
Maura, Riana, Brenda dan Riana saat ini tengah bermain-main dengan Naftali, Dafni dan Lucy. Mereka secara bergantian menyakiti ketiga kakak beradik tersebut.
Brenda menampar wajah Naftali sehingga membuat wajah Naftali merah dan sudut bibirnya berdarah.
"Kenapa lo diam, hah?! Tadi aja lo berani lawan gue. Sekarang kemana perginya nyali lo!" bentak Brenda.
"Palingan nyalinya hanya seujung kuku doang, Brenda! Dia dan kedua adik perempuannya berani ketika kedua orang tuanya tengah berkuasa. Nah, sekarang kan kedua orang tuanya udah kalah."
Riana berbicara sambil tangannya memegang rambut Naftali, lalu menariknya.
"Akkhhh!" teriak Naftali kesakitan.
Naftali berteriak merasakan sakit di kepalanya.
"Kak Naftali!" teriak Dafni dan Lucy mellihat kakaknya disakiti.
"Diam kalian!" bentak Maura.
Maura memberikan dua tamparan keras di wajah Dafni dan Lucy. Dia benar-benar marah aka sikap sombong keduanya.
"Ini akibatnya jika berani mengusik keluarga Wilson. Jangan kalian pikir kami anak-anak dari Antonio Wilson dan Liana Wilson takut. Kami tidak pernah takut dengan hal apapun. Selama kami benar, maka kami akan lawan orang-orang yang mencari masalah dengan kami." Maura berbicara dengan tangannya mencengkram kuat dagu Dafni dan Lucy secara bersamaan.
Brenda memberikan tamparan kepada Naftali. "Itu untuk ibuku yang telah disakiti oleh ayahmu," ucap Brenda.
Riana memberikan tamparan di wajah Dafni. "Ini untuk ibuku karena ibumu telah mengkhianati ibuku dengan merebut ayahku," ucap Riana.
Maura juga melakukan hal yang sama seperti kedua adiknya dengan memberikan tamparan ke wajah Lucy. "Ini untuk ibuku yang sudah menyebut ibuku sebagai perempuan murahan dan perempuan rendahan," ucap Maura.
Maura, Riana dan Brenda secara bersamaan memberikan masing-masing tiga tamparan di wajah Naftali, Dafni dan Lucy. Ketiganya menatap marah Naftali, Dafni dan Lucy.
Naftali, Dafni dan Lucy mendapatkan tamparan dari ketiga Wilson bersaudara hanya bisa diam, menangis dan merasakan perih di wajahnya. Ketiganya tidak menyangka jika hidupnya akan berakhir seperti ini.
Raya menarik kuat rambut Naftali, Dafni dan Lucy secara bergantian sehingga membuat ketiganya berteriak kesakitan dan kepala ketiganya mendongak ke atas.
"Itu untuk ayahku yang telah dibunuh oleh ayah kalian!" teriak Raya.
"Gara-gara perbuatan ayah kalian. Aku tidak mendapatkan kasih sayang, perhatian, pelukan dan kecupan di keningku dari ayahku. Saat ayah kalian menghabisi ayahku, aku saat itu masih kecil. Dan aku saat itu belum tahu apa-apa!" teriak Raya.
Raya menangis ketika mengatakan kata-kata itu. Tubuhnya bergetar ketika mengingat pelukan terakhir ayahnya ketika dirinya berumur 4 tahun. Ayahnya meninggal ketika dirinya berumur 4 tahun. Dan Brenda berumur 10 tahun. Walaupun saat itu usia Brenda masih 10 tahun, tapi Brenda masih ingat kematina ayahnya. Brenda memiliki daya ingat yang cukup kuat. Dan Brenda juga termasuk anak yang jenius sama seperti Darren.
Melihat adik perempuannya menangis. Maura langsung mendekati adik perempuannya itu, lalu Maura memberikan pelukan kepada adik perempuannya itu.
"Kak Maura... Hiks," isak Raya di pelukan kakak perempuannya.
"Semuanya sudah berakhir, oke! Papa sekarang sudah tenang dan bahagia diatas sana karena kita anak-anaknya sudah membalaskan kematiannya. Kemungkinan saat ini kedua manusia yang nggak punya hati itu tengah merasakan neraka dunia dari kedua kakak laki-laki kamu." Maura menghibur adik perempuannya dengan tangannya mengusap-ngusap lembut punggung adik perempuannya.
^^^
Di lantai bawah di ruang tengah dimana Rangga dan Barra tak henti-hentinya memberikan pukulan dan tendangan kepada Charlie. Keduanya melampiaskan amarah dan dendamnya atas kematian ayahnya.
Bagh! Bugh!
Duagh! Duagh!
Sementara Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan hanya berdiam di posisinya dengan menatap kearah dimana Rangga dan Barra memberikan penyiksaan kepada Charlie.
Menurut Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan. Lebih menarik menjadi penonton ketimbang jadi pemain. Mereka tersenyum bahagia ketika melihat Rangga dan Barra yang terus menerus memberikan pukulan dan tendangan di seluruh tubuh Charlie dan mendengar teriakan kesakitan dari Charlie. Serta teriakan dan tangisan dari Soraya yang meminta Rangga dan Barra untuk menghentikan aksinya.
"Sudah cukup! Hentikan. Jangan pukuli suamiku lagi," mohon Soraya.
Soraya mendekati Rangga dan Barra yang saat ini dipegang oleh anggota mafioso Zoya.
"Rangga, hentikan. Aku mohon," ucap Soraya dengan memegang tangan Rangga.
Rangga menatap marah kearah Soraya, lalu tangannya langsung mendorong kuat tubuh Soraya sehingga membuat Soraya jatuh tersungkur di lantai.
"Jangan ikut campur!" bentak Rangga.
__ADS_1
Setelah itu, Rangga kembali menghajar Charlie secara membabi buta. Akal sehat Rangga saat ini telah hilang. Yang ada sekarang ini adalah Rangga ingin melenyapkan orang yang telah menghabisi ayahnya. Begitu juga dengan Barra.
Barra tak jauh beda dengan kakak laki-lakinya. Dirinya dua kali lipat kejamnya dibandingkan kakak laki-lakinya itu.
Sementara untuk Liana. Liana saat ini berada di dalam kamarnya. Liana menangis sembari menatap bingkai foto dirinya dan suaminya.
Liana menangis sambil mengadukan kepada suaminya apa yang terjadi saat ini di rumahnya.
"Charlie... Hiks," isak Soraya ketika melihat kondisi suaminya.
"Rangga, Barra. Aku mohon hentikan!"
Di ruang tengah itu juga ada Zoya. Sama halnya dengan Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan. Zoya hanya menatap Charlie yang dihajar secara brutal oleh Rangga dan Barra. Tidak ada satu pun dari mereka yang akan menghentikan aksi kedua kakak beradik itu.
Soraya menatap kearah Darren. Soraya berharap jika dirinya memohon kepada Darren mungkin Darren akan mengabulkannya.
Soraya tiba-tiba bersimpuh di hadapan Darren sehingga membuat Darren terkejut. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel, Rehan dan Zoya.
"Aku mohon padamu. Tolong bujuk Rangga dan Barra. Katakan pada mereka untuk berhenti menyiksa suamiku. Lebih baik kalian bawa kami ke kantor polisi dari pada kami disiksa seperti ini," ucap Soraya sembari memohon di hadapan Darren. Dan jangan lupakan kedua tangannya dilipat di hadapan Darren.
"Bawa kami ke kantor polisi. Hentikan siksaan ini. Aku mohon padamu," ucap Soraya lagi.
Darren menatap iba Soraya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel, Rehan dan Zoya.
Darren melihat kearah Rangga dan Barra. Setelah itu, Darren melangkah mendekati kedua kakak laki-laki dari kekasihnya.
"Kakak Rangga, kakak Barra!"
Rangga dan Barra langsung menghentikan aksinya menghajar Charlie. Keduanya melihat kearah Darren.
"Hentikan kakak Rangga, kakak Barra. Sudah cukup kalian menyiksanya. Dia sudah tidak berdaya sekarang. Lebih baik kita serahkan saja bajingan itu ke polisi," ucap Darren.
"Apa yang dikatakan Darren benar Rangga, Barra!" seru Maura yang datang bersama Riana, Brenda, Raya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda. Dan tak lupa mereka menyeret secara kasar Naftali, Dafni dan Lucy.
Setelah tiba di ruang tengah, Maura, Brenda dan Riana mendorong kasar tubuh Naftali, Dafni dan Lucy sehingga tersungkur di lantai.
"Naftali, Dafni, Lucy." Soraya langsung menghampiri ketiga putrinya.
"Maafkan Mami. Mami dan Papi sudah membuat kalian seperti ini," ucap Soraya.
Maura menatap wajah Rangga dan Barra. Dapat Maura lihat bahwa kedua adik laki-lakinya menatap penuh dendam terhadap Paman mereka.
Bagaimana tidak dendam?
Paman yang selama ini ibunya hormati, Paman yang sangat ibunya kagumi dan ibunya sayangi. Ternyata pelaku yang telah menghabisi ayahnya. Bahkan Pamannya dulu pernah berusaha melecehkan ibunya.
"Rangga, Barra. Kak Maura mohon kepada kalian berdua. Hentikan sampai disini. Sudah cukup. Paman Charlie sudah mendapatkan balasannya dari kalian. Kalian tidak perlu lagi menyiksanya. Kita serahkan saja Paman Charlie dan Bibi Soraya ke kantor polisi. Urusan kita sudah selesai dengan mereka. Biar ini menjadi urusan polisi."
"Rangga, Barra. Kak Maura mohon."
Mendengar ucapan dan juga permohonan dari kakak perempuannya membuat Rangga dan Barra langsung melihat kearah kakak perempuannya itu. Terlihat jelas di tatapan mata kakak perempuannya itu tatapan memohonnya.
Melihat tatapan mata kakak perempuannya membuat Rangga dan Barra pun langsung menuruti apa yang dikatakan oleh kakak perempuannya itu.
"Jika bukan karena kakak perempuanku, aku tidak sudi melepaskan kalian. Seharusnya nyawa dibayar nyawa," ucap Rangga.
Salah satu anggota mafioso Zoya datang melapor, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Zoya.
Setelah membisikkan sesuatu di telinga Zoya. Anggota mafiosonya itu pun pergi keluar.
"Darren, polisi datang!" seru Zoya.
Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan langsung melihat kearah beberapa orang yang melangkah masuk menuju ruang tengah.
"Kakak Farraz," ucap Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan bersamaan.
"Bos," sapa Zoya.
__ADS_1
"Apa kabar, Zoya?" tanya Farraz.
"Baik, Bos."
"Apa kakak datang terlambat?" tanya Farraz.
"Tidak. Kakak Farraz datang tepat waktu," jawab Qenan.
Farraz melangkah mendekati Darren yang saat ini berdiri di samping Rangga.
"Ini bukti kejahatan yang dilakukan oleh mereka berdua selama ini," ucap Darren sembari memberikan sebuah flashdisk kepada Farraz.
Farraz menerima flashdisk itu, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Apa laki-laki itu juga sebagai tersangka atas kematian ayahnya Brenda?" tanya Farraz.
"Iya, kakak Farraz. Dialah dalang atas kecelakaan yang menimpa Paman Antonio," jawab Darren dengan menatap kearah Charlie.
"Baiklah," ucap Farraz. "Oh, iya! Kakak ada kabar untuk kalian dan juga untuk keluarga Wilson. Tiga orang yang menjadi eksekusi atas kecelakaan tuan Antonio sudah berhasil ditangkap. Ini semua berkat kerja kerasnya para anggotanya Ziggy." Farraz memberikan kabar tentang tiga laki-laki suruhan Charlie.
Mendengar penuturan dari Farraz membuat Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan tersenyum bahagia. Begitu juga dengan keluarga Brenda. Dan pada akhirnya, pelaku atas kematian Antonio Wilson tertangkap.
"Kalian, bawa mereka ke kantor polisi. Setiba di kantor polisi, masukkan mereka ke dalam tahanan."
"Baik, Kapten!"
Setelah itu, para anak buah dari Farraz membawa pergi Charlie dan Soraya ke kantor polisi.
"Terus bagaimana dengan ketiga anak-anaknya ini," ucap Elsa.
"Kita apakan mereka? Nggak mungkin kan mereka kita biarkan pergi gitu aja," ucap Lenny.
"Jika mereka kita biarkan pergi. Bisa saja mereka kembali menuntut balas," ucap Milly.
"Benar kata Milly. Setidaknya ketiga anaknya Paman Charlie dan Bibi Soraya juga diberikan hukuman," usul Alice.
"Bawa mereka ke kota terpencil yang jauh dari pusat kota dan juga keramaian. Biarkan mereka tinggal disana. Di kota itu mereka bisa hidup dengan baik. Kita akan memberikan satu rumah yang ada di kota itu untuk mereka tempati." Darren berbicara sembari melihat kearah Naftali, Dafni dan Lucy.
"Tidak. Kami tidak mau kesana," ucap Dafni.
"Kami tidak mau tinggal disana," ucap Lucy.
"Tidak ada pilihan lain. Kalian tinggal disana atau kalian ikut bersama kedua orang tua kalian mendengkam dalam penjara seumur hidup," ucap Darren.
Mendengar penuturan dari Darren membuat Naftali, Dafni dan Lucy bungkam. Mereka tidak mau dipenjara. Dan mereka juga tidak mau tinggal di kota terpencil.
"Bagaimana? Apa keputusan kalian?" tanya Brenda.
"Sampai kapan kami akan tinggal disana?" tanya Naftali.
"Tergantung akan sikap dan kelakuan kalian. Selama kalian masih berbuat jahat, selama kalian masih menyimpan rasa iri, cemburu dan suka bersikap buruk kepada semua orang. Selamanya kalian akan tinggal disana," ucap Axel.
"Jika kalian benar-benar tobat. Dan berjanji akan menjadi pribadi yang baik. Maka kalian bisa pergi meninggalkan kota itu. Kalau perlu kami yang akan menjemput kalian kesana," ucap Jerry.
"Anggap saja itu hukuman dari kami untuk kalian bertiga," sela Dylan.
"Sebenarnya kalian itu gadis-gadis yang baik. Disini hanya kedua orang tua kalian saja yang jahat sehingga kalian menjadi seperti ini," ucap Qenan.
Darren melihat kearah Zoya. "Kakak Zoya."
Zoya yang mengerti langsung memerintahkan anggotanya untuk membawa Naftali, Dafni dan Lucy untuk dibawa ke kota terpencil yang berbatasan dengan kota Berlin. Jarak tempuh kesana memakan waktu selama tiga hari tiga malam.
"Kalian, bawa mereka ke kota terpencil yang jaraknya tiga hari tiga malam dari kota Berlin."
"Baik, Prince!"
"Jika mereka bertiga melawan dan berusaha kabur dari kalian. Habisi saja mereka," ucap Darren dengan menatap wajah Naftali, Dafni dan Lucy.
__ADS_1
"Baik!"
Setelah itu, beberapa anggotanya Zoya membawa Naftali, Dafni dan Lucy pergi meninggalkan kediaman Wilson.