KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Penyekapan


__ADS_3

Darren dan ketujuh sahabatnya sudah selesai dengan materi kuliah yang terakhir. Kini mereka tengah merapikan buku-bukunya untuk dimasukkan ke dalam tas.


"Oh iya, bentar. Aku hubungi kakak Gilang dulu. Aku pergi kuliah tadi sama kakak Gilang!"


Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel langsung menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari Darren.


Darren menekan nomor kakak laki-laki kesayangannya itu di tombol angka yang tertera di layar ponselnya.


Setelah nomor tersebut lengkap dan juga yakin, Darren langsung menekan tombol hijau.


Beberapa detik kemudian...


"Hallo, Ren! Ada apa?"


"Kakak Gilang ke rumah sakit hari ini?"


"Iya. Kenapa?"


"Gini kakak Gilang. Aku dan ketujuh sahabat-sahabatku mau ke markas kakak Enzo. Sepulang dari sana baru aku ke rumah sakit. Tak apakan jika kakak Gilang pulang sendiri?"


"Baiklah. Tapi kamu harus janji sama kakak kalau kamu akan baik-baik saja. Jangan sampai jantung kamu kambuh lagi. Kakak takut, Ren!"


Mendengar ucapan dan nada lirih dari kakak laki-laki kesayangannya membuat Darren menjadi merasa bersalah.


"Maafkan aku kakak Gilang. Aku sudah membuat kakak Gilang khawatir. Aku janji hal itu tidak akan terjadi lagi."


"Kamu janji ya Ren. Kamu akan baik-baik saja."


"Iya, kakak Gilang. Aku menyayangi kakak Gilang."


"Kakak juga menyayangimu, Ren!"


"Sudah ya kakak Gilang. Aku tutup teleponnya."


"Baiklah."


Pip!


Darren mematikan panggilannya setelah mendapatkan jawaban dari kakak kesayangannya.


"Ren," panggil Axel.


"Iya, Xel. Ada apa?" tanya Darren.


"Barusan kamu bilang tidak akan terjadi hal itu lagi. Apa maksudnya?" tanya Axel menatap wajah Darren.


Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan dan Jerry menatap intens wajah Darren. Mereka berharap Darren mau menjawab pertanyaan dari Axel. Begitu juga dengan Axel.


"Sudahlah. Kenapa dibahas?" ucap dan tanya Darren mengalihkan pembicaraan.


"Apa jantung kamu kambuh lagi semalam?" tanya Axel to the point.


Deg!


Mendengar ucapan dari Axel membuat Darren terkejut. Dia tidak menyangka jika Axel akan langsung mengatakan itu.


"Ren." kini Jerry dan Dylan yang memanggilnya. Keduanya menatap khawatir Darren.


"Iya. Semalam jantungku sempat kambuh. Tapi tidak lama. Hanya sebentar." Darren akhirnya menjawab pertanyaan dari Axel.


"Jantung kamu kambuh karena kamu terlalu memikirkan kondisi kakak Darka sampai berujung kamu memikirkan masalah yang sudah lewat," ucap Rehan.


"Ingat, Ren! Kamu itu nggak boleh stres dan banyak pikiran. Apalagi sampai tertekan. Kami nggak mau jantung kamu kenapa-kenapa!" seru Qenan.


Darren seketika tersenyum menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya. Dia benar-benar beruntung memiliki mereka semua dalam hidupnya.

__ADS_1


"Terima kasih ya karena kalian selalu peduli dan perhatian padaku. Aku beruntung memiliki kalian," ucap Darren.


"Kami juga beruntung memiliki kamu dalam hidup kami Darren!" seru Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel bersamaan.


"Ya, sudah kalau begitu. Kita berangkat sekarang biar nggak kesiangan aku ke rumah sakit," ucap Darren.


"Hm." Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel berdehem sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan kelasnya untuk menuju markas Almight Black.


***


"Lepaskan kami, brengsek!" teriak seorang pria paruh bayah.


"Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian menculikku, menculik kedua orang tuaku, menculik kedua adik-adikku!" bentak pemuda yang berstatus anak pertama di keluarga Raimund.


Bugh!


Bugh!


"Aakkhh!" teriak pria paruh baya itu dan putra sulungnya akibat pukulan keras di wajahnya.


"Diam kalian!" bentak Lian.


"Jika kalian ingin tahu siapa yang sudah menyuruh kami untuk menculik kalian. Tunggu sebentar lagi. Nanti kalian akan bertemu dengannya!" bentak Jason.


"Lepaskan kami brengsek!" teriak pemuda kedua yang tak lain adalah putra kedua dari tuan Raimund.


"Kalian," ucap Lian dengan tatapan matanya menatap beberapa anggota mafiosonya.


"Ada apa Prince!"


"Sumpal mulut mereka agar mereka tidak bisa berteriak lagi," perintah Lian.


"Baik Prince!"


Ketika Lian dan Jason sedang memberikan sedikit hukuman kepada anggota keluarga Raimund, tiba-tiba pintu ruang penyiksaan dibuka.


Cklek!


Lian dan Jason langsung melihat kearah pintu yang dibuka. Dapat mereka lihat bahwa ketua mereka melangkah masuk ke dalam dan diikuti oleh delapan pemuda di belakangnya.


Enzo memasuki ruang penyiksaan dengan wajahnya yang ditutupi oleh topeng. Begitu juga dengan Lian dan Jason.


"King," sapa Lian dan Jason.


Enzo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah itu, Enzo menatap tajam kearah anggota keluarga Raimund.


Darren tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat anggota keluarga dari perempuan yang selalu mengejar-ngejarnya salah satu sahabatnya berada di ruang ini.


Bagaimana dengan Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel. Apa reaksi mereka ketika melihat anggota keluarga Raimund lengkap dengan Kathy sedang dalan keadaan terikat.


Sama seperti Darren. Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel tersenyum di sudut bibirnya.


Flashback On


Darren, Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel sudah berada ruang pribadi Enzo. Mereka kini duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel belum tahu alasan mereka di suruh datang ke markas Almight Black.


"Ada apa kakak Enzo?" tanya Willy.


"Kenapa kakak Enzo menyuruh kami datang kesini?" tanya Rehan.


"Apa ada sesuatu?" tanya Darel.

__ADS_1


"Jangan buat kami semua penasaran. Anak kelinci itu tidak memberitahu kami sama sekali," pungkas Qenan dengan kejamnya.


Mendengar ucapan kejam dari Qenan membuat Darren mendengus. Sedangkan Enzo sudah senyam senyum sedari tadi.


"Baiklah... Baiklah! Begini kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Kathy ada di ruang rawat. Begitu juga dengan Kathy!"


Mendengar ucapan dari Enzo membuat Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel terkejut.


"Ada apa? Kenapa mereka semua ada di ruang penyiksaan?" tanya Dylan.


"Apa yang telah mereka lakukan?" tanya Jerry.


"Apa mereka melakukan kesalahan fatal?" tanya Willy.


Enzo mengalihkan perhatiannya melihat kearah Darren yang sedang tersenyum menatap wajah ketujuh sahabatnya yang dalam mode penasarannya.


"Ren," panggil Enzo.


"Hm!" Darren hanya berdehem tanpa melihat kearah Enzo.


"Apa kau tidak berniat untuk memberitahu sahabat-sahabat kamu atas apa yang sudah diperbuat oleh keluarga Raimund?"


"Tidak," jawab Darren singkat.


"Kenapa?" tanya Enzo.


"Kan itu tugasnya kakak Enzo," jawab Darren lagi.


Mendengar jawaban singkat dari Darren membuat Enzo hanya menghela nafas kasarnya. Sementara Darren makin tersenyum lebar.


Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel menatap kesal Darren yang sedari senyam senyum terus.


"Berhenti tersenyum seperti itu anak kelinci setan!" seru Dylan dengan sadisnya.


Seketika Darren langsung merubah mimik wajanya menjadi menyeramkan ketika mendengar ucapan sadis dari Dylan.


"Dasar kurus kering cap teri sialan!" umpat Darren.


Ketika Dylan ingin membalasnya, Enzo langsung bersuara. "Kalau mau ribut pergi keluar sana. Jangan disini!"


Seketika Darren dan Dylan mengatub bibirnya masing-masing.


Melihat kepatuhan dari Darren dan Dylan membuat Enzo, Qenan, Willy, Darel, Rehan, Jerry dan Axel tersenyum.


"Baiklah, kakak lanjut. Ayah dan kedua kakak laki-laki Kathy telah membayar beberapa orang untuk menyakiti salah satu anggota keluarga kalian. Dan orang-orang suruhan dari ayahnya Kathy berhasil melukai Darka."


"Apa?!"


Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel terkejut ketika mendengar penuturan dari Enzo. Mereka tidak menyangka jika ayah dan kedua kakak laki-laki Kathy akan melakukan hal keji itu.


"Apa alasan mereka melakukan hal itu kakak Enzo?" tanya Willy.


"Mereka sakit hati terhadap kalian yang tiba-tiba datang ke rumahnya dan mengancam Kathy," jawab Enzo.


"Menjijikkan. Sudah jelas-jelas anak dan adik perempuannya yang salah. Ini malah melakukan pembalasan," ucap Qenan marah.


"Udah untung kita tidak membawanya ke kantor polisi. Ini malah melakukan hal menjijikkan," ucap Rehan.


"Terus apa yang akan kalian lakukan untuk membalas mereka semua?" tanya Enzo.


"Mau bagaimana lagi. Ini sudah terjadi. Kita harus lanjut dong. Mereka sendiri yang menginginkannya, bukan?" ucap dan tanya Axel.


"Mereka sudah berniat untuk menyakiti salah satu anggota keluarga kita. Bahkan mereka telah berhasil melukai kakak Darka. Jadi, giliran kita yang memberikan pelajaran kepada mereka." Jerry berbicara dengan tatapan amarahnya.


"Baiklah. Ayo kita ke ruang penyiksaan sekarang!"

__ADS_1


Mereka semua pun berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang pribadi Enzo untuk menuju ruang penyiksaan.


__ADS_2