
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel saat ini berada di perusahaan masing-masing dan berada di ruang kerja.
Pikiran mereka saat ini tertuju kepada Darren. Mereka memikirkan Darren karena video call yang mereka lakukan tidak dijawab oleh Darren sehingga membuat mereka semua mengkhawatirkan Darren.
Baik Qenan, Willy, Axel maupun Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tengah berusaha untuk menghubungi ponsel Darren. Namun usaha mereka gagal dikarenakan nomor yang mereka hubungi tidak aktif.
"Darren," ucap Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel secara bersamaan di tempat yang berbeda.
***
Di perusahaan Accenture, Darren saat ini sudah berada di ruang kerjanya. Moodnya benar-benar hancur pagi ini disebabkan dua orang perusuh yang membuat keributan di perusahaannya.
Seharusnya hari ini semua pekerjaannya selesai menjadi tidak selesai karena Darren sudah tidak semangat untuk mengerjakannya.
Ketika Darren tengah menenangkan pikirannya setelah menyelesaikan permasalahan yang dihadapi karyawannya. Seketika Darren teringat bahwa ketujuh sahabatnya beberapa menit yang lalu melakukan video call.
Darren langsung melihat kearah ponselnya yang tergeletak di atas meja. Tangannya kemudian meraih ponsel itu.
Ketika Darren ingin menghubungi kembali ketujuh sahabatnya itu, namun ponselnya sudah dalam keadaan berduka cita alias mati.
"Ach, sial! Habis daya lagi," ucap Darren kesal.
Darren melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. "Pukul 10. Lebih baik aku ke Galeri dulu. Setelah dari sana. Baru aku akan ke kampus."
Setelah mengatakan itu, Darren beranjak dari duduknya. Dan pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dan tak lupa membawa berkas-berkasnya yang belum selesai diperiksa dan ditandatangani olehnya termasuk berkas dari Willy. Dia akan mengerjakannya di rumah.
^^^
Ketika Darren tiba dibawah, Darren melihat Dito dan beberapa anggotanya tengah berjaga-jaga.
Darren berjalan menghampirinya dan menitipkan perusahaannya kepada Dito.
"Dito."
Dito yang dipanggil langsung melihat kearah sang Bos.
"Iya, Bos!"
"Aku titip perusahaan padamu. Selama aku pergi, perusahaan ini menjadi tanggung jawabmu. Jika para karyawan ingin melaporkan pekerjaannya. Mereka akan melaporkan kepadamu terlebih dahulu. Setelah itu, baru kau melaporkan kepadaku."
"Baik, Bos! Aku mengerti."
"Apa kau butuh teman? Jika kau membutuhkan teman, maka aku akan menghubungi Vicki."
"Sebenarnya sih...." Dito ragu untuk mengutarakannya di hadapan Darren.
Darren yang mengerti seketika tersenyum. "Baiklah. Aku akan menghubungi Vicki dan memintanya untuk bekerja disini," ucap Darren.
"Terima kasih, Bos!"
__ADS_1
"Sama-sama. Ya, sudah kalau begitu. Aku mau ke Galeri dulu.
"Hati-hati, Bos!"
Setelah itu, Darren pun pergi meninggalkan perusahaan Accenture untuk menuju DARREN GALERY OF ART.
***
Di kediaman Radmilo semua anggota keluarga tengah berkumpul. Mereka tengah membahas tentang kecelakaan pesawat yang ditumpangi oleh Erland.
Keluarga Radmilo juga turut serta dalam mencari keberadaan jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh Erland tersebut.
"Bagaimana hasil pencariannya, Atalaric?" tanya Robert.
"Belum ada hasil apapun, Papa! Terakhir tangan kananku mengatakan bahwa pencarian sangat sulit. Bahkan tangan kananku mengatakan pesawat itu jatuhnya di sebuah hutan. Namun mereka belum mengetahui hutan mana yang menjadi lokasi jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh kakak Erland." Atalaric menjawab pertanyaan dari ayahnya.
Mendengar jawaban dari Atalaric membuat mereka menjadi sedih. Sedihnya mereka karena sampai detik ini, mereka belum mengetahui keberadaan pesawat itu. Dan juga mereka belum mengetahui kondisi para penumpang, termasuk Erland.
"Bagaimana denganmu Damian, Gerald dan kalian?" tanya Robert kepada putra pertamanya, putra keduanya dan cucu laki-lakinya.
"Kami juga belum mendapatkan kabar apapun, kakek!" seru Elzaro dan para saudara-saudara sepupunya.
Lagi-lagi Robert dan yang lainnya menghela nafasnya karena mereka sama sekali tidak mendapatkan kabar terbaru tentang Erland.
"Kakek, Nenek, Papi, Mami. Bagaimana nanti sore kita ke rumah keluarga Smith. Kalau perlu kita menginap lagi disana," usul Nuel.
"Wah! Ide bagus tuh. Kakak setuju!" seru Arkana.
Melihat wajah semangat dan mendengar perkataan kompak dari putra-putrinya dan cucunya membuat para orang tua tersenyum.
"Baiklah," jawab para orang tua bersamaan.
***
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel saat ini sudah berada di kampus. Mereka berada di kantin bersama dengan Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Sebenarnya Darren kemana? Kenapa ponselnya tidak aktif?" tanya Brenda yang saat ini mengkhawatirkan Darren.
"Tidak biasanya Darren seperti ini," ucap Axel.
"Darren itu ponselnya selalu On," ujar Dylan.
"Tapi kenapa hari ini ponselnya mati dan nggak bisa dihubungi," ucap Rehan.
"Sudah, sudah! Kita positif thinking aja. Siapa tahu ponsel Darren kehabisan daya dan lupa untuk mengisinya kembali. Kalian kan tahu sendiri bagaimana sifat lupa Darren jika sudah berada di kantor, showroom, galeri." Darel berucap sambil mengingatkan akan sifat dan kebiasaan Darren.
Mendengar perkataan dari Darel membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry dan Rehan menganggukkan kepalanya. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Darel tentang Darren.
"Ya, mungkin saja ponsel Darren kehabisan daya. Dan aku yakin jika Darren merasa bersalah saat ini karena tidak bisa menghubungi kita semua," pungkas Qenan.
__ADS_1
***
Di sebuah rumah mewah yang terletak sekitar 20 kilo meter dari lokasi jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh Erland terlihat seorang pemuda yang berwajah tampan.
Pemuda itu saat ini berada di ruang kerjanya. Dia tengah memikirkan sebuah ide licik untuk membalaskan dendamnya terhadap orang yang sudah membuat dirinya kehilangan ayahnya.
Pemuda itu akan membuat musuhnya itu merasakan bagaimana rasanya dilupakan ayah kandung sendiri.
Pemuda itu bahkan akan membuat musuhnya itu menangis setiap hari ketika ayahnya tak mengingatnya. Dan lebih parahnya, pemuda itu akan membuat ayahnya hanya ingat dengan anggota keluarganya saja.
"Tunggu pembalasanku, Darrendra Smith! Aku akan menghancurkanmu melalui ayahmu. Dan aku juga akan merebut semua milikmu," ucap pemuda dengan memain-mainkan gelas yang berisi wine di tangannya.
"Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel. Kalian juga akan bernasib sama seperti Darren! Tunggulah kedatanganku. Aku akan menghancurkan kalian dengan merebut milik kalian. Kali ini aku pastikan kalian benar-benar hancur."
Ketika pemuda itu tengah memikirkan rencana untuk membalaskan rasa sakitnya terhadap Darren dan ketujuh sahabatnya, tiba-tiba seseorang datang mengganggunya.
"Maaf, tuan!"
"Ada apa?"
"Laki-laki itu sudah sadar dari komanya. Apa tuan tidak ingin melihatnya?"
Seketika terukir senyuman manis di bibir pemuda itu ketika mendengar kabar dari orang yang telah merawat seorang pria di kediamannya.
"Baiklah. Bawa aku kesana."
"Mari tuan!"
Pemuda dan orang itu pun langsung pergi meninggalkan ruang kerja pemuda tersebut untuk menuju dimana pria yang telah diselamatkan oleh beberapa anak buahnya berada.
^^^
Kini pemuda itu sudah berada di ruang rawat pria itu. Seketika terukir senyuman di sudut bibirnya ketika melihat pria itu telah bangun setelah tak sadarkan diri selama lima hari.
"Siapa kamu? Dimana saya?" tanya pria itu.
"Anda berada di kediaman saya. Kalau saya boleh tahu, siapa nama anda?" tanya pemuda itu dengan menatap wajah pria itu.
"Nama? Saya tidak tahu siapa saya. Kenapa saya ada disini? Apa yang terjadi?"
"Eeemm! Sempurna! Pria ini tidak mengingat namanya," batin pemuda itu.
"Apa anda punya keluarga?"
"Saya tidak tahu," jawab pria itu.
"Baiklah. Untuk saat ini anda harus istirahat yang cukup. Setelah itu, saya akan mencari tahu siapa anda dan dimana keluarga anda."
"Terima kasih," ucap pria itu.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, pemuda itu pun pergi meninggalkan ruang rawat pria itu.
"Permainan akan segera dimulai, Darren!" batin pemuda itu.