KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kemarahan Darren Dan Jerry


__ADS_3

Kini tersisa Agneta, keempat kakaknya dan kelima adik-adiknya. Apakah Darren akan bersedia memaafkan mereka?


Dan mereka yang belum mendapatkan maaf dari Darren berusaha untuk sabar. Apapun hasilnya nanti yang jelas saat ini mereka akan berusaha menjadi ibu, kakak dan adik yang baik untuk Darren.


Setelah puas memeluk putranya, Erland pun melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah tampan sang putra.


Erland tersenyum." Terima kasih, sayang." Erland mencium kening dan kedua pipi putranya.


Setelah itu, Darren menata ketujuh sahabatnya.


"Axel," panggil Darren.


"Iya," jawab Axel.


"Apa kata Dokter? Aku tidak apa-apa kan?" tanya Darren.


Axel tersenyum evil. Darren yang melihat senyuman mencurigakan dari Axel langsung memberikan pelototan.


"Ini bukan waktunya untuk menjahiliku, Yonantan Axel Immanuel!"


"Hehehe. Kau benar-benar pintar bisa mengetahui rencanaku, anak kelinci! Baiklah aku mengalah," sahut Axel.


Darren mendengus kesal. Sementara yang lainnya tersenyum gemas melihat keduanya. Apalagi saat mendengar ucapan Axel untuk Darren.


"Kamu tidak apa-apa. Tidak ada luka serius. Hanya kepala dan kaki kamu saja yang sakit," sahut Darka.


"Dan kamu juga boleh pulang. Kamu tidak perlu dirawat," ucap Gilang menambahkan.


"Benarkah, kak Gilang?" tanya Darren dengan senyuman manisnya.


"Hm." Gilang mengangguk.


"Hah! Syukurlah," gumam Darren.


Mereka yang mendengar gumaman Darren hanya bisa geleng-geleng kepala dan juga gemas.


"Kita harus ke Shoowroom sekarang. Aku harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga," ucap Darren dingin dan datar.


Seketika raut wajah Darren berubah. Yang tadinya seperti bayi yang menggemaskan. Sekarang berubah menjadi sosok yang mengerikan.


"Tapi, Ren." Rehan menyela.


"Tidak, Han. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Aku tidak bisa tenang sebelum menyelesaikannya. Hari ini aku dan Jerry lolos dari maut. Besok atau besoknya, kita belum tentu bisa lolos. Kalau kita membiarkan masalah ini, aku takutnya akan ada masalah lagi di Shoowroom ku. Aku yakin ada pengkhianat di Shoowroom," ucap Darren.


Setelah mengatakan hal itu, Darren langsung turun dari tempat tidurnya. Saat kakinya menginjak lantai, tiba-tiba Darren berteriak.


"Aakkhhh!" Darren meringis merasakan sakit di pergelangan kakinya.


"Ren."


"Darren."


"Sayang."


"Ach! Aku tidak apa-apa," ucap Darren.


"Kamu yakin?" tanya Erland.


"Hm." Darren mengangguk.


"Kakak gendong saja ya," tawar Gilang.


"Kak Gilang, aku bisa jalan. Kakiku tidak apa-apa. Beneran! Tadi hanya kaget saja saat aku menginjak lantainya," jawab Darren.


"Ya, sudah! Kalau kamu merasakan sakit bilang sama kakak, oke!" ucap Darka.


"Hm." Darren lagi-lagi mengangguk.

__ADS_1


Mereka semua tersenyum. Mereka tidak ingin terlalu memaksakan kehendak mereka kepada Darren. Mereka hanya ingin Darren merasa nyaman saat diperlakukan oleh mereka semua.


^^^


Kini mereka sudah berada di parkiran. Mereka semua bersiap-siap untuk masuk ke dalam mobil. Saat Darren ingin masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Darka bersuara.


"Darren."


"Iya, kak Darka."


"Apa kami boleh ikut ke Shoowroom nya kamu?" tanya Darka.


Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Dapat Darren lihat di wajah mereka semua jika mereka ingin sekali ikut ke Shoowroom.


"Darren." Itu Gilang.


"Hah!" Darren menghela nafasnya.


"Baiklah. Kalian boleh ikut."


Baik Darka, Gilang, Erland dan anggota keluarganya tersenyum bahagia.


"Yeeeyyy! kita akan ke Shoowroom nya kakak Darren!" teriak Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin dengan semangat.


"Ayo!" seru Darren.


Mereka semua memasuki mobil masing-masing. Setelah itu mereka semua pun meninggalkan rumah sakit.


***


[SHOOWROOM BMWX]


Mereka semua telah sampai di SHOOWROOM milik Darren. Saat mereka memasuki ruangan yang ada di SHOOWROOM tersebut, anggota keluarga Smith tak henti-hentinya menatap takjub dan kagum isi SHOOWROOM tersebut. Gedung yang besar, mewah dan terlihat beberapa mobil-mobil mewah yang berjejer rapi disana.


"Waah! Shoowroom kakak Darren benar-benar luas dan mewah!" seru Melvin.


Erland, Darka, Gilang, Davin, Andra, Dzaky dan Adnan tersenyum bahagia dan juga bangga akan Darren.


"Darren. Kakak benar-benar bangga padamu," batin Darka.


"Darren, kau adiknya kakak yang paling hebat dan berbakat," batin Gilang.


"Papa bangga padamu, sayang!" batin Erland.


Darren terus melangkah menuju ruang kerjanya disusul oleh ketujuh sahabatnya dan anggota keluarganya. Bahkan saat para karyawan-karyawannya yang menyapa, Darren tidak peduli sama sekali. Dirinya hanya ingin segera sampai di ruang kerja miliknya.


^^^


Kini Darren dan yang lainnya sudah berada di ruang kerja.


Saat berada di ruang kerja Darren. Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan melihat foto wanita yang sangat mereka cintai yang terpajang di dinding di belakang meja kerja Darren.


"Belva."


"Mama."


"Kak Belva."


Darren yang melihat wajah sedih anggota keluarganya hanya bisa diam.


Darren memang sengaja meletakkan foto Ibu kandung di setiap ruangan pribadinya. Baik itu di kantor maupun di rumahnya.


Setelah beberapa detik menatap wajah sedih anggota keluarganya, Darren menatap wajah para sahabatnya.


"Dylan, Axel, Jerry."


"Iya, Ren."

__ADS_1


"Bawa dua tim kalian kemari."


"Baiklah."


Lalu Jerry, Axel dan Dylan pergi keluar untuk membawa dua tim mereka masing-masing.


Darren melangkah kearah dimana foto Ibunya berada. Darren kemudian menekan bagian sisi kanan bingkai foto tersebut.


KLIK!


Setelah terbuka, Darren menariknya sehingga terlihat sebuah dinding terbuka. Mereka yang melihat hal itu lagi-lagi menatap kagum.


Darren melangkah masuk. Begitu juga dengan yang lainnya. Terlihat di dalam ruangan itu banyak alat-alat komputer dan kamera pengintai.


"Selamat datang, Bos!" sapa sebuah server.


"Hallo, Shane."


"Ada yang bisa saya bantu, Bos."


"Perlihatkan semua rekaman kamera pengintai yang terpasang di setiap sudut ruangan di Shoowroom tiga hari yang lalu, Shane!"


"Baik, Bos."


Lalu server tersebut memperlihatkan rekaman aktivitas tiga hari yang lalu kepada Darren.


Beberapa detik kemudian, terlihat di beberapa kamera. Mulai dari seseorang yang mendatangi Shoowroom sampai berakhirnya pengkhianatan.


Baik Darren maupun sahabat-sahabatnya terlihat marah.


"Brengs*k! Ternyata kau sudah mulai bertindak, Samuel Frederick. Ini yang kedua kalinya kau menyerangku. Hahahaha... Kau benar-benar bodoh dan juga ceroboh. Kau pikir aku tidak bisa mengenali orang utusanmu itu, hum! Aku sudah tahu cara mainmu dan aku sudah tahu seperti apa ciri dari orang-orangmu itu," batin Darren saat melihat orang yang saat ini sedang berbicara dengan empat karyawannya.


"Dan untuk kalian. Tunggu apa yang menanti kalian," batin Darren lagi.


"Jadi mereka yang sudah mensabotase mobil-mobil itu!" seru Jerry saat melihat rekaman tersebut.


"Brengs*k!" ucap Dylan penuh marah.


Setelah melihat rekaman-rekaman itu, Darren kembali keluar.


Kini mereka sudah berada di ruang kerja Darren.


"Mereka mensabotase empat mobil. Dengan kata lain, mereka sudah merusak empat mobilku. Rencana awalnya, kita akan melakukan uji coba tersebut satu hari penuh dengan jumlah 14 mobil. Namun tiba-tiba aku merubah rencananya. Aku bagi menjadi dua hari. Dihari pertama kita membawa 7 mobil, termasuk mobil yang sudah disabotase oleh mereka. Dan mobil itu mobil yang akan dipakai oleh Jerry. Saat di sirkuit, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku meminta tukaran dengan Jerry. Mungkin aku memiliki firasat yang buruk terhadap mobil tersebut. Dan ternyata benar. dua puluh menit kemudian terjadi sesuatu pada mesinnya, terutama saat aku menginjak rem mobilnya. Rem tersebut tidak bisa diinjak sama sekali. Karena aku yang memodifikasi mobil itu, maka aku bisa mengendalikannya sebelum mobil itu meledak. Ditambah lagi saat Haneul yang bertugas memantau di komputer memintaku untuk segera melompat keluar dari dalam mobil. Sebelum melompat aku sudah menonaktifkan pengendalinya sehingga mobil itu berhenti dan meledak," tutur Darren.


"Jika saja saat itu Jerry yang ada di mobil tersebut. Kemungkinan Jerry tewas seketika dalam ledakan itu," ucap Darren lagi.


"Brengs*.k!" teriak Qenan dan Willy.


"Mereka benar-benar keterlaluan." Dylan dan Axel sudah benar-benar marah terhadap empat karyawan tersebut.


Sementara Jerry hanya diam sembari tangannya mengepal kuat. Tersirat amarah dari tatapan matanya.


PUK!


Darren menepuk pelan bahu Jerry. "Kau tenang saja, Jerry. Aku akan memberikan wewenang untuk memberikan hukuman pada mereka. Kalau perlu kita akan menghabisi mereka," ucap Darren dengan aura iblisnya.


Seketika terukir senyuman di bibir Jerry. Lebih tepatnya senyuman iblisnya.


"Apa kita bisa menggunakan tiga mobil itu untuk bermain-main dengan mereka?" tanya Jerry.


"Tentu. Kenapa tidak? Kita akan meminta mereka untuk mengendarai tiga mobil itu di uji coba besok. Kita akan buat mereka tidak akan bisa keluar atau pun melompat dari dalam mobil itu. Aku akan merubah sedikit mesin mobil dan pintu mobilnya. Kau tahukan apa yang terjadi jika mereka tidak berhasil melompat?" ucap dan tanya Darren.


"Tentu. Mereka akan mati dalam ledakan tersebut," jawab Jerry.


Setelah itu, keduanya tersenyum. Anggota keluarganya yang melihat senyuman Darren dan Jerry bergidik ngeri. Serta sekujur tubuh mereka merinding saat mendengar percakapan keduanya.


Sementara Axel, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy hanya bersikap biasa saja. Mereka juga sama seperti Darren dan Jerry. Sama-sama kejam dan bersikap seperti iblis jika berhadapan dengan para musuh.

__ADS_1


__ADS_2