
Semuanya sudah berada di ruang rawat Darren termasuk Qenan dan Willy. Keduanya juga sudah diobati luka-luka yang ada di tubuhnya ketika keduanya sedang tidak sadarkan diri.
Semuanya menatap sedih kearah Darren yang masih memejamkan matanya. Wajahnya tampak sedikit pucat.
Flashback On
"Bagaimana Celsea?" tanya Erland menatap penuh harap kearah Celsea.
Semuanya menatap kearah Celsea. Mereka ingin jawaban yang memuaskan dan juga jawaban yang membuat hati bahagia.
"Mama."
"Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan apa yang aku alami selama di ruang operasi. Tapi kabar yang akan aku sampaikan kepada kalian semua terutama keluarga Smith adalah kabar membahagiakan dimana kondisi Darren baik-baik saja."
Seketika semua tersenyum bersamaan dengan air mata jatuh membasahi pipi mereka masing-masing ketika mendengar ucapan dari Celsea mengenai kondisi Darren.
"Bibi Celsea," ucap Darka dengan air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Iya, sayang. Adik kamu baik-baik saja. Tidak ada luka serius, walau banyak luka tembak di tubuhnya. Jantungnya juga baik-baik saja. Bahkan kondisi jantung Darren jauh dari kata baik. Jantungnya Darren sama seperti kita sekarang. Kuat dan tidak lemah lagi seperti yang dia rasakan selama ini."
Semuanya kembali tersenyum bahkan mereka semua berulang kali berucap syukur akan kondisi Darren.
"Benarkah itu Bibi?" tanya Gilang dengan wajah sumringahnya.
"Benar sayang."
"Dari hasil pemeriksaan. Peluru-peluru tersebut sama sekali tidak melukai Darren. Semua peluru itu hanya menempel di bagian kulit lapisan pertama manusia. Manusia itu memiliki beberapa lapisan kulit di bagian tubuhnya. Anggap saja ada empat lapisan. Nah, peluru itu mengenai lapisan pertama saja."
"Apa ini ada campur tangannya Rendra?" tanya Qenan seketika.
Mendengar pertanyaan dari Qenan membuat semuanya menatap kearah dirinya.
"Aku lihat dengan jelas bagaimana Rendra menahan semua peluru-peluru itu. Dan ketiga Nicko Dilbara kehabisan peluru, barulah Rendra membunuhnya," sahut Qenan.
"Rendra bahkan meminta maaf kepadaku dan Enzo karena sudah melukai Darren," ucap Ziggy.
"Jika Rendra yang membantu Darren selamat dari luka tembak itu. Jika Rendra yang membuat jantung Darren sembuh. Berarti Rendra....." perkataan Willy seketika terhenti. Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya.
Mendengar ucapan dari Willy membuat semua orang langsung mengerti arah ucapan Willy tersebut. Jika hal itu benar terjadi, sudah bisa dipastikan Darren akan bersedih karena kehilangan sosok Rendra yang selama ini berada di dalam tubuhnya.
"Jika benar Rendra mengorbankan nyawanya demi melindungi Darren. Ini satu pukulan keras untuk Darren. Darren pasti akan terpukul harus kehilangan sosok Altar Ego nya," ucap Hendy.
"Kau benar Hendy. Sosok Rendra sudah lama berada di tubuh Darren. Walau kita tidak tahu sudah berapa tahun sosok Rendra itu ada dalam tubuh Darren. Pasti ini sangat berat untuk Darren," ucap Dellano.
"Baiklah. Aku akan memindahkan Darren ke ruang rawatnya. Kalian bisa melihatnya disana," ucap Celsea.
__ADS_1
"Baiklah."
Flashback Off.
"Ren," lirih Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
"Sayang," ucap Erland dan Agneta sembari mengecup kening Darren secara bergantian.
Cklek..
Pintu dibuka oleh seseorang sehingga membuat orang-orang yang ada di dalam langsung melihat kearah pintu. Mereka melihat lima orang melangkah masuk.
"Kak Agneta!"
"Paman Brian!" seru Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
Agneta langsung melangkahkan kakinya mendekati laki-laki yang memanggilnya barusan. Air matanya mengalir begitu saja ketika melihat laki-laki yang dia sayangi di dunia ini.
"Brian."
Grep..
Brian langsung memeluk tubuh kakak perempuannya. Dia tahu bahwa kakak perempuannya ini tengah ketakutan.
"Darren.. Hiks."
"Tidak Brian... Tidak! Kakak, Kakak iparmu dan keponakan-keponakan kamu yang lainnya tidak lagi menyakiti Darren. Kami bahkan menjaga dan menyayangi Darren layaknya seorang pangeran di keluarga Smith."
"Lalu kenapa Darren bisa masuk rumah sakit? Kak Belva pasti saat ini menangis diatas sana karena harus melihat putra bungsunya kembali masuk rumah sakit," ucap Brian dengan tatapan matanya menatap kearah Darren.
"Paman, percayalah pada kami! Dulu kami pernah melakukan kesalahan dengan menyakiti Darren. Tapi setelah kejadian itu, kami tidak lagi menyakiti Darren, Paman! Justru sebaliknya, kami menyayangi Darren!" seru Andra.
"Jika dulu kami gagal menjadi kakak untuk Darren. Sekarang kami sudah melakukan tugas-tugas kami dengan menjadi kakak yang baik, kakak yang penuh cinta, kakak yang perhatian dan kakak yang selalu ada untuk Darren!" ucap Dzaky menambahkan.
"Iya, Paman! Itu benar. Kami tidak menyakiti Darren lagi. Percayalah!" sahut Adnan yang menatap kearah Brian.
"Sayang," ucap Delia sembari tangannya mengusap-usap lembut punggung suaminya.
Berlahan Brian melepaskan pelukannya. Kemudian Brian menatap wajah basah kakak perempuan satu-satunya saat ini.
"Maafkan aku yang sempat meragukan kakak. Aku seperti ini karena aku memiliki ketakutan. Ketakutan dimana kalian kembali menyakiti Darren. Dia anak yang baik. Tidak sepantasnya anak sebaik Darren tidak pantas untuk disakiti," ucap Brian.
"Kakak mengerti. Maafkan kesalahan kakak yang dulu pernah menyakiti Darren."
"Aku sudah memaafkan kesalahan kakak. Di dunia ini hanya kakak keluargaku satu-satunya yang tersisa. Papa, Mama dan kak Belva sudah pergi meninggalkan kita. Selama kita masih bernafas, kita harus saling menjaga dan melindungi satu sama lainnya. Jangan ada pertengkaran apapun dalam hubungan persaudaraan kita. Baik aku dengan kakak, aku dengan kak Erland maupun kakak dan kak Erland terhadap keluarga kecilku."
__ADS_1
Agneta, Erland dan putra-putranya langsung menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa apa yang dikatakan oleh Brian adalah hal yang benar. Begitu juga dengan Delia dan ketiga anak-anaknya.
Sementara orang-orang yang ada di dalam ruangan rawat Darren tersenyum bangga akan ucapan demi ucapan dari Brian. Mereka meyakini bahwa Brian begitu menyayangi kakak perempuannya dan semua keponakannya.
Keluarga Radmilo yang sejak tadi memperhatikan Brian tanpa sadar mereka menangis. Akhirnya mereka dipertemukan dengan putra dari mendiang adik perempuannya/neneknya/Bibinya.
"Apa kamu hanya memeluk kakak perempuanmu saja? Apa kamu tidak ingin memeluk kakak iparmu ini, hum?" tanya Erland menyindir Brian.
Brian seketika tersenyum karena mendapatkan sindiran keras dari kakak iparnya itu. Kemudian Brian melangkah mendekati kakak iparnya itu yang saat ini berdiri di samping ranjang keponakan kelincinya.
Sementara Agneta memeluk adik iparnya dan ketiga keponakannya secara bergantian.
"Bagaimana keadaan kak Erland sekarang? Aku perhatikan kak Erland kurus sekarang," ucap dan tanya Brian.
"Kakak baik-baik saja, walau pernah beberapa kali jatuh sakit."
"Apa kakak terlalu memaksakan diri ketika di kantor?"
"Tidak juga. Tapi ini ada hubungannya dengan Darren, keponakan kamu itu."
"Darren? Kenapa?"
"Sejak hubungan kakak dengan Darren membaik, apalagi ketika kakak mengetahui Darren yang memiliki masalah di jantungnya. Sejak itulah kakak berusaha menjadi ayah yang baik, ayah yang penuh cinta, ayah yang perhatian, ayah yang mengerti keadaannya dan ayah yang akan setiap hari memanjakannya. Setiap kali kakak maupun yang lainnya tidak mendapatkan kabar dari Darren, kakak langsung kepikiran Darren. Sebelum mendapatkan kabar dari Darren, maka kakak tidak akan makan sama sekali."
Erland berucap sembari tangannya mengusap lembut kepala putranya itu.
"Kakak selalu merasakan ketakutan setiap melihat Darren merasakan kesakitan dan setiap melihat Darren masuk rumah sakit. Kakak takut jika Darren pergi meninggalkan kakak untuk selamanya. Jika hal itu terjadi, hidup kakak akan benar-benar hancur, Brian! Belva pergi dalam keadaan sakit kanker. Darren pergi dalam keadaan sakit di jantungnya. Dan kakak sebagai suami sekaligus ayah yang tak berguna sama sekali. Kakak kembali mengalami kegagalan. Gagal melindungi salah satunya."
Erland menangis mengatakan semua itu di hadapan adik iparnya. Dia benar-benar merasakan ketakutan saat ini. Dia tidak ingin kehilangan lagi. Jika ada yang pergi, dia berharap bahwa dirinya yang harus pergi bukan Darren.
Grep..
"Kakak Erland adalah suami sekaligus ayah yang baik dan ayah yang penuh cinta. Kakak Erland tidak pernah gagal dalam melakukan tugas-tugas kakak sebagai suami dan sebagai ayah. Untuk Darren! Darren masih bersama kita sampai saat ini. Darren bertahan di dunia ini demi kita keluarganya. Darren menyayangi kita semua. Dan Darren juga menyayangi semua orang-orang yang ada di sekelilingnya."
Brian melepaskan pelukannya lalu tatapan matanya menatap kearah keponakan kesayangannya. Kemudian tangannya bergerak mengusap-usap lembut pipi putih Darren. Dan tak lupa, Brian memberikan ciuman di keningnya.
"Hei, sayang. Ini Paman Brian. Paman sekarang di kota Hamburg. Paman kembali sayang. Sesuai janji Paman sama kamu ketika terakhir kali kita melakukan video call bahwa kamu ingin bertemu dengan Paman dan ingin memeluk Paman. Paman disini sekarang sayang. Bukalah mata kamu. Lihat Paman dan peluklah Paman." seketika air mata Brian jatuh membasahi wajahnya. Hatinya sakit ketika melihat keponakan kesayangan terbaring di tempat tidur rumah sakit.
"Kak Belva, aku mohon sama kakak. Jangan bawa Darren pergi. Biarkan Darren bersamaku dan yang lainnya. Darren masih muda. Masih banyak hal-hal yang lainnya yang belum diraih oleh Darren bersama sahabat-sahabatnya. Ditambah lagi, biarkan Darren merasakan kebahagiaannya bersama kekasihnya. Aku tahu dari kak Agneta bahwa Darren sudah memiliki kekasih." Brian berucap di dalam hatinya sembari tangannya mengusap-usap punggung tangan Darren dan sesekali menciuminya.
Tanpa diketahui oleh Brian dan Erland. Dan hanya satu orang yang menyadarinya. Orang itu melihat dengan jelas.
"Lihatlah! Itu kakak Darren menangis!" seru Melvin yang melihat air mata kakak kesayangannya itu mengalir.
Baik Erland, Brian maupun semua orang yang ada di ruang rawat Darren melihat kearah Darren. Lebih tepatnya melihat kearah mata Darren. Dan benar saja, Darren menangis. Air matanya mengalir di sudut matanya.
__ADS_1
"Darren!" mereka semua memanggil Darren.