KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kekesalan Rehan


__ADS_3

[PERUSAHAAN ACCENTURE]


Saat ini Darren sudah berada di ruang kerjanya. Kebetulan Darren dan sahabat-sahabatnya tidak ada jadwal kuliah pagi ini sampai 4 hari kedepan. Jadi Darren dan sahabat-sahabatnya bisa fokus pada semua jadwal diluar kampus.


Disaat Darren tengah sibuk dengan tugasnya. Disisi lain, Willy dan Qenan tengah mengecek satu persatu pekerjaan para karyawannya. Mulai OPERATOR (OPR), LEADER (LD), FOREMAN (FM), SUPERVISOR (SPV), ASSISTEN MANAGER (AssMan), MANAGER (MGR), DEPUTI GENERAL MANAGER (DGM), GENERAL MANAGER (GM).


"Bagaimana pekerjaan hari ini?" tanya Willy.


"Semuanya dalam keadaan aman, Bos!" jawab salah satu asistennya.


"Mana laporannya?" tanya Qenan.


Lalu karyawan bagian OPERATOR (OPR) menyerahkan laporannya. "Ini Bos. Semua pekerjaan dilakukan dengan sangat baik tanpa cacat sama sekali."


Qenan menerima berkas tersebut, lalu melihat dan membaca isi laporan tersebut. Qenan tersenyum puas.


"Kerja bagus."


Setelah selesai melihat dan membaca laporan tersebut, Qenan menyerahkan pada Willy agar Willy juga bisa melihat dan membacanya.


"Lalu kalian bagaimana?" tanya Willy sambil matanya melirik ke arah karyawan yang menjabat sebagai Leader (LD), Foreman (FM), Supervisor (SPV), Asisten Manager (AssMan), MANAGER (MGR), Deputi General Manager (DGM), General Manager (GM).


Mereka semua pun langsung menyerahkan laporan mereka masing-masing pada Willy dan Qenan.


Willy dan Qenan melihat dan membaca hasil laporan yang diberikan oleh karyawan yang menjabat posisi terpenting di Perusahaan. Mereka berdua sangat puas akan hasil yang diberikan oleh karyawan mereka.


Willy dan Qenan saling lirik, kemudian mereka tersenyum dan mengangguk.


"Kembalilah ke ruangan kalian masing-masing. Nanti berkas-berkas ini akan kami kembalikan setelah PRESDIR membaca dan menandatanganinya," ucap Qenan.


"Baik, Bos!" jawab mereka kompak.


Saat mereka semua ingin kembali ke ruangan masing-masing, tiba-tiba mereka mendengar suara keributan di depan resepsionis. Mereka semua pun mengalihkan pandangannya melihat ke arah wanita itu.


"Maaf, nona. Saya sudah katakan bahwa presdir tidak bisa diganggu. Ditambah lagi nona belum buat janji."


"Saya tidak peduli. Saya datang kesini hanya ingin bertemu dengan calon suami saya. Sekarang biarkan saya masuk!"


"Sekali lagi maafkan saya, nona."


"Brengsek! Kau berani melawan perintahku, hah!" teriak wanita itu.


"Sekali lagi maafkan saya, nona. Saya hanya menjalankan tugas."


^^^


Dari arah lain, Willy dan Qenan memperhatikan memperhatikan wanita tersebut.


"Wil"


"Hm."


"Bukankah itu Helena Orlando!"


"Sepertinya iya."


"Mau ngapain lagi dia?"


"Mungkin ingin merayu Darren lagi agar kembali padanya."


"Aish! Dasar perempuan murahan."


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan membiarkan perempuan busuk itu menemui Darren?"


"Kita kesana. Jangan sampai dia nekat masuk dan menemui Darren."

__ADS_1


Lalu Willy dan Qenan pun menghampiri wanita tersebut.


"Helena Orlando!" seru Qenan dan Willy bersamaan.


Wanita yang namanya dipanggil itu pun terkejut. Kemudian wanita itu mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah Willy dan Qenan.


"Willy, Qenan!" seru Helena.


"Mau apa kau kemari?" tanya Qenan to the point.


"Apa lagi kalau bukan ingin bertemu dengan Darren. Sekarang tunjukkan padaku dimana ruangan Darren?" ucap dan tanya Helena sembari memegang tangan Qenan.


"Jauhkan tangan kotormu itu!" bentak Qenan.


"Ach, maaf!" Helena langsung menyingkirkan tangannya. "Sial. Kasar amat jadi orang. Kalau bukan karena uang. Gue juga ogah bertemu dengan sahabat kalian itu," batin Helena.


"Sudahlah, Helena. Mau apa lagi kau mengganggu Darren. Bukankah kau sendiri yang pergi meninggalkannya dan mengkhianatinya. Apa belum puas kau membohonginya selama ini?" sahut Willy ketus.


"Apa maksudmu, Wil? Aku tidak pernah mengkhianati Darren. Aku masih mencintainya sampai detik ini. Justru aku datang kemari ingin menjelaskan semuanya padanya," jawab Helena.


"Kau pikir kami tidak tahu alasanmu pergi meninggalkan Darren," batin Qenan.


"Kau jangan salah. Darren juga tahu alasanmu meninggalkannya," batin Willy.


"Darren sedang sibuk untuk saat ini hingga 4 hari kedepan. Jangan mengganggunya," sahut Willy.


Setelah mengatakan hal itu, Willy dan Qenan langsung pergi meninggalkan Helena.


Saat Helena ingin mengejar Willy dan Qenan, dua orang satpam langsung menghalanginya.


^^^


Willy dan Qenan sudah berada di ruang kerja Darren. Mereka kini duduk di sofa dengan wajah yang ditekuk.


Darren yang sedari tadi sibuk dengan tugasnya, akhirnya menyelesaikan tugasnya. Setelah itu dirinya bergabung bersama kedua sahabatnya itu di sofa.


"Kami berdua habis bertemu dengan kuntilanak," jawab Willy asal.


"Kau salah, Wil. Dia bukan kuntilanak. Dia itu lebih cocoknya disebut nenek lampir. Kuntilanak saja masih terlihat cantik, walaupun terlihat seram. Sementara dia udah jelek, keriput sok cantik lagi." Qenan menyela perkataan Willy.


Sementara Darren hanya tersenyum mendengar ocehan kedua sahabatnya itu. Darren sudah tahu dari kata 'Dia'.


"Apa kalian bertemu Helena?" tanya Darren.


Sontak Willy dan Qenan langsung menolehkan wajahnya melihat ke arah Darren.


"Jangan perlihatkan wajah jelek kalian seperti itu. Jawab saja pertanyaanku tadi," ucap Darren.


"Hah!" Willy dan Qenan hanya bisa menghela nafas.


"Iya. Kita bertemu dengan wanita sinting itu," jawab Willy.


"Dimana?" tanya Darren.


"Dia ada diluar. Wanita itu berteriak didepan resepsionis dan memaksa untuk bertemu denganmu. Lalu aku dan Willy menghampirinya dan menyuruhnya pergi," jawab Qenan.


"Apa dia sudah pergi?" tanya Darren lagi.


"Tidak tahu. Saat kami pergi dia masih berdiri disana," jawab Qenan.


"Gak tahu kalau sekarang," sela Willy.


"Apa yang akan kau lakukan, Ren?" tanya Willy.


"Apanya?" tanya Darren balik.

__ADS_1


Willy langsung melempari Darren dengan bantal sofa ketika mendengar pertanyaan dari Darren.


"Aakkhhh." Darren meringis. Qenan tersenyum gemas melihat wajah Darren.


"Kenapa kau melempariku dengan bantal sofa, hah?" tanya Darren kesal.


"Kenapa juga kau memberikan pertanyaan padaku saat aku memberikan pertanyaan duluan padamu?" tanya Willy yang juga kesal terhadap Darren.


"Hehehehe." Darren terkekeh.


"Hehehehe." Willy menirukan kekehan Darren dengan wajah merengutnya.


Saat mereka bertiga sedang asyik didunia mereka, tiba-tiba seseorang datang membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


CKLEK!


***


[DARREN GALERI OF ART]


Saat ini Rehan dan Darel sedang sibuk mempersiapkan beberapa keperluan untuk acara pameran lelang lukisan yang diadakan di Pusat Seni Radium.


Sementara lukisan untuk di lelangkan sudah disiapkan. Ada empat lukisan yang akan di lelang.


"Bagaimana, Han?"


"Apanya?"


"Persiapan untuk acara pameran lelang lukisan itu."


"Sudah beres. Kita tinggal nunggu Darren saja."


"Apa kau sudah menghubungi Darren?"


"Sudah. Tapi ponselnya gak aktif. Mungkin Darren sedang sibuk."


"Bagaimana dengan Willy dan Qenan?" tanya Darel.


"Kau ini bagaimana sih. Jika siluman kelinci itu sibuk berarti dua anteknya yaitu sitiang listrik dan si hitam itu juga sibuk," jawab Rehan yang seenak jidatnya.


"Hahaha." Darel tertawa mendengar penuturan dari Rehan sambil menyebut gelar masing-masing dari ketiga sahabatnya itu.


"Jika ucapanmu tadi didengar oleh mereka, habislah kau."


"Tapi kenyataannya mereka tidak dengarkan?"


"Ya.. Ya."


Tiba-tiba Darel tersenyum evil. Dirinya mendapatkan ide untuk menjahili Rehan dikarenakan posisi Rehan saat ini sedang fokus mengecek catatannya.


"Darren, Qenan, Willy. Kalian datang!"


Mendengar ucapan dari Darel. Rehan langsung terkejut. "Matilah kau Han," batin Rehan.


Sementara Darel sudah menahan tawanya.


Dan detik kemudian, Rehan pun berlahan membalikkan badannya untuk melihat ke belakang.


"Darr...." ucapan Rehan terhenti ketika Rehan tidak melihat kehadiran Darren, Willy dan Qenan sama sekali.


Dan seketika tawa Darel pecah. Hal itu sukses membuat Rehan mengedumel kesal.


"Hahahahaha."


"Darel!" teriak Rehan.

__ADS_1


Darel sudah kabur terlebih dahulu. Dirinya benar-benar puas melihat wajah takut Rehan saat mendengar nama Darren, Qenan dan Willy disebut.


Sedangkan para karyawan juga ikut tertawa melihat Rehan yang berhasil dikerjai oleh Darel.


__ADS_2