
"Hallo tuan Raimund, nyonya Raimund!" seru Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel bersamaan.
Sementara Darren hanya diam sembari menatap tajam keempat manusia di hadapannya.
Tuan Raimund, istrinya dan ketiga anak-anak terkejut ketika melihat delapan pemuda yang beberapa hari yang lalu mendatangi rumahnya dan memberikan ancaman tentang putrinya/adik perempuannya.
"Kalian!" bentak tuan Raimund.
"Dasar manusia menjijikkan. Lepaskan kami!" bentak putra sulung tuan Raimund.
"Hahahaha." Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel tertawa keras mendengar permintaan dan teriakan dari kakak laki-laki Kathy.
"Hei, bung! Tidak semudah itu kami melepaskan kalian semua," ucap Willy.
"Bahkan kau dan keluargamu ini tidak menghargai kerja keras dari mereka semua," sahut Axel dengan menunjuk kearah para tangan kanan dan para mafioso Enzo.
"Setidaknya biarkan kami menikmati hasil kerja keras mereka dengan bermain-main sebentar," ujar Jerry dengan menyentuh rahang putra kedua dari tuan Raimund, lalu mencengkram kuat rahangnya.
Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel menatap penuh amarah anggota keluarga Raimund.
"Willy, kau benar-benar jahat. Kamu manusia sakit jiwa! Lepaskan aku, ibuku, ayahku dan kedua kakak laki-lakiku!" bentak Kathy.
Mendengar perkataan kejam dari Kathy membuat Willy seketika menatap penuh amarah kearah Kathy.
Berlahan Willy berjalan menghampiri Kathy yang posisinya berada paling ujung.
"Kau bilang apa barusan, hum?!" bentak Willy.
"Kenapa? Kau mau marah, hah?! Atau kau mau....?"
Sret!
Willy mencekik leher Kathy dengan sangat kuat sehingga membuat Kathy berteriak kesakitan.
"Ini kan maksudmu? Kau ingin merasakan cekikan kedua dariku, hum?" tanya Willy dengan tersenyum menyeringai.
"Aahhh." Kathy berusaha untuk bernafas, tapi tidak bisa karena cekikan Willy begitu kuat.
__ADS_1
Tuan Raimund, nyonya Raimund dan kedua putranya terkejut ketika melihat putrinya/adik perempuannya dicekik oleh Willy.
"Brengsek! Lepaskan adik perempuanku!" bentak putra sulung tuan Raimund.
Willy tidak mengindahkan perkataan dan teriakan dari kakaknya Kathy. Tangannya masih berada di leher Kathy.
"Kau menyebutku manusia sakit jiwa. Lalu sebutan untukmu yang lebih pantas apa, hah?!" bentak Willy.
"Demi mendapatkanku dan cintaku, kau rela melakukan apa saja agar keinginanmu itu terwujud. Kau tidak peduli jika orang-orang disekitarmu sedih dan terluka. Kau dengan kejinya membayar sepuluh orang untuk menculik Alice ketika kami berada di Mall. Bahkan kau menyuruh orang-orang itu untuk merusak Alice, merampas kehormatannya agar aku jijik dan meninggalkan Alice."
Mendengar ucapan dari Willy, seketika Kathy terkejut. Dia tidak menyangka jika Willy mengetahui niat jahatnya terhadap Alice.
"Kenapa? Kaget?" tanya Willy dengan tersenyum menyeringai.
"Kau sudah salah bermain-main denganku, Kathy Raimund! Aku dan ketujuh sahabat-sahabatku datang ke rumahmu. Kita bertemu dengan kedua orang tuamu dan kedua kakak laki-lakimu. Kau tahu tapa tujuanku dan ketujuh sahabat-sahabatku datang ke rumahmu?"
Kathy hanya diam dan tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Saat ini Kathy hanya merasakan sakit di lehernya. Begitu juga dengan kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya. Mereka hanya diam dan mendengar ucapan demi ucapan dari Willy.
"Tujuanku dan ketujuh sahabat-sahabatku datang ke rumahmu adalah ingin memberikan solusi dan juga kesempatan kedua untukmu agar kau menjadi gadis yang baik-baik. Tidak semua keinginan harus terpenuhi. Tidak semua apa yang kita inginkan terwujud. Salah satunya adalah urusan cinta. Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu untuk membuatku jatuh cinta padamu."
"Aku dan ketujuh sahabatku masih bersikap baik padamu dengan datang ke rumahmu. Kalau aku mau, aku bisa meminta sahabatku Darren untuk membawa bukti itu ke kantor polisi. Dan kau tahu apa yang terjadi jika polisi itu melihat video itu?"
"Aa-aakkhh!"
"Aku dan ketujuh sahabat-sahabatku berharap kedua orang tuamu dan kedua kakak laki-lakimu menasehatimu dan menegurmu. Tapi apa...?" Willy menatap penuh amarah wajah memerah Kathy. Willy sangat yakin jika Kathy saat ini kesulitan bernafas. "Ayahmu dan kedua kakak laki-lakimu sudah berani melakukan hal yang menjijikkan!" bentak Willy.
Setelah itu, Willy melepaskan tangannya dari leher Kathy sembari berkata, "Menyesal aku tidak melaporkanmu ke kantor polisi, Kathy Raimund!"
Willy kembali ke posisi senual dimana dia berdiri di samping Darren.
Darren menatap penuh dendam kearah pria paruh baya yang ada di hadapannya.
"Anda sudah melewati batasannya tuan. Aku dan ketujuh sahabatku datang dengan niat baik yaitu meminta kepada anda, istri anda dan kedua putra anda untuk lebih mendidik Kathy. Tapi anda tidak menghargai niat baikku dan ketujuh sahabatku. Justru anda melakukan pembalasan terhadapku dan ketujuh sahabatku melalui anggota keluarga kami!" bentak Darren.
"Jangan bentak Papaku, brengsek!" teriak putra kedua tuan Raimund.
Duagh!
__ADS_1
"Aakkhhh!"
"Kory!" teriak tuan Raimund dan putra sulungnya. Sementara istri dan putrinya/adik perempuannya hanya menangis.
Enzo memberikan tendangan kuat tepat di dada kiri tuan Raimund sehingga tubuhnya yang terikat di kursi tersungkur di lantai.
Darren melangkah mendekati tuan Raimund. Setelah berdiri di hadapan pria itu, Darren langsung menarik kuat rambut tuan Raimund sehingga menimbulkan teriakan keras dari tuan Raimund.
"Anda telah berani melukai kakakku sehingga kakakku terbaring di rumah sakit! Dia tidak salah, tapi anda melukainya!" bentak Darka.
"Hahahaha. Itu karena kau yang terlebih dahulu mencari masalah denganku dan juga keluargaku!" bentak tuan Raimund.
Mendengar ucapan dari pria paruh baya di hadapannya membuat Darren benar-benar kehilangan kesabarannya.
Darren melayangkan pukulan kearah perut pria paruh baya itu. Namun gerakan tangannya seketika terhenti kala mendengar teriakan dan ucapan yang begitu kejam dari nyonya Raimund
"Lepaskan suamiku, anak sialan! Kau tak berhak menyakiti suamiku dan anak-anakku!"
Darren menatap tajam kearah perempuan itu, lalu kakinya melangkah menghampirinya.
Darren tersenyum menyeringai. Sedangkan perempuan tersebut seketika menelan ludahnya secara kasarnya.
"Apa kau bilang barusan, hah?! Aku tidak berhak menyakiti laki-laki brengsek itu? Suamimu ini sudah melukai kakakku. Dan kau kau seenaknya mengatakan bahwa aku tidak berhak menyakitinya!" teriak Darren di hadapan nyonya Kathy.
"Suamiku dan kedua putraku melakukan itu karena kau dan para manusia menjijikkan itu sudah berani datang ke rumah kami dan mengancam kami mengenai putri kami! Kalau aku pikir-pikir, wajar saja putriku melakukan hal itu. Putriku mencintai laki-laki itu dan sudah seharusnya putriku melakukan apa yang seharusnya dilakukannya!" bentak nyonya Raimund tanpa beban dan tanpa rasa bersalah sama sekali.
Mendengar perkataan dari nyonya Raimund membuat Darren, ketujuh sahabatnya, Enzo dan orang-orang yang ada di ruang penyiksaan itu terkejut. Mereka tidak menyangka ada orang tua yang memiliki pemikiran seperti itu.
"Dasar menjijikkan. Kau membenarkan apa yang dilakukan oleh putrimu sekali pun putrimu menjadi perusak hubungan orang lain," ucap Darren.
"Kenapa tidak. Secara laki-laki itu dan juga perempuan itu belum menikah. Jadi masih ada kesempatan untuk putriku mendapatkan laki-laki itu. Kecuali kalau laki-laki itu sudah menikah, maka aku tidak akan membiarkan putriku menjadi seperti itu!" bentak nyonya Raimund.
Willy yang mendengar perkataan dari ibunya Kathy seketika marah. Dia hendak menghampiri perempuan itu, tapi dihalangi oleh Qenan dan Rehan.
"Biarkan Darren menyelesaikan tugasnya. Kau disini saja," ucap Rehan.
"Sekarang lepaskan aku! Apa begini cara didikan ibumu, hah?! Apa ibumu yang telah menyuruhmu untuk menculikku, suamiku dan anak-anakku. Apa tidak ada cara lain ibumu mendidikmu?!" bentak nyonya Raimund.
__ADS_1
Darren menatap nyalang nyonya Raimund. Dia tidak terima jika ibunya dibawa dalam setiap masalah yang dihadapinya.