KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Aksi Curang Seorang Kasir


__ADS_3

Setelah mengikuti tiga materi kuliah. Kini Darren dan ketujuh sahabatnya berada di ruang latihan bela diri. Lengkap dengan para kekasih masing-masing.


Mereka akan menghabiskan waktu sampai jam terakhir mata kuliah disana. Dengan kata lain, Darren dan ketujuh sahabatnya memilih untuk membolos materi kuliah yang terakhir.


"Ren," panggil Rehan.


Darren langsung melihat kearah Rehan. "Iya, Han?"


"Dua anggota organisasi dibawa kepemimpinanku mengusulkan ide buat bakti sosial dengan membagi-bagikan sembako kepada orang-orang yang kurang mampu. Mereka juga mengusulkan untuk memberikan sumbangan ke panti asuhan."


Seketika Darren berpikir ketika mendengar perkataan dari Rehan tentang bakti sosial dan memberikan sumbangan ke panti asuhan.


"Bakti sosial? Memberikan bantuan kepada anak yatim piatu?" batin Darren.


"Ren," panggil Brenda sembari menepuk pundak Darren pelan.


Seketika Darren terkejut, lalu melihat kearah Brenda. Setelah itu, Darren menatap wajah Rehan.


"Bagaimana, Ren?" tanya Rehan.


Baik Rehan maupun yang lainnya dapat melihat ada keraguan di manik coklat Darren.


"Aku akan membuat acara bakti sosial dan memberikan sumbangan serta bantuan kepada panti asuhan," ucap Darren.


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka tersenyum. Namun detik kemudian, senyuman mereka seketika luntur saat mendengar perkataan dari yang selanjutnya.


"Kegiatan ini tidak melibatkan siapa pun. Aku pribadi yang akan melakukannya. Dengan kata lain, aku menggunakan uangku sendiri untuk kegiatan ini. Dengan begitu aku bisa meminta doa dari mereka untuk keselamatan Papa."


Mendengar perkataan dari Darren membuat hati mereka semua sakit. Mereka semua tidak tega melihat kondisi Darren yang beberapa hari ini terus memikirkan ayahnya.


"Lo tidak sendirian, Ren! Ada kita disini," sahut Dylan.


"Gue secara pribadi juga akan buat acara bakti sosial untuk Paman Erland. Bagaimana pun Paman Erland sudah gue anggap sebagai ayah kandung gue sendiri," ucap Darel.


"Gue secara pribadi juga akan mengadakan acara bakti sosial untuk Paman Erland," sahut Jerry.


"Kita-kita juga!" seru Qenan, Willy, Axel, dan Rehan bersamaan.


Seketika air mata Darren jatuh membasahi wajahnya ketika mendengar perkataan dari ketujuh sahabatnya.

__ADS_1


"Terima kasih," lirih Darren.


"Apaan sih, Ren! Tidak perlu nangis gitu. Kita semua ikhlas nolongin lo. Kita ini bukan sekedar sahabat saja. Tapi kita semua ini sudah seperti saudara. Susah senang kita rasakan bersama-sama. Mana mungkin kita membiarkan lo menghadapi masalah lo sendirian," ucap Willy.


"Iya, Ren! Willy benar. Lo jangan merasa tidak enak sama-sama kita-kita. Lo juga selama ini sudah banyak membantu. Bahkan lo rela berkorban demi melindungi keluarga kita," ucap Axel.


"Persahabatan yang kita jalani selama belasan tahun ini bukan hanya sekedar persahabatan biasa. Bukan sekedar untuk tempat bersenang-senang. Melainkan persahabatan kita ini tempat untuk berbagi kesedihan, berbagi kebahagiaan dan tempat curhat!" Qenan berucap.


"Mau itu nangis. Sekali pun lagi bahagia. Kita akan merasakannya bersama-sama," ucap Rehan.


Mendengar ucapan demi ucapan dari para sahabatnya membuat Darren tersenyum bangga. Dirinya benar-benar bersyukur Tuhan memberikan tujuh sahabat terbaik dalam hidupnya.


"Aku juga akan buat acara bakti sosial untuk Paman Erland!" seru Brenda.


Mendengar seruan dari Brenda. Darren langsung melihat kearah Brenda yang duduk di sampingnya.


Brenda seketika tersenyum ketika melihat wajah Darren, kekasihnya.


"Aku melakukan ini karena aku sudah anggap Paman Erland sebagai Papi aku sendiri karena aku sudah tidak memiliki Papi lagi di dunia ini. Dan kamu sudah banyak membantu keluargaku, salah satunya adalah membantu keluargaku membalaskan kematian Papi."


Mendengar perkataan dari Brenda membuat Darren tersenyum dengan tatapan matanya menatap wajah cantik Brenda.


"Aku ikhlas menolong keluarga kamu," ucap Darren.


Mendengar perkataan tulus dari Brenda membuat Darren langsung salah tingkah. Darren seketika membuang wajahnya kearah lain.


"Kau terlalu memujiku, Brenda! Coba kau lihat sekarang ini, hidungku kembang kempis ketika mendengar pujian darimu!" seru Darren.


Mereka semua tersenyum geli ketika mendengar perkataan dari Darren, terutama ketujuh sahabatnya.


Dan pada akhirnya Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan juga menyadari satu hal. Darren, sahabat terbaik mereka paling tidak bisa menerima pujian.


Brenda yang menatap wajah salah tingkah Darren juga ikutan tersenyum. Sama halnya dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan juga. Brenda juga tahu bahwa Darren memang tidak bisa dipuji.


***


Di sebuah supermarket terlihat seorang pemuda tengah berbelanja sesuatu. Pemuda itu adalah Dzaky, kakaknya Darren.


Dzaky menyempatkan diri singgah ke supermarket terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Dirinya ingin membelikan beberapa makanan dan minuman untuk kedua kakaknya dan untuk adik-adiknya.

__ADS_1


Setelah memilih-milih selama beberapa menit sehingga mendapatkan beberapa makanan dan minuman. Dzaky memutuskan untuk ke kasir.


Kini Dzaky sudah berada di kasir dengan urutan antriannya nomor dua. Tak jauh dari hadapannya, terlihat seorang gadis yang mengeluarkan beberapa uang, lalu gadis itu memberikan uang itu kepada seorang kasir.


Dzaky menatap penuh curiga kearah sang kasir itu.


"Ini uangnya kurang. Total belanjaannya $200. Tapi jumlah uangnya hanya $180."


Mendengar perkataan sang kasir membuat gadis itu terkejut. Di dalam hati gadis itu berkata bahwa tadi dirinya sudah benar-benar mengambil uangnya sebesar $200.


"Ah, baiklah."


Melihat apa yang terjadi, Dzaky memutuskan untuk membantu gadis itu.


Dzaky kemudian berjalan menghampiri gadis tersebut. Setiba disana, Dzaky merebut paksa uang yang dipegang oleh kasir itu.


Dzaky menghitung jumlah uang tersebut. Setelah itu, Dzaky pun berkata sambil menatap wajah kasir pria itu.


"Ini jumlah uangnya hanya $160. Tadi anda mengatakan bahwa uangnya berjumlah $180."


"Benarkah?" tanya sang kasir sembari menggaruk-garukkan kepalanya. "Mungkin uangnya terjatuh ke bawah saat sedang menghitung tadi," ucap kasir itu, lalu langsung melihat ke bawah.


Kasir pria itu seketika tersenyum malu sembari memperlihatkan dua lembar uang pecahan $10 di tangannya.


Melihat hal itu membuat Dzaky tersenyum di sudut bibirnya. Sedangkan gadis pemilik uang tersebut menatap bingung sang kasir dan juga Dzaky.


"Oh, iya! Saya juga salah hitung. Tadi uangnya terjatuh di lantai," balas Dzaky, lalu mengambil uang tersebut di lantai dan memperlihatkannya kepada sang kasir.


Melihat hal itu membuat kasir pria itu seketika menundukkan kepalanya karena malu. Sementara Dzaky langsung memberikan uang itu kepada gadis tersebut utuh dengan jumlah $200.


"Lain kali hati-hati. Jangan sampai hal ini terulang lagi."


"Terima kasih."


Setelah itu, Dzaky kembali keantriannya untuk melanjutkan pembayaran barang belanjaannya.


Sementara kasir pria itu mendapat hujatan dan komentar pedas dari beberapa pengunjung supermarket yang melihat kejadian itu.


Para pengunjung tersebut tidak menyangka jika kasir pria itu tega melakukan hal menjijikkan itu kepada pelanggannya. Hanya demi mendapatkan uang lebih, kasir pria itu sampai rela melakukan hal itu.

__ADS_1


"Benar-benar menjijikkan."


Itulah kata-kata yang keluar dari mulut para pengunjung supermarket tersebut.


__ADS_2