu ke markas kakak Enzo. Setelah itu, kurung merek di ruang penyiksaan. Aku ingin bermain-main dengan mereka terlebih dahulu sebelum aku membawa mereka ke kantor polisi."
Mendengar permintaan dari Darren. Justin dan Tommy tersenyum menyeringai.
"Baiklah. Serahkan pada kami berdua," sahut Tommy.
"Kakak pastikan keempat gadis sialan itu akan segera merasakan ngerinya ruang penyiksaan di markas kakak mafiamu," ucap Justin.
Darren tersenyum ketika mendengar jawaban dari kedua kakak laki-lakinya itu.
"Baiklah. Aku percayakan keempat gadis itu kepada kakak Justin dan kakak Tommy."
"Oke!" seru Justin dan Tommy bersamaan.
__ADS_1
Setelah itu, Darren menatap tajam keempat wanita yang sudah menyakiti Salsa. Begitu juga dengan Justin dan Tommy, lalu tatapan Darren beralih menatap orang-orang yang menjadi penonton dan mengambil video serta foto.
"Sekarang kalian buka ponsel kalian masing-masing. Dan lihatlah ada sebuah video yang telah aku kirim di internet!" teriak Darren.
Dengan tangan dan tubuh bergetar. Orang-orang yang ada di sekitarnya langsung melakukan apa yang diminta oleh Darren. Begitu juga dengan keempat wanita itu.
Beberapa menit kemudian...
Semuanya tampak terkejut ketika melihat kejadian demi kejadian yang ada di rekaman itu. Keempat wanita itu bertambah ketakutan setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.
"Tu-tuan. Ma-maafkan...." perkataan wanita itu terpotong.
"Apa perlu aku ingatkan kembali perkataanku beberapa menit yang lalu, hum?"
Mendengar perkataan dari Darren membuat keempat wanita itu bungkam. Tidak ada yang berani saat ini.
"Dito," panggil Darren.
"Ya, Bos!"
"Seret keempat wanita sialan itu dari sini. Bawa mereka ke kantor polisi. Perlihatkan video itu kepada polisi. Aku sudah kirim videonya ke ponselmu."
"Baik Bos."
"Pastikan keempat wanita sialan itu mendapat hukuman seumur hidup dalam penjara. Dan buat juga keempat tidak mendapatkan jaminan apapun."
"Baik Bos."
Setelah itu, Dito dan beberapa anggotanya membawa dengan paksa keempat wanita itu. Terdengar jeritan dan tangisan dari keempat wanita itu.
"Tolong, lepaskan kami!"
"Ampun!"
"Maafkan kami!"
"Jangan bawa kami ke kantor polisi!"
Dito dan beberapa anggotanya terus menyeret keempat wanita itu tanpa mempedulikan teriakan dan tangisan dari keempatnya.
Sementara orang-orang yang ada di sekitarnya menatap keempat wanita itu dengan tubuh bergetar. Jantung mereka saat ini bergetar hebat menuggu hukuman apa yang akan mereka terima.
Darren menatap tajam wajah-wajah orang yang saat ini tengah ketakutan. Darren tersenyum menyeringai.
"Sekarang giliran kalian," ucap Darren.
Darren kembali menatap wajah Justin dan Tommy. Sedangkan Justin dan Tommy yang mengerti arti tatapan matanya Darren langsung tersenyum.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Justin.
"Kakak siap melakukannya," sela Tommy.
"Buat mereka semua hancur. Jika mereka punya usaha. Buat semua usaha-usaha mereka hancur dalam sekejap," sahut Darren.
"Dengan senang hati," jawab Justin dan Tommy bersamaan.
Orang-orang yang ada di sekitarnya seketika terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren.
"Tuan. Kami mohon jangan lakukan itu pada kami," ucap salah satu orang yang ada disana.
Darren sama sekali tidak mempedulikan permohonan dari salah satu dari orang-orang itu.
Setelah puas melihat penderitaan dan ketakutan orang-orang itu. Darren pun pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menuju mobilnya. Dan disusul oleh Justin, Tommy dan para anggotanya.
__ADS_1