
[Cafe]
Darren bersama kedua sahabatnya yaitu Rehan dan Darel berada di Cafe. Mereka saat ini tengah menunggu lima pengusaha yang memesan lukisan dengan Darren.
Setelah menunggu selama lima belas menit, kelima pengusaha itu pun datang.
"Maaf kami terlambat!" seru kelima pengusaha itu bersamaan.
Darren, Rehan dan Darel secara bersamaan langsung berdiri ketika melihat kedatangan kelima pengusaha itu.
Dan setelah itu, mereka saling berjabat tangan satu sama lainnya.
"Sebelum kita membahas masalah lukisan nih. Ada baiknya kita pesan makanan atau minuman terlebih dahulu," ucap Darel.
"Baiklah," jawab kelima pengusaha itu bersamaan.
Setelah itu, Darel pun memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.
"Pelayan," panggil Darel.
Pelayan tersebut pun mendatangi meja dimana Darel dan yang lain tempati.
"Mau pesan apa, tuan?" tanya pelayan perempuan itu sembari memberikan buku menunya kepada Darren, Darel, Rehan dan kelima pengusaha itu.
Darren, Darel, Rehan dan kelima pengusaha itu pun melihat daftar menu yang ada hadapannya.
Setelah melihat dan memilih beberapa menu makanan dan minuman. Mereka pun kemudian memesannya.
"Saya mau makanan yang ini dan minumannya yang ini."
"Saya yang ini dan yang ini."
"Saya minuman ini saja."
"Saya pesan yang ini sama yang ini."
Setelah pelayan itu mencatat pesanan dari pelanggannya. Pelayan itu pun pergi menuju dapur.
Beberapa menit kemudian, makanan dan minuman ya dipesan pun sudah tertata di atas meja.
Dan setelah itu, baik Darren, Rehan, Darel dan kelima pengusaha itu memulai menikmati makanan dan minuman itu.
"Begini tuan Darren. Kami ingin membahas tentang pesanan lukisan kamu," ucap salah satu pengusaha itu.
"Iya, tuan. Saya sudah tahu dari kedua sahabat saya ini," jawab Darren.
"Bagaimana? Berapa harga satu lukisan nya? Apakah lukisannya sudah selesai, tuan Darren?" tanya pengusaha kedua.
"Untuk pesanan lukisan tuan-tuan sudah saya selesaikan. Tuan-tuan memesan dua lukisan, bukan?"
"Iya, tuan Darren." pengusaha ketiga menjawab perkataan dari Darren.
"Untuk lukisan-lukisan itu ada di Galeri. Tuan-tuan bisa langsung ke Galeri. Masalah pembayaran saya serahkan kepada kedua sahabat saya ini, karena itu tugas mereka." Darren berbicara sembari melihat kearah Rehan dan Darel.
"Baiklah," jawab kelima pengusaha itu bersamaan.
...***...
[Di Depan Supermarket]
Elsa dan Vania saat ini berada di sebuah supermarket. Mereka sedang membeli beberapa cemilan dan juga minuman untuk mereka bawa ke kampus.
Mereka sengaja membeli beberapa cemilan dan minuman, karena di kampus nanti mereka akan banyak tugas. Salah satunya adalah tugas organisasi kampus. Ditambah lagi akan ada penambahan anggota dan pembentukan kelompok baru.
Setelah dua jam mereka berputar-putar dan memilih beberapa cemilan dan minuman. Mereka kini memutuskan untuk membayarnya.
"Udah yuk!" seru Vania.
"Yuk," jawab Elsa.
Kini keduanya sudah di depan kasir untuk membayar barang belanjaannya. Tak butuh lama semua barang belanjaan keduanya selesai dibayar. Dan keduanya pun keluar meninggalkan supermarket itu.
Setelah selesai menyusun barang belanjaannya di bagasi mobil. Elsa dan Vania pun pergi meninggalkan parkiran supermarket itu untuk bergegas pergi ke kampus.
Kini mereka dalam perjalanan menuju kampus dengan Elsa sebagai sopirnya.
Ketika Elsa tengah fokis mengendarai mobilnya, tiba-tiba Elsa menginjak rem mobilnya.
JEDUK!
"Aahh!" Vania meringis ketika kepala terbentur bagian depan mobil.
"Elsa, kenapa menghentikan mobil secara mendadak sih?" tanya Vania kesal sambil mengelus-ngelua keningnya.
Elsa melirik sekilas ke samping. Dan dapat dilihat oleh Elsa, sahabatnya itu tengah kesakitan di bagian keningnya.
"Maafkan aku, Vania. Tuh, kamu lihat di depan," ucap Elsa.
__ADS_1
Vania melihat kearah depan dengan tangan yang masih mengelus-ngelus keningnya.
"Siapa mereka? Kenapa mereka menghadang mobil kita?" tanya Vania.
"Aku juga nggak tahu, Vania."
"Bagaimana ini, Sa? Aku takut," ucap Vania.
"Sama. Gue juga takut, Vania."
Yang dilihat oleh Vania adalah sepuluh orang laki-laki bermotor kini tengah berdiri di depan mobil yang ditumpanginya. Dan tak jauh dari kesepuluh laki-laki terlihat mobil zeep terparkir disana.
Kesepuluh orang itu menatap tajam kearah Vania dan Elsa yang ada di dalam mobil.
Ketika Elsa dan Vania tengah sibuk dengan pikiran dan rasa takutnya, dua dari sepuluh laki-laki itu sudah berdiri masing-masing di samping mobilnya.
DUG! DUG!
Kedua laki-laki itu memukul dengan kasar kaca mobil milik Elsa. Mendengar pukulan keras di kaca mobilnya, Elsa dan Vania melihat ke samping kiri dan kanan.
"Elsa, bagaimana ini?"
DUG! DUG!
"Keluar kalian!" teriak salah satu dari laki-laki itu.
Dikarenakan tidak mendapatkan balasan apapun dari Vania dan Elsa yang ada di dalam mobil membuat kedua laki-laki itu langsung memecahkan kaca mobil milik Elsa.
Melihat apa yang akan dilakukan oleh kedua laki-laki itu membuat Elsa dan Vania langsung menundukkan kepalanya.
PRAANNGG!
Vania dan Elsa sudah menangis ketakutan. Di dalam hati mereka masing-masing merapalkan doa dan juga menyebut nama anggota keluarganya.
Setelah kaca mobil milik Elsa rusak, kedua laki-laki itu membuka pintu mobil milik Elsa. Dan tanpa perikemanusiaan, kedua laki-laki itu menarik kasar tangan Elsa dan Vania.
"Lepaskan!" teriak Vania dan Elsa memberontak ketika tubuh mereka dipaksa untuk keluar dari dalam mobil untuk ikut bersama mereka.
Mendapatkan perlakuan buruk dari dua laki-laki itu, seketika ingatan Elsa alan kejadian dua tahun yang lalu muncul di kepalanya.
FLASHBACK ON
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
PLAKK!
"Aku mau pulang... Aku mau pulang!" Elsa masih terus memberontak dan berteriak.
"Kurung perempuan itu di gudang. Ikat dia."
"Baik, Bos."
"Tidak! Mami, Papi, Kakak Andrez, kakak Jacob tolongin Elsa!" teriak Elsa ketika tubuhnya ditarik dengan paksa ke gudang.
FLASHBACK OFF
Kedua laki-laki itu itu masih terus menarik paksa Vania dan Elsa untuk menuju mobil mereka.
"Tidak, lepaskan aku!" teriak Elsa dengan tubuh bergetarnya.
Disisi lain dimana Qenan dan Willy yang sedang dalam perjalanan menuju kampus. Keduanya fokus dengan kegiatan masing. Willy fokus menyetir. Sedangkan Qenan fokus menatap layar ponselnya.
Ketika Willy tengah fokus menyetir, tiba-tiba Willy menginjak rem mobilnya sehingga membuat Qenan terkejut dengan ponsel terjatuh ke bawah.
"Yak, Willy! Kenapa berhenti mendadak sih?" tanya Qenan kesal.
"Qenan. Coba lihat disana. Bukankah itu Elsa dan Vania!" seru Willy sambil menunjuk kearah dimana Vania dan Elsa.
Qenan langsung melihat kearah tunjuk Willy. Dan seketika Qenan membelalakkan matanya. Begitu juga dengan Willy yang sudah menyadari apa yang sedang terjadi.
"Vania, Elsa!" seru Willy dan Qenan bersamaan.
Willy dan Qenan langsung keluar dari dalam mobil dan berlari seperti orang kerasukan setan menuju kearah Vania dan Elsa.
Baik Qenan maupun Willy langsung memberikan tendangan kuat kearah dua laki-laki yang menyeret tubuh Elsa dan Vania.
DUAGH! DUAGH!
Mendapatkan tendangan kuat dari Willy dan Qenan membuat kedua laki-laki itu merasakan yang teramat di bagian punggungnya.
Qenan dan Willy langsung membawa pergi menjauh Elsa dan Vania.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Willy.
"Mami, Papi." Elsa ketakutan sembari menyebut nama kedua orang tuanya.
Willy, Qenan dan Vania menatap khawatir Elsa.
__ADS_1
"Sa," panggil Vania sambil tangannya ingin menyentuh Elsa.
"Jangan." Elsa seketika menepis tangan Vania.
"Sa, ini gue Vania." Vania menangis melihat kondisi Elsa saat ini.
"Brengsek! Siapa kalian?!" teriak salah satu kesepuluh laki-laki itu.
Mendengar teriakan dari salah satu kesepuluh laki-laki itu, Qenan dan Willy langsung melihat kearah laki-laki itu. Dan sebelumnya, Willy menatap wajah Vania.
"Kamu dan Elsa tetap disini. Kamu jagain Elsa. Sepertinya Elsa masih ketakutan."
"Baik," jawab Vania.
Qenan dan Willy berdiri dari posisi jongkoknya setelah berhasil membawa Vania dan Elsa menjauh dari kesepuluh laki-laki itu.
"Siapa kalian? Dan kenapa kalian mengganggu pekerjaan kami, hah?!" teriak sang ketua.
"Itu bukan urusan kalian. Dan kalian tidak perlu tahu siapa kami," jawab Qenan.
"Kami tidak ada urusan dengan kalian. Lebih baik kalian pergi dari sini!" bentak laki-laki itu lagi.
"Kalau kami masih ingin disini, bagaimana?" tanya Willy menantang.
"Baiklah jika itu mau kalian. Kalian boleh disini. Tapi kami akan tetap membawa dua gadis itu bersama kami."
"Oh, silahkan! Tapi kalahkan kami dulu. Jika kalian berhasil. Kalian boleh membawa dua gadis itu," ucap Qenan menantang sang pemimpin.
Sang pemimpin itu dan juga anak buahnya tersenyum mengejek kearah Qenan dan Willy.
"Kalian itu hanya berdua. Sementara kami sepuluh orang. Sudah jelaslah kami yang akan menang. Sudahlah! Menyerah saja. Dan serahkan dua gadis itu!" bentak laki-laki itu.
"Bukan prinsip kami yang menyerah tanpa perlawanan. Kami memang berdua, tapi belum tentu kami akan kalah dengan orang-orang bodoh seperti kalian," ucap Willy.
Mendengar perkataan kejam dari Willy membuat sang pemimpin murka. Dan pada akhirnya, terjadilah pertarungan tak seimbang dimana Willy dan Qenan melawan sepuluh orang.
BUGH! DUAGH!
Qenan dan Willy memberikan pukulan dan tendangan kuatnya dengan gerakan lincah sehingga kesepuluh laki-laki itu kewalahan menghadapi Qenan dan Willy. Bahkan mereka berulang kali mendapatkan pukulan dan tendangan kuat dari Willy dan Qenan.
Qenan dan Willy memberikan pukulan dan tendangan kuatnya tepat di perut kesepuluh orang-orang itu sehingga membuat tubuh kesepuluh orang-orang itu tergeletak di aspal.
"Selesai!" seru Qenan dan Willy.
Setelah itu, Qenan dan Willy kembali menghampiri Vania dan Elsa.
Saat ini Vania masih berusaha untuk menghibur Elsa dengan cara menyentuh bahu Elsa. Namun usaha lagi-lagi gagal. Elsa berulang kali menepis tangannya.
"Elsa, ini gue. Gue nggak bakal nyakitin lo. Lo sahabat gue," ucap Vania dengan berurai air mata. Hati Vania hancur melihat kondisi Elsa saat ini.
"Apa yang terjadi sama lo, Sa? Kenapa lo jadi gini? Apa lo pernah ngalamin ini sebelumnya?" batin Vania.
"Vania, bagaimana?" tanya Willy.
"Elsa masih ketakutan sama gue. Bahkan Elsa masih terus menepis tangan gue saat gue mau nyentuh dia," jawab Vania.
Qenan dan Willy menatap kearah Elsa. Dapat mereka lihat Elsa yang benar-benar ketakutan.
"Hiks... Mami, Papi, kakak Andrez, kakak Jacob. Tolongin Elsa. Elsa takut... Hiks," ucap Elsa terisak.
Berlahan Qenan mendekati Elsa. Qenan berjongkok di hadapan Elsa.
Dan detik kemudian, Qenan memberanikan diri untuk memeluk tubuh Elsa. Merasakan tubuhnya dipeluk membuat Elsa memberontak. Namun itu hanya sebentar, karena Qenan berhasil menenangkan Elsa.
"Tenang, oke. Gue Qenan. Gue nggak akan nyakitin lo. Percayalah!"
"Lo sama gue sekarang. Lo udah aman," hibur Qenan dengan mengeratkan pelukannya.
"Jangan tinggalin gue," ucap Elsa lirih. Dan setelah itu kesadaran mengambil alih tubuhnya.
"Elsa," panggil Qenan, Willy dan Vania bersamaan.
"Sepertinya Elsa pingsan," ucap Qenan.
"Sepertinya," sela Vania.
"Ya, sudah. Lebih baik kita bawa Elsa pulang. Hari ini Elsa tidak usah kuliah," usul Willy.
"Vania kamu ikut dengan kita," sahut Willy.
"Terus mobilnya Elsa bagaimana? Ditambah lagi kaca mobil Elsa pecah," ucap dan tanya Vania.
"Aku akan hubungi salah satu anggotanya Axel dan menyuruhnya untuk menjemput mobil Elsa dan membawanya ke bengkel," jawab Willy.
"Baiklah," jawab Vania.
Setelah itu, Vania, Qenan dan Willy masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan lokasi. Mereka memutuskan membawa Elsa pulang.
__ADS_1