KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Bangun Dari Koma


__ADS_3

Setelah beberapa detik, Celsea melepaskan pelukan putranya. Celsea kemudian menatap wajah basah putra ketiganya itu.


"Ini semua juga berkat doa kamu, doa sahabat-sahabat kamu dan doa dari kita semua, termasuk Mama. Dan kita berhasil! Doa kita semua didengar oleh Tuhan."


CKLEK!


Pintu ruang rawat Darren dibuka. Dan keluarlah tiga perawat dari ruang rawat Darren.


"Bagaimana?" tanya Celsea.


"Sudah selesai, Dok!" jawab tiga perawat itu bersamaan.


Celsea menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Dan tatapan matanya beralih ke anggota keluarga Smith.


Celsea lebih menatap wajah Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.


"Ada sedikit yang ingin aku sampaikan kepada kalian!" seru Celsea dengan menatap satu persatu wajah anggota keluarga Smith.


Melihat tatapan mata Celsea yang menatap lekat kearah Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka. Bisa mereka pastikan bahwa Celsea akan mengatakan hal penting mengenai kondisi Darren.


"Kamu ingin menyampaikan apa pada kami, Celsea? Katakan saja. Apapun itu kami siap menerimanya dan kami akan mendengarkannya," sahut Erland yang mengerti arti tatapan mata Celsea.


"Begini! Seperti yang sudah aku katakan beberapa menit yang lalu bahwa kondisi Darren saat ini dalam kondisi bagus dan baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun lagi. Kita hanya menunggunya sadar."


"Dan setelah Darren sadar, kita hanya menunggu luka tembak yang dialami Darren sembuh total. Setelah luka tembak itu dinyatakan sembuh. Barulah kondisi kesehatan Darren keseluruhan, terutama jantungnya bisa dikatakan membaik."


Mendengar perkataan dari Celsea membuat Erland, Agneta, putra-putranya, Carisaa, Evan dan ketiga putranya tersenyum bahagia. Mereka semua berucap syukur di dalam hati.


Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabat Darren dan kelima kakak-kakak mafianya.


"Tapi...." Celsea sengaja menghentikan perkataannya sehingga semuanya kembali panik, terutama keluarga Smith.


"Tapi apa, Celsea?" tanya Agneta yang menatap Celsea dengan rasa takut.


"Ini masalah jantung Darren. Bahkan kalian semua sudah mengetahui bahwa Darren memiliki masalah di jantungnya sejak lahir? Walau aku mengatakan bahwa kondisi Darren sudah membaik, terutama jantungnya. Bukan berarti masalah di jantung Darren sudah seratus persen sembuh. Sewaktu-waktu jantungnya Darren pasti akan kambuh.


"Bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana cara mencegah agar jantung Darren tidak kambuh. Itu semua ada ditangan kalian, keluarganya! Kalianlah yang lebih tahu cara untuk membuat jantung Darren tidak kembali kambuh."


"Ingat! Kalian sudah melihat dengan mata kepala kalian sendiri kondisi terakhir Darren dimana detak jantung Darren berhenti beberapa menit. Dan beberapa menit yang lalu detak jantung Darren juga sempat berhenti, walau hanya sebentar."


"Jadi aku minta kepada kalian. Jaga Darren dengan baik. Berikan kenyamanan padanya. Kalian harus bisa memahami apa yang tidak disukai Darren dan apa yang disukai Darren. Jangan memaksakan kemauan kalian kepada Darren. Justru sebaliknya, berikanlah apa yang dibutuhkan dan diinginkan Darren."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Celsea membuat Erland, Agneta dan putra-putranya meneteskan air matanya. Mereka semua sadar akan kesalahannya setahun ini, terutama Davin dan Andra. Baik Davin dan Andara sadar bahwa mereka yang sering membuat adiknya kesakitan. Mereka sadar bahwa mereka lah sudah membuat jantung adiknya berulang kali kambuh.


Sejak kejadian itu. Dan sejak mereka sudah mendapatkan kata maaf dari Darren. Mereka semua bersumpah untuk menjaga Darren sepenuh hati mereka, terutama jantungnya. Mereka akan selalu ada untuk Darren. Baik secara bersamaan maupun bergantian.


"Belva, sayang. Maafkan atas kesalahanku terhadap putra bungsu kita. Aku berjanji padamu, aku akan menjadi ayah yang baik untuk putra bungsu kita. Aku akan menjaga dan melindunginya. Aku akan memberikan waktuku untuknya. Aku akan membuatnya nyaman ketika sedang bersamaku dan juga bersama dengan yang lainnya. Aku tidak akan membuat putra bungsu kita kembali merasakan kesakitan untuk kesekian kalinya." Erland berbicara di dalam hatinya.


"Kak Belva. Aku berjanji padamu. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku. Aku tidak akan membuat Darren kembali merasakan kesakitan. Apalagi jantungnya. Aku akan menjaga kesehatan jantungnya dengan cara membuanya nyaman selama bersama kami." Agneta berbicara dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya.


"Dan untuk kalian berdua Davin, Andra!" Celsea menatap wajah Davin dan Andra. "Maaf jika bibi lancang menasehati kalian berdua. Bibi melakukan ini karena rasa sayang Bibi terhadap Darren. Bibi sudah anggap Darren sebagai putra Bibi sendiri. Jadi Bibi minta kepada kalian berdua untuk lebih sabar lagi menghadapi Darren. Jangan terlalu keras padanya. Tahan emosi kalian dan jangan sampai terpancing akan perkataan Darren jika sewaktu-waktu Darren mengamuk atau dalam keadaan marah besar."

__ADS_1


"Kami mengerti! Bibi tidak perlu khawatir. Aku dan Andra sudah banyak belajar dari kesalahan kami setahun ini. Dan kami tidak akan mengulangi kesalahan kami itu," ucap Davin.


"Kami akan berusaha menjadi kakak yang terbaik untuk semua adik kami, terutama untuk Darren!" ucap Andra.


Celsea tersenyum dengan menatap tepat di manik hitam Davin dan Andra. Celsea dapat melihat kesungguhan disana.


"Bibi percaya," jawab Celsea.


"Terima kasih, Bibi!" Davin dan Andra berucap bersamaan.


"Ya, sudah kalau begitu. Aku kembali ke ruanganku," ucap Celsea.


Dan setelah itu, Celsea pun pergi dan diikuti tiga perawat di belakangnya.


^^^


Kini mereka semua sudah berada di ruang rawat Darren. Mereka semua menatap Darren dengan penuh kebahagiaan. Bagaimana tidak bahagia? Secara mereka semua mendapatkan berita baik dari Dokter yang menangani Darren. Dokter itu tak lain adalah ibu dari salah satu sahabat terbaiknya.


Erland membelai kepala putranya. Dan setelah itu, Erland mencium kening putih putranya itu.


"Terima kasih sayang. Terima kasih kamu masih disini bersama Papa. Dan terima kasih kamu tidak pergi meninggalkan Papa," ucap Erland.


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka secara bergantian memberikan ciuman di kedua pipi dan kening Darren dengan penuh sayang.


"Terima kasih atas perjuangannya sayang," ucap Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.


Ketika mereka semua merasakan kebahagiaan karena Darren yang sudah dalam kondisi baik, tiba-tiba mereka semua yang kini tengah menatap wajah Darren terkejut melihat Darren yang membuka kedua matanya.


"Darren!"


"Sayang!"


"Kakak Darren!"


"Ren!"


"Darren!"


Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Carissa, Evan, Daffa, Tristan, Davian, ketujuh sahabat-sahabat Darren dan kelima kakak-kakak mafia Darren memanggil nama Darren dengan raut wajah penuh kebahagiaan.


Darren berlahan membuka kedua matanya yang sudah terpejam selama dua hari.


Ketika kedua mata Darren sudah terbuka sempurna. Darren dapat melihat anggota keluarganya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafianya telah berada di hadapannya.


Darren melihat ke sekelilingnya. Dan dapat Darren pastikan bahwa dirinya kembali lagi ke tempat yang begitu dibencinya.


"Tempat ini lagi," batin Darren.


"Darren, sayang!" Erland mengusap lembut kepalanya.


Darren langsung melihat ke arah ayahnya. Dan Darren melihat ayahnya yang tersenyum tulus padanya. Bahkan tatapan mata ayahnya mengisyaratkan kebahagiaan.

__ADS_1


"Pa-papa."


Darren tersenyum mendengar putranya memanggil namanya. Kemudian Erland memberikan ciuman di pipi kanannya.


"Terima kasih sayang," ucap Erland.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Darren bingung.


"Karena kamu memilih untuk bertahan. Karena kamu tetap berada disini bersama Papa dan tidak pergi meninggalkan Papa."


Mereka semua tersenyum menatap wajah Darren yang masih terlihat sedikit pucat.


"Ren," panggil ketujuh sahabat-sahabatnya bersamaan.


Darren yang mendengar namanya dipanggil langsung mengalihkan perhatiannya untuk menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya.


Darren seketika tersenyum ketika menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya. "Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan, Darel."


Mendengar Darren yang menyebut nama mereka satu persatu. Sipemilik nama tersebut tersenyum.


Darren mengalihkan perhatiannya menatap kelima kakak-kakak mafianya yang kini tengah menatapnya.


"Kakak Ziggy, kakak Devian, kakak Noe, kakak Chico, kakak Enzo."


Ziggy, Devian, Noe, Chico dan Enzo tersenyum ketika mendengar Darren menyebut nama mereka satu persatu.


"Kami senang kau bangun, Ren!" seru mereka bersamaan.


Darren membalasnya dengan senyuman manisnya. Dirinya saat ini juga merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan dimana semua orang sangat menantikan dirinya untuk bangun. Semua orang menginginkan dirinya kembali. Orang-orang itu adalah anggota keluarganya, ketujuh sahabat-sahabatnya, kelima kakak-kakak mafianya dan anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabatnya. Darren benar-benar beruntung memiliki mereka semua.


Darren seketika memejamkan kedua matanya. Melihat Darren yang tiba-tiba memejamkan matanya membuat mereka semua menjadi panik.


"Darren."


"Darren, sayang."


"Kakak Darren."


"Darren."


Namun detik kemudian, mereka semua dikejutkan dengan ucapan Darren.


"Mama, terima kasih. Berkat Mama aku masih disini. Berkat Mama aku memilih kembali. Jaga diri Mama baik-baik disana. Jangan lupakan janji Mama padaku. Sewaktu saat nanti aku akan menagihnya," ucap Darren.


Mendengar perkataan Darren membuat mereka semua yang ada di ruang rawat Darren menatap Darren senduh. Mereka semua mengerti arah dari ucapan Darren itu. Di hati mereka berkata 'Darren pasti telah bertemu dengan ibunya. Dan ketika bertemu dengan ibunya. Darren tidak ingin kembali lagi ke dunianya dan lebih memilih ingin tinggal bersama ibunya. Namun ibunya membujuknya dengan diiming-imingi sebuah janji agar Darren mau kembali ke dunianya'.


Tapi bagi mereka semua itu tidaklah penting. Apapun alasan kembalinya Darren, dan apa perjanjian Darren dan ibunya. Itu adalah urusan Darren! Yang jelas saat ini Darren ada disini bersama mereka. Darren memilih kembali untuk mereka. Dan itu harus mereka syukuri.


Sementara di alam lain dimana Belva yang bisa melihat semua orang yang ada di dunia manusia tersenyum dan juga menangis ketika mendengar perkataan dari putra bungsunya itu.


"Selama Papa kamu, Mama Agneta, keenam kakak-kakak kamu menepati janjinya menjadi orang tua dan kakak yang baik untuk kamu. Selama itu pula Mama hanya sebagai penonton dari atas ini. Selama mereka melakukan tugas-tugasnya dengan baik tanpa cacat sedikit pun. Selama mereka tidak menyakitimu dan tidak membuatmu terluka lagi. Mama juga masih tetap menjadi penonton dari atas ini.

__ADS_1


"Mama janji padamu sayang. Jika mereka kembali menyakitimu. Jika mereka kembali membuatmu terluka. Mama akan datang menjemputmu. Mama akan membawamu untuk tinggal bersama Mama. Dan tidak ada lagi kesempatan untuk mereka."


__ADS_2