KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Mengibar Bendera Perang


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Darren kini berada di rumah keluarganya. Dan saat ini dirinya tengah bersantai di ruang tengah dengan Erica yang berada di pangkuannya.


Di ruang tengah itu, Darren tidak sendirian. Melainkan bersama dengan anggota keluarganya.


"Papa," panggil Erica.


"Ada apa, hum?" tanya Darren sembari mengusap lembut kepala Erica.


"Aku dengar dari Paman Ivan dan Paman Melvin, katanya Papa dan Bibi Brenda pergi kencan kemarin," ucap Erica polos.


Mendengar ucapan dari Erica. Seketika Darren langsung menatap tajam kearah Ivan dan Melvin.


"Ivan, Melvin." Darren menggeram.


Mendengar geramana dan tatapan mematikan dari kakak kesayangannya itu membuat Ivan dan Melvin seketika menelan air ludahnya kasar.


"Mampus. Siluman kelinci ngamuk," batin Ivan.


"Bakal jadi perkedel nih tubuh gue," batin Melvin.


Sementara anggota keluarganya yang melihat wajah takut Ivan dan Melvin tersenyum gemas.


"Vin, kabur yuk!" bisik Ivan di telinga Melvin.


"Hehehehe, kakak Darren!" seru Ivan dan Melvin.


Ivan dan Melvin berdiri dari duduknya, lalu detik kemudian...


"Maaf, kakak Darren. Kita khilaf!"


Ivan dan Melvin langsung berlari menuju kamarnya masing-masing.


Melihat Ivan dan Melvin yang berlari menuju kamarnya masing-masing membuat mereka semua tertawa. Apalagi ketika mendengar ucapan dari keduanya.


Sedangkan Darren hanya bisa menghela nafas pasrahnya akan kelakuan kedua adiknya itu.


"Papa," panggil Erica lagi.


Darren seketika langsung menatap wajah putri angkatnya itu.


"Apa benar yang dikatakan sama Paman Ivan dan Paman Melvin?" tanya Erica.


Darren bingung harus menjawab apa kepada Erica. Dirinya menatap wajah Erica sembari tangannya bermain-main di kepala belakangnya.


"Udahlah, Ren! Ngomong aja sejujur-jujurnya sama Erica," sahut Darka.


"Papa kamu itu kemarin memang sedang pergi berkencan dengan Bibi Brenda, sayang!" ucap Darka.


Mendengar ucapan dari sang Paman membuat Erica makin menatap Darren untuk meminta kejelasan.


"I-iya, sayang! Papa dan Bibi Brenda pergi kencan kemarin," ucap Darren.


Mendengar jawaban dari ayahnya. Seketika Erica memanyunkan bibirnya ke bawah.


"Eh, kenapa?" tanya Darren ketika melihat wajah sedih Erica.


"Papa jahat. Erica masa nggak diajak ketika Papa dan Bibi Brenda pergi kencan," ucap Erica.


Mendengar ucapan dari Erica membuat Darren cengo. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kalau Erica ikut bersama Papa dan Bibi Brenda, bisa-bisa acara kencannya batal, sayang!" seru Darka.


Erica melihat kearah Darka. "Lah. Memangnya kenapa?" tanya Erica dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Erica pengenkan Papa sama Bibi Brenda nikah?"


"Iya. Erica ingin Papa sama Bibi Brenda menikah," jawab Erica.


"Maka dari itu, Erica jangan ikut ketika Papa dan Bibi Brenda sedang pergi kencan," ucap Darka.


Erica menatap wajah ayah angkatnya. "Nggak apa-apa deh Erica di rumah aja ketika Papa sama Bibi Brenda pergi kencan biar cepat nikah."


Mereka semua tersenyum ketika mendengar ucapan dari Erica. Sementara Darren menatap horor kakak aliennya itu.


"Papa kapan nikah sama Bibi Brenda?" tanya Erica.


Darren seketika melotot ketika mendapatkan pertanyaan dari Erica.


"Papa kamu akan menikah bulan depan, sayang!" Darka langsung menjawab pertanyaan dari Erica.


Mendengar ucapan dari Darka. Seketika Erica tersenyum bahagia. Sementara Darren menatap tajam kakaknya itu.


Dan detik kemudian...


Bugh!


Darren melempari bantal sofa kearah Darren. Dan lemparan itu tepat mengenai wajah Darka.


"Jangan ngarang, kakak Darka! Jangan coba-coba merusak pikiran Erica dengan otak mesum kakak itu," ucap Darren kesal.


Sementara Darka tersenyum melihat wajah kesal adiknya itu.


"Erica jangan percaya akan ucapan dari Paman aneh itu," ucap Darren.


"Paman aneh?" tanya Erica bingung.


"Iya, Paman aneh. Tuh orangnya," ucap Darren dengan menunjuk kearah Darka.


"Paman Darka nggak aneh kok, Papa! Menurut Erica Paman Darka itu tampan."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darka ketika keponakan cantiknya memuji ketampanannya.


"Jangan mau ditipu dengan wajah Pamanmu itu. Itu wajah palsu," sahut Darren.


"Hah! Beneran, Papa?" tanya Erica dengan ekspresi wajah terkejut.


"Iya, benar. Papa nggak bohong. Erica pernah lihat manusia dari luar angkasa nggak?"


"Pernah."


"Itulah wajah asli dari Pamanmu itu."


Erica membelalakkan kedua matanya ketika mendengar ucapan dari ayahnya.


Kemudian Erica mengalihkan perhatiannya untuk menatap kearah Darka.


"Paman dosa loh nipu anak kecil kayak Erica," ucap Erica dengan menatap polos Darka.


"Hahahahaha."


Dan pada akhirnya pecah sudah tawa dari anggota keluarga Smith ketika mendengar ucapan dari Erica.


Mereka sudah sejak tadi berusaha menahan tawanya ketika melihat bagaimana usil Darka menjahili Darren dan berakhir Darren membalasnya.


Sementara Darka menatap tajam adiknya itu. Dirinya tak terima kalau wajahnya ini palsu.


Darren yang melihat wajah kesal kakaknya itu tersenyum penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Ketika Darren dan anggota keluarganya tengah berbahagia, tiba-tiba Darren dikejutkan dengan suara ponselnya.


Darren memindahkan Erica ke sofa di sampingnya. Dan setelah itu, Darren mengambil ponselnya yang ada di atas meja.


Darren melihat nama 'Qenan' di layar ponselnya. Tanpa membuang waktu lagi. Darren langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Qenan."


"Hallo, Ren. Lo buruan ke rumah sakit. Sekarang!"


Mendengar perkataan dari Qenan yang memintanya untuk ke rumah sakit seketika membuat tubuh Darren menegang.


"Apa yang terjadi? Siapa yang sakit?"


"Rehan masuk rumah sakit. Rehan dikeroyok beberapa kelompok."


"Apa?!" teriak Darren.


Darren berdiri dari duduknya ketika mendengar Rehan masuk rumah sakit karena dikeroyok.


Melihat Darren yang tiba-tiba berteriak membuat anggota keluarganya ikut panik. Mereka juga ikut berdiri ketika melihat Darren yang tiba-tiba berdiri.


"Apa terjadi sesuatu?" batin mereka semua.


"Bagaimana kondisinya sekarang?"


"Masih di ruang UGD."


"Dari kelompok mana yang telah mengeroyok Rehan?"


Deg!


"Apa? Rehan dikeroyok?" batin anggota keluarga Smith.


"Kita belum tahu pasti mereka dari kelompok mana, Ren! Tapi informasi yang kita dapat bahwa yang mengeroyok Rehan adalah geng motor VAGOS."


"Brengsek! Ternyata mereka sudah mengibarkan bendera perang. Ya, sudah! Aku akan ke rumah sakit sekarang."


"Hm."


Setelah itu, Darren langsung mematikan panggilannya.


"Papa pergi sebentar ya sayang. Papa Rehan masuk rumah sakit. Dan Papa harus kesana."


"Erica ikut. Erica ingin lihat keadaan Papa Han."


"Tidak bisa sayang. Ini sudah malam. Besok saja Erica kesana ya," bujuk Darren.


"Baiklah. Tapi Papa janji ya."


"Iya, sayang." Darren mengecup kening Erica.


Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


"Papa, Mama, Bibi, Paman, Kakak. Aku pergi ya. Titip Erica," ucap Darren.


"Kakak ikut dengan kamu, Ren! Kakak nggak akan tenang membiarkan kamu pergi sendirian dalam kondisi seperti ini," sahut Davin.


"Kakak kamu benar, sayang! Kamu pergi sama Davin ya," mohon Erland.


"Baiklah."


Mereka semua tersenyum mendengar jawaban dari Darren.

__ADS_1


Setelah itu, Davin dan Darren pergi meninggalkan kediaman Smith untuk menuju rumah sakit.


__ADS_2