
[Kampus]
Darren bersama ketujuh sahabatnya berada di ruang seni. Di ruangan itu juga ada Brenda dan ketujuh sahabatnya. Setelah selesai dengan dua materi kuliah yaitu Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika (MIPA).
"Brenda," panggil Darren.
Brenda langsung melihat kearah Darren. "Iya, Ren."
"Apa anggotanya kakak Ziggy sudah mendapatkan informasi tentang dalang yang menyebabkan kecelakaan Papa kamu?" tanya Darren dengan menatap wajah Brenda.
Mendengar pertanyaan dari Darren mengenai kecelakaan ayahnya. Seketika ekspresi wajah Brenda berubah.
Baik Darren, Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan, Darel maupun ketujuh sahabatnya Brenda yaitu Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania menatap iba sedih Brenda. Mereka semua tahu bagaimana hancur Brenda ketika mendengar jika ayahnya meninggal bukan karena murni kecelakaan, melainkan disengaja.
"Belum, Ren! Bahkan kakak Rangga dan kakak Barra juga belum mendapatkan informasi apa-apa. Kakak Rangga hanya bilang orang-orangnya butuh satu bulan untuk menyelidiki kasus ini." Brenda menjelaskan kepada Darren dan juga yang lain.
Elsa dan Milly yang kebetulan duduk di antara Brenda mengusap-ngusap punggung Brenda.
"Aku mau nanya sama kamu," sahut Darren.
"Kamu mau nanya apa?" tanya Brenda.
"Kamu pernah cerita bahwa ibu kamu anak tunggal. Dengan kata lain, ibu kamu tidak memiliki saudara sama sekali," ucap Darren.
"Iya. Mama memang nggak punya saudara baik saudara laki maupun saudara perempuan. Mama itu putri tunggal di dua keluarga," jawab Brenda.
"Bagaimana dengan saudara sepupu?" tanya Darren menatap wajah Brenda lekat.
Brenda menatap wajah Darren dengan intens. Dapat Brenda lihat tatapan Mata Darren mengisyaratkan sesuatu.
"Jika ibu kamu tidak memiliki saudara kandung. Bukan berarti ibu kamu tidak memiliki saudara sepupu, bukan?! Setiap orang pasti memiliki saudara sepupu, walau tidak dekat," tutur Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Brenda terdiam sejenak. Brenda membenarkan perkataan Darren.
"Aku nggak tahu, Ren! Mama nggak pernah cerita," jawab Brenda.
"Aku sudah mendapatkan petunjuk siapa pelakunya," sahut Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Brenda terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya.
Baik Brenda maupun para sahabat-sahabatnya menatap lekat wajah Darren. Mereka menatap tepat di manik coklat Darren. Terpancar kesungguhan disana.
"Ren," ucap Willy.
__ADS_1
Darren mengangguk dengan menatap wajah Brenda, ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabatnya Brenda.
"Ren, kamu lagi nggak bohongkan? Kamu beneran udah dapat petunjuk tentang pelaku yang udah menyebabkan Papa meninggal?" tanya Brenda dengan air matanya yang sudah jatuh membasahi wajah cantiknya.
"Brenda," ucap Elsa dan Milly mengusap-ngusap punggung Brenda.
"Iya, itu benar! Maka dari itulah kenapa aku bertanya pada kamu, apakah bibi Liana punya saudara sepupu?" ucap Darren.
"Tunggu-tunggu. Ren, aku masih bingung disini. Apa hubungannya kamu bertanya mengenai saudara sepupunya Bibi Liana dengan pelaku atas kecelakaan ayahnya Brenda?" tanya Dylan.
Darren tidak langsung menjawab pertanyaan dari Dylan. Justru Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya dengan memberikan isyarat dan kode dari gerak-gerik di wajahnya seperti tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
Qenan, Willy, Dylan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel yang melihat ekspresi wajah Darren seketika mengerti.
Sementara Brenda dan ketujuh sahabatnya hanya menatap wajah Darren dan ketujuh sahabatnya dengan tatapan sulit diartikan. Mereka menatap Darren dan ketujuh sahabatnya bingung.
"Ren, apa ini ada hubungannya dengan pertanyaan kamu mengenai saudara sepupunya Bibi Liana?" tanya Axel.
"Hm." Darren berdehem sembari tersenyum.
"Dan jangan bilang jika pelakunya adalah saudara sepupunya Bibi Liana?" tanya Jerry dengan menatap wajah Darren.
"Memang iya." Darren langsung membenarkan pertanyaan dari Jerry.
DEG!
Air mata Brenda kembali jatuh membasahi wajah cantiknya ketika mendengar jawaban dari Darren yang mengatakan bahwa pelaku dari kecelakaan ayahnya adalah orang terdekat ibunya.
Melihat kekasihnya yang menangis membuat hati Darren sakit. Darren berdiri dari duduknya dan berpindah ke samping kiri Brenda. Sementara Elsa dan Milly langsung memberikan ruang untuk Darren.
GREP!
Darren memeluk tubuh Brenda dan memeluknya erat. Dan seketika tangis Brenda pecah di pelukan Darren.
"Hiks... Hiks...," isak Brenda.
Mendengar isak tangis Brenda membuat mereka semua ikut merasakan kesedihan.
"Kamu nggak sendirian. Ada aku, sahabat-sahabat aku dan juga sahabat-sahabat kamu. Aku janji sama kamu untuk membalaskan rasa sakit kamu, rasa sakit Bibi Liana dan rasa sakit saudara-saudari kamu." Darren berbicara dengan memgeratkan pelukannya.
"Apa benar... Hiks.. yang kamu katakan barusan? Pelaku atas kecelakaan Papa adalah orang terdekatnya Mama?" tanya Brenda.
"Informasi itulah yang aku dapatkan dari temanku yang bekerja di bidang IT," jawab Darren.
__ADS_1
"Ren," panggil Rehan.
"Iya, Han." Darren melihat kearah Rehan.
"Apa Andrean yang kamu maksud?" tanya Rehan.
"Iya. Kemarin Andrean menghubungiku dan mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan petunjuk tentang pelaku atas kecelakaan paman Antonio. Hanya saja Andrean belum tahu siapa orang itu dan seperti apa wajahnya. Andrean memberikan clue bahwa pelaku itu orang terdekatnya Bibi Liana," jawab Darren.
"Oh iya, Ren! Bagaimana kalau kita semua ke rumah Brenda pulang kampus nanti. Kita bisa tanya langsung sama Bibi Liana masalah ini," usul Lenny.
"Kita harus bergerak cepat. Takutnya orang itu bergerak duluan untuk nyakitin keluarga Brenda. Kasihan Brenda dan keluarganya," ucap Alice.
"Ya, aku setuju kata Alie. Lebih baik kita segera bertindak. Setidaknya untuk kita berjaga-jaga jika orang itu muncul di hadapan Bibi Liana dan keluarganya," tutur Vania.
"Hm." Milly, Elsa, Tania dan Felisa mengangguk setuju.
Mendengar perkataan dari Vania, Alice dan Lenny. Darren, Qenan, Willy, Dylan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel juga setuju jika masalah ini harus cepat diselesaikan. Jika digantung dan ditunda, maka nyawa keluarga Brenda yang akan menjadi korban.
"Baiklah. Pulang kampus nanti kita semua ke rumah Brenda," sahut Darren.
***
[Kediaman Wilson]
Darren bersama ketujuh sahabatnya yaitu Qenan, Willy, Dylan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel. Serta ketujuh sahabatnya Brenda yaitu Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania sudah berada di rumah Brenda.
Kehadiran mereka disambut baik oleh Liana dan saudara-saudara Brenda. Kebetulan semuanya sudah berada di rumah dua jam yang lalu.
Kini Darren, Qenan, Willy, Dylan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania beserta keluarga Brenda sudah berkumpul di ruang tengah. Lengkap dengan beberapa makanan dan minuman di atas meja.
"Tumben kalian semua pada kemari? Ada angin apa, hum?" tanya Liana tersenyum menatap Darren dan yang lainnya.
Mendengar pertanyaan dari ibunya Brenda. Mereka semua tersenyum.
"Biasalah, Bibi! Tuh anak kelinci sudah sangat merindukan Bibi. Sianak kelinci itu udah nggak sabaran ingin menjadi menantu Bibi," sahut Dylan yang seenak jidatnya dengan sedikit melirik kearah Darren.
Mendengar perkataan dari Dylan membuat mereka semua tersenyum. Begitu juga dengan Liana dan saudara-saudara Brenda.
Sedangkan Darren memberikan tatapan mematikan kearah Dylan. "Jangan memulai peperangan, kudis sialan!"
"Siapa juga yang memulai peperangan? Aku berbicara fakta kok. Kamu tuh udah nggak sabaran ingin menjadi menantunya Bibi Liana," ucap Dylan yang memang sengaja memancing peperangan dengan sahabat kelincinya itu.
Darren menggeram marah. "Dylan Afred Carlo!"
__ADS_1
"Oppss!" Dylan langsung menutup mulutnya.
Darren kembali menatap wajah ibunya Brenda. Tatapannya kali ini menandakan keseriusan.